Karang Bolong

Karang Bolong/Ilustrasi/canva.com

Hentakan kaki kuda itu datang lagi, kali ini lebih dahsyat. Rasanya aku mendengar suara ringkikan kuda dari arah laut. Kami masih belum tahu bahwa itu adalah balasan atas perbuatan kami pada Karang Bolong.

***

Para tetangga kasak-kusuk. Desa kami yang selama ini jauh dari gejolak tiba-tiba diterpa ketakutan secara serempak. Hal ini akibat rencana pengerukan gugusan karang di sebelah utara desa. Sebuah gugusan karang yang kami percaya begitu sakral.

Baca juga: Di Balik Vespa Tuhan Bersemayam

Karang itu terhampar seluas beberapa ratus meter persegi. Pada bagian utaranya dibatasi oleh pasir yang datang dan pergi mengikuti arus dan angin. Tetapi para warga lebih fokus pada lubang berbentuk bulat sempurna berdiameter tujuh meter. Meski sekelilingnya dipenuhi karang yang rapat, tapi lingkaran itu sama sekali tak tersentuh. Serupa wilayah keramat yang tak semeter karang pun berani singgah di sana.

***

Utusan dari Dinasti Ming baru saja berlabuh di pantai utara ketika itu. Sikap mereka yang pongah dan menuntut kerajaan-kerajaan di Jawa, untuk tunduk membuat geram Raja Arya Teja. Panglima perangnya yang terkenal sakti kemudian diutus untuk memukul mundur dan memaksa mereka pulang dengan tangan kosong ke dataran Tiongkok.

Pasukan Dinasti Ming awalnya berhasil dipukul mundur ke pelabuhan, tapi yang tak diduga mereka memiliki meriam perunggu yang dahsyat. Seketika meriam diletuskan dan menghantam pasukan Tuban. Pasukan Tuban terdesak bergeser ke pantai timur. Naas, panglima yang sakti itu terhantam peluru meriam dan terkapar di tengah gugusan karang. Kuda yang dia naiki juga tersungkur mati bersama tuannya. Darah mengambang di sela-sela karang.
“Karang kuwi ngurmati panglima, ngekeki panggon enggar suci -— karang itu hormat pada sang panglima, memberi tempat peristirahatan yang suci,” kakek pernah bercerita suatu sore.

Waktu kecil aku percaya sepenuhnya. Anak-anak memang percaya pada banyak hal: hantu di sumur, ular yang bisa menjelma manusia, buaya penjaga gerbang Blorong, juga kuda penjaga Karang Bolong.

Tetapi setelah aku lulus SMA dan lebih sering membaca berita daripada mendengar dongeng kakek, keyakinan itu perlahan memudar. Aku tidak lagi yakin bahwa Karang Bolong benar-benar dijaga sesuatu gaib atau sekadar lubang biasa yang kebetulan mendapat cerita berlebihan dari generasi ke generasi.

“Kuda itu juga yang menyelamatkan desa ini dari tsunami tahun 94. Sedangkan desa-desa lain hancur berantakan,” lanjut kakek. Sebagai anak kecil aku cuma bisa membayangkan betapa perkasa ruh penjaga karang bolong itu menghadang ombak tsunami yang begitu besar dan menakutkan.

Hampir semua anak desa pernah bermain di sekitar Karang Bolong meski dilarang terlalu dekat. Kami biasa mencari kepiting kecil atau kerang yang menempel di sela-sela karang saat air surut. Kami bisa melihat matahari tenggelam tanpa terhalang apa pun dari tempat itu. Ketika dewasa dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing, aku baru sadar sebagian besar kenangan masa kecilku ternyata berpusat di sana.

Para nelayan tua sering menjadikan Karang Bolong sebagai penanda arah. Dari jauh bentuk lingkarannya tampak seperti mata yang mengintip dari laut.

“Kalau Karang Bolong sudah sejajar dengan menara masjid, berarti kita sudah dekat rumah,” kata ayahku dulu.

Kakek pernah menunjuk lekukan karang dari arah tertentu. “Kalau matahari hampir tenggelam, lihat baik-baik.”Aku menyipitkan mata.

Lengkung batu itu memang menyerupai kepala seekor kuda yang sedang menunduk minum air dilihat dari kejauhan.

Sejak saat itu aku tak pernah bisa melihat Karang Bolong sebagai sekadar gugus batu karang.

***

Gempa itu tiba-tiba datang di suatu subuh. Meski bukan yang paling besar, tapi gempa ini cukup membuat semua warga desa berhamburan keluar rumah. Betapa tidak mengagetkan, desa kami berada di pantai utara Jawa yang begitu jarang dikunjungi gempa. Tentu tidak segitu terbiasa seperti warga di pantai selatan yang berada sangat dekat dengan patahan lempeng bumi.

Baca juga: Malang Punya Gelar, Tapi di Mana Panggungnya?

Aku mendengar bocah-bocah menangis, ibu-ibu histeris. Beberapa langsung menyelamatkan barang berharga, beberapa menarik sapi-kambing kepunyaannya. Beberapa terpaku tak tahu harus berbuat apa.

Seorang tetangga lalu berkata, “Ini pasti gara-gara Pak Kastam ngeruk karang bolong.” Tak ada yang punya penjelasan yang lebih meyakinkan. Semua mengangguk seirama.

Lelaki pensiunan tentara itu memang baru saja pindah ke desa kami. Dia membeli tanah hasil timbunan pantai yang disulap menjadi rumah berlantai dua. Rumah yang tampak menonjol di tengah rumah satu lantai yang dimiliki semua warga. Sejak itu Pak Kastam terus jadi perbincangan. Ditambah lagi dia menginformasikan dalam rapat desa bahwa akan membangun sebuah tambak modern yang bertempat di bagian utara desa. Semua kaget, sekaligus takut.

Aku ikut dalam rapat desa malam itu, duduk di pojok sebagai remaja pemalu. Seorang kakek dengan suara gemetar berkata, “Pak Kastam, karang itu keramat. Ada yang jaga. Kami takut ikut celaka.”

Pak Kastam tidak langsung membantah. Ia malah tersenyum. Senyum yang khas—merendahkan tapi dibungkus keramahan.

Pak Kastam memandangi lantai sebelum bicara.

“Ayah saya nelayan.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Beliau meninggal saat paceklik panjang. Tidak ada ikan. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada yang bisa dijual untuk sekadar beli makan, apalagi beli obat-obatan.”

Ia mengangkat kepala.

“Kalau hari ini saya membangun tambak di sini, itu bukan karena saya ingin melawan cerita leluhur. Saya hanya tidak ingin ada anak yang kehilangan ayah karena kemiskinan seperti saya.”

Warga saling pandang. Ada yang mulai menunduk.

Seorang warga lain memberanikan diri, “Tapi Pak, leluhur kami…”

“Pak RT, saya hormat,” potong Pak Kastam, masih dengan senyum yang sama. “Tapi kalau pembangunan ini gagal karena mitos, Bapak sendiri yang harus menjelaskan ke Pak Bupati. Atau ke pengadilan, kalau perlu.”

Suasana mendadak mencekam. Juga ketakutan yang membungkam. Pak Kastam pun melanjutkan enteng saja, “Kan cuma karang. Jangan percaya tahayul.”

“Bapak-bapak bayangkan, nanti desa kita akan jadi terkenal dengan inovasi. Apa bapak-bapak tidak bangga? Apa malah lebih ingin terkenal karena berpikir primitif?”
Semua diam.

“Yang diberitakan bukan hanya Kastam, tapi juga Desa Karangmulya.”

Mereka menyadari bahwa mereka tidak akan menang dalam perdebatan itu. Terlebih menyadari bahwa Pak Kastam memiliki relasi yang begitu tinggi.

Aku tidak langsung pulang malam itu. Aku berjalan ke arah pantai dan duduk menghadap laut.

Sebagian diriku ingin percaya pada kata-kata warga. Sebagian lain merasa Pak Kastam ada benarnya.

Aku pernah melihat banyak pemuda desa berangkat ke Surabaya, karena tak lagi mendapat penghasilan dari laut. Beberapa bahkan terpaksa menjadi TKI karena frustasi.

Jika tambak itu berhasil, mungkin mereka bisa pulang.

***

Sebuah papan dipasang di tepi jalan, “Sedang dibangun sentra perikanan teknologi bioflok untuk mendukung program pemenuhan gizi.” Warga tak sepenuhnya bisa mencerna kata-kata itu. Ada satu atau dua kata yang asing bagi mereka. Hal itu justru membuat mereka semakin kasak-kusuk.

Aku datang ketika excavator pertama mulai bekerja. Suaranya terdengar asing di tengah bunyi ombak. Ketika bongkahan pertama tercabut, entah kenapa aku teringat kepala kuda yang dulu ditunjukkan kakek.

Aku tahu itu hanya kebetulan. Semacam cocokologi yang menjadi kecenderungan manusia. Tetapi untuk sesaat aku merasa seperti melihat seekor hewan tua yang sedang dipotong-potong perlahan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Karang Bolong tampak rapuh.

Aku terkejut menyadari bahwa yang kurasakan bukan ketakutan. Melainkan kesedihan.

Setelah Karang Bolong hilang, laut tampak lebih luas. Tetapi juga terasa lebih asing.

Di bekas batu karang itu ditimbun tanah lumpur berpasir yang mulai mengeras. Tambak udang berbentuk bulat dengan diameter belasan meter kemudian lahir di sana, belasan jumlahnya, lengkap dengan pompa dan sistem pengelolaan canggih yang tentu tidak dipahami warga.

Sepupuku diterima bekerja di sana beberapa bulan kemudian. Ia yang sebelumnya menganggur mulai membawa pulang uang setiap akhir pekan.

Ibu bahkan pernah berkata, mungkin Pak Kastam memang tidak seburuk yang dibicarakan orang. Untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya: Bagaimana jika yang salah justru ketakutan kami sendiri? Bukankah kita yang berharap anak-anaknya tidak perlu merantau?

Untuk pertama kalinya aku merasa cerita-cerita kakek harus dipandang sebagai dongeng semata. Sebuah pengantar tidur yang tidak lagi relevan.

Hingga kemudian seluruh pembangunan selesai. Kolam-kolam telah dioperasikan. Beberapa siklus percobaan telah memberikan hasil meyakinkan.

Umbul-umbul telah dipasang, lengkap dengan spanduk yang melintangi jalanan. “Selamat datang tamu kehormatan dalam peresmian sentra perikanan teknologi bioflok.” Karangan bunga dari berbagai bank, instansi, dan pejabat yang kami tidak kenal terus datang dan berjajar seiring lurusnya jalan.

Pagi yang tenang di desa kami dikagetkan oleh suara sirine mobil pengawalan pejabat. Berderet-deret mobil datang dan langsung menepi ke bangunan baru itu. Beberapa pengawal berbadan tegap tampak keluar dari mobil dan menyisir semua sisi.

Hari itu desa kami dipenuhi mobil-mobil hitam yang mengkilap. Orang-orang penting turun satu per satu, dikelilingi lelaki berwajah datar yang terus menempelkan tangan ke telinga mereka.

Kamera-kamera televisi berdiri di mana-mana. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, desa kecil kami tampak begitu penting.

Sementara warga hanya mengintip di kejauhan.

***

Dua minggu berlalu. Suasana desa mulai kembali normal. Gempa-gempa kecil tak lagi membuat warga ketakutan. Beberapa bahkan mulai bercanda, “Ah, mungkin panglima dan kudanya sudah tidur nyenyak.”

Pak Kastam semakin sibuk. Ia terlihat berjalan mengelilingi tambak hampir setiap sore bersama beberapa pemuda desa yang kini bekerja padanya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka menerima gaji tetap. Bahkan beberapa warga yang dulu paling keras menolak mulai menyapanya dengan ramah.

Tiba-tiba suatu pagi, hampir semua stasiun televisi menyiarkan sebuah konferensi pers. Aku menonton dari ruang tamu. Di sana tampak Bapak Presiden ditemani beberapa menteri. Tampak pula Pak Kastam di paling ujung barisan.

Berita itu muncul berulang-ulang di televisi. Desa kami dipuji sebagai contoh kemajuan. Orang-orang di layar berbicara tentang produksi, teknologi, ketahanan pangan, dan masa depan.

Tak seorang pun membicarakan Karang Bolong.

***

Gempa kedua datang lebih dahsyat dari sebelumnya. Bukan hanya tanah yang berguncang, tapi seluruh desa seperti dihentak kaki-kaki raksasa. Aku merasa mendengar suara ringkikan kuda dari arah laut di tengah gemuruh bumi dan jerit manusia.

Air laut mundur begitu cepat. Dasar laut terbuka seperti padang luas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Anak-anak menunjuk ikan-ikan yang menggelepar di dasar laut. Beberapa orang justru berlari mendekat dan berebut mengambilnya.

Aku kembali mendengar ringkikan di sela gemuruh bumi.

Sekali. Lalu sekali lagi.

Suara itu terdengar jauh, namun cukup jelas untuk membuat bulu kudukku berdiri.

Aku tidak tahu apakah itu suara kuda. Atau hanya suara karang yang patah di bawah laut.
Aku bisa melihat Pak Kastam di depan tambaknya dari tempatku berdiri. Ia sedang membanggakan tambak udang itu kepada beberapa tetangga.

“Tsunami!” teriak seseorang.

Mula-mula aku mengira itu hanya garis gelap di cakrawala. Tapi garis itu terus meninggi. Semakin dekat. Semakin tinggi.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa yang kulihat bukan ombak. Melainkan dinding air yang menelan seluruh batas antara laut dan langit.

Di kejauhan kulihat Pak Kastam berdiri mematung. Lelaki yang selama ini selalu tampak yakin itu mendadak terlihat kecil. Sangat kecil.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajahnya. Ketakutan yang sama dengan semua orang di desa. Tak ada yang bisa berlari. Air datang seperti tembok raksasa yang menelan langit.

Aku masih sempat melihat wajah-wajah tetangga — termasuk wajah ibu yang sedari tadi menggenggam tanganku erat-erat. Setelah itu, hanya gelap.

***

Keesokan paginya, berita tersebar ke seluruh negeri. Desa kami rata. Tambak modern bioflok yang baru diresmikan pimpinan negara itu lenyap, hanya menyisakan lumpur dan sisa-sisa papan patah. Tak ada lagi suara sirine, tak ada lagi umbul-umbul. Yang tersisa hanya hening.

Saat aku tersadar dan bangun dari puing-puing, kulihat warga dari desa tetangga mulai berdatangan mencari korban. Aku mengikuti mereka dengan tubuh gemetar. Mereka menemukan sebuah lubang bulat sempurna berdiameter tujuh meter di tengah lumpur.

Baca juga: Pecah Gelas, Berhenti di Aku

Aku mendengar seorang nelayan tua berbisik kepada yang lain, “Itu Karang Bolong.”

Mungkin itu hanya lubang.

Mungkin itu makam.

Mungkin pula hanya cara laut mengingat sesuatu yang telah kami lupakan.

Malang, 14 Februari 2025
Sanya, 11 Juni 2026


Ekwan Wiratno, mengabdikan diri di Universitas Brawijaya sejak 2019. Di sela kegiatan ilmiah, masih terus menulis puisi, cerpen, naskah lakon dan kritik teater. Mendirikan Malang Study-Club for Theatre (MASTER) yang berpusat pada kegiatan literasi teater. Dapat berkomunikasi melalui email: ekwanwiratno@gmail.com atau Instagram: @ekwan_wiratno

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *