Amsal Gorengan
Ada dua penjual gorengan, yang satu namanya Jumiati satunya lagi Jumiatun. Mereka bertetangga, bahkan rumahnya bersebelahan.
Ada dua penjual gorengan, yang satu namanya Jumiati satunya lagi Jumiatun. Mereka bertetangga, bahkan rumahnya bersebelahan.
Di antara desiran ombak
Perahu kertas yang terkena desiran omabak
Memahat kata di pesisir pantai
Di langit malam bersinar si mata biru
Nyonya dan Pasang Surut Air Laut Read More »
“Rio, ale ingat kafe pustaka samping Perpus UM?” sebuah pesanku kirimkan ke sahabatku di Kepulauan Aru, Maluku.
Hari ini hujan turun. Deras. Tak bisa berhenti. Bila berhenti sebentar. Seolah ia mengambil nafas dalam, lalu turun berikutnya lebih deras lagi.
Hujan yang Tak Bisa Berhenti Read More »
Aku hanya tengadah membentang sebagai halaman
Menguning yang dicoret-coret tinta pekat
Tentang sejarah dan tujuan yang masih sembunyi
Pada deretan epigraf dalam rak-rak ingatan
Kikan, gadis itu membawa keranjangnya dengan sukacita. Rambutnya yang ikal terurai nampak seperti gulungan spiral yang menari-nari di punggungnya.
Teh mawar itu saya jumpai di rumah dalam gang. Dari sisi selatan kota naik angkutan ke arah utara, turun di perempatan Kaliurang.
Pagi Tak Selalu Tentang Kopi Read More »
Lagi-lagi aku melihat lelaki berusia empat puluh an itu datang tergopoh-gopoh heboh. Tas ransel di punggungnya dilepas dan diletakkan di kursi dengan kasar.
“Aku selesai,” ujar Wanto suatu sore. Kalimat itu meluncur dengan tajam. Menusuk jantung Lisa dan juga Wanto, tanpa bisa ditahan. Hari itu, tiba-tiba saja Wanto menerima kabar bahwa ia dan seluruh teman-temannya kena PHK.
Kamu tahukan gambar yang pernah saya sebar beberapa waktu lalu? Tangga begitu tinggi –saya tidak sempat menghitung berapa jumlah anak tangga yang dirakit.