
Air tercurah dari langit seperti tak ada habisnya. Suara petir menyambar-nyambar sekenanya. Kutengok dari jendela, sungai di depan rumah mulai tumpah. Airnya deras mengarah ke rumah-rumah.
Kalau sudah hujan begini, saat pulang ke rumah, Bapak pasti marah-marah. Ada saja yang membuatnya marah. Mulai dari Emak tidak lekas membukakan pintu, rumah berserakan tidak rapi, dan tentu saja karena aku. Entah kenapa Bapak begitu membenciku. Aku diam saja salah, apalagi aku ngomong.
Baca juga: Teman
Hujan. Aku benci hujan, sebenci-bencinya. Hujan membuat nasi goreng jualan Bapak tidak laku. Orang-orang malas ke luar rumah. Akhirnya, Bapak hanya bengong menunggu orang datang, sambil berlindung di bawah terpal gerobak nasi goreng.
Kalau Bapak pulang marah-marah, aku akan berlari memeluk emak, dan berlindung di balik tubuhnya. Itu kalau aku belum tidur. Kalau sudah tidur, paling-paling aku akan terbangun setelah merasakan nyeri akibat balok pemukul kentongan untuk jualan nasi goreng mendarat di tubuhku. Atau, benda apapun di sekitar Bapak akan dilemparkan begitu saja ke arahku.
Aku tidak pernah tahu kenapa Bapak begitu membenciku. Bapak mengata-ngataiku sebagai anak setan. Entahlah, maksudnya apa. Setahuku, aku anak Bapak. Apakah nama lain bapak adalah setan, aku tidak pernah paham.
Emak adalah malaikatku. Dia selalu ada untukku. Saat aku asyik omong sendiri dengan pikiranku, Emak akan selalu menanyaiku apa yang kulakukan. Ia berusaha bermain denganku. Saat aku tak paham apa yang dikatakan atau ditanyakan orang, Emak mengulangi perkataan dan pertanyaaan itu, lalu mengejanya satu persatu untukku. Aku sedikit-sedikit mulai mengerti maksud perkataan mereka.
Ah, Emak begitu sabar. Belum lagi saat aku tiba-tiba lari ke luar rumah untuk memegang apa saja yang bergerak, termasuk kendaraan yang berjalan, emak dengan sigap mengejar dan menangkapku. Emak seringkali menjelaskan, bahwa lari mengejar kendaraan berjalan sangat berbahaya, karena aku bisa tertabrak. Aku begitu suka barang-barang bergerak.
Aku benci hujan, karena hujan sering menghalangiku pergi bersama Emak. Padahal, Emak menaruh harapan besar saat mengajakku ke luar rumah. “Kita pergi ke orang pintar, ya Nak. Kamu manut ya. Insyallah kamu akan segera sembuh,” kata Emak antusias.
Kami pergi ke orang pintar, biasanya pada siang hari. Saat itu, Bapak sedang tidur sebelum siap-siap berjualan pada malam hari. Siang hari itulah masa-masa di mana Emak akan mengajakku melihat pemandangan di luar rumah.
Aku tahu bagaimana roda-roda berputar degan cepat dan mengesankan. Melihat daun-daun bergoyang teratur tertiup angin. Tapi satu hal yang aku tidak suka saat ke luar rumah bersama Emak, yaitu suara-suara terlalu keras. Suara kendaraan, orang bicara, dentum musik, yang semuanya serasa memekakkan telinga. Aku hanya bisa menutup telinga saat suara-suara itu menyerbuku. Jika sudah tak tertahankan, aku akan berteriak, minta tolong Emak untuk menghentikan semua kegaduhan itu.
Baca juga: Orang-orang di Kota Tom Lake
Di rumah orang pintar, sebenarnya aku tidak benar-bear nyaman. Tapi, lucu juga melihat orang itu bermain-main dengan air dan bunga mawar.
Aku biasanya disuwuk (ditiup dengan rapalan doa) dan diberi jampi-jampi (diberi pengobatan). Sesekali si orang pintar menaburiku dengan kembang mawar. Aku bosan. Kutepis saja tangan orang pintar itu hingga jampi-jampi berupa air dan larutan bunga mawar itu tumpah. “Jin di dalam anak ibu sangat kuat. Ia harus dibawa ke sini lagi minggu depan,” ujar si orang pintar.
Aku tidak yakin orang itu benar-benar pintar. Kalau pintar, pasti sudah sejak awal ia bisa mengusir jin dari tubuhku. Itu hanya triknya saja untuk mengeruk duit Emak.
Di lain kesempatan, Emak mengajakku datang ke orang pintar lainnya. Tapi orang pintar ini cukup baik. Ia mengenakan baju warna putih bersih. Rapi. Ia hanya menanyaiku soal kesukaanku pada banyak hal. Bahkan, aku disuruh menggambar. Kugambar saja roda-roda yang terus berputar, karena aku menyukainya. Orang itu menurutku pintar, karena ia tahu keaukaanku pada roda berputar hingga rasa benciku pada suara keras. Ia tahu hanya dalam sekali tebak.
Orang pintar ini menyebutku anak hebat. Spesial katanya. Ia menyarankan pada Emak, untuk mengajakku sering diajak datang ke rumahnya. Tapi itu jelas tak mungkin. Untuk datang sekali ini saja, Emak memakai uang Simbah. Aku tahu, meski Emak berusaha menyembunyikannyadari aku. Sambil bermain mobil-mobilan, aku tahu Simbah memberikan uang pada Emak sebelum pergi. Rumah Simbah tak jauh dari rumah orang pintar berbaju putih itu.
Kuikuti semua kemauan Emak, karena aku sayang padanya. Aku kasihan, ia kerap bertengkar dengan Bapak gara-gara aku. Selama ini, Bapak mengurungku di dalam rumah. Bapak katanya malu dengan keberadaanku.
“Anak kita tidak seharusnya hanya berdiam di rumah, Pak. Ia harus diajak ke luar untuk bergaul. Dengan kenal banyak orang, ia akan mengerti omongan orang. Ia juga mengerti apa saja yang ada di luar rumah. Tidak seperti ini, setiap hari ia hanya kenal kamar, lantai, dan atap rumah reot kita saja,” ujar Emak pada Bapak suatu ketika.
“Plak,” itu jawaban Bapak pada Emak. Bapak dengan cepat menampar pipi Emak hingga kemerahan. “Kamu pikir anakmu itu seperti apa. Lihat saja sudah besar tidak bisa omong, tidak paham sekitar, dan senang berlarian sambil teriak-teriak tak jelas. Apa kamu tidak malu? Aku malu. Aku takut, orang tidak mau membeli nasi gorengku gara-gara anak sial ini. Kalau nasi gorengku tak laku, kalian mau makan apa?,” teriak Bapak membalas.
Pertengakaran selalu berakhir dengan Emak memelukku. Itu berlangsung berhari-hari dalam seminggu. Mungkin, hanya saat tertidur, aku tidak mendengar amukan hebat Bapak.
Baca juga: Mee, Namaku (1)
Emak sangat tabah. Meski berulang kali mendapat pukulan Bapak, ia tidak pernah menangis. Ia hanya diam dan berlalu memelukku. Aku tahu Emak menangis justru saat ia menemaniku tidur. Emak suka berbaring di sampingku sambil memeluk lembut tubuhku. Tangannya membelai rambut, sambil menyanyikan lagu-lagu kesukaanku. Beberapa kali kudapati, suara Emak tercekat, tak bisa melanjutkan nyanyiannya. Saat itu aku tahu, Emak sedang menangis. Aku tidak senang Emak bersedih. Maka kupeluk lengan Emak erat-erat hingga aku tidur.
Hari ini kembali hujan. Tapi entah, hujan kali ini aku sangat bahagia. Kulihat, air berputar-putar di depan rumah. Sungguh menyenangkan. Aku ikuti setiap geraknya, hingga aku bisa memeluknya. Berputar-putar dan mengalir deras bersama air. Dingin, tapi menyenangkan.
Kulihat Bapak, Emak, dan sebagian orang turut bermain air bersamaku. Hanya sebentar, lalu mereka naik ke balok-balok kayu yang lewat begitu saja di depan rumah. Air yang datang rupanya cukup besar, bahkan masuk ke dalam rumah semua orang di kampung kami. Tinggi air bahkan melampaui tinggi sungai di depan rumah.
Bapak, tetap dengan kumis tebalnya, kulihat naik di atas balok kayu yang terombang-ambing di atas air. Bapak, kau seperti naik perahu, pikirku. Tak ada tatapan keji. Kali ini, ia melongo. Kulihat ada sekelebat rasa takut di mata Bapak. Sama seperti tatapan mata Emak saat mengajakku berjalan pelan meninggalkan rumah, untuk pergi ke orang pintar. Baru kali ini kulihat ia menatapku tanpa rasa marah. “Le,…” samar kudengar teriakan Bapak.
Kulihat Emak, berteriak-teriak tak karuan di atas tembok rumah. Ia memanggil-manggil namaku sambil berusaha meraihku. Emak menggapai-gapai. Ia nyaris melompat mengejarku, seandainya orang-orang tak mencegahnya. Emak, aku sedang ingin bermain. Bermain bersama air. Biarkanlah. Kutunggu Emak dan Bapak di ujung sana ya…
(Editor: Iman Suwongso)
