Mee, Namaku (32)
Kalau ada yang dapat menikmati hari demi hari
Dengarkan aku, berjalanlah dengan kepala tegak
Tengoklah, aku lebih rapuh dari kaktus
Kalau ada yang dapat menikmati hari demi hari
Dengarkan aku, berjalanlah dengan kepala tegak
Tengoklah, aku lebih rapuh dari kaktus
Sebatang rokok di tangannya telah habis, dan tidak ada lagi yang bisa dibakar. Tora memandang langit yang jauh malam itu. Ia dihantui perasaan berdosa, terutama pada anak bininya.
Sujud Tora Malam Itu Read More »
Apakah kamu, wahai remaja, pernah mengalami beban sampai kelu lidah?
Padahal air mengalir meliuk tidaklah kaku
Kata orang usia remaja merupakan masa yang indah
Aku kira masa itu tidaklah berlaku untukku
Hanyut di sungai mencari tepian
Airnya deras terbentur batu berkali-kali
Apalah artinya ketakutan dan keinginan
Kalau kemudian jalannya beda sama sekali
Matahari melintas ke barat semakin menepi
Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan
Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi
Kami memang berbeda, aku totok dia baba
Katanya cinta tak mengenal perbedaan
Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada
Tapi kenyataan selalu lebih kuat untuk memisahkan
Senyum di warung sate itu seperti ombak di laut,
Membuat aku merasa betapa rapuh dan lemah,
Apakah begini rasanya jiwa dan hati tertaut,
Tidak bisa melawan, hanya bisa menyerah.
Waktu berputar membuat batas
Pada saatnya pintu akan ditutup
Sudah tak ada orang berkerumun di teras
Semua duduk di kursi menatap layar bioskop
Kalau malam semakin redup
Di dalam kamar tak bisa tidur aku merenung
Apakah harus kuterima menjadi jalan hidup
Di dalam toko tubuh dan pikiran terkurung
Dengarkanlah setiap pesan dari pepatah:
Apapun yang kamu kerjakan pasti ada hasil
Tak selalu datang berlimpah-limpah
Kadang besar, kadang kecil