
“Wis ana kereto mlaku tampo jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Perahu mlaku ing nduwur awang-awang. Kali ilang kedunge. Pasar ilang kumandange. Wong nemoni wolak-walik ing zaman. Jaran doyan sambel. Wong wadon menganggo lanang…”
Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Lirih suara Sri, merapal tembang Ranggawarsita. Sudut bibirnya mengering, menyisakan garis-garis membujur di sepanjang bibirnya, seperti retakan-retakan tanah sawah yang mengering di puncak kemarau.
Wajahnya pucat seperti kapas, berkomat-kamit merapal doa di antara barang dagangan yang tidak lagi terurus. Tomat, dan lombok dibiarkan begitu saja berserakan di meja dagangannya.
Beberapa ikat sawi, dan kangkung pun ikut layu kehilangan kebugaran dan semangatnya. Teronggok begitu saja di sudut meja yang mulai keropos sebagian, karena digerogoti rayap-rayap nakal.
Matanya masih saja nanar, melihat pagar seng mulai dipasang di dekat tempatnya menggelar dagangan. Pelupuk matanya masih menyisakan sembab, di antara titik-titik air yang mulai mengering. Setelah air itu deras mengalir semalaman.
“Nembang apa to mak, kok muram sekali wajahnya. Apa pasarnya sepi dari tadi pagi?”
Suara merdu dari rongga bibir tipis Nita, mengalir begitu saja, membuyarkan lamunan Sri yang masih terduduk di bawah papan pengumuman berwarna kuning dengan tulisan merah.
“Halah nduk…mulai pagi tadi tidak ada pembeli. Pasarnya sepi. Pagarnya juga mulai dipasang, jadinya pembeli tidak tahu kalau pasarnya masih buka”
Gadis berambut panjang, dengan wajah ayu yang memancarkan kelembutan seperti cahaya bulan itu, duduk disamping Sri. Wanita paruh baya yang telah merawat Nita sejak tangis pertamanya muncul ke dunia itu, kini mulai nampak renta dimakan keriput di wajahnya.
“Piye kuliahmu nduk? Apa sudah selesai?”
Sri memegang tangan gadis yang kini telah beranjak dewasa itu dengan penuh kelembutan.
“Bulan depan aku wisuda mak. Makanya mak jangan sedih lagi. Kita akan datang ke wisuda sama-sama mak,”.
Baca juga: Amsal Gorengan
Nita bersimpuh di karung plastik yang sejak pagi jadi tempat duduk Sri menjaga dagangannya. Belasan tahun silam, gadis bermata lebar, dan berkulit bersih seperti bengkuang itu, sudah terbiasa bersimpuh di dekat Sri beralaskan karung plastik kumal.
“Pasar sudah mau ditutup nduk. Ndak tahu lagi, besok mau berjualan di mana?”
Sri kembali tertunduk, air bening itu kembali menitik. Isaknya lirih membentur pagar-pagar seng yang mulai angkuh menatap wanita berkain batik, dan kebaya lusuh. Wanita yang kini telah menuju senja, di sudut pasar yang kian lusuh.
Titik-titik bening itu menjalar ke seluruh tubuh Nita. Gadis belia itu dibuat bergetar. Detak jantungnya berdengup kencang. Hentakan palu para pekerja bangunan yang memasang pagar seng di sekitarnya, seperti berpacu dengan dengup jantung yang memompa darahnya ke otak dan hatinya.
Suaranya hampir saja meledak, untuk menghantam pagar-pagar seng yang mulai rapat mengelilingi tubuh lunglai dua perempuan yang bersimpuh beralaskan karung plastik lusuh.
Tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Teriakan lantangnya kembali tertelan di antara lidah dan rongga-rongga mulutnya. Dentuman lantang seng yang dipukul para pekerja, menelan mentah-mentah gairahnya.
Kabar kegembiraan untuk segera menyandang gelar sarjana ekonomi, sirna begitu saja di hadapan Sri. Tangisnya ikut tertumpah. Bayangannya berputar, wajah-wajah Pakdhe No, Lek Nah, Mbah Rin, berputar-putar menghakimi tubuhnya yang lunglai.
Wajah orang-orang yang selama ini selalu ceria bercengkrama dengan emaknya, menjajakan barang dagangan di deretan meja-meja kayu di pasar desa itu, kini sudah tak terlihat lagi. Hanya didapati emaknya, yang menyembunyikan titik-titik beningnya di antara dua lengan yang terlipat di depan wajah.
“Pakdhe No, Lek Nah, dan Mbah Rin ke mana mak?”
Bibir gadis bermata bulat itu, mencoba membuka ratusan gembok yang membelenggunya. Dia ingin segera mengetahui kabar orang-orang dekat emaknya, yang selama belasan tahun ini hadir mewarnai kehidupannya di tengah pasar desa itu.
Wanita senja yang duduk disampingnya, tak bersuara. Hanya nampak kepalanya bergerak pelan ke kanan dan ke kiri, sambil tangannya menjulur merangkul pundak gadis yang bersimpuh di sampingnya.
Bibirnya kelu, tak kuasa bercerita tentang kondisi orang-orang yang telah menjadi keluarga besarnya. Yang diingatnya hanya jeritan pilu Lek Nah, saat derap sepatu lars menggilasnya di pagi yang akan beranjak siang.
Derap sepatu lars mengalun tanpa kemerduan, berpadu dengan petungan kayu, masuk menerjang barisan pedagang di depan gapura pasar desa. Tanpa ampun, semua diangkut masuk dalam truk-truk yang suaranya meraung-raung.
Peluh, air mata, dan percikan merah darah bercampur menjadi satu dengan kegugupan, marah, benci, dendam, ketakutan, dan kekalahan di dalam bak-bak truk yang didorong mesin-mesin angkuh melaju ke kantor prangeh praja.
Para pedagang berusaha mempertahankan lapak-lapak kehidupannya. Telah puluhan tahun, nyawa dan hati mereka tersandar di antara lapak-lapak itu. Saat pagi menjelang siang, mereka berdiri berbaris di depan pasar, berusaha menjaga lapak-lapak hidupnya.
Baca juga: Nyonya dan Pasang Surut Air Laut
Barisan hati dan kehidupan itu ternyata begitu rapuh saat diterjang derap sepatu lars bersenjatakan pentungan kayu. Tak ada kata, tak ada ucap permisi, derap sepatu lars langsung menghantam dan memukul, menjadi pengadil di antara kehidupan yang butuh keadilan.
“Aku belum tahu nasib mereka nduk,”
Sri mencoba menjawab sejuta tanya di hati gadis cantiknya itu. Jawaban yang semakin membuat Nita bungkam, dipenuhi kebuntuan atas sejuta tanya akan nasib orang-orang yang telah mengasah hidupnya.
“Apa mereka tidak berjualan hari ini mak? Apa mereka tidak setuju pasar desa ini dibangun? Apa mereka disalahkan karena menolak pembangunan pasar mak?”.
Pertanyaan-pertanyaan bergelombang, jadi nyanyian penuh gemuruh. Sambil tangannya pelan membuka tas kain yang sejak tadi terdiam dipangkuannya. Seketika jari-jarinya bergetar saat merogoh ke dalam tas, dan merasakan tumpukan keras yang berlindung di dalam gelapnya tas kain.
Tangan Nita ragu-ragu menarik tumpukan kertas itu keluar dari nyamannya berlindung di dalam tas kainnya. Kertas-kertas yang sebentar lagi mengantarkannya menjadi sarjana ekonomi. Kertas-kertas yang berisikan catatan tentang pasar desa yang kini mulai lengang.
Masih diingatnya, ketika jari-jari lentiknya penuh ketekunan menekan tatakan huruf-huruf di depan layar bercahaya, membuat deretan-deretan kata untuk memindahkan cerita-cerita penuh semagat dari Pakdhe No, Lek Nah, Mbah Rin tentang pasar desa itu, menjadi catatan penting akademik.
“Aku ingin pasar ini jadi lebih baik nduk. Biar kalau berjualan semakin enak, dan pembelinya semakin banyak,”.
Kata-kata Pakdhe No itu, masih diingat betul oleh Nita, dan terketik rapi di hasil penelitiannya. Harapan yang sama dilontarkan Lek Nah, dan Mbah Rin. Beberapa bulan lalu, mereka begitu berbinar, penuh harapan, mengisi harapan manis dipenelitian Nita.
Binar semangat gadis bermata lebar itu, semakin terpancar ketika Pak Agus, salah satu dosennya menyukai hasil penelitiannya. Bahkan pria berkumis tebal, yang gelar akademiknya berderet-deret itu memberikan nilai A untuk kelulusan ujian skripsinya.
Baca juga: Mengantarkan Mereka Pulang
Semangat dan kebahagian Nita beberapa bulan lalu, kini sirna di antara lorong-lorong sunyi pasar desa, dan titik-titik bening yang tak pernah henti dari pelupuk mata emaknya. Mereka masih bersimpuh di atas karung plastik lusuh.
Tidak terdengar lagi suara gemuruh para pekerja memasang pagar seng. Sunyi dan mulai gelap. Aliran listrik untuk menghidupi lampu-lampu di lapak-lapak itu telah diputus. Air pun sudah tak lagi mengalir mengisi lorong-lorong lapak kehidupan di tengah pasar desa.
Semua menjadi kering. Semarak pasar desa itu, kini berganti suara-suara berdesir angin kemarau yang beku, menelusup di antara celah-celah pagar seng.
“Mak, ayo kita pulang. Sebentar lagi maghrip,”
“Iya nduk. Sebelum pulang kita jenguk Pakdhe No, Lek Nah, dan Mbah Rin. Semoga mereka tidak apa-apa,”
“Kita jenguk di mana mak?”
“Kantor prangeh praja nduk,”
Seketika tubuh Nita langsung lunglai. Tulang-tulangnya seolah telah berubah menjadi ikatan sawi dan kangkung dagangan emaknya yang telah layu.
Tak bisa dibayangkannya nasib Pakdhe No, Lek Nah, dan Mbah Rin di kantor prangeh praja. Sejuta tanya kembali bergemuruh. “Apa mereka sudah makan ya mak? Apa mereka tidak apa-apa?”
Berjuta tanya itu, ikut terbungkus dalam karung plastik kumal yang mulai dibuka dengan tangan-tangan penuh rapuh Sri. Sementara Nita dengan penuh kasih sayang memungut satu-persatu tombat, lombok, sawi, dan kangkung yang mulai hilang keceriaannya.
“Ayo nduk kita bawa pulang, siapa tahu masih bisa dijual di rumah,”.
“Iya mak, besok kita jualan di rumah saja. Kita ajak Pakdhe No, Lek Nah, dan Mbah Rin berjualan di rumah,”.
Keduanya melangkah pelan, sambil menarik karung plastik kumal berisi tomat, lombok, sawi, dan kangkung. Keduanya melintasi papan berwana kuning, berisi huruf-huruf merah. “PASAR DESA INI DITUTUP. AKAN DIBANGUN PASAR MODERN”.
Nita tertunduk melintasi papan tulisan itu, seolah mengamit, sebelum akhirnya menerobos celah pagar seng. Dari kejauhan, dilihatnya berderet-deret alat berat mulai diparkir di sisi timur pasar desa, untuk merobohkan lapak-lapak kehidupan yang kini telah sunyi itu.
Matanya terperajat, saat menelisik di antara deretan alat berat berwarna kuning itu. Dilihatnya Pak Agus berkumis tebal, memegangi perutnya yang tambun. Sesekali berkelakar dengan Pak Kades, dan seorang pria berkemeja biru muda dengan dasi merah yang tak kalah tambun perutnya.
Pria berkemeja biru muda, berdasi merah itu, juga tak asing bagi mata Nita. Sering dilihatnya orang itu di televisi. Beberapa bulan lalu, Pak Agus juga pernah mengenalkan pria itu kepadanya, saat bimbingan skripsinya hampir selesai.
“Ha…ha…ha…ini nanti lantai satunya jadi mall pak, lalu lantai duanya bisa jadi apartemen. Kalau perlu balai desanya di pindah di lantai dua Pak Kades. Ini desa akan berkembang pesat pak. Pintu tol ada di batas desa,”.
Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut
Sayup-sayup terdengar suara pria berkemeja biru berdasi merah. Suaranya parau, diselingi tawa terbahak, dan batuk-batuk datar. Saat tubuhnya bergoyang karena batuknya, terlihat kaki-kaki pendekknya menjejakkan tanah berdebu, menjaga keseimbangan tubuhnya yang tambun.
“Masyarakat dan pedagang butuh pasar desa ini jadi bagus Pak Kades. Saya tahu itu. Pak Kades tinggal menjaganya saja,”.
Nada suara yang tak asing di telinga Nita. Nada suara yang baru kemarin memuji hasil penelitiannya. Sekerika itu tangan Nita meremas tumpukan kertas di dalam tasnya, dan titik bening itu meleleh.
“Ayo nduk kita pergi menjemput Pakdhe No, Lek Nah, dan Mbah Rin. Pasar wes ilang kumandange. Ayo nduk, kamu sudah bilang besok kita mulai jualan di rumah,”.
(Editor: Iman Suwongso)
