
Ada dua penjual gorengan, yang satu namanya Jumiati satunya lagi Jumiatun. Mereka bertetangga, bahkan rumahnya bersebelahan. Dalam berjualan, kedua perempuan tangguh ini, tidak merasa bersaing. Baik Jumiati maupun Jumiatun memiliki cara sendiri-sendiri.
Baca juga: Nyonya dan Pasang Surut Air Laut
Kue gorengan yang dijual sama persis. Kalau Jumiati membuat pisang goreng, Jumiatun juga menjual pisang goreng. Kalau yang dijual Jumiatun ada tempe gembus, Jumiati juga menyediakan tempe gembus. Ote-ote, tahu berontak, tempe goreng mendoan, juga sama-sama mereka jual. Petis ada. Lombok muda, yang masih hijau, mereka sediakan. Bedanya cara mereka berjualan.
Jumiati berjualan di depan rumahnya. Suaminya membangun bedak kecil-kecilan, dan disediakan meja saji 75 cm kali 100 cm. Setiap jam satu siang bedak gorengan Jumiati sudah mulai buka. Selambat-lambatnya jam lima sore sudah tutup, dagangannya habis. Pisang goreng, tempe gembus, ote-ote, tahu berontak, tempe goreng mendoan, habis terjual. Tinggal kriwilannya. Lombok muda satu kilo ludes, petis satu panci kecil juga kukut.
Sedangkan Jumiatun berjualan keliling, dari gang ke gang, dari kampung ke kampung. Awalnya, ia berjualan gorengan diwadahi panci dan disunggi. Belakangan sudah menggunakan gerobak dorong. Setiap jam satu siang gerobak gorengan Jumiatun mulai didorong keliling. Selambat-lambatnya jam lima sore gerobak gorengannya sudah parkir di halaman rumahnya. Pisang goreng, tempe gembus, ote-ote, tahu berontak, tempe goreng mendoan, habis terjual. Tinggal kriwilannya. Lombok muda satu kilo ludes, petis satu panci kecil juga kukut.
Suatu ketika, Jumiatun minta gantian. Jumiatun berjualan di depan rumahnya, Jumiati menjajakan keliling kampung. Jumiati setuju-setuju saja. Mereka menukar peralatan berjualannya. Jumiatun menerima bedak dan meja saji milik Jumiati, sedang Jumiati menerima gerobak goreng milik Jumiatun. Mereka mulai berjualan dengan cara baru.
Masalah kemudian muncul. Dagangan kue gorengan Jumiati cepat terjual, tidak sampai jam tiga sore gerobaknya sudah masuk halaman rumah. Sebaliknya kue gorengan Jumiatun seret terjual. Sampai magrib tiba, hanya separuh saja yang laku.
Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Untuk mengantisipasi pertikaian kedua Jum ini, saya mengadakan survei kecil-kecilan. Saya bertanya kepada pelanggan mereka. Pelanggan Jumiati mengatakan; kue gorengan Jumiati enak, bumbunya pas. Jadi, para pembeli menyempatkan datang ke bedak Jumiati untuk makan kue gorengannya. Sementara pelanggan Jumiatun mengatakan; mereka terbiasa makan kue gorengan, tetapi malas keluar rumah. Jadi, waktu Jumiatun menjajakan ke rumah mereka, mereka membelinya. Ketika Jumiati berjualan keliling, para pembeli gorengan itu cenderung memborongnya. Karena, disamping kue gorengannya enak, mereka tidak perlu keluar rumah untuk membelinya. Nah!
(Editor: Titik Qomariah)
