
Judul buku : Bajunya Sini
Penulis : Ratna Indraswari Ibrahim
Penerbit : Sava Media, Malang, Juni 2004
Tebal : ix + 138 halaman
Ketika proses transisi sosial, budaya belum selesai, maka terjadi kecenderungan munculnya “manusia perbatasan” yang hidup dalam dua dunia: satu sisi berpijak di alam tradisional dan di sisi yang lain di alam modern. Di satu sisi cita-cita dan gaya hidup perkotaan di sisi lain semangatnya masih kedesaan.
Baca juga: Mengapa Kita Harus Menulis?
Situasi semacam itu mengakibatkan munculnya kegagapan manusia untuk bertindak dalam upaya memenuhi kebutuhan eksistensinya. Manusia menjadi luput untuk menentukan pilihan, cita-cita, dan jati dirinya sendiri.
Itulah benang merah yang bisa ditangkap dari cerpen-cerpen dalam kumpulan Bajunya Sini ini. Buku ini memuat 17 judul cerpen yang semua tokohnya adalah manusia serba gagap untuk mengartikulasi dan memaknai diri dan lingkungannya. Mereka seperti sebuah perahu kecil di tengah gelombang lautan yang dahsyat.
Simak tokoh Sini dalam cerpen Bajunya Sini, adalah pelacur yang terombang-ambing antara cita-cita dan realitas. Juga Tina dan Wahyuni dalam cerpen Mimpi Dua Orang Wanita, adalah dua perempuan yang satu hidup di kota dan satunya lagi hidup di desa. Mereka saling berselisih paham tentang sikap mereka dalam menghadapi seorang lelaki bernama Yusuf. Tetapi di akhir cerita tidak konsisten dengan sikap mereka semula.
Kalau ada tokoh yang hidup di perkotaan dan terdidik seperti Anisa, Ibu (Sulvia Rahmat) dan Pak Basuki dalam cerpen Foto di Kebun Anyelir mereka tidak pernah bisa tegas menyikapi perubahan-perubahan sosial budaya antara keterbukaan dan cinta-cinta tersembunyi.
Karena kegagapannya, manusia dalam kumpulan cerpen ini tidak bisa melihat dirinya sendiri dalam arti kedudukannya baik sebagai individu yang otonom, maupun kedudukannya di tengah-tengah arus perubahan sosial budaya. Padahal, mengerti dan memahami kedudukan secara psikologis maupun fenomenologis merupakan pijakan untuk menentukan arah hidup dalam pencarian eksistensi yang lebih hakiki.
Baca juga: Menakar Seribu Berkat
Manusia-manusia dalam cerpen ini, kemudian, menjadi manusia yang tidak tegas dalam bersikap. Mereka menjadi terombang-ambing dalam momen-momen yang kabur pula. Sini menjadi pelacur karena kemelaratannya, kemudian menegaskan sebagai pelacur karena pacarnya mau memaklumi, selanjutnya berbalik menjadi tidak jujur, sekalipun hanya pada dirinya sendiri, setelah pacarnya pergi bersama temannya yang masih berseragam sekolah.
Di sisi lain, manusia-manusia dalam kumpulan cerpen ini senantiasa bersikap tanggung. Perjuangannya dalam setiap momen-momen kehidupan tidak pernah terselesaikan. Dan, akhirnya mereka berada antara “ya dan tidak”. Penyelesaian konflik yang dialami justru membawanya menjadi manusia frustrasi atau tidak terarah.
Cerpen-cerpen dalam buku ini menarik untuk disimak karena ide kegamangan yang dimunculkan tidak jauh berbeda dengan realitas keseharian kita. Dengan kata lain, agaknya cerpen-cerpen ini merupakan refleksi pengarangnya terhadap realitas sosial budaya dan politik keseharian. Ceritanya mungkin saja benar-benar terjadi, mungkin juga sekedar fiksi. Namun,makna yang tersirat di dalamnya mengesankan realitas sosio budaya politik di tengah-tengah masyarakat kita yang belum pernah bisa terlepas dari proses transisi.
Refleksi yang sesungguhnya berat ini, dituangkan pengarangnya dengan gaya bercerita yang enak dinikmati. Bahasanya mengalir tanpa beban dan tidak membutuhkan kerutan kening. Membaca cerpen-cerpen ini layaknya kita dibimbing berpetualang ke sudut-sudut kehidupan, seperti kompleks pelacuran, kebun apel, jalanan kota yang sumpek, pantai yang amis. Pembaca juga akan dikenalkan dengan pembohong, pemimpi, kekerasan, kelembutan, cinta, kebencian, dan semacamnya.
Kepiawaian pengarang dalam meramu cerpen-cerpennya bukan karena ia seorang pengkhayal yang bermain di antara imajinasinya. Ratna Indraswari, pengarang cerpen ini, dari biodatanya dapat dilihat sebagai orang yang aktif di bidang sosial masyarakat. Ia seorang aktifis perempuan, penyandang cacat, lingkungan, politik juga kebudayaan.
Baca juga: Pak Hakim
Sebagai pengarang proses kreatifnya sudah terasah sejak lama. Sebelumnya dari tangannya sudah terbit lima kumpulan cerpen, antara lain: Menjelang Pagi (1995), Namanya Massa (2001), Lakon di Kota Kecil (2001), Sumi dan Gambarnya (2003), dan Noda di Pipi Seorang Perempuan (2003). Ditambah lagi ratusan cerpen yang tersebar di media massa, serta novel, dan novelet.
Akhirnya, membaca cerpen ini (cerpen-cerpen yang ditulis tahun 1990-an), semenarik membaca kumpulan cerpen sebelumnya. Makna yang terangkum di dalamnya mengajak pembaca ikut merefleksi perubahan sosial budaya di tengah masyarakat. Sekalipun sekarang, serbuan teknologi informasi telah menyeruak tak terbendung.***
(Editor: A. Elwiq Pr.)
