Mee, Namaku (16)

Mee,Namaku (16). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, tentang Mee yang mengarang tentang kampung Mbok Bi’ah pada malam puasa. Kelanjutanya, Mee mendapat julukan jaran monel, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (15)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

 16

kalaulah rambut sudah dikepang empat
lebih lucu dikasih poni
kalau kemudian udara gerah menyengat
kita butuh angin sepoi

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

rumah Pak De penuh angin
membuatku betah disana
setiap hari aku leluasa bermain
tak ada yang menghukumku dengan semena

aku bukan anak bodoh
setiap hari tak lupa belajar
sudah tak ada lagi yang memperlakukanku dengan senonoh
mereka menyaksikanku sebagai anak yang pintar

aku suka melihat langit di luar cerah
secerah impian masa depanku
di rumah Pak De tak ada kata-kata marah
kemarahan telah berubah pujian padaku

di rumah Papa aku sudah tidak merana
seperti layaknya anak-anak bisa berlarian
tetapi kalau bertemu Papa-Mama
mereka menghardikku dengan sebutan jaran monelan

aku masih dianggapnya seperti binatang
yang dianggap mengganggu mereka bekerja
aku sekarang sudah bisa tenang
meskipun mereka tidak memberiku manja

jaran artinya kuda
monelan mengibaratkan beranting
aku jawab hardikan mama
dengan belajar di sekolah mendapat rangking

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

jaran monelan pernah aku tonton
orang menyebutnya jaran kencak
kepada Papa-Mama aku tak pernah memohon
kalau memohon mereka akan berlagak

begitulah mereka menganggapku jaran monelan
padahal orang lain menyebutku anak lincah
aku pupus julukan dari Mama dengan main pasaran
sudah tidak lagi membuatku merasa gundah

rumah Pak De layaknya rumah penyembuhan
tempat retreat untuk menemukan jalan terang
ibarat kapal telah menemukan pelabuhan
kini dadaku terasa lapang

*

hari-hari ini ada perayaan kota
aloen-aloen menjadi pusat pertunjukan
aku menonton paling depan
memandang tajam tak memalingkan mata

Baca juga: Laki-laki dalam Kamar

sebuah pertunjukan datang dari desa
kuda berhias sedang berdansa
aku teringat kata-kata Mama
yang mengibaratkanku seperti kuda

kuda berhias kuda monelan
aku saksikan di depan mata
kuda menari sambil berjalan
yang menuntun orang Madura

jaran monelan bukan sembarang binatang
ia menari diiringi terompet
tariannya mengikuti irama gendang
barangkali juga bisa menari balet

betapa indah pertunjukan kuda menari
membuat penonton terpesona
ketika kuda melakukan adegan berdiri
tepuk tangan penonton kagum padanya

begitu, nyatanya jaran monelan
keindahan sepanjang pertunjukan

kalau aku pikir, aku duga-duga
apalah artinya Mama menjulukiku jaran monelan
apakah dia sesungguhnya merasa bangga
pada aku, anaknya, sekalipun perempuan

sampai pada saat aku di peraduan
aku belum menemukan jawaban
aku bawa dalam mimpi sepanjang malam
aku takut keindahan itu berubah lagi menjadi kelam

Baca juga: Sajak Lima Belas Januari

pagi sudah mulai datang
pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengiang
aku ingin kepastian hati Mama sesungguhnya
hari ini aku bawa sebagai pertanyaan padanya

aku berharap masa lalu itu salah
aku berharap Mama seorang penyayang
aku bukan anak perempuan bermasalah
akibat tradisi yang diturunkan dari nenek moyang

aku berlari ke rumah Mama
seperti tarian jaran monel
di rumah orang-orang sibuk bererja
kudapati mata Mama melotot padaku, dengan mulut ngedumel

Yeaaah!

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *