Di Balik Vespa Tuhan Bersemayam

Di Balik Vespa Tuhan Bersemayam. Foto/Ilustrasi/canva.com

Gimbal duduk di teras rumah. Seberkas sinar matahari dari timur menerobos dedaunan, menimpa wajahnya. Sebagian cahaya berbaur dengan kepul asap kopi di sampingnya. Pagi yang hangat. Namun, tiba-tiba suara seorang lelaki memecah keheningan.

“Permisi, Bapak,”.

Baca juga: Mee, Namaku (36)

Gimbal menoleh, memicingkan matanya. Seorang pria berbadan tinggi, berambut gimbal, dan berwajah bersih tanpa keriput, berdiri di depannya.

“Wajah ini? Tak pernah kulihat, namun mengapa begitu akrab?” gumamnya dalam hati.

***

Gimbal menatap kuas di tangannya. Benda yang dulu lentik menari menyalurkan imajinasinya di permukaan kanvas, terasa asing baginya. Ia mencelupkan kembali ke dalam cat, tetapi tangannya gemetar, dan tak sanggup bergerak. Dadanya sesak, napasnya berat, dan matanya terasa panas, meski tak ada air mata yang jatuh. Ia melempar semua botol cat dan merobek-robek kertas sketsa. Cairan cat tumpah, menciptakan jejak-jejak abstrak di lantai, sementara sobekan sketsa berhamburan ke mana-mana.

“Sudah kubilang, dibanding menjadi pelukis, lebih baik kamu mencari pekerjaan lain yang jelas dan menghasilkan pendapatan setiap bulan,” ujar istrinya, suaranya menghujani kepala Gimbal seperti badai yang datang tanpa aba-aba. Seolah belum cukup, ia kembali berkata, “Lihat dirimu, hanya menghabiskan uang untuk membeli cat, tapi yang kamu hasilkan hanyalah sobekan kertas. Tabungan kita sudah menipis sejak tiga bulan lalu. Kalau begini terus, aku gak kuat….”.

Baca juga: Melawan Ketakutan dengan Solidaritas

Gimbal berdiri, menendang botol cat, dan melangkah ke arah Vespa yang terparkir di halaman rumah. Gimbal pikir, hanya Vespa peninggalan ayahnya, dapat membawanya ke dunia tanpa tuntutan dan bentakan. Suara istrinya tetap mengoceh tanpa jeda. Ia membulatkan tekad untuk pergi, meninggalkan istri dan lukisan yang tak kunjung usai. Ia menyalakan mesin Vespa, dan pergi meninggalkan rumah.

Gimbal memacu Vespa sekuat tenaga, hingga sesekali kendaraan tua itu kehilangan keseimbangan. Suara bising lalu lintas dan deru klakson tak lagi berarti. Namun, gemuruh suara batin semakin memuncak, dan pecah di jalanan.

Gimbal meminggirkan Vespanya, mematikan mesin, lalu menyandarkan kepala di setang. Sesekali mendongak dan menoleh kiri-kanan, sesekali jarinya memijat dahi. Wajahnya menyusut dan pucat. Ia turun dari Vespa menuju warung di pinggir jalan.

“Bang, kopi hitam Arabika tanpa gula, sama tahu isi,”.

Jos, si penjual kopi, diam-diam mengamati Gimbal sambil sesekali melirik Vespa tua yang terparkir di pinggir jalan. Dia dengan cekatan menuangkan kopi dari teko ke dalam gelas, dan menyuguhkan ke pembelinya.

Gimbal meminum kopi yang telah disuguhkan, lalu perlahan menggigit tahu isi. Tak ada suara selain bunyi kunyahan.

“Bang, Vespanya unik, ya,” kata Jos mencoba memecah keheningan.

“Iya,”.

“Dulu beli Vespa itu seharga berapa, Bang?”.

Gimbal perlahan menatap, “Bukan milik saya, Vespa itu peninggalan dari Ayah,”

“Oh. Mau ke mana Bang? Sepertinya bukan orang sini, ya?”.

Gimbal terdiam. Kepalanya menunduk, raut wajahnya berubah pucat, alis yang semula rileks kini mengerut membentuk garis tipis di dahinya. Tatapannya kembali kosong. Ia pun berkata, “Saya tidak tahu, Bang!”.

Jos mengambil teko berisi kopi, untuk mengisi gelas Gimbal yang mulai kosong. Gimbal mengulurkan tangan, isyarat menolak. “Tidak apa-apa, Bang,” desak Jos. “Abang boleh istirahat di komunitas Vespa saya, di sana ada tempat untuk singgah dan beristirahat, kalau berkenan,”.

Gimbal mendongak, menatap si penjual. Ia tak menyangka ada tawaran semacam itu di balik warung ini. Setelah menatap mata Jos, Gimbal mengangguk pelan.

“Ayo, Bang. Kebetulan tempat komunitas Vespa tidak jauh dari sini,” ajak Jos dengan suara tenang.

“Bang, naik Vespa saya saja jika tidak keberatan?”.

Gimbal berdiri, melangkah gontai menuju Vespanya. Wajahnya berubah, mulai teraliri darah. Perlahan, ia memacu Vespa dan mengikuti arahan Jos. Suara Vespa yang dulu dipakai untuk menenggelamkan pikirannya, kini menjadi melodi yang menemani setiap langkahnya.

“Belok kanan, Bang,” tegas Jos sambil menunjuk.

Gimbal membelokkan Vespanya, dan ia kaget. Di ujung gang, sebuah halaman kecil terhampar puluhan Vespa. Beberapa orang asyik dengan Vespanya: sibuk mengutak-atik mesin, mengobrol dengan Vespa mereka, dan ada pula yang membersihkannya. Aroma oli memenuhi udara.

“Bang, ini tempat tinggal kami. Di sini, kami sudah seperti keluarga. Kami punya cerita dengan Vespa masing-masing,”.

Baca juga: Pecah Gelas, Berhenti di Aku

Gimbal mematikan Vespa tuanya. Denyut jantungnya yang semula normal kini berdetak lebih kencang. Matanya melirik ke sana ke mari. Beberapa orang menatapnya sambil tersenyum, seolah ingin mengatakan “Selamat datang”—sebuah sambutan tulus tanpa kata. Namun, ada sesuatu yang berbeda: ia melihat seseorang laki-laki duduk di atas Vespa berwarna pink, menyilangkan kaki, memegang lutut, dengan tatapan kosong.

“Dia juga sama, Bang. Vespa itu satu-satunya kenangan yang tersisa dari anaknya,” bisik Jos.

Gimbal menatap pria itu, seakan melihat bayangan dirinya sendiri.

“Bang, tidak usah khawatir soal kebutuhan sehari-hari. Kalau butuh bantuan, kabari saja saya atau kawan-kawan yang lain. Jangan sungkan, kita ini keluarga,”.

Kalimat sederhana, tetapi seperti pusaran air yang menyedot seluruh jiwa dan raga Gimbal.

“Namamu siapa Bro?” suara laki-laki yang berlesung pipi menghampiri Gimbal.

“Gimbal, Bang,”.

“Aku Deden, panggil saja Bung Den. Soalnya ‘Deden’ itu udah ketinggalan zaman—kalau ‘Bung Den’ lebih gaul,” ujarnya sambil tertawa.

***

“Kurang ajar! Mana dompet? Siapa yang berani-beraninya mengambil, kupotong tangannya!”.

Keringat membasahi tubuh Kampret, menetes hingga ke bajunya. Ia membongkar semua lemari di sudut ruangan dengan membabi buta. Obeng dan peralatan lainnya berjatuhan ke lantai, menciptakan suara gaduh yang menambah kekacauan malam itu. Anggota komunitas lain yang semula sedang mengobrol atau duduk santai kini ikut menoleh. Sebagian mulai berdiri, membentuk kerumunan kecil di sekitar Kampret.

“Ada apa Kampret?” tanya salah satu anggota komunitas.

“Gak usah banyak bacottt deh!” Suara melengking membuat para anggota saling menatap satu sama lain.

Sementara itu, Gimbal hanya melihat dari kejauhan, sengaja menghindari drama semacam itu. Ia ingin menjaga ketenangan dan kedamaian dalam hatinya yang perlahan mulai membaik.

“Kamu! Pasti kamu, kan, yang mengambil dompetku? Kamu anak baru yang nggak peduli! Pasti kamu yang mencurinya!” tuduhnya sambil menunjuk ke arah Gimbal.

Gimbal yang santai, bangkit dengan begitu cepat seperti kilat yang menyambar. Garis di dahinya mulai terbentuk, tangan mengepal, napasnya memburu. Semua anggota saling menatap dan tak kuasa membela, apalagi melerai keduanya.

Baca juga: Malang Punya Gelar, Tapi di Mana Panggungnya?

Jos tiba-tiba datang di tengah keributan. Ia menatap bergantian ke Kampret dan Gimbal dengan wajah gusar. Dua orang yang ingin saling memangsa. Dan pandangannya berahli ke ruangan yang berserakan serta tatapan anggota yang ketakutan.

Jos menarik napas panjang lalu dihembusnya. “Ada apa ini?”.

“Dompetku hilang. Dia mengambil dompetku. Pasti! Selama aku hidup di komunitas ini. Aku tidak pernah kehilangan apa pun. Bukan aku saja, melainkan kita. Tapi, baru dia datang kita sudah kehilangan dompet. Siapa lagi kalau bukan dia?” sambil menatap mata Gimbal dengan garis wajah kemerahan.

Di tengah kegaduhan, Deden datang membawa kudapan. Ia pikir ada pertunjukan yang menarik, tapi matanya terheran-heran melihat ruangan yang berantakan. Dia menghampiri kerumunan itu dan bertanya dengan muka polos, “Kalian sedang melakukan pertunjukan apa?”

Jos menatap Deden. Tangannya yang menyilang di depan dada, ia ayunkan dan mencengkeram pundak Deden, “Kamu kira ini pertunjukkan? Kampret kehilangan dompetnya!”.

Raut Deden yang mulanya ikut memerah perlahan menahan tawa. Anggota komunitas yang lain beradu pandang: sebagian menggaruk kepala, sebagian lagi mengangkat alis hingga membentuk jembatan keheranan.

“Ya ampun, aku kira ada apa, Bro. Aku yang menyembunyikan dompet si Kampret. Tuh, ada di atas lemari dekat dapur,” kata Deden.

Seketika ketegangan mereda. Kampret yang semula bermuka kusam kini berubah menahan malu bercampur kesal. Jos menggeleng-gelengkan kepala karena keisengan yang berulang ini.

“Sudah… sudah,” kata Jos, mencoba menengahi. “Lain kali, Deden, jangan bikin jantung temanmu berdetak kencang. Kamu harus minta maaf kepada Gimbal dan Kampret, karena kamu sudah membuat mereka tegang,”.

Suasana kembali hangat, obrolan ringan berlanjut, diselingi canda tawa. Insiden dompet hilang hanyalah bumbu penyedap hidup dalam komunitas.

Sejak awal bertemu, ternyata Gimbal diam-diam selalu mengamati Jos. Utamanya cara Jos memperlakukan orang, yang berbeda dari yang lain.

“Jos,” panggilnya pelan, “boleh aku tanya sesuatu?”.

Jos menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Tanya apa?”.

“Kenapa kamu selalu menjadi penolong, kepada siapa pun?” suaranya sedikit pelan.

Baca juga: Admiral Patterson dan Dichtung

Jos tersenyum, pipinya membentuk lukisan bulan sabit. Perlahan ia berkata, “Menolong itu tak kenal jenis kelamin, golongan ataupun ras. Selama kita punya niatan baik, di sana Tuhan yang kusembah hadir,”.

Gimbal terdiam sesaat, merenungi kata-kata Jos. Lalu, Jos kembali berucap, “Tuhan itu tak mengenal jenis kelamin, sama halnya dengan Vespa. Vespa itu tak mengenal perbedaan. Kamu mau jadi pengendara atau boncenger. Kamu tetap boleh mengendarai. Keduanya tak memandang siapa dirimu,”.

Jos tersenyum tipis, melihat ekspresi Gimbal yang mulai kebinggungan. “Maksudku,” lanjutnya, “seperti Vespa yang bisa dinaiki siapa saja tanpa pandang bulu, kebaikan itu pun bisa dilakukan oleh siapa saja, dan untuk siapa saja,”.

“Lalu, Vespa…?” tanya Gimbal.

“Vespa itu,” Jos menunjuk ke arah jantungnya, “ada di sini. Niat baik, ketulusan, dan semangat untuk selalu berbuat baik,”.

Gimbal menatap ke arah Jos, senyumnya mulai terukir. Sedangkan Jos perlahan meninggalkan Gimbal dengan segala pertanyaan yang perlahan terjawab.

***

Gimbal terkesiap, lamunannya tentang Jos, komunitas, dan Vespa buyar seketika. Ia kembali pada realitas teras rumah masih hangat pun sejuk. “Ya?” sahut Gimbal, suara yang parau. Ia menatap lekat pemuda di hadapannya. Rambut gimbal, wajah lusuh, tatapan kosong, dan sebuah lukisan abstrak di tangan—seperti cermin yang memantulkan bayangannya tiga puluh lima tahun silam.

“Permisi, Pak. Saya sedang mencari alamat. Kata orang-orang di kampung sebelah, di sini ada pelukis tua yang hebat. Namanya Bapak Gimbal,”.

Pelukis tua? Hebat? Sudah berapa lama ia tidak mendengar julukan itu? Sebuah senyum getir tersungging di bibirnya.

Miri Pariyas. Gadis kelahiran Pulau Raas ini, memiliki nama pena M.PTF. Pada 2016, studi di UIN Malang jurusan Biologi. Pernah belajar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerjo, Situbondo, pada 2010—2016. Saat ini sedang mendalami kajian etnobotani dan isu gender, serta belajar menulis di Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra.

(Editor: Iman Suwongso)

0 komentar untuk “Di Balik Vespa Tuhan Bersemayam”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *