
Dalam cerita ini tidak ada yang aku ceritakan selain aku.
Dimulai sejak aku pindah ke rumah ini, rumah yang berdiri sendirian di tepi jurang, rumah yang menghadap jauh ke cakrawala, rumah yang dari jendelanya dapat menyaksikan bidadari gentayangan di pematang sawah menjelang malam, sejak itu setiap pagi aku mendapat kiriman bunga.
Baca juga: Boneka Kelinci
Mataku menangkap mata bening perempuan cantik bersayap itu, atau melihat jelas garis cakrawala ketika sedang berdoa. Setiap malam aku tidak pernah absen untuk berdoa. Sekalipun aku jarang berdoa untuk diriku sendiri.
Ketika nenek masih hidup –aku sejak bayi sudah diasuh nenek, ia selalu berpesan untuk membantu meringankan beban alam semesta beserta isinya ini. “Sekalipun, itu hanya dengan doa,” kata nenek.
Sejak aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberi bantuan –maaf aku tak bisa menceritakan tentang cacat tubuhku, maka nasihat nenek itu menjadi jalan terbaik bagiku. Aku berdoa setiap malam. Kadang aku berdoa sangat pendek. Tapi tak jarang doa dan wiridku sampai menembus subuh. Kamu tahu, ketika selesai berdoa baju dan sarungku basah kuyup oleh keringat, oleh air mata; oleh keringat bercampur air mata.
Kemudian aku tahu, berdoa itu bukan pekerjaan yang remeh. Berdoa bukan sekedar mengucapkan kata-kata permohonan dari dalam mulut. Dengan bibir komat-kamit. Apa artinya memohon-mohon kepada yang Maha Kuasa, tetapi sesudahnya hati tidak bisa tenteram? Hati masih terasa kelam? Ada perasaan was-was, dan esoknya terasa memanggul beban berkarung-karung!
Awalnya sangat susah berdoa. Kalimat-kalimat hanya meluncur menubruk tembok. Atau ditelan hantu malam sampai tak berbekas. Menguap saja. Aku sampai frustasi; aku menganggap terlalu bodoh dan Tuhan terlalu egois.
Baca juga: Hari Pertama Mengarungi Kehidupan Remaja di Madrasah Tsanawiyah
Tetapi setelah tinggal di rumah tepi jurang itu, Tuhan senantiasa hadir di depanku. Kadang aku mendapati-Nya di seberang jurang. Sedang bersama bidadari. Atau menaiki biduk melintas di garis cakrawala. Ketika aku berdoa, memohon apapun, Ia mendengar setiap helaan nafasku. Aku bergembira. Gembira yang paling gembira. Aku bersyukur. Aku sujud sampai tertidur, tertidur dengan posisi sujud. Dan ketika terbangun, aku merasa Tuhan masih ada di sisiku.
Tidak setiap berdoa aku menangis. Kadang tersenyum-senyum. Tak jarang hanya diam mematung. Entah mengapa aku menangis, tersenyum, atau tak terucap satu katapun meskipun kata-kata permohonan berdesakan di dalam dada? Aku tak pernah mencari sebab. Biarlah pagi menghapusnya bersama matahari yang merangkak dari kaki bebukitan.
Aku berdoa ketika ada kabar menyusup dalam telingaku. Otakku merekamnya kemudian menyimpannya di dalam hati. Kabar itu datang setiap hari, maka aku berdoa setiap hari, setiap malam.
Ketika aku mengetahui di puncak bukit hujan lebat, aku berdoa agar banjirnya tidak merusak di hulu. Pohon-pohon masih mampu menahan air hujan dan menyimpannya di dalam bumi. Ketika wabah melanda desa aku memohon dengan tersedu untuk keselamatan orang-orang desa. Ketika aku mendengar pencurian meraja lela, aku berharap Tangan Tuhan menginsyafkan para pencuri agar dapat bekerja yang tidak merugikan orang lain. Aku berdoa untuk mereka, meskipun aku tidak mengenal mereka.
Suatu saat aku berdoa untuk karibku yang perjalanan hidupnya hanya sia-sia belaka. Teman-temannya berbisik-bisik membicarakannya; waktunya habis hanya untuk mencari muka. Ia kerap bicara panjang lebar pada setiap kesempatan. Media sosialnya penuh dengan kalimat dan suara-suara yang isinya tidak satupun bisa menunjukkan agar pembaca dan pendengarnya bisa menyadari diri mereka sedang carut marut dalam kegelapan, tak seberkas Cahaya pun yang meneranginya. Isi media sosialnya tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar membutuhkan pengakuan bahwa dirinya bukan hanya sekedar ada di muka bumi yang fana ini, tetapi sebagai orang digdaya yang sel-sel otaknya dipenuhi bermilyar-milyar kata. “Ya Tuhan, diamkan dia agar punya waktu yang sunyi untuk melihat ke dalam dadanya, ada Cahaya yang menyilaukan bersemayam, itulah Engkau…” doaku.
Setiap malam aku mohonkan mereka. Rupa-rupa mereka. Dan berlapis-lapis masalah mereka. Lapisan-lapisan yang tidak pernah ada habisnya untuk aku doakan setiap malam.
Baca juga: Senja
Pada waktunya, setiap selesai aku berdoa, aku selalu ingin menengok ke luar rumah; ke jurang, ke persawahan, ke rerimbunan hutan, juga ke temaram langit menjelang fajar. Setiap aku membuka jendela, selalu ada bunga tergolek di atas meja teras. Siapa mengirimiku? Tuhankah? Ah! Keyakinanku tidak seburuk itu. Pada remang-remang udara pagi yang kerap menusuk pori, aku timang-timang sebuket bunga ini. Baunya wangi, menyusup dalam kenangan penciumanku. Siapa gerangan pengirim bunga-bunga ini?
Awalnya aku mengira bidadari yang sering aku lihat di sawah, yang mengirim bunga-bunga itu. Tetapi aku tidak pernah memergokinya. Aku mencari tahu, tetapi tidak pernah ada jawaban. Aku selipkan pertanyaan saat berdoa, Tuhan tidak pernah membuka terang jawaban-jawabanNya.
“Baiklah. Mungkin ini memang rahasia,” gumamku.
Suatu saat bunga itu aku pungut, aku pandangi, aku ciumi, segar dan wangi baunya, bunga asli baru dipetik dari dahannya. Dari kebun yang penuh bunga warna-warni. Kemudian aku masukkan dalam vas di sudut ruangan. Suatu saat pula aku menempelkan bunga kiriman itu di dinding setelah aku bingkai dengan pigura. Ada pula yang aku masukkan ke dalam gelas dan aku taruh di meja dapur. Beberapa tangkai aku hias di kamar dan aku geletakkan di atas bantal.
Rumahku yang berdiri sendirian di tepi jurang penuh dengan bunga. Wanginya semerbak sampai seberang jurang. Kupu-kupu dan lebah sering terbang ke rumah mencecap nectar yang sudah layu.
Akhirnya aku tak peduli siapa yang mengirim. Mungkin bidadari itu, atau tetangga. Tetapi, ketika aku sudah melupakan tentang pengirim bunga itu, aku memergoki pengirim bunga itu. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Pengirim bunga itu juga hanya suruhan dan tak mengenal siapa orang yang memerintahkan untuk mengantar bunga itu. Selebihnya, aku tak mencari tahu lagi. Aku menganggap Tuhan telah menjawab pertanyaan yang pernah aku sampaikan.
Suatu kali aku pergi agak lama, berhari-hari. Sementara setiap hari aku masih menerima kabar yang mengalir deras. Karena itu setiap malam aku masih berdoa. Doaku makin panjang karena masalah yang aku dengar di kota makin banyak. Ketika pulang kembali ke rumah di tepi jurang ini, aku jumpai bunga-bunga kiriman bertumpuk di meja teras dan di depan pintu. Aku pungut setangkai, aku timang-timang. Kali ini aku berpikir, kenapa ada yang mengirim bunga padaku setiap hari?
Aku cermati bunga ini, aku bergetar dan berkeringat. Ada untaian doa pada mahkota, kelopak, dan tangkainya. Aku telusuri semua bunga, semuanya penuh doa. Aku berdiam diri, “Tuhan, muliakanlah orang-orang yang mendoakanku tiap pagi. Amin.” Tuhan terasa berada di sisiku.
***
Kamu tahu, ceritaku, tentang aku itu; tentang doa-doaku itu. Yang aku tulis dengan perasaan rendah hati itu. Tidak lain karena aku orang yang sombong. Lewat cerita itu aku pamerkan kepadamu, tentang kedekatanku dengan Tuhan. Kemustajaban doaku seakan tidak ada orang lain yang lebih dekat dengan Yang Maha Mengatur Jalan Hidup. Aku seperti mengatakan, “Doamu tidak ada apa-apanya dibanding dengan doaku,”.
Baca juga: Rayuan Ilmuwan Das Kapital
Kepadamu aku dedarkan usaha-usahaku bermalam-malam seakan-akan aku sudah tidak butuh tidur. Demi orang lain. Dan orang-orang itu merasakan doaku untuknya didengar. Maka aku ceritakan terimakasihnya sebagai buah cinta mereka padaku dengan mengirim bunga-bunga. Bukankah cerita itu menggambarkan kepongahanku hanya berbekal doa dapat menguasai mereka? Secara tersembunyi aku menunjukkan kepadamu; bagaimana kalau aku punya hajat untuk mencalonkan, DPR, bupati, atau gubernur? Sudah dapat dipastikan aku akan mengatakan, “Mereka akan memilihku!” tanpa aku minta mereka mengirim bunga penuh doa, bukan?
Tolonglah aku! Lupakan cerita itu! ***
