Pak Hakim
Sejak kecil ia hanya diajari, dan belajar, menggunakan tangan. Bagaimana kini ia diharapkan bisa menggunakan hatinya?
Sejak kecil ia hanya diajari, dan belajar, menggunakan tangan. Bagaimana kini ia diharapkan bisa menggunakan hatinya?
Lelaki tua itu berdiri tepat di tepi jalan. Dia berusaha tetap menunggu bus datang dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Bus yang akan membawanya menuju kota Surabaya.
Lelaki Tua dan Nama Read More »
“Kubuka roncean kembang kirimanmu tempo hari, Mirasaga. Dua roncean dalam waktu singkat kau rangkai, menandai keuletanmu berkebun yang cukup lama. Terima kasih untuk semuanya,” ujar Citrabiru.
Mata-mata tajam menatap layar kaca. Jari-jari bergerak cepat memenceti benda bersinar di tangan. Sekitar tak dipandang.
Ijam, laki-laki kusam, mendepis di bawah pohon randu. Seorang gadis hendak melintas. Ijam makin mematung, ketika gadis itu makin dekat.
Senyum Bidadari untuk Tenaga Sapi Read More »
“Wis ana kereto mlaku tampo jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Perahu mlaku ing nduwur awang-awang. Kali ilang kedunge. Pasar ilang kumandange. Wong nemoni wolak-walik ing zaman. Jaran doyan sambel. Wong wadon menganggo lanang…”
Kikan, gadis itu membawa keranjangnya dengan sukacita. Rambutnya yang ikal terurai nampak seperti gulungan spiral yang menari-nari di punggungnya.
“Aku selesai,” ujar Wanto suatu sore. Kalimat itu meluncur dengan tajam. Menusuk jantung Lisa dan juga Wanto, tanpa bisa ditahan. Hari itu, tiba-tiba saja Wanto menerima kabar bahwa ia dan seluruh teman-temannya kena PHK.
Tobong dekat perempatan, sudah berhari-hari begini; sepi, di dalam kosong, kursi-kursi tidak tertata rapi, pengap, kertas berserakan berbaur rumput-rumput kering,
Ritsleting mulai dibukanya. Belum sempat seluruh ritsleting terbuka. Tiba-tiba, beberapa barang berhamburan ke luar dari tas berwarna cokelat.