Pak Hakim
Sejak kecil ia hanya diajari, dan belajar, menggunakan tangan. Bagaimana kini ia diharapkan bisa menggunakan hatinya?
Sejak kecil ia hanya diajari, dan belajar, menggunakan tangan. Bagaimana kini ia diharapkan bisa menggunakan hatinya?
Dalam satu tarikan nafas,
Cerita baru terwujud.
Suara lirih ditiupkan.
Menghembus lembut dalam rahim.
Yono mengirimi Sri puisi karya penyair kawakan. Sri wangi bunga Seruni dan semua orang tahu kedekatan Yono dengan sang penyair di masa lalu.
Penyair dan Penyu Air Read More »
Lelaki tua itu berdiri tepat di tepi jalan. Dia berusaha tetap menunggu bus datang dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Bus yang akan membawanya menuju kota Surabaya.
Lelaki Tua dan Nama Read More »
Ditawarkan sebidang panggung
Enam kali sepuluh meter
Dijamin mengudara
Nama dan wajah-wajah
Sudah jadi kebiasaan, bila naik angkot saya selalu mencari tempat duduk di depan. Samping pak sopir. Demikian pula pada hari ini.
“Kubuka roncean kembang kirimanmu tempo hari, Mirasaga. Dua roncean dalam waktu singkat kau rangkai, menandai keuletanmu berkebun yang cukup lama. Terima kasih untuk semuanya,” ujar Citrabiru.
Heni dan saya lahir dari Mbah yang sama. Ia dari sisi bapak dan saya dari sisi ibu. Bapaknya Pak Maskan Soekanto, kakak ibuku Koestinah.
Cerita dimulai dari kabar seseorang di masa lalu, datang bersama kawan mengajak keluar dari sarang. Melintasi ruang, meninggalkan waktu.
Mata-mata tajam menatap layar kaca. Jari-jari bergerak cepat memenceti benda bersinar di tangan. Sekitar tak dipandang.