Amsal Gorengan
Ada dua penjual gorengan, yang satu namanya Jumiati satunya lagi Jumiatun. Mereka bertetangga, bahkan rumahnya bersebelahan.
Ada dua penjual gorengan, yang satu namanya Jumiati satunya lagi Jumiatun. Mereka bertetangga, bahkan rumahnya bersebelahan.
“Rio, ale ingat kafe pustaka samping Perpus UM?” sebuah pesanku kirimkan ke sahabatku di Kepulauan Aru, Maluku.
Hari ini hujan turun. Deras. Tak bisa berhenti. Bila berhenti sebentar. Seolah ia mengambil nafas dalam, lalu turun berikutnya lebih deras lagi.
Hujan yang Tak Bisa Berhenti Read More »
Teh mawar itu saya jumpai di rumah dalam gang. Dari sisi selatan kota naik angkutan ke arah utara, turun di perempatan Kaliurang.
Pagi Tak Selalu Tentang Kopi Read More »
Lagi-lagi aku melihat lelaki berusia empat puluh an itu datang tergopoh-gopoh heboh. Tas ransel di punggungnya dilepas dan diletakkan di kursi dengan kasar.
Kamu tahukan gambar yang pernah saya sebar beberapa waktu lalu? Tangga begitu tinggi –saya tidak sempat menghitung berapa jumlah anak tangga yang dirakit.
Ini bukan rumah saya. Tapi ini juga bukan rumah siapa-siapa. Juga bukan kantor. Lebih tepat, saya menyebut persinggahaan.
Kamu pernah lewat sini malam-malam? Gelap. Jalannya sudah beraspal. Sebagian mulus, sebagian aspalnya mengelupas, bergeronjal. Tidak begitu lebar.