Pecah Gelas, Berhenti di Aku

Pecah Gelas, Berhenti di Aku. Foto/Ilustrasi/canva.com

“Ceritakan” tegas terapis dengan alis kiri terangkat ke atas, “kejadian apa yang memantik emosi paling kuat?”

Aku mengarahkan pandanganku ke dinding abu-abu, ada ijazah-ijazah yang digantung di dinding, dan berjejer buku-buku di rak. Pak Badru, terapis jangkung dan kurus, dengan kepala botak itu menungguku berbicara. Tubuhnya yang bungkuk, duduk menyilangkan kaki dengan papan meja di pangkuannya.

Baca juga: Melawan Ketakutan dengan Solidaritas

Tergambar kilas beberapa kejadian di dinding abu-abu itu, aku mencoba memilih dan memilah kejadian apa yang kuat emosinya. Aku berhenti memilah, nampak anak bungsuku sedang mengetuk-ngetuk mug merah bertuliskan huruf mandarin ke lantai.

“Pyarrr” terdengar suara sesuatu pecah dari arah bawah dipanku. Aku menengok ke bawah, seolah ada bara yang menyambar dari dada ke ubun-ubun. Napasku mendadak panas, jantung berdegup kencang begitu keras hingga terdengar di telingaku. Kepalaku berdenyut, dahiku berkerut, tenggorokanku tercekat, pundakku menegang.

Mataku tertuju pada pecahan-pecahan mug merah di lantai. Mugku yang berharga, hanya satu-satunya yang kuperoleh dari perlombaan, hancur berkeping-keping, tersisa telinga mug yang masih dipegang erat anak bungsuku.

Dadaku sakit, seakan-akan jantungku telah dihancurkan. Tapi aku tahu, jantungku masih utuh, bahkan bekerja lembur berdenyut sepanjang waktu. Buktinya, getaran denyutnya selalu mengiringi kecemasanku dan setia menghidupiku selama ini.

Detik itu juga, aku ingin meraung menangis. Aku ingin berteriak, ingin menghempaskan amarah pada apapun di sekitarku. Tanganku gemetar, bibirku bergetar menahan kata-kata kasar yang siap meledak. Mataku melirik kursi plastik merah di pojok ruangan, sekilas seperti penghitung mundur.

Dalam kepala hanya ada satu perintah: lepaskan!. Langkahku mendesak ke kursi itu, napas pendek, tangan mengepal. Dengan sekuat tenaga kubanting kursi ke lantai; bunyi brak, lebih nyaring dari yang kuharapkan. Potongan plastik terpantul, serpihan kecil beterbangan.

Dunia menyempit hanya ada aku, mug yang hancur, kursi yang cuil, dan anakku dengan mata melebar terkejut melihatku meledak. Aku biarkan pecahan mug itu tetap di lantai. Biar suamiku yang membereskan. Biar dia tahu betapa kacaunya rumah ini, betapa kacaunya aku. Aku gendong anak bungsuku menjauh dari tempat kejadian.

Lalu selang beberapa lama, terdengar tangisan anakku yang lain dari kamar kejadian. Tangisan itu makin lama makin keras, terdengar sangat kesakitan. Detik itu pula rasa takut merayap pelan dari kepalaku hingga dadaku, aku melangkah cepat, dan yang kutemui, anak balitaku terduduk, menangis keras, darah mengalir dari telapak kakinya.

Baca juga:  Perempuan yang Digigit Ular

Jantungku seakan jatuh, aku terpaku, sekujur tubuhku gemetar, dari dalam kepalaku menyeruak suara “kamu ibu yang gagal, kamu ibu yang jahat,”, kalimat itu seperti pisau yang menusuk balik ke arahku sendiri. Suara itu terus berulang, lebih kejam dari tatapan anakku yang ketakutan. Ada sesal kuat mengapa pecahan tak segera kubereskan.

“Sampai kamu menceritakan apa yang sebenarnya ada di benakmu, kamu akan tetap tersendat dan terjebak di tempat,”. Suara Pak Badru menarikku kembali “Tarik napas, tahan, dan hembuskan napas,” lanjutnya.

Tak sadar napasku telah memendek, dadaku berdegup kencang, tanganku berkeringat. “Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan pak,” kataku.

Terapis menatapku, seakan berkata itu yang aku tunggu.

Dan meluncurlah segala kisah itu dalam satu ayunan besar.

“Kalau mug itu cuma benda,” katanya pelan, “kenapa reaksimu sebegitu besarnya?”
Aku menghela napas. “Entah, pak. Rasanya saat itu saya merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Seperti kehilangan bagian dari diri,”.

Ia mengangguk, mengetuk papan catatannya pelan dengan ujung pena. “Jadi kamu marah karena kehilangan sesuatu yang kamu jaga mati-matian,”. Ia berhenti sejenak, menaikkan sebelah alis. “Sering merasa kehilangan seperti itu sebelumnya?”.

Aku menatapnya. “Maksud bapak?”.

“Coba ingat,” katanya tenang. “Kapan pertama kali kamu merasa marah tapi tak bisa menyalurkannya?”.

Baca juga: Tas Cokelat

Aku tersentak, aku arahkan pandangan mataku ke bingkai ijazah yang digantung di dinding. Aku melihat cahaya lampu memantul di permukaannya, membentuk siluet samar yang bergerak. Di pantulan kaca itu aku melihat sepasang wajah yang tak asing.

Udara di ruangan mendadak mengental. Seperti ada debu yang berputar pelan di sekelilingku. Samar-samar wajah asing di pantulan kaca mewujud, bayangan ruangan lain muncul, nampak meja dengan dokumen berserakan di atasnya, dan sosok lelaki yang kukenal. Bapak

“Bapak janji nggak bawa nenek ke rumah perempuan itu,” muncul suara dari kepalaku, dari masa lalu.

Di antara suara dokumen yang diseret dan napas bapak, samar kudengar suara Pak Badru: “Kamu marah?”.

“Aku cuma nggak mau bapak bohong lagi!” aku berteriak, tapi bukan pada terapis. Pada lelaki di masa lalu yang sudah lama diam.

Kursi bergeser. Dokumen terangkat. Wajah merah, mata yang dulu kukagumi, kini menatap seperti api.

“Kamu pikir kamu tahu segalanya?!”.

“Aku tahu cukup banyak, pak! Aku lihat ibu sedih tiap kali bapak ingkar janji. Apa itu adil buat ibu?!”.

“Anak kecil tahu apa kamu?!” Suara kursi berderit keras, bapak berdiri mendadak, aku mundur selangkah. Mataku menangkap sosok ibu di ujung ruangan. Ia berdiri, meremas jari tangannya sendiri. Matanya memantul ketakutan, tapi tubuhnya diam, tak menegur, tak melindungi.

Napasku tersengal, dan tiba-tiba aku mendengar lagi suara Pak Badru, tenang tapi menusuk, “Dan kamu diam, kan?”

Ya

Aku diam

Kulihat urat di pelipis Bapak menegang. Tangan kanannya menggenggam setumpuk dokumen. Dalam satu gerakan cepat, ia mengangkatnya, nyaris menghantam wajahku.

Aku mematung. Jantungku berdentum di telinga. Tapi tamparan itu tak jadi mendarat. Yang jatuh hanya kata-kata, “Dewasa nanti, kamu akan tahu alasan Bapak seperti ini,”. Suaranya berat dan serak. Bapak tak berani menatapku.

Aku tercekat. Aku menunduk, menahan napas, sementara suara Pak Badru kembali penuh di ruangan, menarikku ke masa kini. Pak Badru kembali mengambil papan dada, menuliskan sesuatu di atasnya, lalu menatapku tajam. “Waktu itu… yang paling sakit buatmu apa? Janjinya yang dilanggar, atau rasa bahwa kamu tidak penting untuk ditepati?”.

Aku tercekat. Baru kusadari, yang paling membekas bukan cuma kebohongan. Tapi rasa bahwa aku, anaknya, tak cukup berarti untuk dijaga.

“Kalau sekarang kamu ingat momen itu,” Pak Badru melanjutkan pelan, “apakah marahmu pada mug yang pecah bisa jadi punya akar dari situ? Dari kehilangan sesuatu yang kamu anggap berharga, dan perasaan sendirian menghadapi itu?”.

Aku mengangguk. Hati terasa berat.

Pak Badru tersenyum tipis. “Mari kita coba lihat dengan kacamata yang berbeda. Waktu mug itu pecah, kamu marah, benar?”.

Aku mengangguk lagi.

“Sekarang tanya pada dirimu sendiri,” katanya sambil menekankan suaranya. “Apakah benar kamu sendirian harus bertanggung jawab membersihkan semuanya? Bisa pastikan itu benar seratus persen?”.

Aku terdiam sesaat. “Tidak,” jawabku lirih. “Karena suami saya ada. Dan dia bisa ambil bagian,”.

“Bagus,” Pak Badru mengangguk. “Jadi ketika kamu memilih meninggalkan pecahan itu untuk dia, sebenarnya apa yang kamu lakukan? Apakah itu lepas tanggung jawab, atau sebuah pilihan untuk berbagi beban, supaya kamu tidak lagi merasa seperti dulu: anak pertama yang sendirian menghadapi amarah bapak?”.

Dadaku bergetar. Mataku panas. “Mungkin itu… cara saya melatih diri, untuk tidak sendirian lagi,”.

Terapis itu menatapku lama, dengan mata penuh pengertian.

“Jadi, mug pecah itu bukan hanya tentang kehilangan. Itu juga tanda bahwa kamu sedang belajar membiarkan orang lain masuk, ikut bertanggung jawab. Kamu tidak harus memikul semuanya sendiri,”.

Aku mengusap air mata yang terus saja merembes di pipi dengan tanganku. Untuk pertama kali, marahku terasa lebih ringan.

“Kita kembali ke bahasan kamu menganggap dirimu tak penting bagi bapakmu, apa yang kamu rasakan atau pikirkan saat kejadian itu?”.

“Ya saat itu saya merasa sangat sedih dan bingung, merasa diremehkan, terhina,”.

“Kalau kita berhenti sebentar… siapa sebenarnya yang tersakiti di situ? Kamu, yang anaknya, atau bagian dalam dirimu yang berharap bapak bisa jadi tempat bersandar?”. Aku terdiam. Pandanganku jatuh ke lantai. Ada denyut sakit di dada.

“Bagian dalam diriku… yang butuh bapak hadir,”.

Baca juga: Tihawa Arsyady Pendekar Sastra Dari Aceh

Setelah jeda, ia berkata, “Zura, kamu tahu… kadang orang menyalurkan marahnya dengan cara yang mereka tahu. Kamu bilang tadi, ketika marah, kamu banting kursi, kamu lari, atau bahkan dulu menikah muda. Itu kan caramu melepaskan sesuatu yang tidak tertahankan,”.

Aku menarik napas panjang, dadaku terasa berat.

“Iya…betul sekali,”.

“Bisa jadi,” Pak Badru melanjutkan pelan. “Bapakmu juga sedang melakukan hal yang sama,”. Aku tersentak, dahi berkerut. “Ya bapak juga marah, terhina, mungkin juga kosong dan kesepian. Tapi… itu tetap salah,”.

“Benar, bagaimanapun itu tetap salah,” Pak Badru menimpali cepat. “Itu melukai. Sama seperti ketika kamu banting kursi, wajar karena kamu manusia yang marah, tapi itu bisa melukai anakmu. Jadi bukan soal membenarkan tindakannya. Melainkan… melihat bahwa pola yang sama juga ada pada kalian berdua,”.

Aku terdiam. Kata-katanya seperti membuka realita yang sama sekali baru.

“Jadi… saya dan bapak sama? Sama-sama tidak bisa mengelola marah, sulit menanggung rasa sakit lalu menyalurkannya dengan cara yang salah?… iya kakekku sempat meninggalkan bapakku saat ia kecil. Kakek menikah lagi,”. Aku tertunduk.

Pak Badru mengangguk. “Ya. Kalian sama-sama manusia yang menanggung luka. Bedanya hanya jalannya. Kamu menyalurkan dengan benda dan pilihan hidupmu sendiri. Dia menyalurkan lewat pernikahan baru. Akar dari keduanya… sama: kesepian, rasa tak aman, marah yang tak tahu harus ke mana,”.

Tanganku refleks meraba meja kecil di hadapanku. Kotak tisu tergeletak di ujung, agak jauh jangkauannya. Dengan gerakan kikuk aku menyeret tubuh ke depan, kursi berderit pelan, tanganku gemetar saat menarik beberapa helai.

Ujung kertas tisu itu kusut, lengket oleh jemariku yang basah. Kuusap cepat sudut mataku, tapi airnya terus keluar, menetes ke pipi, turun ke dagu. Hidungku mulai tersumbat. Tisu itu langsung lembab, kusut, seolah menampung sisa-sisa kepedihan yang tumpah.

“Selama ini saya pikir saya hanya korban. Ternyata… saya juga pewaris,” kataku sesenggukan. SSaya dan bapak sama-sama terluka. Sama-sama melukai,”.

Baca juga: Warti Sang Wartawan

Pak Badru tidak mengatakan apa-apa, hanya menunggu. Suara gesek tisu dengan kulitku terdengar lebih jelas daripada detak jam di ruangan itu. Rasanya aneh: begitu rapuh, tapi juga begitu jujur.

“Kalau begitu, apa yang kamu rasakan sekarang ketika melihat bapak bukan hanya sebagai orang yang melukaimu, tapi juga sebagai anak kecil yang terluka?” lanjutnya.

Aku menunduk. Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat bapak bukan cuma sebagai sosok besar yang mengancamku dengan dokumen, tapi juga sebagai manusia yang mencari cara bertahan hidup. Air mataku jatuh tanpa terasa. Aku paham, tahu realita tak serta merta bisa menerima rasa sesak ini, perlu waktu. Tapi aku sadar, luka ini harus berhenti, berhenti di aku.

 


Fathiyah Azizah. Seorang ibu millenial dengan enam orang anak homeschooler ini pelahap buku lintas genre yang mulai mencoba menulis cerita. Dari kesenangnnya membaca, ia menapaki perjalanan panjang menjdi bookstagrammer lewat akun Instagram @fathiyah_azizah yang dibuatnya sejak 2015.


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *