Matahari melintas ke barat semakin menepi
Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan
Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi
Kami memang berbeda, aku totok dia baba
Katanya cinta tak mengenal perbedaan
Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada
Tapi kenyataan selalu lebih kuat untuk memisahkan
Senyum di warung sate itu seperti ombak di laut,
Membuat aku merasa betapa rapuh dan lemah,
Apakah begini rasanya jiwa dan hati tertaut,
Tidak bisa melawan, hanya bisa menyerah.
Waktu berputar membuat batas
Pada saatnya pintu akan ditutup
Sudah tak ada orang berkerumun di teras
Semua duduk di kursi menatap layar bioskop
Kalau malam semakin redup
Di dalam kamar tak bisa tidur aku merenung
Apakah harus kuterima menjadi jalan hidup
Di dalam toko tubuh dan pikiran terkurung
Budaya
- All Posts
- Budaya
Sebuah buku lawas tak lagi utuh, penuh sobekan tanpa sampul dan tahun terbit. Dijual dengan mahar, Rp150 ribu. Buku tua...
Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra, menggelar pelatihan menulis. Kegiatan ini sengaja digelar, sebagai salah satu upaya untuk penguatan budaya...
Kartini adalah penggerak kesetaraan. Pelajaran sejarah zaman SD tersebut, tentu masih melekat di benak kita era 1980 sampai dengan 1990-an...
Trilogi Rara Mendut karya YB Mangunwijaya, adalah cerita rakyat tanah Jawa yang menghidupkan kisah perempuan-perempuan tangguh dari tanah Jawa di...
Gitaris kenamaan Indonesia, Ian Antono menerima Anugerah Sabda Budaya (ASB) 2024. ASB yang telah digelar untuk kali ke lima ini,...
Friedrich Engels, editor karya Karl Marx berjudul Das Kapital, berasal dari Wuppertal, Lembah Wupper, Jerman. Tepatnya di dukuh Barmen.
Sastra
- All Posts
- Sastra
Aku diburu satpam, juga orang-orang yang kurang kerjaan. Mereka diupah majikanku, aku bakal dihabisi bisa jadi disuntik mati, karena aku...
Kata Kartini habis gelap terbitlah terang Apakah akan terjadi padaku dalam mengarungi hidup Sementara sekarang jalanku masih remang Belum tahu...
Kemarin, kabar duka menyemai bumi... Tentang Kau yang selalu ramah, mengumbar senyum dan melambaikan tangan menyapa manusia tanpa sekat hingga...
Lihatlah diriku yang tumbuh menjadi remaja matang Tumbuh pada jalan yang senantiasa dikepung badai Tak ada angin tenang menerbangkan layang-layang
