
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, melirikkan perkawinan tak kunjung tiba. Kelanjutanya di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (4)
Bagian 1
Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku
5
Kata Perempuan itu;
“Suatu saat aku melihat
Di ruang makan
Disulap menjadi ruang tamu
Meja makan ditata rapi
Sejumlah laki-laki
Duduk melingkar
Diantaranya aku melihat
Laki-laki itu
Calon suamiku.”
Mereka saling bicara
Bicara saling menatap
Ada yang penting
Sampai mereka
Tak sempat menoleh
Makanan hanya terhidang
Tak satu jemaripun
Yang menyentuhnya
Laki-laki calon suamiku, Papamu itu
Tidak seperti adat biasanya
Di depan mereka
Laki-laki pendiam itu
Banyak bicara
Ia seperti sedang
Merencanakan sesuatu
Yang besar
Megah
Agung.
Apa?
Sayang sekali
Aku tak dapat mendengar
Satu katapun
Dari mulut mereka
Tidak seperti ular yang mendesis
Tidak seperti cicak yang mengecak
Kata-katanya diporak-porandakan
Oleh udara panas di atas meja
Menguap sejak meluncur
Dari bibirnya.
Baca juga: Tentang Sedih dan Bahagia
Meski aku tak mendengar
Kata-kata
Cukup kutangkap tanda-tanda
Tanda menyala
Kuintip dari celah gorden kamar
Dua pasang pakaian
Warna merah bersulam
Warna emas
Perlengkapan kamar tidur
Juga perhiasan
Emas 24 karat
Warnanya menyala kekuningan
Dadaku berdesir
Mimpi itu akan berakhir, gumamku
Mimpi yang hampir pupus
Mimpi perhelatan
Perkawinan
Tetapi, bicara mereka
Begitu panjang
Tak ada ujung dan tuntasnya
Tak ada titik
Meski berkoma-koma
Siapa yang tak gemas?
Gorden hampir basah
Dan kumal kuremas-remas
Kugigit-gigit
Kutarik-tarik
Hampir putus pengaitnya
Aku hampir mengantuk
Ketika namaku dipanggil
Siapa yang memanggil?
Bukan koko
Bukan pula calon suamiku
Suara angin?
Tetapi jelas sekali
Lafal namaku
Aku melongok
Di sela gorden
Tapi, tak ada satupun
Kepala, yang tegak di leher
Menoleh kepadaku
Aku tutup gorden kencang-kencang
Seperti sedang kubanting
Gelas kaca
Di atas lantai
Agar cipratannya
Memberitahu mereka
Ada hati yang menunggu
Menunggu dibasuh
Agar lenyap sirna
Rasa rindu.
Panggilan itu menggema
Menggemakan namaku
Ketika kaki sudah masuk selimut
Aku beranjak ke luar
Menabrak gorden
Mendapati meja makan
Yang kosong
Baca juga: Daru
Kemana mereka? Pikitku.
Perempuan itu mengusap wajah
Katanya kemudian:
Yang aku ceritakan itu
Yang kamu dengar
Dari kedua telingamu
Yang membuatmu menghela nafas
Wajahmu secerah matahari
Cerita dari awal sampai akhir
Dari A sampai Z
Semua itu
Ya, semua itu!
Hanya mimpiku belaka
Tak ada prosesi
Tak ada ritual
Tak ada baju merah
Bersulam emas.
Hanya mimpi!
Tetapi, jangan bersedih
Setelah mimpi itu
Berulang terjadi
Kakakku, koko
Yang menampung Papamu itu
Mengumpulkan sanak keluarga
Di rumah pojok
Belakang pertokoan
Di sudut seberang aloen-aloen
Toko tutup
Kedai cwie mie tutup
Karyawan libur
Kuli panggul tak muncul
Hanya Yu Nah
Perempuan Jawa dari desa
Tetap tinggal
Membantu cece di dapur
Cece istri koko-ku, kakak laki-lakiku
Laki-laki penampung Papamu
Aku tidak menduga
Aku kira hanya akan menjadi
Hiasan mimpi belaka
Sehari sebelum hari
Yang mendebarkan itu
Aku dikasih tahu
“Esok, aka nada tamu
Dari petugas agama
Dan petugas pemerintah.”
Untuk apa?
“Untuk meresmikan perjodohanmu!”
Begitu caranya
Keluargaku meledakkan dadaku
Aku gemetar
Berkeringat
Mencurah air mata
Lemas seluruh tulang
Hampir ambruk
Kayak gumpalan kain kumal
Bercampur aduk
Tak percaya
Sedih
Gembira
Isakku menggema
Kala laki-laki itu, Papamu itu
Mengucap sumpah janji
Menerimaku sebagai istrinya
Tangis haru
Dan bahagia
Nelangsa kubenam dalam.
Perkawinan
Tanpa pesta
Tanpa hadiah.
Tandas Perempuan itu.
Baca juga: Refleksi Akhir Tahun: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
