Kawan

Kawan. Foto/Ilustrasi/canva.com

“Di jalan ini kita pernah bersama, dan akan selalu bersama kawan!”

Matamu menatapku nanar, di antara tangan-tangannya yang cekatan merobek lembaran-lembaran kertas dan langsung membuangnya ke perapian. Dalam sekejap, api berkobar besar melahap habis sobekan-sobekan kertas yang menumpuk.

Baca juga: Aku Menunggumu Disini

“Nanti selepas subuh, kita harus segera ke kota perantara. Di sana kita akan berpisah untuk sementara. Aku akan menuju pulau seberang, untuk mengkonsulidasikan kawan-kawan yang masih tersisa. Kamu, berangkatlah ke ibu kota dengan kereta malam,”

Matamu masih saja nanar, saat api itu mulai meredup berganti dengan asap putih dan aroma kertas yang hangus. Kupandang wajahmu nyaris tak berkedip. Dingin gelap malam menuju pagi, membuat tubuh ini bergetar meneriaki nasib yang tak tentu arah.

Hanya tatapan matamu saja yang menyisakan hangat digelap malam menjelang pagi itu. Api di halaman rumah kontrakan yang sempat dinyalakannya benar-benar telah padam, berganti abu hitam berserakan tak tentu arah.

Hangat perapian itu sirna dalam sekejap. Tubuhku terasa semakin menggigil. Hatiku masih saja menghadirkan tanya, di tengah gelap menuju pagi. Aku berharap api itu masih menyala, menjaga hangat tubuh yang terus menggigil. Tapi api itu telah padam, berganti kembali dengan gelap.

Kurasakan ada beberapa pasang mata di antara lorong-lorong gelap tempat kami berlindung di antara pekat malam menjelang pagi, dan beku udara yang terus menusuk hingga tulang sumsum.

“Jangan jadi peragu dan penakut lagi. Abaikan pikiran kosongmu. Jangan lagi kamu isi hatimu dengan ketakutan-ketakutan. Jalan kita akan menuju pagi, di mana matahari akan bersinar terang dan menghangatkan tubuh kita semua,”

Kata-katamu meluncur setengah berbisik di dekat daun telingaku, menghembuskan nafasmu yang terasa hangat. Sekejap meredakan bulu kuduk yang terus berdiri, di antara bayang berpasang-pasang mata yang masih saja kurasakan mengintaiku dari kegelapan.

Aku beringsut dari halaman yang masih neyisakan gelap, meninggalkan aroma kertas yang telah menjadi arang. Berjalan pelan menuju ruang tamu yang tak kalah gelap. Sejak hujan deras sore tadi, listrik di lorong-lorong kampung ini padam.

Dalam samar bayang gelap, aku mencoba berjalan perlahan dibelakangmu. Langkahmu tak kulihat, tertutup pekat. Hanya kudengar lirih telapak kakimu yang menapak lantai, seperti berbisik ringan.

Tak kudengar lagi langkah tegapmu yang kemarin. Yang biasanya tegas menjejak tanah. Kini langkahmu seperti kapas yang berhamburan tertiup angin. Senyap. Ya begitu senyap, saat ruang-ruang di rumah ini telah kosong. Semua penghuninya seperti diterjang badai, dan terbang entah tak tentu arah.

Aku duduk di sudut ruang tengah, yang tepat berada di balik dinding ruang tamu. Kurapatkan kakiku sambil terduduk di lantai yang juga membeku. Tak lagi kudengar suara gitar berdenting di ruangan ini.

Senda gurau, bercampur aroma asap rokok yang menusuk hidung, dan terkadang juga bercampur aroma minuman beralkohol murahan, kini telah lenyap dari ruang tengah ini. Berganti beku, sunyi, gelap, dan mungkin ketakutanku yang terus bekejaran.

Baru kemarin rasanya gegap gempita suara-suara penuh ledakan dari tenggorokan memenuhi setiap sudut ruang tengah ini. Mata-mata penuh tatapan tajam sering kulihat hadir di ruangan ini. Mereka kurasakan menghadirkan nyala dan nyali, hingga ruang tengah ini selalu terasa hangat.

“Kemana suara-suara itu? Kemana anak berambut gondrong dari kampung seberang, yang kemarin begitu lantang suaranya bercampur aroma alkohol murahan itu? Kemana pria muda berbadan kurus yang selalu memetik gitar di sudut ruang tengah ini?”

Baca juga: Ian Antono hingga Mbah Karimun Terima Anugerah Sabda Budaya

Ya, ruangan ini telah benar-benar gelap, sunyi, dan beku di malam menjelang pagi. Tak seperti kemarin yang selalu gegap gembita, penuh sesak nyanyian bernada sumbang untuk sebuah perlawanan.

Tak kulihat lagi gadis berambut ikal yang kemarin duduk di dinding yang memisahkan dua daun pintu kamar itu. Di ruang tengah ini, memang terhubung langsung dengan dua kamar yang tak pernah ditempati untuk merebahkan badan.

Ah…iya gadis itu kemarin duduk di situ. Rambut ikalnya diikatnya dengan kain bandana merah. Beberapa kali dia berbicara nerocos saja di antara sesak nyanyian sumbang perlawanan. Dia keluarkan semua teori-teori analisanya.

Gadis yang aneh pikirku. Katanya dia anak kedokteran dari kampus sebelah. Tapi pemuda gondrong yang nafasnya selalu menebarkan aroma alkohol murahan itu, sering mengingatkanku untuk berhati-hati dengan gadis itu.

“Bung…kau naksir ya sama gadis itu? Hati-hati bung, kalau tidak ingin hatimu dipatok ular berbisa. Ha…ha…ha…,”. Pemuda gondrong itu selalu terbahak, dan menghamburkan aroma “naga” dari mulutnya.

“Hei bung…kau masih baru di sini. Aku ini sudah makan asam garam di sini. Bung…dia anak tentara. Kalau bung masih nekat dekati dia, siap-siap saja isi kepala bung meledak dan otak bung berhamburan di ujung lorong sana. Bung…bapak gadis itu punya pistol, pelurunya tajam,”.

Ah…masa bodoh pikirku. Siapa juga menaksirnya. Aku cuman termangu saja menyaksikannya berada di ruang pengap ini, memuntahkan ocehan-ocehan filsafat, teologi, dan bahasa perlawanan yang begitu saja ringan keluar dari bibir mungilnya.

Masa bodoh dia anak tentara atau bukan. Bapaknya punya pistol atau tidak. Aku hanya termangu, saat dia selalu beradu argumen dengan kawanku tentang keberpihakan dan pembebasan.

Ya…ocehan-ocehan selalu hiruk-pikuk di ruang tengah ini, usai adzan isyak berkumandang dari langgar kecil di ujung lorong menuju rumah ini. Rumah sempit berisikan lima ruangan. Berdinding kusam tak terurus.

Rumah di tepian lorong gelap, yang menghadap langsung ke sungai besar yang membelah kota tua ini. Rumah yang selalu dilintasi orang-orang yang memandang sinis penuh telisik. Rumah kusam yang sudah beberapa bulan ini, menampung tubuh dekilku. Tubuh dekil anak desa yang baru menatap kusamnya kota.

Ha…ha…ha…aku jadi tertawa geli mengingat pertama kali aku hadir di rumah kusam ini. Aku terdampar dari desa, yang membayangkan kota ini bukanlah kota tua yang kusam, tetapi kota gemerlap penuh hingar-bingar.

Saat langkah pertamaku membuka pintu gerbang dari besi yang telah berkarat. Kamu tengah berdiri di depan pintu rumah kusam itu. Pandangamu dingin saja. Tak ada keakraban yang kamu hadirkan dari tatapan itu.

Semakin kumendekat, tatapaan matamu seperti pisau tajam yang ingin mengulitiku. Pertanyaanmu dingin dari mulut yang seolah tak mau terbuka. “Masuk! Kamu Jito? yang minggu lalu ketemu mas Adi?,”. “Ya mas, aku Jito. Ini mas Tri ya?”.

Baca juga: Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa

Jawabanku atas pertanyaan-pertanyaannya kala itu hanya dibalas dengan tatapan mata yang datar dan mulut yang kembali terkatup rapat penuh misteri dan kerahasiaan akan identitas dirinya.

“Masuk! taruh barangmu di kamar utara saja. Kamar selatan dipakai menyimpan data,”. Aku hanya menurutinya saja, seperti kerbau dicucuk hidungnya. Baru saja aku ingin mandi, untuk melepas penat, setelah delapan jam lamanya berdesakan di dalam kereta ekonomi yang membawaku di kota ini, tapi sudah dihadapkan pada kekecewaan. Air tak mengalir.

“Airnya tidak ada. Di sini sering mati saluran airnya. Tunggu saja tengah malam, biasanya sudah mengalir lagi,”. Terpaksa aku urungkan niatku, dan menyimpan penat hingga tengah malam. Risih juga sebenarnya merasakan tubuh penuh peluh dan lengket.

Di antara aroma keringat yang mengering, kurebahkan tubuh di ruang tengah beralaskan lantai yang menyisakan debu. Sambil menanti tengah malam tiba, untuk mengantarkan tubuh ini untuk mengobati rindu pada air yang menyegarkan.

Belumlah sempat mata terpejam. Adzan isyak telah berkumandang. Dan tak seberapa lama, datang manusia-manusia baru dihadapanku. Manusia-manusia yang beberapa wkatu terakhir aku kenal sebagai pengisi ruang tengah rumah kusam ini.

“Kita tidak bisa bersantai lagi. Di ibu kota ada kabar tindakan represif semakin kuat. Kawan-kawan kita sudah banyak yang lenyap. Kemarin mas Adi mengabariku To. Dia meminta kita bagi tugas,”

Ucapanmu seperti sebuah instruksi bagiku, yang harus dijalankan saat itu juga. Langkah-langkahku denganmu, belumlah lama. Tapi kurasakan begitu saja mampu beriringan, di tengah situasi yang semakin tidak pasti.

Pernah suatu Minggu di bulan hujan, kami berdua melangkah bersama menuju desa tempat lahirku, untuk sekedar melepas penat dan menjenguk ibuku yang kini telah memasuki masa pensiun dari sebuah SD Inpres di tengah perkebunan kopi.

“Desamu kaya. Banyak kebun kopi. Lahan pertaniannya masih luas. Air sangat berlimpah,”. “Ah…itu semua milik orang kaya di kota mas. Kami di sini tidak memiliki hak atas semua itu,”.

Kami berdua menikmati sore di tepian sungai, yang airnya mengalir begitu deras dan jernih. “Sungai ini pun sebentar lagi akan mengecil mas. Sumber airnya akan dikelola oleh pabrik air minum kemasan. Kata ibu, bulan lalu berbagai jenis alat berat sudah datang dan ditaru di atas perkebunan,”.

“Huh…!!! Jito, kita ini orang kecil yang harusnya tidak dipandang kecil oleh mereka yang punya kuasa. Kita ini orang miskin, yang harusnya tidak dimiskinkan oleh mereka yang selalu merasa kurang atas kekayaannya,”.

Sudah beberapa kali kami berdua pulang ke tanah kelahiranku. Tidak jarang ibu selalu membawakan beras hasil panen dari sepetak sawah di belakang rumah. Dan kamu pun selalu salah tingkah, ketika ibuku yang sudah memasuki senja itu repot membawakan persediaan makan untuk kita di rumah kusam itu.

Sampai suatu Minggu di bulan kering, aku tak bisa lagi pulang ke rumah menjenguk ibu. Kehadiran kami berdua di rumah, membuat perangkat desa mulai resah. Mereka beberapa kali mendatangi ibuku, dan menanyakan keberadaanku bersama kawanku.

Rencana kami berdua untuk mendatangi Pak Udi, yang kebun kopinya sudah digusur untuk membangun pabrik pengemasan air minum gagal. Ibu mulai resah dengan kehadiranku di rumah.

“Katanya, beberapa pria berambut cepak tanpa seragam, mendatangi balai desa sambil membawa berkas-berkas rahasia. Sudahlah kamu selesaikan kuliahmu saja. Ibu juga sudah kerepotan biaya kalau kuliahmu nanti terlalu lama. Adikmu juga butuh biaya,”.

Malam itu juga aku keluar rumah. Semua barangku aku simpan di kamar belakang, dan aku kunci rapat. Aku keluar rumah lewat pintu belakang, bersamaan dengan datangnya perangkat desa, dan beberapa pria berambut cepak tanpa seragam. Mereka datang penuh amarah. Sempat kudengar ibu dibentak-bentak mereka.

Semalaman aku menginap di sudut stasiun, menanti kereta paling pagi untuk membawaku ke kota ini. Selepas delapan jam perjalanan di tengah gerbong yang penuh sesak, aku langsung mengayunkan langkah menuju rumah kusam.

Pintu besi berkarat di depan rumah kusam itu tidak lagi tertutup. Rumah masih lengang. Tak kulihat lagi tatapan dinginmu menyapaku dari depan pintu. Baru saja aku melangkah, tiba-tiba suaramu terdengar berbisik dari balik pagar samping rumah. “Jangan masuk”.

Aku menghentikan langkah, lalu menuju ke sumber suara itu. Dan kulihat badan lusuhmu berdiri menempel ke tembok. “Tunggu malam baru kita masuk rumah. Sekarang kita ke sungai saja dulu. Semalam rumah diobrak-abrik. Aku selamat!,”.

Baru saja aku ingin berteriak, dan ingin menumpahkan rasa kalutku karena di desa tanah kelahiranku semua orang yang pernah kami ajak rapat soal rencana pendirian pabrik air kemasan telah lenyap.

Baca juga: Dialektika Marx dan Engels

Niat bercerita itu akhirnya aku pendam rapat. Senja itu hanya kami lalui berdua dengan terduduk di tepian sungai. Sungai yang airnya tak sejernih di desaku. Sungai yang penuh bangkai. Beraroma busuk. Berair pekat.

“Si Gondrong dan gadis berambut ikal itu telah membongkar semuanya!”. Bisikan suara lirihmu, semakin membuatku bergidik di tepian sungai yang tak beda dengan comberan itu. Bau busuk menyeruak lagi. Membuatku muntah dan dadaku sesak.

Saat adzan isyak berkumandang, dia mengamitku. Mengajakku mengendap di antara aroma busuk air sungai, bangkai tikus, dan air pekat berwarna gelap. Melintasi lorong sunyi dan gelap akibat aliran listrik padam, kami berusaha masuk rumah dengan melompati pagar tembok belakang rumah.

Pagar setinggi dua meteran itu, dengan mudah kami lompati. Rumah telah senyap. Isinya berantakan. Beberapa gelas yang biasa kami pakai membuat kopi telah hancur. Di antara pekat malam itu, berkas di kamar selatan telah dikeluarkannya, dan dibakarnya.

“Ini jalan kita, dan kita tidak pernah akan meninggalkannya,”. Bisikamu terdengar mengalun di malam menjelang pagi, saat kami kembali duduk berdua menanti subuh tiba. Di ruang tengah yang kini senyap.

Sesaat tak kudengar lagi suaramu. Kulihat samar di pekat malam menjelang pagi, tubuhmu kembali beranjak menuju belakang rumah, langkahmu begitu ringan malam menjelang pagi ini. Bayangmu juga tak terlihat. Aku semakin merapatkankan kedua lututku ke daguku.

“Brak…!!!” suara dari belakang rumah membuatku terjaga. Subuh belum juga tiba. Saat derap sepatu itu merangsek masuk ke ruang tengah. Tak kulihat lagi tubuhmu. Hanya derap-derap kaki menyeret karung berisi gumpalan.

Aku berdiri dengan cepat dan berusaha berlari. Tapi langkahku menghantam keras derap kaki itu. Tersungkur di pintu ruang tamu menuju halaman. Aroma anyir menyisir di antara hidung dan mulutku. Mengucur deras di antara pandangan yang mulai kabur.

“Heh!!! kamu anak desa, jangan ikut-ikutan pemuda tak bertuhan ini,”. Hardikan yang bertubi-tubi disusul suara pukulan dan tendangan dari derap sepatu menyapa tubuh dekilku, dan tak bisa lagi kurasakan sakitnya.

Di antara deru mesin yang meraung, menyusuri jalan kota yang kulihat pekat. Tanganku terikat dengan kakiku. Di depanku hanya kulihat karung putih dan rembesan air beraroma anyir seperti darah yang mengalir di antara hidung dan mulutku.

“Dia tak bertuhan!!!,”. Disusul hardikan sepatu berderap yang menginjak karung putih itu. “Tidak!!!”. Suaraku tercekat di tenggorokan saat leher terinjak sepatu yang berderap.

Mas Tri sangat mengenal Tuhan. Setiap malam kudengar suaranya lembut membaca ayat-ayat Al Quran. Dia juga selalu senang mendengarkanku bernyayi lagu pujian bersama ibuku, di hadapan nyala lilin dan bayangan salib mungil di meja rumah di desaku.

Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (1)

Suara lirihnya di tengah malam, saat tahajud usai dilakukannya selalu menyemangatiku. Sama seperti saat menanti subuh yang tak pasti ini. Di atas deru mesin yang meraung dan kaki tangan masih terikat, melintasi jalan-jalan yang dulu pernah kulalui bersamanya.

Di ujung jalan menghadap arah matahari terbit, di saat subuh telah terlewati. Kamu selalu berucap tentang jalan ini. Jalan yang pernah dilalui bersama, dan akan terus bersama menyambut sinar pagi. “Ini jalan kita, kita pernah melaluinya bersama, dan kita akan selalu bersama,”.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *