
Ratap tangis tak akan mengubah apa pun. Lastri harus bangkit. Bukan untuk diri sendiri tapi lebih untuk dua buah hati yang masih kecil. Putra-putrinya telah kehilangan figur ayah selamanya, tak mungkin kehilangan sosok ibu pula. Lastri berusaha meyakinkan diri, dia bisa bangkit. Meski pun berat. Soal ekonomi.
Baca juga: Mesin Cuci
Wanita berambut lurus sebahu itu suka menguncir belakang seluruh rambutnya, ibu rumah tangga, dan dulu bergantung sepenuhnya kepada penghasilan suami. Sepeninggal suaminya Lastri kelimpungan. Tak ada pemasukan sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia mengandalkan sisa tabungan.
Ratno suami Lastri seorang pengantar barang on-line. Penghasilan yang didapat sesuai dengan banyaknya barang yang diantar. Meskipun pas-pasan, wanita pendiam itu berusaha menyisihkan uang sisa belanja untuk ditabung.
Kegalauannya memuncak tatkala mengingat waktunya membayar kontrakan rumah. Untungnya Bu Dani, sang ibu memberi jalan keluar. “Dari pada kamu kontrak, lebih baik ikut ibu. Dua masmu sepakat, mereka patungan membelikan rumah. Ya, walau ndak besar tapi cukup untuk kita. Ibu, adikmu, kamu, dan dua anakmu,” ujar Bu Dani, lembut.
Lastri hanya bisa mengangguk, mengiyakan tawaran tersebut. Tak ada pilihan meski berat meninggalkan rumah kontrakan penuh kenangan bersama mendiang Ratno, suaminya. Di sisi lain, dia merasa satu masalah teratasi. Problem lain pun menghadang.
Baca juga: Mee, Namaku (20)
Setelah tinggal bersama ibunya, Lastri tetap menganggur. Sembari mengurus dua anaknya, dia menyelesaikan setiap pekerjaan rumah tangga di rumah Bu Dani. Untuk makan dan memenuhi kebutuhan pengeluaran lain, Bu Dani mengandalkan kiriman uang dari dua anak lelakinya, dan bila dihitung, tak akan pernah cukup. Tapi, harus dicukup-cukupkan. Karenanya, tekat untuk mencari penghasilan di dalam diri wanita pendiam itu semakin kuat. Ada tawaran datang dari seorang teman sekolah menengah atas dulu. Lastri ditawari kerja sebagai buruh pabrik atau asisten rumah tangga.
“Tetanggaku lagi butuh ART. Jika mau, aku bisa merekomendasikan kamu ke beliau. Syaratnya, cuma minta orangnya harus jujur dan rajin,” ujar Emi lewat sambungan handphone beberapa waktu lalu, tatkala Lastri bercerita tentang kondisi ekonominya saat ini. Tapi lagi-lagi wanita bertubuh mungil itu harus berpikir ulang. Dia merasa tak mungkin menitipkan dua anaknya pada ibunya. Beberapa bulan lalu Bu Dani terkena serangan stroke, tak mungkin mengasuh cucunya, sedangkan adik lelaki Lastri tengah sibuk kuliah.
Perasaan tak tega meninggalkan dua buah hati yang dirasakan bukan tanpa alasan. Arin, putra sulung Lastri saat ini berusia tujuh tahun, didiagnosa mengalami autis. Anak bertubuh gembul, persis Ratno suaminya kerap membuat Lastri khawatir. Tingkahnya sering tak terkendali. Terlebih bila Arin mempunyai sebuah keinginan.
Hampir semua keinginan Arin, harus segera dipenuhi. Jika tidak anak lelaki berwajah bulat, berpipi tembem itu akan meronta, menangis bahkan menjerit-jerit dengan mulut mengeluarkan satu kata, A, dan jari telunjuk kanan mengarah yang dimau.
Baca juga: Satu Pagi di Tepi Kali
Sering Lastri merasa kewalahan menghadapi sulungnya. Bahkan dia pun sering menahan malu karena tingkah Arin. Namun sebagai seorang Ibu, Lastri menyadari, Arin adalah titipan istimewa dari Sang Pencipta yang harus dijaga. Itulah mengapa sebisa serta sekuat mungkin dia menjaga, mendidik, dan mengarahkan buah hatinya. Juga kepada Ariana, adik Arin.
Lastri yakin dua anaknya pasti akan mempunyai jalan menuju masa depan mereka masing-masing. Yang perlu dilakukan saat ini, memberikan apa pun yang terbaik untuk mereka, sejauh kemampuan yang di punya sebagai seorang Ibu.
Pernikahan Ratno dan Lastri terbilang singkat, hanya berjalan empat tahun, dan dikaruniai dua buah hati. Arin yang saat ini menginjak usia tujuh tahun, sementara Ariana enam tahun. Usia anak-anaknya memasuki usia sekolah. Hal ini pula yang menjadi buah pikir ibu muda tersebut.
Tekadnya untuk mencari penghasilan semakin kuat. Terbersit pula, untuk membuka usaha yang bisa dikerjakan di rumah, dan dia masih bisa mengawasi dua buah hatinya. Tapi apa? Sebuah usaha pun, pasti butuh modal. Dengan sisa tabungan yang ada, usaha apa yang bisa dkerjakan? Benaknya berkutat memikirkan hal itu.
Baca juga: Daru
Malam begitu larut, netranya belum juga terpejam. Sepasang lengannya dijadikan bantal untuk dua buah hatinya. Lastri hanya mampu menarik napas gamang. Ujian hidup yang ditanggung terasa sangat berat. Tanpa suami di sampingnya, terasa semakin berat. Titik bening itu luruh lagi. Batinnya menjerit, tapi tak bisa bersuara. Dalam puncak ketakberdayaan tiba-tiba ingatannya melayang pada percakapan singkat dengan tetangga sebelah rumah tadi siang.
Harapan, meski secercah. ***
Anita FN Sunardi, merupakan pengarang kelahiran Malang, pada 15 September 1977 Malang. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Putri dari pasangan almarhum Bapak Sunardi dan Ibu Ngatiningsih ini, juga aktif di Himpunan Wanita Difabelitas Indonesia (HWDI) dan Lingkar Sosial.
(Editor: A. Elwqig Pr.)

Very good https://is.gd/tpjNyL