
“Ma, kayake (sepertinya) tahun ini aku nggak bisa ngasih ampo (angpao) ke semua saudara,” ujar Lan, putri bungsu Bu Tanjung.
Suara Lan diselingi tawa renyah. Terdengar bercanda tapi sebenarnya serius. Ia ibu muda berputra satu dan penampilannya sederhana. Lan duduk di salah satu kursi di depan meja makan, berjarak dua langkah dari kamar Bu Tanjung.
Baca juga: Mesin Cuci
“Ma, mungkin yang tua ae kukasih,” lanjut Lan sembari memperhatikan Bu Tanjung yang tengah membereskan kamar.
“Lha kenapa, Lan?” Sambut Bu Tanjung heran. Usianya enam puluh tiga tahun bulan depan.
Bu Tanjung berdiri di ambang pintu kamar memandangi Lan. Memang setelah menikah, setiap lebaran sewaktu bertemu anggota keluarga besar, baik dari pihak dirinya mau pun pihak almarhum sang suami, tak peduli usia tua atau muda, Lan selalu berbagi ampo. Tapi, mengapa kali ini berbeda? Bahu kiri Bu Tanjung menempel pada kusen pintu dengan netra lekat menatap sang putri.
Sembari tetap tersenyum lebar, Lan menjelaskan, “kemarin yang masuk ke rekening Mas Aksa hanya gaji pokok. Untuk tunjangan hari raya (THR) nggak ada.”
“Loh, kok bisa?” Bu Tanjung cepat menyela. Tanpa menghilangkan senyum, Lan pun mengangkat bahu. Netra perempuan berusia tiga puluh itu memandang pasrah ke arah Bunda.
Baca juga: Melawan Ketakutan dengan Solidaritas
Bu Tanjung mengambil langkah mendekat dan duduk di satu bangku, di belakang punggung Lan. Lan memutar posisi. Kini dua perempuan itu saling berhadapan. Terdengar hela napas Bu Tanjung. Perempuan sepuh itu pun berucap pelan, “Ya wis. Tak usah dipaksa. Yang perlu saja. Setelah lebaran kebutuhan masih banyak.”
“Tapi Ma, rasanya nggak enak. Apa lagi kalau nanti ketemu, yang biasa Lan kasih tentu mengharapkan. Pasti mereka berpikir Lan sekarang sudah jadi pelit. Terlebih Adik Mama yang satu itu, Tante Marta.”
Wajah Lan berubah sendu. Tatapannya dialihkan ke meja kosong di sebelah kanan.
Bu Tanjung tersenyum, telunjuk kirinya menyentuh dagu Lan dan pandangan mereka bertemu. Diam sejenak. Lalu Bu Tanjung berkata, “Makna lebaran bukan hanya berbagi ampo. Tapi tentang manusia kembali ke fitrah setelah menahan hawa nafsu satu bulan lamanya. Dilanjutkan menyambung silaturahmi kepada siapa saja. Terpenting dari semua itu, kita bisa saling memaafkan. Kalau soal berbagi rezeki kapan pun dapat dilakukan. Tak harus di momen lebaran,”.
Dua jemari Bu Tanjung menggenggam sepasang jari sang putri. “Kalau masalah Tante Marta, tak usah didengarkan. Dari dulu, memang seperti itu. Maunya ae dikasih. Tapi susah sekali memberi orang. Kalau tak dikasih, sudah bisa dipastikan orang tersebut akan jadi bahan gosipnya. Tante Martamu itu pintar ngomong,”.
Baca juga: Perempuan yang Digigit Ular
Mendengar ucapan Bu Tanjung, Lan tersenyum kecut. Begitulah manusia. Ada yang suka memberi tanpa pamrih, banyak juga yang lebih suka diberi tanpa niat untuk membalas kebaikan orang lain. Alasan klasik selalu menjadi dasar, belum merasa kaya.
“Lha wong buat memenuhi kebutuhan sendiri ae masih kurang, kok mau berbagi,” kilah Tante Marta tiap kali ditanya, dan Lan sering mendengar hal itu. Padahal jika diperhatikan, kehidupan Tante Marta terbilang cukup mapan. Memang sifat pelitnya itu sangat kentara.
Lan harus paham. Semua bergantung hati. Seperti yang dirasakan Lan sekarang, niat ingin berbagi, apa daya keadaan tak memungkinkan.
Bundanya benar. Tak perlu terlalu memaksakan keadaan. Berbagi rezeki bukan hanya di hari lebaran. Jika ada rezeki lebih, kapan pun dia dan suami bisa menyisihkannya. Terpenting niat ada. Dada Lan yang sedari tadi terasa sesak, berangsur lega.
Malang 26 Maret 2026
Anita FN Sunardi, merupakan pengarang kelahiran Malang, pada 15 September 1977 Malang. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Putri dari pasangan almarhum Bapak Sunardi dan Ibu Ngatiningsih ini, juga aktif di Himpunan Wanita Difabelitas Indonesia (HWDI) dan Lingkar Sosial.
(Editor: A. Elwqig Pr.)
