
Seperempat abad mereka berteman. Komunikasi nyaris tak terputus seutas pun sejak keluar kampus.
Mereka bertiga. Sekar membawa hawa membaca yang menyenangkan. Dia pembaca andal, bila sekarang ia menulis adalah wajar. Perawakannya berisi, mudah mengantuk saat di kelas Kriminologi. Dan mengoceh saat kelas buyar, katanya ia didatangi Johny Indo. Dan Sekar kemudian memaparkan teori konspirasi, hasil rampokan yang masih belum terbongkar, tersimpan rapi di sebuah rumah lama di kota sisi utara bandar udara, dekat stasiun spoor. Kawannya Hana segera menepuk-nepuk pundak Sekar, memastikan sudah terbangun dari kantuknya yang tak tertahankan.
Baca juga: Boneka Kelinci
Hana, kawan Sekar, kini memasuki jagat batik dengan serius dan ketelitian yang khas. Juragan yang tahu-menahu apa yang dijual. Usia kain batikan, ia tahu hanya dengan meraba. Ibunya asal Jepang, penjahit kimono yang sohor di kota kita. Belakangan ia membujuk ibunya untuk tak lagi menerima jahitan. Bapaknya Hana, Jauhari datang dari Padang, keturunan Aceh yang telah menetap lama di kota kita. Jauhari kuliah di Jepang dengan biaya pampasan perang. Bertemulah gadis yang ia boyong ke tanah air, ibu Keiko. Ibunya Hana. Kulitnya yang resik bening, membuat Hana jadi pusat perhatian di antara Sekar yang kuning langsat Jawa dan seorang gadis lagi…
Hari pertama di kampus, Hana merasa cocok dan seperti kenal lama dengan Aning, anak desa pinggir barat kota kita, bapaknya generasi kelima petani tembakau. Aning tahu daun tembakau yang bagus dan mana yang busuk. Sejak umur lima, neneknya mengajarinya melinting rokok dan kakeknya membaluri punggung Aning dengan tembakau kalau ia sakit panas sampai menggigau ketika balita.
Aning, kulitnya sawo matang bercahaya. Matahari jadi kawan yang membuat Hana merasa ingin punya warna kulit seindah kulit Aning. Aning terbelalak, “kamu aneh!” Seru Aning pada Hana. Aning mengenal Sekar dari Hana tatkala Hana merayakan ulangtahunnya ke-20 di warung Cwimie dekat pasar burung. Sejak itu ke mana-mana mereka bertiga dan mereka juga yang dipanggil pembantu rektor tiga gara-gara bikin organisasi baru tanpa mengikuti prosedur kampus, negara lagi galak-galaknya. Mereka jadi bulan-bulanan. Dan mereka dua hari menginap di ruang rektorat dengan AC bocor suaranya berderak-serak tanpa ganti baju dan makan di ruang yang sama untuk ditanyai entah siapa silih berganti.
Baca juga: Rayuan Ilmuwan Das Kapital
Dua hari lalu.
Hana: Lagi ngapain? Kangen neh
Aning: Lagi baca Paluarit di Ladang Tebu-nya Hermawan Sulistyo.
Hana: Eh.. palu arit? Serem amat.
Aning: Serem ya? (Kirim gambar sampul)
Hana: Tepok jidat
(Percakapan mati. Sekar muncul di antara pesan mereka, menunjukkan tulisannya di sebuah situs).
Hana: Kalian makan apa sih? Jadi kekiri-kirian begini. Nggak kapok disekap di ruang pengap rektorat?
Aning: Sekar generasi Pemikir Kiri baru, Han. Sekar ulang apa-apa yang mungkin usang, agar kanan yang terus-terusan punya cara mendominasi, tahu diri.
Sekar: Jadi manusia, Han. Bisa menikmati hidup sehidup-hidupnya saja. Sistem kiri jadi regulasi sudah hadir di negara-negara Eropa. Mal tutup saat petang. Ada jaminan sosial. Sekolah gratis. Tirakatnya orang-orang kiri abad ke-19 dirasakan hingga hari ini. Bahkan para pendatang turut menikmati. Gelombang pengungsi dari wilayah konflik tujuan utama Eropa. Sekarang Eropa mulai kewalahan…
Hana: Iyah, termasuk manusiawi pada petugas sampah yang diberikan gaji memadai… Orang Indonesia malah alergi pandangan kiri karena otaknya sudah mengaitkan dengan PKI.
Aning: Kita doakan studi Sekar dengan pandangan kiri yang dia usung, bisa membawa hawa pembaharuan di negeri kita, Han.
Hana mungkin ada di kolam yang tak lagi sama dengan dua kawannya. Mereka toh memelihara setia. Semata-mata memikirkan apa yang disebut dengan hantu komunis, bisa runyam pertemanan mereka. Sejak kuliah Hana tahu-menahu bagaimana mencari celah kelemahan dan kekuatan dokumen hukum pada kasus yang diajukan dosen yang juga seorang pengacara.
Baca juga: Senja
Hana adalah bakat yang dianugerahkan alam raya. Serupa anak pantai yang begitu saja bisa berenang dan menyelam. Bapak, paman dan bibinya sudah di generasi kedua berkecimpung di jagat kepengacaraan. Mereka salahsatu perintis lembaga hukum di negeri ini.
Berkali-kali Sekar bilang, ia suka logika Hana. Dan pada akhirnya Hana memilih berdagang batik dan mempelajari batik dari seluruh penjuru tanah air.
Sambil senyum dikulum, Aning sadar, di antara mereka bertiga, jelas Hana yang paling logis. Tak cari-cari perkara dan justru dia yang paling cepat menyelesaikan kesulitan yang dibikin Sekar dan dirinya. Sejak dulu kala, ketika mereka kuliah.
Seperempat abad lewat. Pertemanan mereka berjalan sebagaimana pertemanan yang lain. Logika Hana yang dimaksudkan Sekar dan diberi embel-embel suka untuk logika itu? Logika yang membuat Aning memikirkannya lama.
Baca juga: Layar Simulakra
Kalau Hana berpendapat misal saja dengan logika berlawanan, apakah Sekar juga suka? Dan dengan atas nama logika akan disebut logika pulakah logika Hana? Dan apakah mereka akan berteman sebagaimana sediakala? Seberapa luaskah logika sejatinya? Berbatas tepikah ia? Setebal ensiklopedia? Sejauh mana manusia mampu menganalisa logikanya di antara rujukan logika sak ndayak yang mengelilingi mereka?
Pagi ini Aning meneruskan bacaan yang belum usai. Kemudian ia menyusun risalah, untuk jadi penghuni laci.
Turen, 10 Oktober 2024
