Mee, Namaku (15)

Mee, Namaku (15). Foto/ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, tentang Mee masuk sekolah. Kelanjutanya, Mee berbakat mengarang, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (14)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

15

ketika matahari baru terbit
aku sudah bangun dan masuk kamar mandi
aku tak mau tak mau sekolah terlambat
agar aku tak menjadi anak pandai
pandai dalam bahasa
mengerti setiap kata Tionghoa
setiap kata yang diucapkan Mama Papa dan saudara
apa lagi tentang aku yang dianggapnya beban keluarga

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

kalau bermain aku tetap menggunakan bahasa Tionghoa
aku hindari menggunakan bahasa Jawa
di keluargaku tak biasa menggunakan bahasa Indonesia
kalau aku tak tahu, kepada Pak De aku bertanya

ketika puasa tiba
aku ikut Mbok Bi’ah menginap di rumahnya
di kampung yang semuanya berbahasa Jawa
Pak De tak melarang
sebab di rumah Mbok Bi’ah aku mengerjakan pelajaran mengarang
aku tulis pada buku merang
kumulai cerita itu dengan bulan terang
di atas rumah-rumah kampung yang masih jarang

aku ceritakan seperti yang aku alami
suasana puasa di malam hari
anak-anak remaja keliling kampung sambil menyanyi
memainkan musik bedug untuk mengiringi
orang-orang bangun, makan sahur sebelum pagi

Mbok Bi’ah membangunkanku untuk ikut makan sahur
juga anak-anaknya yang masih tidur mendengkur
di meja makan sudah ada sayur

aku bilang tidak ikut puasa
jadi, untuk apa aku ikut makan
Mbok Bi’ah bilang, tidak apa-apa
agar aku bisa ikut merasakan
memang susah makan pada waktu yang tidak biasa
rasanya nasi sulit untuk di telan
apa lagi lauknya sangat sederhana
jauh dari istilah kemewahan

selesai makan sahur, karanganku juga selesai
sebelum tidur aku bacakan di depan mereka
aku lihat wajah mereka pasai
tak mengerti karanganku dalam bahasa Tionghoa
tetapi aku bisa merasai
mereka semua terpesona

Baca juga: Laki-laki dalam Kamar

kepada Pak De kuperlihatkan karanganku
Pak De memandangku penuh ragu
kata Pak De, “Jadi, ini karanganmu?”
aku mengangguk malu-malu

“Kamu berbakat
bahasamu lugas dan padat
tak aka nada yang mengira SD belum tamat
kamu anak hebat,”
pujian Pak De seperti malaikat

Cao Can, judul karanganku
aku pertontonkan di depan kelasku
“Cao Can. Makan Sahur,” komentar guruku
Ia mengeluarkan bahasa Indonesia hanya sekali itu
memang ini kelas belajar bahasa ibuku

saat aku membaca, malam di kampung yang aku kenang
teman-temanku memandangku tercengang
kali ini, mereka memujiku jago mengarang
di sekolah aku mendadak menjadi bintang
pujiannya menghapus lukaku pada nenek-moyang

sekolah… sekolah… sekolah…
menjadi tenaga baruku setiap hari
sekali waktu aku kembali ikut ke rumah Mbok Bi’ah
di kampung ini penuh inspirasi

suatu saat Papa-Mama akan mendapat kejutan
juga adik-adik yang selalu main keroyokan
aku akan tampil di hadapan mereka
bahwa aku, Mee, bukan perempuan sepele belaka

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

aku sedang membuktikan
aku bukan anak sialan
pantas menjadi andalan.

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *