Mee, Namaku (19)
sudah kukatakan aku bukan anak bodoh
pandai pula dalam mengarang
meski menghadapi berhitung aku tergopoh
nasibku di sekolah juga malang
sudah kukatakan aku bukan anak bodoh
pandai pula dalam mengarang
meski menghadapi berhitung aku tergopoh
nasibku di sekolah juga malang
katanya aku suka berlari
jalanan diguyur terik matahari
aku sekolah sudah beratus hari
pergi pulang aku sendiri
kemudian aku tahu setiap perjalanan kereta menuju stasiun
punya jadwal keberangkatan, kecepatannya diatur
setiap hidup punya tujuan yang ditempuh bertahun-tahun
tak akan pernah berbalik mundur
kalaulah rambut sudah dikepang empat
lebih lucu dikasih poni
kalau kemudian udara gerah menyengat
kita butuh angin sepoi
ketika matahari baru terbit
aku sudah bangun dan masuk kamar mandi
aku tak mau tak mau sekolah terlambat
agar aku tak menjadi anak pandai
pandai dalam bahasa
mengerti setiap kata Tionghoa
sekalipun aku tak punya masa depan
aku bukan anak yang bodoh
aku masih punya harapan
suatu saat nanti bisa menjadi tokoh
aku memberanikan diri
sebelum sore mengganti hari
bilang kepada Pak De
menitipkan hidupku pada Pak De
sampai aku nanti jadi gede
Pak De kakak Mama
mengapa berbeda?
Tidak aneh. Tetapi, selama aku ke warung ini, baru kali ini tak ada satu orang pun yang berkunjung. Sejak aku masuk, duduk di meja-kursi biasanya, di pojok yang terhalang kamera cctv,
Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan Read More »
orang serumah memanggilnya Yu Nah
nama aslinya Bi’ah
aku memanggilnya Mbok Bi’ah
entah mengapa
orang rumah
semau-maunya mengganti nama
kalau tidak ada dia
barang kali aku sudah meninggalkan alam fana
di kamar gelap, tanpa cahaya
Batang kayu raksasa menjulang ke bibir tebing seperti sedang menunjuk bibir kawah yang diameternya lebih dari lima kilometer. Dari batang kayu itu, ke bibir kawah, dipisahkan oleh bentangan savana laksana permadani yang luas.
Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu Read More »