Mee, Namaku (16)
Mee, Namaku (15)
Sastra Vs Penguasa
Mee, Namaku (14)
Laki-laki dalam Kamar

kalaulah rambut sudah dikepang empat
lebih lucu dikasih poni
kalau kemudian udara gerah menyengat
kita butuh angin sepoi

//
10 Maret 2025

ketika matahari baru terbit
aku sudah bangun dan masuk kamar mandi
aku tak mau tak mau sekolah terlambat
agar aku tak menjadi anak pandai
pandai dalam bahasa
mengerti setiap kata Tionghoa

//
3 Maret 2025

“Hanya ada satu kata: Lawan!”

Larik penutup dalam puisi berjudul “Peringatan” karya Wiji Thukul, masih terus menggelegar hingga kini. Pada setiap aksi masa, larik puisi di bait terakhir tersebut, selalu disuarakan dengan lantang dan penuh semangat oleh para aktivis.

//
27 Februari 2025

sekalipun aku tak punya masa depan
aku bukan anak yang bodoh
aku masih punya harapan
suatu saat nanti bisa menjadi tokoh

//
24 Februari 2025

Setiap malam, aku mendengar tangis begitu khusyuk dari sudut kamarku yang sempit. Tangis yang dirajut dengan doa-doa dan wirid panjang. Doa Ibu untukku.

//
19 Februari 2025

Budaya

  • All Posts
  • Budaya
Load More

End of Content.

Sastra

  • All Posts
  • Sastra
Load More

End of Content.