Mee, Namaku (5)
Kata Perempuan itu;
“Suatu saat aku melihat
Di ruang makan
Disulap menjadi ruang tamu
Meja makan ditata rapi
Sejumlah laki-laki
Duduk melingkar
Diantaranya aku melihat
Laki-laki itu
Calon suamiku.”
Kata Perempuan itu;
“Suatu saat aku melihat
Di ruang makan
Disulap menjadi ruang tamu
Meja makan ditata rapi
Sejumlah laki-laki
Duduk melingkar
Diantaranya aku melihat
Laki-laki itu
Calon suamiku.”
Aku khawatir dan bertanya tentang kapan bahagia menjadi bagian dari cerita ini?
Tentang Sedih dan Bahagia Read More »
Fajar belum menyingsing
Azan Subuh baru usai
Mimpi tersekat
Pada ranting asa
Alurnya tinggalkan juta harap
Daru beranjak
Penampung Papa
Orang totok itu, setotok Papa itu
Punya adik
Perempuan
Serumah
Sering berpapasan dengan Papa
Sering berjumpa
Sering berpandang mata
Sering salah tingkah
Ia
Sering memerah pipinya
“Ah…aku paling benci kalau sudah malam begini. Pasti suara menjijikan itu lagi yang keluar,” gerutuku, yang tak betah lagi mendengar suara tetanggaku mengeluarkan lendir dari hidupngnya.
Astrid memasuki gedung tua nan megah, dibangun pada tahun 1930-an di sebuah kota tak jauh dari dermaga. Astrid menelusup diantara kerumunan, orang lokal maupun asing.
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menggambarkan latar tempat Mee lahir, tahun 1950. Kelanjutanya di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (1) Bagian 1 Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku 2. Aku lahir bulan JanuariTapi namaku MeiAslinya MeeNama lahirPemberian orang tuaAsli Tiongkok Baca juga: Hujan 1965, nama Mee jadi masalahHarus diubahMenjadi MeiKalau tidak, bisa jadiTinggal namaMeskipun tetap dipanggil MeeSemua catatan berubah MeiMei dengan mata sipitDan kulit langsat. Aku suka dipanggil MeeLebih gembira dariMendapat hadiah kelahiranMee tak tergantikanMelekatMenancap dalam dadaCatatan sipil boleh menggantiDengan MeiMee tak pernah terhapusDalam jiwakuMee untuk perempuanMee artinya cantikMee perempuan cantikMee membuatkuTak pernah bosanMeliuk di depan cerminCermin yang tertanamDalam hatikuMee. Namaku, Mee. Baca juga: Teman Papaku perantauanJauh sebelum merdekaIbuku jugaKeduanya totokTak ada darah pribumiPada darahku tak mengalirDarah pribumiAku juga totokPapaku totokIbuku totokAku totok. Dua puluh tahunSebelum aku lahirPapaku tak di kota iniMungkin gagal hidupnyaDisanaPindah rantau ke siniIkut orang totok jugaMana bisa dia hidupDengan selain totok?Papaku orang uletTiada waktu tanpa kerjaSeandainya tak butuh tidurSepanjang waktu akan bekerjaTidak ada istilah santaiTidak mengenal leha-lehaIa tak pernah kekurangan pekerjaanApapun dikerjakanHanya butuh bantuanKiranya yang dikerjakanTidak akan selesai,Akan menumpukDi toko orang yang menampungnya.Ia menata daganganMemindah dari gudangMengisi kaleng-kalengYang kosongMengangkat karung-karung Dari becak pengangkutKe gudangMenyapuMencabut rumputTak akan ditemuiSebutir debuDi toko iniBersih. Baca juga: Soal Ingatan Si totok yang menampungnyaSelalu gembiraTak ada wajah tanpa riangApalagi, kerut dahiMata melotot.Papa dipercaya.Si Totok berani meninggalkannyaPergi berhari-hariKe luar kota.Tak ada pekerjaan keteteranTak ada!Tak ada, ibaratnya;Sebutir beras yang hilangTak ada!Aman. Mee hidupDiantara merekaOrang-orang totok.
Apa yang Anda ketahui tentang Bukowski? Mengapa Anda memilih tema ini? Apa pentingnya Bukowski bagi kehidupan Anda dan apa gunanya Anda menyeret nama dia
Efek Diskusi Bukowski: Sebuah Upaya Mewawancarai Diri Sendiri Read More »
Air tercurah dari langit seperti tak ada habisnya. Suara petir menyambar-nyambar sekenanya. Kutengok dari jendela, sungai di depan rumah mulai tumpah.