
Judul Buku : Tiga Saudara
Penulis : Kardinah Reksonegoro
Penerbit : Pemerintah Kabupaten Rembang
Tahun terbit :1958
Halaman : 77 halaman
Kartini adalah penggerak kesetaraan. Pelajaran sejarah zaman SD tersebut, tentu masih melekat di benak kita era 1980 sampai dengan 1990-an hingga sekarang. Sosoknya selalu dikaitkan dengan buku Door Duisternis tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang (HGTT). Selain menulis surat, Kartini juga rajin menulis artikel di media Belanda. Namun mengapa ia menggunakan nama samaran ‘Tiga Saudara’ dalam tulisannya?
Baca juga: Kawan
Jawaban pasti hanya Kartini yang tahu. Adapun latar belakangnya bisa kita telusuri dari buku Tiga Saudara (TS) tulisan Kardinah. Buku itu selesai ditulis di Salatiga pada tahun 1958. Bersampul potret Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Di halaman pertama terdapat lirik lagu Kartini lengkap dengan not balok. Sayang, nama W.R. Supratman sebagai pencipta tidak tercantum.
Bagian pertama buku TS mengisahkan masa kecil Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Mereka bertiga sebagaimana kebanyakan kanak-kanak: senang bermain, berlompat-lompatan, dan memanjat pohon. Klasse Holland School di Jepara adalah tempat pertama mereka berjumpa dengan sesama anak bupati, peranakan Belanda, dan anak-anak Belanda.
Sepulang sekolah mereka belajar membaca Al Quran, bahasa Jawa, dan merajut. Apabila jenuh, mereka mengerjai guru bahasa Jawa dengan memberinya nasi pecel pedas. Sering pula mereka keluar lewat jendela ketika pengasuh tertidur mendengkur. Memasak dan membatik adalah kegiatan lain yang juga disukai Kartini dan adik-adiknya.
Bagian kedua TS bercerita tentang perjuangan Roekmini dan Kardinah melanjutkan mimpi-mimpi Tiga Saudara. Kartini tutup usia pada usia muda tapi semangatnya tak pernah tutup usia.
Api Kartini terus menyala di benak dua adiknya. Roekmini melanjutkan perjuangan Kartini mengajari para wanita dan anak-anak membaca, menulis, dan menjahit. Untuk istri pegawai negeri, Roekmini mengajari bagaimana mengatur rumah tangga dan mendidik anak. Para pemuda diajak membentuk perkumpulan. Salah satu buahnya adalah Boedi Oetomo yang digawangi para dokter muda Wahidin, Soetomo, dan Goembrek. Komunitas pertukangan pun mendapat perhatian Roekmini.
Roekmini meningkatkan kapasitasnya dengan membeli dan tentu saja membaca buku pendidikan. Ketekunan belajar mandiri mengantar Roekmini lulus ujian diploma di Surabaya dan menerima ijazah guru. Tak lama kemudian Roekmini mengajukan pensiun dini pasca kematian putrinya. Ia mengisi hari-hari terakhirnya dengan melukis. Roekmini dipanggil Tuhan pada tahun 1951.
Sementara, Kardinah membuka sekolah swasta di Tegal bernama Wisma Pranawa. Ia melibatkan pegawai, guru pensiunan, dan juga anaknya sendiri untuk menjadi guru. Murid-murid pandai dibimbing secara khusus dan didorong untuk mengikuti ujian guru. Mereka kemudian meneruskan jadi guru.
Baca juga: Kawan
Di sekolah inilah Ki Hadjar Dewantara menjejakkan pemikirannya sebagai perencana kurikulum secara merdeka. Kardinah kemudian mendirikan rumah sakit dan rumah (bagi orang) miskin untuk menjawab keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakat. Dana operasional sebagian berasal dari sekolah Wisma Pranawa yang telah dikelola pemerintah.
Kartini sejatinya tak pernah berjuang sendirian. Kartini, Roekmini, dan Kardinah adalah Tiga Saudara. Bukan sedarah saja, tapi juga sehati, sevisi, dan seperjuangan. Tiga perempuan saling melengkapi sebagai keutuhan pergerakan dalam mewujudkan kesetaraan dan kemerdekaan.
Di bagian ketiga buku TS tertuang silsilah panjang keluarga Kartini dengan Raja Majapahit Prabu Brawijaya sebagai leluhur asalnya. Ada foto peralatan makan, rumah, dan lukisan karya Kartini. Ada juga pahatan karya putra tunggal Kartini, Raden Mas Soesalit. Buku ini ditutup dengan kumpulan kata mutiara Kartini.
Buku TS layak disandingkan dengan buku kumpulan surat Kartini dalam buku HGTT, yang diterbitkan kembali oleh Penerbit Narasi pada tahun 2017. Pembacaan ulang atas dua buku tersebut akan membawa kita pada simpulan bahwa Kartini menulis surat dengan keseluruhan dirinya. Jiwa-raganya berpadu dengan energi cipta-rasa-karsa ke dalam kata-kata.
Surat-surat Kartini dan tulisan Kardinah bekerja komplementer, saling melengkapi. Bagian rumpang dalam HGTT terjawab oleh TS. Apa yang masih mengambang dalam HGTT menjadi lebih jelas ketika kita membaca TS. Narasi-narasi dalam TS bisa menjadi latar belakang yang memantik Kartini menulis surat.
Berikut adalah cuplikan paralelitas surat Kartini dalam HGTT dengan tulisan Kardinah dalam TS:
Untuk melatih diri, saya menulis sketsa kejadian-kejadian dalam kehidupan kami sendiri. Satu di antaranya sudah dimuat terbit dalam ‘Echo’ (gema). Sebagai nama samaran saya memilih “Tiga Saoedara” karena kami bertiga bersatu. (HGTT, halaman 90)
Jika sedang sibuk menulis seakan-akan lupa akan makan dan tidur. Beliau menulis di meja rendah dan duduk di lantai. Penerangan minyak kecil dan dikerumuni adik-adiknya. Di situ ada tikar kecil dan bantal kecil, terus tidur sebentar, cukup setengah jam telah bangun terus melanjutkan lagi menulis. (TS, halaman 24)
Baca juga: Aku Menunggumu Disini
Kartini lebih suka menyebut dirinya sebagai Tiga Saudara. Dalam banyak paragraf ia pun memilih kata ganti ‘kami’ bukan ‘saya’. Ini menandakan betapa Kartini, Roekmini, dan Kardinah dilahirkan sebagai satu keutuhan. Menikmati masa kecil bersama. Merajut pengalaman bersama. Memperjuangkan nilai-nilai yang sama. Maka, surat-surat Kartini sejatinya merupakan perpaduan pengalaman faktual dan kematangan intelektual Tiga Saudara.
Apakah kamu akan bertanya bagaimana mulanya saya terkurung di antara empat tembok itu? Kamu pasti membayangkan bilik penjara atau semacamnya. Bukan, Stella, penjara saya adalah rumah dan halaman kami, namun bila kami harus selalu tinggal di situ, sesak juga rasanya. Saya teringat, karena putus asa yang tidak terhingga berulang kali saya mengempaskan badan pada pintu yang selalu tertutup. Ke arah mana pun saya pergi, saya selalu sampai pada dinding batu atau pintu terkunci. (HGTT, halaman 23)
Kami, tiga saudara pernah dimasukkan dalam kamar lalu dikunci dari luar. …. Kami bertiga lari keluar melalui jendela sampai di kebun belakang, lalu bermain-main di situ, memanjat pohon dan memetik buah jambu. (TS, halaman 14).
‘Tak boleh keluar’ sungguh terjadi secara fisik-denotatif dalam kehidupan Kartini. Ia mengalami keterkungkungan bersama kedua adiknya: Roekmini dan Kardinah. Namun sifat kekanak-kanakan mereka bertiga berontak. Energi homo ludens mereka mencari-menemukan kegembiraan membuat mereka terlatih dan mampu melakukan apa yang tak terbayangkan akan dilakukan gadis-gadis pingitan. Pada kata kerja ‘keluar jendela’ dan ‘memanjat pohon’ terselip metafora melepaskan diri dari batasan-batasan. Sedangkan pada ‘memetik buah jambu’ tersirat metafora tentang kerja keras mewujudkan harapan.
Al Quran terlalu suci untuk diterjemahkan, dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca Al Quran, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. (HGTT, halaman 26)
Mengenai pelajaran membaca kitab Al Quran, yang sering menimbulkan amarah ialah apabila ibu guru melaporkan bahwa kami bertiga tidak mau membaca Al Quran karena ibu guru tidak mau dan tidak dapat menjelaskan apa yang kami tanyakan kepadanya mengenai mengapa kami harus mengikuti lidi ibu guru dan harus menirukan yang diucapkan oleh ibu guru. (TS, halaman 15)
Baca juga: Dialektika Marx dan Engels
Kartini tak mau menirukan ucapan guru karena baginya menirukan bunyi tak memberikan makna apa-apa. Membaca bukanlah membunyikan kata semata. Membaca mesti disertai memahami bahasa. Cara Kartini memperoleh pengetahuan adalah praktik baik merdeka belajar—lebih dari seabad kemudian kita mengenalnya sebagai Kurikulum Merdeka.
Tahun yang lalu sebuah desa tambak ikan tergenang air selama satu minggu dan siang malam ayah tinggal di tempat bencana. Dari dana-dana swasta yang kemudian dikembalikan oleh pemerintah dibayarkan untuk memperbaiki tanggul rusak yang mencapai beberapa kilometer.
Bencana yang satu disusul bencana lain. Dalam musim kemarau penduduk tetap mati kehausan dan dalam musim hujan semua terapung-apung di atas air. (HGTT, halaman 36)
Sering juga kami disuruh ikut Ayah pada malam hari bila ada kebakaran, atau malapetaka di kampung-kampung (desa-desa) misalnya angin ribut, hujan lebat atau kerusakan di tepi laut agar kami dapat turut memberi pertolongan sekedarnya. Pada hari Minggu pagi, apabila Ayah pergi di kampung-kampung (desa-desa) kami disuruh ikut pula untuk melihat kebersihan desa atau tanaman-tanaman, atau menengok orang sakit. (TS, halaman 16)
Salah satu privilege yang didapatkan Kartini sebagai anak bupati adalah kesempatan mengunjungi berbagai daerah. Kunjungan itu bukan wisata rekreasi, melainkan perjalanan untuk mengetahui kondisi rakyat. Dari perjalanan itulah kepekaan sosial Kartini terasah. Jadi, belenggu feodalisme hanya memenjara Kartini secara fisik tapi tidak secara sosial-intelektual.
Dengan segala senang hati saya memesankan kotak yang diminta untuk kakak tuan dan kemudian mengirimkannya ke Surabaya. Begitu menerima surat tuan terakhir, tukang ukir saya panggil dan saya samapikan pesanan itu. Dia menyanggupinya dan berjanji akan menyelesaikannya tepat pada waktunya. (HGTT, halaman 132)
Di tempat itu Bakyu Kartini melihat-lihat tempat pekerjaan tukang kayu yang sedang sibuk bekerja. …. Biarpun indah, halus, dan baik, pekerjaan ukir-ukiran itu namun pendapatannya tidak seberapa dan tidak seimbang. …. Keadaan itu menjadi bahan pikiran Bakyu Kartini, bagaimana caranya merubah keadaan atau bagaimana memecahkan jalan agar upah dapat seimbang dengan hasil dan pekerjaannya. (TS, halaman 20).
Perjumpaan dengan ketakberdayaan tukang kayu Jepara memantik jiwa kewirausahaan Kartini. Ia tak berhenti pada rasa kasihan. Jaringan pertemanan dengan orang-orang Eropa menjadi jalan keluar bagi Kartini untuk mengangkat harkat pengrajin kayu Jepara. Sekaligus memperkenalkan betapa tinggi estetika dan kreativitas perupa kita.
Baca juga: Teman
Pada akhirnya, buku Tiga Saudara layak dirujuk untuk memahami kehidupan Kartini lebih utuh. Tulisan Kardinah ibarat teropong untuk melihat Kartini dari sudut berbeda, terutama dari sisi masa kecil. Mereka mengelaborasi ikatan sedarah menjadi ikatan seperjuangan. Roekmini dan Kardinah memang tak setekun Kartini menulis surat, tapi tulisan Kartini adalah cerminan harapan mereka bertiga.
Kardinah memungkasi bagian pengantar dengan kalimat dialektik: Oleh karena itu apa yang tersebut dalam buku karangan saudara Pramudya Ananta Tur, sangat menjadi keheranan kami sekeluarga. Begitulah, Kardinah sesungguhnya juga ingin berdialektika dengan buku Pram Panggil Aku Kartini Saja.
Wahyu Kris, seorang guru di SMPK Pamerdi Kabupaten Malang, yang sedang dan senang belajar menulis. Menyukai dialektika pendidikan, sastra, dan seni budaya.
(Editor: A. Elwiq Pr.)
