
“Ah…aku paling benci kalau sudah malam begini. Pasti suara menjijikan itu lagi yang keluar,” gerutuku, yang tak betah lagi mendengar suara tetanggaku mengeluarkan lendir dari hidupngnya.
Baca juga: Tarian Hitam
Srot…srot…srot…entah berapa ratus kali keluar suara menjijikan itu dari hidungnya. Kubayangkan, lendir-lendir mengalir dari lubang hidungnya.
“Herch…”
Aku bergidik. Rambut-rambut ditengkukku sampai bediri.
“Apa hidungnya tidak rusak ya…setiap menit ditekan, dan dipaksakan untuk mengeluarkan lendir,” gerutuku semakin panjang.
Pagi-pagi, aku harus segera berangkat kerja. Tapi tak tahu, apakah pagi itu sialku. Baru saja melangkah keluar pagar, tante istri tetangga sebelah rumahku datang tergopoh.
“Mas, minta tolong. Gas di dapur saya bocor,”
Dia nyelonong begitu saja. Menghampiriku yang sudah bersiap berangkat kerja. Pagi, yang membuatku terjebak, untuk pertama kalinya harus masuk ke rumah tetanggaku.
“Ke mana juga suaminya? Kenapa harus aku yag dimintai tolong. Huh…urusan gas bocor saja, kenapa juga minta tolong padaku,”.
Si tante, tak lagi menunggu jawabanku, dan tak peduli gerutuanku. Dia langsung bergegas jalan kembali ke rumahnya. Mengenakan daster merah berhias bunga matahari. Daster berbahan kain tipis, berkibar saat terkena angin pagi.
Aku hanya terdiam berjalan di belakang bayangan daster itu. Kutatap hanya hitam tanpa hiasan bunga matahari berwana kuning. Matahari pagi, datang dari hadapanku, membuat mataku sedikit silau di balik bayangan itu.
Saat beberapa langkah menuju gerbang rumahnya, sudut mataku menangkap ada beberapa pasang mata memandangku tajam. Sepintas kulihat mereka berdiri searah datangnya matahari pagi. Tak jelas raut mukanya, hanya sepintas kulihat bayangan hitam daster-daster mereka. Sambil kurasakan, bibirnya saling berdesis layaknya ular lapar di bawah terik matahari.
Baca juga: Refleksi Akhir Tahun: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Aku melintasinya saja, tanpa peduli. Ingin segera selesai membenahi gas yang bocor, dan bisa bergegas ke tempat kerja. Kurasakan dapur rumah tetanggaku begitu pengap. Aroma gas menusuk hidung.
“Jangan nyalakan saklar lampu dulu tante. Bahaya. Bisa meledak ini. Banyak gasnya,”
Suaraku hanya dijawab dengan anggukan lembut wanita berdaster merah, bercorak bunga matahari. Sekilas kulihat dia tersenyum genit. Mungkin merasa menang pagi ini, bisa memaksaku menunda berangkat kerja.
Regulator tabung gas segera kubuka. Terlihat karet merah, penahan regulator sudah rusak. Kuganti dengan yang baru. Setelah regulator gas terpasang, tak kudengar lagi suara desis gas.
“Sudah selesai bocornya tante,”
Tanpa menunggu jawaban pemilik rumah. Langsung kubuka semua jendela di dekat dapur. Sesaat kemudian, pandaganku terpaku di dekat jendela yang terhubung dengan ruang tengah. Sesosok lelaki tidur terbujur, suara dengkurannya terdengar keras dan membuat geli di telinga.
“Ah…dia telelap,”
Ada rasa senang juga, kalau dia tidur. Paling tidak, suara dari hidungnya tak kudengar lagi. Mataku menatap semakin lekat. Kulihat dari hidungnya keluar cairan kuning kehijauan. Cairan mengental, dari dua lubang hidung, yang meleleh hingga ke ujung bibirnya.
Kuperhatikan lebih dekat lagi. Cairan itu sangat kental, bercampur nanah. Bergerak perlahan, berbarengan dengan dengkur napasnya terdengar seperti parade kenalpot di jalan yang dilanda kemacetan.
Tercium aroma anyir, bercampur amis. Tiba-tiba aku merasa terkubur di tumpukan ikan asin yang membusuk. Cairan kuning kehijauan bercampur nanah itu, kurasakan meleleh perlahan melekat masuk ke bibirku juga.
“Ich…”
“Hah!!!”
“Menjijikkan…”
Bulu kuduku secara tiba-tiba berdiri, dan rasa merinding menjalari seluruh tubuhku. Aku langsung berupaya kabur, dengan berjalan pelan setengah berjingkat, melintasi pintu samping rumah tetanggaku itu tanpa pamit.
Langkahku semakin cepat untuk meninggalkan rumah biadab itu. Aku memilih setengah berlari, namun sepertinya telah terlambat. Kurasakan cairan kuning kehijauan, bercampur nanah, beraroma setumpuk ikan asin yang membusuk itu semakin pekat menjalar di seluruh wajahku.
Dalam kejijikanku, sekilas kulihat beberapa pasang mata masih memandangku tajam. Pandangan berpasang-pasang mat aitu, menyayat wajahku yang berlumuran cairan kuning kehijauan, penuh nanah, menebarkan aroma ikan asin membusuk.
Baca juga: Mee, Namaku (2)
Di antara langkah kaki yang kian menjauh dari rumah tetanggaku itu, kudengar suara berdesis dari bibir berpasang-pasang mata yang mengintaiku. Desisan dari bibir yang berbisik-bisik itu semakin tajam, dan kencang, seperti semburan racun mematikan dari mulut kobra.
“Ah…”
Cairan menjijikan itu, terus menyebar di tubuhku saat di tempat kerja. Seharian, pekerjaanku tak ada yang tuntas. Semua orang di kantor memandangku penuh kecurigaan dan jijik. Mereka seperti menyaksikanku berbalut dengan cairan kuning kehijauan beraroma busuk itu,
Malam, sepulang kerja masih kurasakan cairan kuning kehijauan beraroma ikan asin membusuk itu tak bisa hilang. Semakin menyebar ke seluruh badanku. Air bercampur sabun yang kusiramkan di kamar mandi, tak lagi mampu melunturkannya.
Di tengah kekalutanku, terserang cairan kuning kehijauan, bercapur nanah yang masuk lewat bibirku. Ku dengar lagi suara itu. Memekakkan telinga.
“Srot…srot…!!!,”
Hentakannya semakin kuat, dan terus berulang sepanjang malam. Bentakanku tercekat di leher. Ingin kuteriak di depan pintu rumah, biar si tetangga itu segera menghentikan aksi menjijikkannya.
Setiap malam, telingaku selalu dibuat gatal dengan orkes suara hidung tetangga, bercampur hentakan napas penuh nafsu. Mengeluarkan cairan kuning, kehijauan, bercampur nanah beraroma ikan asin membusuk.
“Dasar tetangga baru, tak pernah tahu etika,” keluhku suatu malam di pos satpam depan komplek perumahan.
Keluhanku, yang selalu disahut oleh Yudi dengan tawa terkekeh. Pria bertubuh gempal, berkulit legam, dengan hiasan akik warna-warni di jari-jari tangannya.
Baru sebulan ini, Yudi menjadi penjaga malam komplek perumahan tempat tinggalku. Kumis tebalnya, selalu membuat tampangnya semakin seram, dan misterius.
Baca juga: Hujan
Aku begitu saja lepas bercerita pada Yudi. Meskipun baru beberapa minggu ini berbincang akrab. Tak tahu, kenapa aku begitu nyaman saja menumpahkan kekesalanku tentang perilaku tetangga sebelah rumah, meskipun selalu hanya dijawabnya dengan tawa terkekeh sang penjaga malam.
“Baru pulang pak?”
Suara Yudi, tiba-tiba menyelinap di antara kegelapan malam. Sempat membuatku kaget, dan memaksaku mendadak mengerem sepeda motorku.
“Iya Pak Yudi,” jawabku singkat, sambil mencoba menenangkan diri dari kekagetanku.
Mungkin motorku juga merasakan kekagetanku, hingga mesinnya ikut-ikutan mati, dan sulit kunyalakan lagi. Yudi mencoba membantuku. Dia tergopoh mendekat pada motorku. Mungkin dia merasa bersalah telah mengagetkanku.
“Maaf ya Pak Soim. Jadi kaget ya?” ujarnya sambil mengamit, dan membantuku menyalakan motorku. Di tengah gelap malam, yang mulai dibasahi gerimis.
“Kenapa gelap sekali Pak Yudi?”.
“Iya pak. Sejak sore tadi ada pemadaman listrik,”
Motorku nyala lagi. Sorot lampu depannya, memecah gelap kawasan perumahan, yang malam ini kulihat lebih buruk dari kuburan. Sepi. Gelap. Dan pastinya beku.
Kususuri jalan gelap yang membeku itu, untuk bisa segera masuk ke dalam rumahku yang kini disergap senyap.
Gelap ini begitu beku, tak seperti 35 tahun lalu, saat aku masih tinggal bersama bapak ibu di desa. Gelap di desaku yang kala itu belum tersentuh aliran listrik negara, tetap terasa hangat.
Kala itu, kurasakan gelap datang lebih cepat. Dingin juga tidak pernah sungkan menyergap tubuh mungilku, bersamaan datangnya kabut dari bukit depan rumahku.
Di antara gelap dan dingin itu. Kurasakan selalu ada kehangatan dan cahaya penerang. Ya…hangat, karena selalu ada gerombolan tetanggaku yang datang bercengkrama di teras rumah. Ditemani kopi hitam, duduk melingkar menikmati malam.
Kehangatan itu, semakin riuh dengan cerita-cerita khas desa. Cerita tentang sawah, pranata mangsa, dan pengairannya, selalu membuatku tertarik. Semua kehangatan malam, akan diakhiri ketika kami semua sudah diserang ngantuk.
Pernah suatu malam, kehangatan bercengkrama itu berubah menjadi ketegangan mencekam. Dua suara letusan tiba-tiba menyalak, membakar kesunyian dan gelap malam.
Kami semua sempat tidak berani bergerak. Waktu itu tepat di Sabtu malam. Langit sedang cerah-cerahnya. Sehingga bisa kami saksikan bayangan-bayangan berkelebat cepat, dari lembah.
Malam dan gelap, terasa lama berganti terang. Semua di antara kami tidak ada yang berani beringsut dari teras. Sudah tidak terasa lagi dingin menjelang subuh. Semuanya masih tegang, dan bicarapun menjadi sangat pelan, setengah berbisik.
“Sudah dua kali ini ya?”.
Bapakku berkata setengah berbisik, membelah keheningan menjelang subuh. Suaranya nyaris tidak terdengar, tertelan bunyi kenalpot dua buah mobil jenis jip yang tiba-tiba meraung dan melaju kencang meninggalkan lembah, menuju ke arah selatan.
Baca juga: Efek Diskusi Bukowski: Sebuah Upaya Mewawancarai Diri Sendiri
Setelah benar-benar datang terang. Kami baru berani meninggalkan teras sambil melepaskan kaku yang menghinggapi sekujur tubuh. Kami beramai-ramai menuju ke lembah, dan terlihat sesosok manusia tergeletak bersimbah darah. Bajunya serba hitam. Tidak menggunakan alas kaki.
Bapak memintaku menjauh. Tetapi aku masih penasaran. Kulihat para tetanggaku bergotong royong mengangkat sosok yang sudah dingin dan membujur kaku itu. Kulihat, ada tetanggaku yang membuka tas kain bawaan sosok yang membujur kaku itu.
Di dalam tas kain lusuh, bercampur warna darah itu, terlihat banyak buku-buku agama, dan kitab suci.
“Kenapa bawa buku seperti orang itu harus ditembak mati,” tanyaku kepada bapak setengah berbisik.
Aku menyaksikan para tetanggaku melepas ikatan kawat yang menjerat dua jempol kaki, dan dua ibu jari tangan sosok misterius yang terbujur kaku di dekat aliran sungai kecil. Air jernih yang mengalir dari perbukitan di depan rumahku itu, kini mulai bercampur merah darah.
“Ini petrus”.
Bapakku berkata singkat di dekat telingaku, dan semakin membuatku tak pernah tahu. Hanya kuingat, seluruh warga desaku penuh kehangatan memandikan sosok terbujur kaku itu, menyucikannya, dan memakamkannya di sudut pemakaman dengan nisan tanpa nama.
Mereka tidak pernah tahu, siapa sosok yang membujur kaku bersimbah darah, membawa buku-buku agama, dan kitab suci itu. Tetapi mereka merawat jenazah itu dengan penuh cinta dan sayang yang tulus.
Siapa orang itu, aku tak pernah kenal, dan tak ada keluarganya yang datang melihat makamnya. Mungkin itu aib juga buat keluarganya
Puluhan tahun sejak peristiwa itu, baru kupahami apa itu “petrus”. Petrus sebuah singkatan dari penembak misterius. Dan siapa sasaran petrus, serta pelakunya, tidak banyak yang tahu. Semuanya masih samar seperti gelap malam tanpa listrik yang menyergap rumahku malam ini.
***
Malam ini, rumah tetanggaku sepi. Aku setengah bersorak dan ingin merayakannya. Tidak terdengar lagi suara srot…srot…srot…itu lagi.
“Ah…aku bisa tidur dengan tenang malam ini,” gumamku, sambil berbaring di atas tempat tidurku.
Bukan hanya soal suara hidung, yang membuatku jijik. Tetanggaku ini juga paling hobi mengobral komentar di dunia maya.
Baca juga: Soal Ingatan
Grup untuk komunikasi warga perumahan, selalu dihiasinya dengan kabar dari jauh yang tak pernah ada sangkut pautnya dengan kepentingan warga perumahan. “Ah…orang ini hanya cari sensasi saja,” pikirku.
“Selamat pagi pak, tidak masuk kerja hari ini?” sapaku di suatu pagi, saat kulihat tetanggaku itu berada di depan rumahnya.
Dia terlihat berkain sarung, dengan jaket tebal dan syal di leher. Tak kudengar lagi bunyi menjijikan dari hidungnya. Wajahnya pucat seperti kapas yang baru terbuka dari bungkusnya.
Sapaku yang telah kulempar dengan ramah, hanya dijawabnya dengan diam dan dingin seperti es batu. Mendapatkan jawaban itu, jengkelku datang lagi.
“Heuh…gayanya saja sok akrab di grub. Giliran ketemu juga diam dan dingin,” gerutuku, sambil kupacu motorku perlahan, meninggalkan pos satpam.
Kulihat Yudi si satpam baru bertampang sangar itu, masuk pagi. Tidak biasanya itu terjadi. Sekelebatan, kulihat istri tetanggaku tersenyum centil dari balik jendela kaca pos satpam, menghadap ke Yudi.
“Hah…!!!” aku terhenyak.
“Ada apa Yudi dengan tante itu. Kenapa tante itu di pos satpam. Kenapa juga dia senyum-senyum centil padaku. Pantas saja, Yudi tak pernah menanggapi kekeselanku soal tetanggaku,”.
Pikiranku dihantui banyak pertanyaan, hingga aku kehilangan selera menulis di kantorku. Pekerjaan menulis yang belum tuntas di kantor itu, terpaksa harus aku bawa pulang dan coba kuselesaikan di teras rumah.
Papan ketik, kuketuk dengan perlahan sambil menikmati malam penuh warna lampu, meski tak pernah kurasakan kehangatan seperti masa kecilku waktu di desa. Semuanya serba dingin. Hanya riuh di dalam grup dunia maya, tapi tak pernah kurasakan tegur sapa penuh senyum hangat.
Saat konsentrasiku terpusat pada sisa tulisan, dan papan ketik. Tiba-tiba istri tetanggaku datang. Langkahnya yang tanpa suara, membuatku tak menyadari kehadirannya. Sosoknya yang tiba-tiba berdiri di depanku, membuatku terperajat kaget, dan nyaris membuat laptopku terjatuh.
“Mas, bisa pinjam teleponnya?” cerocos tante istri tetanggaku, tak memberiku sedikit kesempatan bernapas.
Suaranya kadang terdengar mendesah manja, dan kusaksikan dia Kembali mengenakan daster hitam, bermotif bunga warna-warni. Daster itu sedikit berkibar, dihembus angin malam.
Baca juga: Buka BWCF di Jambi, Fadli Zon: Indonesia Ibu Kota Budaya Dunia
Di antara kekagetanku yang belum habis, aku berusaha menenangkan diri dan hanya dingin saja menanggapi permintaannya.
“Pulsaku habis, tak bisa buat menelpon. Tadi saya pergi sama ibu-ibu arisan, tiba-tiba pulang ke rumah kok suami saya tidak ada di kamar. Mau saya telepon, ternyata pulsa saya habis,” sambungnya.
Suara centil, dengan sedikit desahan itu, kembali kudengar meluncur dari bibir tante istri tetangga rumah. Suara itu kini kurasakan sudah di dekat telingaku, dan tanpa kusadari ternyata dia sudah duduk di samping tempatku mengetik.
Aku diam saja, dan kubiarkan dia kebingungan. “Paling orang ini ada maunya. Maaf kalau kasih pulsa, tak aku kasih. Datang ke sini kalau ada maunya. Kemarin-kemarin ke mana saja?” pikiranku protes sendiri, tanpa melihat lagi tante tetanggaku itu.
Tak seberapa lama, muncul Yudi. Dia datang tergopoh mengendarai motor bututnya. Dia tak mempedulikan aku, dan langsung mendekati tante istri tetanggaku.
“Bu… bapak sakit, tadi saya antarkan ke rumah sakit. Sekarang harus rawat inap, karena hidungnya mengalami gangguan serius. Ada infeksinya. Ayo ibu, saya antarkan ke sana. Bapak sudah ditangani dokter, semoga kondisinya tidak kritis lagi,”.
Suara Yudi terdengar bergetar, sementara aku hanya termangu di depan laptopku, tanpa tahu apa yang harus aku kerjakan. Tante itu berjalan pelan meninggalkanku, setelah sebelumnya pamit dengan suaranya yang parau.
“Mari Pak Soim. Permisi, mau ke rumah sakit lagi,” Yudi pamit kepadaku, dan hanya kujawab dengan anggukan lemah.
Mataku hanya terpaku di tembok-tembok pagar yang mengelilingi rumah-rumah dingin itu. Tembok-tembok kokoh, diterangi cahaya lampu. Menyisakan deru motor Yudi, menelisip di antara tembok yang dingin.
(Editor: Iman Suwongso)
