
Kabar yang mencemaskan Sastro datang pada malam hari. Petugas rumah sakit mengirim pesan; esok Tasya harus sudah masuk rumah sakit. Diharapkan pagi-pagi sekali.
Baca juga: Masih Kusimpan Sekarung Kata-kata
Tasya mengidap suatu penyakit. Sastro sendiri belum jelas betul penyakit yang bersarang di dalam tubuh gadis kecil mungil itu. Sebelumnya, melalui sederetan pemeriksaan, dokter menyarankan untuk dikeluarkan; dioperasi, meskipun tidak terlalu berbahaya.
Tasya cucu Sastro. Usianya belum genap tiga tahun. Dia sangat lekat –tidak hanya dekat, pada Sastro. Selain dengan ibunya, sehari-hari Sastro lebih banyak menemaninya. Ayahnya bekerja di luar kota, pulang setiap akhir pekan. Praktis berkumpul dengan Tasya hanya sehari saja, pada hari Minggu. Neneknya, istri Sastro, juga sibuk bekerja. Pulang sore hari dalam keadaan sudah lelah. Bertemu Tasya hanya selintas-selintas saja selepas petang. Sastro yang banyak waktu luang di rumah menjadi paling dekat dengan Tasya.
Sastro melakukan hampir seluruh kebutuhan Tasya. Memandikan, mengganti pakaian, mengganti popok kalau sudah penuh, menyuapi, juga menidurkan dalam gendongan. Kadang kalau jenuh di rumah mereka berdua pergi ke alun-alun main ayunan. Sastro juga menari-nari mengikuti irama lagu anak-anak, berharap Tasya ikut menari. Kata Sastro, biar menjadi anak yang aktif. Jika Tasya melakukan gerakan menari kupu terbang; badannya membungkuk, tangannya direntangkan ke belakang punggungnya dan berteriak lirih, “telbanggg…”, Sastro tertawa gemas.
Sastro berperan menjadi pendamping utama ibunya Tasya, ketika keluar masuk rumah sakit.
“Tasya pasti merasa tersiksa ketika berhadapan dengan perawat atau dokter yang sudah ia hafal dari pakaian jas putihnya”, gumam Sastro.
Pemeriksaan di poli sebelumnya cukup membekas dalam ingatan dan perasaannya. Berhadapan dengan dokter akan mendapat siksaan-siksaan. Pemeriksaan dengan ctscane menjadi pengalaman pertama Tasya, kalau masuk rumah sakit itu menyakitkan.
Ceritanya, Tasya harus diperiksa dengan bantuan ultrasonografi (USG) untuk mendapatkan kepastian penyakit di dalam tubuhnya. Tetapi citra yang dihasilkan tidak dapat menampakkan dengan jelas. “Ini harus di-ctscane!” kata dokter sambil menyodorkan surat rujukan.
Baca juga: Senja
Tasya harus masuk bangsal rumah sakit semalam sebelum di-ctscane. Untungnya di rumah sakit ini diperbolehkan masuk beberapa orang untuk menunggunya. Di dalam ruang ini hanya ada dua pasien. Tasya riang gembira mendapatkan tempat tidur yang bersih. Dia melompat-lompat di atas tempat tidur. Ketika suster masuk membawa peralatan medis, dia belum curiga dan masih menari-nari. Dan kegembiraannya semakin menyala pada wajahnya ketika suster menggantung botol infus pada tiangnya.
Tetapi ketika suster memasang kateter infus di punggung telapak tangannya, Tasya mulai berontak. Dia mulai meraung, “Sakit! Sakit…”.
Untuk ctscane Tasya harus puasa setidaknya enam jam. Mulai jam dua malam perutnya sudah tidak boleh lagi diisi makanan atau minuman. Kebiasaan Tasya, waktu malam sampai dini hari minum ASI. Ketika ibunya mencegah untuk minum ASI Tasya meronta. Matanya memandang aneh di tangannya terkait selang dihubungkan dengan tabung infus yang digantung di tiang. Tasya berontak. Berusaha melepas benda yang tidak diharapkan itu. Sastro tidak tega memandang lama-lama cucunya. Ia berusaha menghiburnya dengan menggendong Tasya ke luar ruangan. Mbah putrinya membuntuti sambil mengangkat tiang infus.
Sepanjang pagi Tasya menangis. Matanya sembab. Mbah putri dan ibunya menahan isakan matanya memerah. Mata tua Sastro berkaca-kaca. “Pulang! Pulang…!” ringiknya.
Hasil pemeriksaan ctscane merujuk agar Tasya dioperasi.
Pada hari yang telah dijadwalkan untuk operasi tiba, Tasya dibangunkan pagi-pagi. Ia dimandikan, dikenakan pakaian yang bagus, sepatu, masker anak, kacamata, dan topi. Tasya bergembira sambil menyanyi dan menari ketika ibunya bilang, “kita akan pergi bersama Kung.” “Kung” panggilan Tasya kepada Sastro yang artinya Mbah Kakung.
Sastro menggendong Tasya ketika pergi ke rumah sakit pagi itu. Wajah Tasya berseri-seri. Sepanjang jalan tidak henti-hentinya menyanyikan lagu anak-anak dengan syair yang tidak lengkap.
Kelucuan gadis kecil itu tidak sanggup mengusir jas putih dari benak Sastro. Dokter akan memperlakukan Tasya seperti sebelumnya, bahkan dia akan membedah tubuh anak yang masih lembek itu. Sastro berusaha menghiburnya.
Sastro mengajak Tasya singgah ke toko mainan anak-anak. Masih pagi. Toko itu baru buka. Tasya memaksa turun dari gendongan Sastro. Ia menjelajahi mainan pada rak satu demi satu. Kadang ia hanya menyentuh saja, lain mainan Tasya mengambilnya dibawa berputar tetapi kemudian dikembalikan lagi. Ia sangat tertarik dengan boneka kelinci warnanya abu-abu.
“Kamu mau boneka lucu itu?” kata Sastro.
“Mau…mau…,” jawab Tasya sambil memeluk mainan barunya.
“Boneka cantik…untuk Tasya… Ayo dibayar dulu,” kata ibu Tasya.
“Dak mau…dak mau…,” Tasya memeluk boneka pilihannya erat-erat.
Sastro tertawa. Penjaga toko hanya tersenyum.
Tasya menggendong boneka kelinci itu sepanjang jalan. Ia berbicara tiada henti pada teman barunya itu.
Sastro mulai agak tenang. Ia berharap boneka kelinci itu dapat menghibur Tasya, mengalihkan perhatiannya dari suster atau dokter yang akan dijumpainya.
Waktu ibunya antri di loket untuk mendapatkan kamar, Tasya tidak peduli. Dunianya hanya berdua dengan boneka kelinci. Orang yang lalu lalang tidak mengusiknya. “Ssstt,” Tasya menutup bibirnya dengan telunjuk. “Ada adik bobok,” sambungnya sambil memandang pada boneka di pangkuannya. Kemudian Tasya menidurkan si kelinci abu-abu itu di kursi ruang tunggu. Tasya menidurinya sambil memeluk erat, dan menciumnya.
Baca juga: Rayuan Ilmuwan Das Kapital
Saat Tasya dipanggil untuk masuk kamar di bangsal anak-anak, Sastro mengangkatnya. Ia memandangi wajah Tasya dalam gendongannya. Mata Sastro berkaca-kaca kembali. Ia mencium pipi Tasya berulang-ulang. “Anak cantik. Anak lucu. Anak sehat. Anak kuat…,” katanya, seolah-olah Tasya mengerti disemangati kakeknya.
Tasya memeluk Sastro. Dan sang kakek membalas dengan pelukan erat sambil menuju bangsal.
Ketika masuk ruangan kelas 3 –kebetulan kelas 1 dan 2 penuh, Tasya mulai curiga. Ia memandangi deretan tempat tidur yang telah diisi anak-anak sedang menjalani proses penyembuhan. Tasya tidak mau turun dari gendongan Sastro. Ia memeluk erat kakeknya, seakan-akan minta perlindungan orang yang paling mengerti padanya.
“Ayo, anak pintar, turun di tempat tidur,” rayu Sastro.
“Dak mau…dak mau…,” protesnya sambil mempererat pelukannya.
“Lihat ini, kasurnya empuk,” kata ibunya sambil menekan permukaan kasur. “Ajak kelinci cantik bermain di atas kasur.”
Tasya hanya menoleh.
“Ya, Tasya. Kamu cerita kepada kelinci cantik, itu ada teman-teman baru Tasya,” bujuk Sastro lagi.
Tiba-tiba Tasya melemparkan boneka kelinci ke atas tempat tidur, kemudian ia menyusulnya. Segera ia merengkuh boneka kelinci dan menidurkan di atas bantal yang sarungnya masih bau pewangi setrika. Tasya menemani berbaring di sampingnya. Ia memandangi wajah boneka kelinci. Tangannya yang mungil mengelus-elus punggung berbulu boneka itu. Ia mulai berbicara pada lawan baringnya. Entah bicara apa! Sastro tidak begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Ibunya telah selesai mengurus administrasi di ruang suster. Ia kembali ke tempat tidur Tasya bersama Suster. Tasya memandangi perempuan berjas putih itu. Wajahnya tiba-tiba berubah mengerut. Ia mulai mengusirnya. “Dak mau…dak mau… Dada… Makaci…,” Tasya meronta.
“Tidak apa-apa anak cantik. Ibu hanya mau lihat teman Tasya yang cantik pula,” kata Suster sambil mengelus boneka kelinci. “Siapa nama kelinci cantik ini?”
Tasya menolak tangan Suster. Ia bangkit dan duduk di pojok tempat tidur sambil memeluk erat teman barunya. Sastro menghampiri dan mengelus kepala Tasya.
Sebelum pergi, Suster berbicara pada ibunya Tasya rencana persiapan operasi nanti malam. Suster akan memasang kateter satu jam lagi, satu jam berikutnya akan menyalurkan cairan infus melalui kateter. Suster juga memberikan jadwal puasa delapan jam sebelum operasi.
“Bapak, ibu, yang boleh menunggu di ruangan ini hanya satu orang,” kata Suster selanjutnya.
Jadi, Sastro harus keluar ruangan ini. Ibunya yang akan menjaga. Tasya butuh minum ASI sebelum puasa. Sastro minta ijin sampai Tasya tenang.
Sastro merasa berat untuk meninggalkan cucu kesayangannya. Ia menciumi Tasya berkali-kali.
Baca juga: Amsal Monyet
Tasya sudah mulai tenang dan bercerita lagi pada boneka kelinci yang akan setia menemaninya. Ketika Sastro menghindari Tasya pelan-pelan, Tasya menoleh dan memanggilnya, “Kung…!”
“Kung mau pipis dulu ya anak cantik…,” pungkas Sastro.
Tasya memandang Sastro lekat-lekat. Pandangan mata minta perlindungan. Sastro bergegas keluar lewat pintu belakang.
Di luar ruangan Sastro sengaja melintas dekat jendela. Ia melirik Tasya. Tasya memandang lekat Sastro sambil memeluk boneka kelinci.
***
