
Dua tubuh yang semula bergumul itu, perlahan mulai tak bergerak, membatu. Di luar, kulihat sinar mentari mulai masuk dari celah jendela rumah.
Siang di Kota Antah Berantah ini, rasanya makin tidak ramah. Sinar mentari seenaknya menyengat. Tidak cukup, dengan semaunya ia memancarkan warna keemasan menyilaukan. Aku harus memicingkan mata untuk mengamati jalanan kota yang semakin lengang. Kutinggalkan dua sosok diam tersebut di kegelapan. Aku berlari kencang, semakin kencang, hingga mencapai terang.
Baca juga: Mengapa Kita Harus Menulis?
Rasanya sudah berbulan-bulan, aku terkurung di rumah besar berlantai dua milik Tante Marie. Di rumah bergaya gothik dengan pilar-pilar besar dan atap lengkung meninggi ini, aku seperti menjelma patung yang hanya bisa menatap nanar ke luar rumah setiap hari. Tapi kali ini, akhirnya aku bebas.
Entah persisnya sejak kapan, Tante Marie mengurung diri di rumah ini. Aku, tentu saja akan mengikutinya. Sejak itu, aku tak lagi bisa jalan-jalan menikmati sore, seperti yang biasanya aku dan Tante Marie lakukan. Jangankan jalan-jalan, sekadar melongok muncul di jendela saja, Tante Marie melarangnya.
Tante Marie tak suka dibantah. Jika aku nekat, lalu ketahuan, Tante Marie tak segan-segan memukul dan mengikatku. Kalau sudah begini, hanya belas kasih Tante Marie yang akan menyelamatkanku. Aku sudah pernah melakukannya, dan tak akan kuulangi lagi tanpa seizin Tante Marie.
Aku tidak begitu paham, kenapa Tante Marie berubah drastis. Sebelumnya, ia adalah sosialita yang riang mengundang banyak orang berkunjung ke rumah besar ini. Pesta, nyaris tak pernah berhenti. Tante Marie pernah berkata, begitulah seharusnya agar dikenal orang. Harus mau menggelar pesta dan mengundang orang-orang yang layak diundang.
Namun itu semua sudah berlalu. Dugaanku, ini semua terjadi setelah Tante Marie menerima telepon suatu ketika. Tak banyak kumengerti, selain kata-kata virus, saudara di kota kena, dan isolasi. Tiga hal itu terus diucapkan Tante Marie sejak itu. Dalam gerutuan, dalam makian tertahan, dan dalam gelapnya rumah yang tak pernah lagi menyala lampunya sejak saat itu.
“Ini semua gara-gara dia, saudara perempuanku yang waktu itu menginap di sini. Rupanya dia positif kena virus. Tahukah kamu? Dia dijemput paksa dari rumah dan diisolasi di rumah sakit. Semua keluarga turut kena juga. Termasuk si Tomi. Iya, Tomi itu,” kata Tante Marie padaku hampir setiap malam. Tomi adalah keponakan Tante Marie yang paling disayang oleh Tante Marie, dan paling sering berkunjung.
Saking sayangnya pada keponakannya itu, aku sempat mengira Tomi adalah anak Tante Marie yang dititipkan pada keluarganya. Selama ini Tante Marie memang hidup sendiri. Makanya ia sangat senang kalau Tomi datang mengunjunginya. Ia akan memenuhi kulkas dengan aneka makanan, memborong aneka camilan dan buah-buahan, dan tentu saja membiarkan Tomi mengajak teman-temannya menginap berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Tante Marie tidak masalah.
Selama tamu-tamunya tersebut hormat pada Tante Marie, rasanya itu sudah cukup. Memenangkan hati Tante Marie memang tidak sulit. Selama kita menghormatinya, apalagi kita patuh pada setiap kata-katanya, maka semua hal akan diiyakan.
Pernah suatu ketika, Tante Marie berselisih paham dengan temannya. Persoalannya menurutku sepele, mereka berebut jadi tuan rumah arisan. Tante Marie merasa ia harus jadi tuan rumah. Begitupun temannya. Selisih paham itu berbuntut panjang, berujung saling tidak sapa dan menggunjing satu sama lain. Sebulan lamanya kelompok sosialita itu terbelah menjadi dua kubu. Namun, begitu seterunya akhirnya datang meminta maaf dan mengaku salah, Tante Marie pun melupakan segala masalah. Mereka kembali akur dan menggelar pesta sama-sama. Di rumah Tante Marie tentu saja.
“Kita tak boleh kelihatan. Kita harus sembunyi. Jangan sampai ada orang tahu kita di sini, nanti kita turut diisolasi. Aku tidak mau seperti itu,” kata Tante Marie terus mengulangi kalimat itu setiap hari. Ia seperti berharap aku paham apa maksudnya.
Baca juga: Pak Hakim
Agaknya, Tante Marie ingin orang mengira dirinya sudah pergi meninggalkan rumah. Bahwa, rumah itu kosong. Itu akan mencegah petugas datang menjemput paksa untuk mengisolasi kami.
Sejak kabar via telepon itu, Tante Marie memutuskan mematikan aliran listrik. Ia mengunci pintu rumah rapat-rapat dan benar-benar menyulap rumah gedong itu seperti bangunan tak berpenghuni. Lengang. Jangankan menerima tamu untuk berpesta. Mengintip dari jendela saja tidak pernah.
Kurasa Tante Marie benar-benar pintar. Ia memilih mengunci diri di ruang bawah tanah, dengan penerangan lilin secukupnya, itupun jika dibutuhkan. Ruang bawah tanah itu cukup tersembunyi. Orang tak akan pernah tahu jika tak masuk ke dalam rumah dan menemukan pintu rahasia di lantai dapur.
Meski letaknya tersembunyi, namun dari ruang bawah tanah itu, kami masih bisa memantau aktivitas orang di luar rumah melalui lubang intip tersembunyi. Kurasa, itulah kelebihan rumah orang kaya seperti Tante Marie. Mereka bisa membayar kontraktor untuk membuatkan bunker perlindungan.
Ada semacam lubang intip kecil, yang sebenarnya berfungsi sebagai angin-angin, yang letaknya tersembunyi. Tertutup di antara panel-panel ornamen tak beraturan, sehingga lubang itu sekilas tak kelihatan dari luar.
Meski di ruang bawah tanah, Tante Marie tak akan kehabisan makanan. Stok makanan instan dan aneka minuman sudah jadi isi tetap ruangan. Buat persediaan darurat, begitu Tante Marie pernah bilang padaku. Benar saja, kali ini, makanan dan minuman itulah yang menyelamatkan kami saat ini.
Hampir sebulan ini, setiap hari, aku menatap mata Tante Marie yang penuh ketakutan. Ia yang selama ini berdandan cantik dan berlenggak-lenggok anggun di sepanjang jalan depan rumah, kini setiap hari hanya berputar-putar di dalam ruangan tertutup, di basemen rumah. Jangankan untuk menelepon menanyakan kabar temannya, menyalakan listrik ruang bawah tanah saja tidak.
Baca juga: Kemarin
“Kita harus sabar. Kita tunggu saja penyakit ini segera hilang. Aku tidak mau jadi pesakitan yang diusung ke sana-ke mari, seperti tak ada harga diri. Aku tak mau seperti tetangga depan rumah itu, Mama Vera, yang tak habis-habisnya digunjing setiap hari gara-gara kena virus ini,” kata Tante Marie bergumam pada diri sendiri.
Aku teringat pada keluarga Mama Vera, tetangga depan rumah yang punya kucing putih bersih dan cantik itu. Beberapa waktu lalu, Mama Vera ditengarai kena virus yang sedang menjangkiti seluruh negeri. Virus itu didapatnya usai pulang dari luar negeri. Sakitnya Mama Vera, menurut yang kudengar dari gunjingan orang-orang, ketahuan setelah dokter keluarganya memutuskan isolasi mandiri karena terkonfirmasi positif virus berbahaya itu. Setelah wali kota menelusuri, rupanya dokter keluarga itu sebelumnya memeriksa Mama Vera yang mengeluh sesak nafas sepulangnya dari negeri seberang.
Setelah itu, aku ingat, banyak petugas berseragam aneh datang menjemput Mama Vera dan keluarganya. Mama Vera dibawa paksa naik ambulans, sementara rumahnya dijaga petugas, dan penghuninya tak boleh keluar rumah. Sejak itu, aku tak pernah melihat kucing cantik berbulu putih milik Mama Vera bermain-main di depan rumah. Orang-orang bergunjing berhari-hari, bahkan terbawa ke dalam pesta yang digelar di rumah Tante Marie.
“Kasihan ya Mama Vera. Begitulah kalau tak bisa menjaga diri, akhirnya kena virus bahaya itu,” ucap Tante Marie pada tamunya saat pesta terakhir, sebelum penantian panjang di persembunyian ini.
Aku sangat ingat ucapan Tante Marie itu, karena aku langsung membayangkan wajah kucing putih cantik milik Mama Vera. Apa yang akan terjadi padanya, pikirku saat itu. Kenapa juga Tante Marie dan orang-orang di sana tetap saja menggelar pesta saat tetangganya kesusahan, pikirku. Ah, manusia! Gerutuku saat itu.
Bayangkan saja, beberapa hari setelah Tante Vera dibawa petugas gara-gara sakit, orang-orang ini sepertinya sudah melupakannya. Mereka kembali tertawa-tawa, menari, dan menyantap aneka hidangan dengan musik jedag-jedug yang aku sendiri selalu pusing mendengarnya.
Sebagai tuan rumah, Tante Marie tetap saja luar biasa. Ia menyulap ruang tengah rumahnya menjadi ballroom pesta. Lampu warna-warni menyorot silih berganti, menerpa gelas-gelas kristal yang terisi anggur merah kelas atas. Aku tahu minuman itu bukan sembarangan, karena pernah ada tamu Tante Marie yang sengaja menuangkan sedikit minuman itu pada wadah minumku sambil tertawa-tawa. Minuman warna merah bening itu hambar, namun saat ditelan meninggalkan aroma wangi yang bertahan lama. Baunya tidak menyengat, namun saat kuhabiskan, kepalaku langsung terasa berat dan membuatku mengantuk.
“Hei, minuman ini beracun tidak? Kenapa dia langsung tertidur?,” teriak teman Tante Marie yang samar-samar kudengar bernama Moran itu. Tante Marie dengan nada tinggi menimpali perkataan Moran. Rupanya Tante Marie tersinggung anggur yang disuguhkannya dipertanyakan keasliannya.
Ah, orang-orang ini selalu saja begini. Terus berpesta, terus menjadikanku tester makanan dan minuman yang disajikan. Rasanya mereka semua bergantian bertugas menguji sajian. Kali ini Moran mengujikan minuman padaku. Kemarin Sir Arnold, kemarinnya lagi Tante Betty, dan entah tetangga-tetangga Tante Marie lain yang aku bahkan tak tahu namanya. Dasar masyarakat kelas satu, pikirku.
***
Malam masih terasa panjang, seperti hari-hari sebelumnya. Senyap. Aku lebih senang siang hari, karena setidaknya masih ada cahaya mentari menembus lewat celah angin-angin. Malam hari, sinar lampu hanya remang-remang sampai ke dalam ruang bawah tanah ini.
Baca juga: Kisah Menguatkan Jiwa Remaja
Ssstt….tiba-tiba Tante Marie mendesis ke arahku, sambil mengarahkan telunjuk ke depan mulut. Seperti memberi kode agar aku tidak gaduh. Mungkin Tante Marie mendengar sesuatu, pikirku.
Aku mendekati Tante Marie dan duduk di dekatnya. Kulihat, Tante Marie memasang telinga seperti mencoba mendengar suara. Matanya memicing ke arah pintu masuk ruang bawah tanah.
Dag..dig..dug…aku menanti. Tak kudengar apa-apa selain suara detak jantungku. Saking lengangnya, desah nafas Tante Marie pun bisa kudengar. Nafas itu pelan ditahan. Telinga kami sama-sama tegak. Mencoba mendengarkan suara. Lengang.
Begitulah hari-hari kami saat ini. Kalau Tante Marie sudah mendesis dan meletakkan tangan di depan mulut, tandanya kami harus benar-benar hening. Sedapatnya tak bergerak, tak bersuara, dan kalau perlu menahan nafas. Kami harus benar-benar menghilang.
Entah malam keberapa ini, tapi hawanya sangat gerah. Kulihat Tante Marie pun tidurnya gelisah. Beberapa kali ia mengayunkan kipas tangan untuk mengusir panas. Maklum, di ruangan ini AC tidak menyala. Tante Marie benar-benar mematikan listrik sejak ia memutuskan sembunyi di ruang bawah.
Katanya, jika meteran listrik masih menyala, ada kemungkinan orang melihat dan menganggap rumah ini tidak kosong. Lalu, memicu orang-orang masuk paksa ke rumah mencari dan mengisolasi kami.
Tiba-tiba dari arah luar, kudengar suara bisik-bisik orang. Aku bangkit dari tidurku, lalu bergerak mendekat ke arah lubang angin, satu-satunya penghubung kami dengan luar rumah. Kuintip dari lubang sebesar tutup botol minuman itu, tampak ada dua orang berdiri tak jauh dari rumah ini.
Baca juga: Secarik Pesan
Aku mematung sambil mendengarkan. “Rumah ini sejak kapan kosong begini ya? Kemana perginya Tante Marie tak ada yang tahu. Ia seperti hilang begitu saja,” ujar salah seorang sosok di luar sana, yang ternyata seorang pria. “Iya, sejak keluarganya dinyatakan positif virus berbahaya itu, Tante Marie seperti hilang ditelan bumi. Menurutmu ke mana dia?,” ujar pria di sebelahnya.
Kutengok ke arah kasur, dan ternyata Tante Marie sudah bangun, lalu duduk mematung di atas tempat tidur. Kulihat ia meletakkan telunjuk di depan bibirnya, mencoba menenangkanku agar tak gaduh. Tante Marie memiringkan kepala, mencoba mendengar suara percakapan di luar rumah.
“Menurutmu penghuni rumah ini ke mana? Tante Marie seperti hilang, setelah menyuruh seluruh pekerjanya libur. Tak ada lagi yang tahu keberadaannya. Bahkan saudaranya di kota seberang pun, katanya tidak tahu keberadaannya. Ponselnya tak bisa dihubungi,” kata pria pertama.
“Ya, semua orang mencarinya. Wali kota sampai mengerahkan tim khusus untuk mencari. Setelah kejadian yang menimpa Mama Vera, kali ini Tante Marie menghilang dan bikin heboh. Dasar orang kaya, bikin repot saja,” kata pria kedua, sosok lain di sebelahnya.
Mendengar namanya disebut, Tante Marie pun beringsut mendekat ke lubang angin-angin sepertiku. Ia berjalan berjingkat agar tak menimbulkan suara. Badannya membungkuk, seolah ingin melipat tubuhnya agar kecil sepertiku.
Obrolan dua orang itu berlanjut sambil beberapa kali mereka celingak celinguk berusaha mengintip ke dalam rumah. Kedua orang itu sepertinya petugas piket jam malam. Akibat pandemi virus bahaya ini, wali kota memerintahkan pembatasan jam malam. Ada petugas piket yang akan menertibkan.
Sebenarnya setiap warga mendapat jatah piket jaga malam bersama petugas dari pemerintah kota. Tapi, orang-orang kaya di sana seperti Tante Marie, Mama Vera, dan tamu-tamu Tante Marie selalu bisa menyikapi. Mereka biasanya membayar orang untuk menggantikan piket jaga. Saat situasi sulit seperti ini, orang malah ramai-ramai ingin disewa tenaganya untuk piket jaga. Aku tahu, karena suatu waktu ada tiga orang datang ke rumah Tante Marie bergantian menawarkan jasa jaga malam. Mereka itu, katanya datang dari kampung di belakang perumahan Tante Marie.
“Ya, pandemi ini memang berat untuk semua orang. Perusahaan tempatku bekerja saja sudah memecat setengah karyawannya. Kau tahu sendiri, aku salah satu korbannya,” kata pria pertama.
Ia menceritakan bagaimana perusahaan sekuriti tempatnya bekerja tak lagi mendapat order jaga, karena banyak perusahaan menutup kantor selama virus merajalela. Tak ada kerjaan, artinya tak ada pemasukan. Padahal, perusahaan harus tetap menggaji karyawannya. Satu-satunya cara memangkas pengeluaran adalah dengan mengurangi jumlah pekerja, PHK.
“Sabar. Jangankan perusahaan swasta. Pemerintah kota ini saja kelimpungan karena tak bisa mendatangkan turis. Tahu sendiri kota kita ini adalah kota wisata. Bagaimana jadinya kalau tak ada kunjungan. Akhirnya seperti ini, sepi layaknya kota mati. Orang berbulan-bulan diam di dalam rumah, tidak bekerja, dan entah sampai kapan. Bisa jadi sampai semua orang mati bosan,” kata pria kedua.
“Mati tak bisa makan yang jelas. Tak ada penghasilan, tak ada uang, anak istri mau makan apa? Kalau orang-orang kaya tujuh turunan seperti di perumahan ini, enak saja. Mereka punya tabungan segudang,” kata pria pertama dengan sinis.
Baca juga: Kegagapan Manusia Perbatasan
Suara pria pertama itu masih saja terdengar sinis. “Lihat saja itu, semua bagian rumah ini rasanya bisa dijual. Itu lampu itu, pasti laku mahal kalau dijual,” katanya pada lelaki di sebelahnya. Malam itu, waktu berlalu dengan gerutuan orang yang berjaga di depan rumah.
Malam berikutnya, lagi-lagi Tante Marie terjaga gara-gara ada suara berisik di luar rumah. Tampak siluet dua orang mengendap-endap di luar rumah. Mereka bergerak pelan, lalu bekerjasama mengangkut dua buah pot tanaman di depan rumah milik Tante Marie dengan tergesa. Mereka menghilang di balik rimbun pepohonan. “Kurang ajar, itu kembang mahal. Dasar maling…” umpat Tante Marie tertahan dengan mata mendelik.
Aku paham rasa kesal Tante Marie, karena dua tanaman itu didapat dengan susah payah. Tante Marie pernah mengajakku ikut lelang beberapa kali, untuk mendapatkannya. Satu tanaman itu, Tante Marie menyebutnya seharga sebuah mobil mewah. Meski mahal, Tante Marie menempatkan tanaman itu di depan rumah agar dengan mudah dilihat tetangga sekitarnya. Tante Marie senang saat ada orang memuji tanaman itu.
Tante Marie masih berusaha mencari-cari ke arah mana dua bayangan itu pergi. Tak kelihatan, karena banyak ornamen hias rumah yang menutupi celah. Tante Marie pun beringsut kembali ke tempat tidur sambil menggerutu pelan.
Dalam gelap, kulihat bayangan tubuh Tante Marie lincah menuju kasur. Meski suasana gelap tanpa penerangan, selama berbulan-bulan terkurung di ruangan itu, aku tahu Tante Marie sangat hapal jalur yang dilaluinya.
Setelah berjalan beberapa langkah dari lubang intip, ia akan bergeser sedikit ke samping, menghindari meja yang ada di tengah ruangan. Berikutnya, ia akan kembali berjalan beberapa langkah lalu berhenti di depan pintu. Kupikir Tante Marie meraba-raba kunci, memastikan ruangan tertutup dari dalam, sebelum akhirnya beringsut ke kasur dan tidur.
Hari-hari di dalam ruang bawah tanah memang tak banyak yang bisa dilakukan selain mengintip ke arah jendela, makan, memastikan ruangan selalu terkunci, dan pada akhirnya kami tidur di tempat tidur. Kebiasaan itu dilakukan Tante Marie setiap hari. Aku bahkan sampai hapal, bahwa Tante Marie menyembunyikan pemukul bola kasti di dekat kasur, dan membiarkan sepotong besi di atas meja di tengah ruangan. Tante Marie berkata, itu semua untuk berjaga-jaga.
Malam ini, lagi-lagi kami terjaga karena mendengar suara. Kletek…kletek… srekk..srekk.. suara itu memecah keheningan. Tante Marie mendengarnya. Ia menatapku dengan curiga. Srekk…srekk… kami kian mematung, mencoba mendengar lebih tajam. Sreekk..srekk…seperti langkah kaki mendekat.
Berikutnya, kudengar ada suara dari arah pintu. Kletek…kletek…ting…suara anak kunci berputar disambut denting suara kunci jatuh ke lantai. Tante Marie langsung memegang pentungan yang ada di sebelahnya, dan bergerak ke arah pintu. Krekk….pintu terbuka pelan dan ada bayangan melongok ke dalam.
Tanpa ba-bi-bu, Tante Marie langsung mengayunkan pentungan ke arah sosok itu. Aduh….hey…sosok itu berteriak bersamaan dengan bunyi jatuh berdebam. Kulihat sosok itu berusaha melawan Tante Marie. Dalam remang, keduanya saling serang, dengan beberapa kali bunyi bag-bug dan rintihan tertahan. Hingga tak lama kemudian, semua berubah tenang dan kembali lengang.
Baca juga: Sebuah Ciuman
Aku belum bergerak, memandang ke arah keduanya, sambil menunggu situasi. Entah berapa lama, saat suasana mulai tenang, kuberanikan berjalan ke arah pintu. Kakiku terantuk sesosok tubuh yang tak bergerak. Kuendus baunya, bau tubuh Tante Marie. Kujilat-jilat badannya, berharap ia akan bergerak. Namun tetap saja membatu. Di luar mulai terang, sinar matahari mulai malu-malu masuk melalui celah jendela.
Aku kembali bergerak, menemukan sosok satu lagi yang juga tidak bergerak, tak jauh dari tubuh Tante Marie. Dari tubuhnya, aku pun mencium bau yang rasanya juga kukenal. Rasa ingin kabur mengalahkan rasa ingin tahuku. Meong… aku pun lari sekencang-kencangnya meninggalkan dua tubuh yang bergelimpang…
