Lelaki Tua dan Nama

Lelaki tua itu berdiri tepat di tepi jalan. Dia berusaha tetap menunggu bus datang dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Bus yang akan membawanya menuju kota Surabaya. Lelaki tua itu menerawang, dalam kepalanya berkelebatan kenangan masa silam. Bagaimana di usia mudanya dia sering berada di tempatnya sekarang berdiri, lalu melompat dengan begitu cekatan bila bus telah tiba. Lelaki tua itu menghembuskan nafas panjang. “Aku bisa tersuruk di bawah bus bila melakukannya sekarang.” Sementara orang lalu-lalang di depannya.

Baca juga: Penjaja Panggung

Tempat itu adalah halte bus bayangan, meskipun sudah ada halte bus resmi yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat itu. Halte bayangan masih menjadi favorit bagi mereka. Sebenarnya tempat itu tidak bisa disebut sebagai halte sebab sama sekali tidak mirip halte pada umumnya. Tempat itu hanya berupa sebuah bangku panjang dan tepian trotoar. Tempat itu adalah pertemuan antara angkutan kota dan bus. Ditambah lagi, sopir bus rasanya seirama dengan para penumpangnya. Maka halte resmi yang baru dibangun beberapa bulan itupun menjadi kanvas yang menyenangkan bagi para vandalis.

Lelaki tua itu masih di sana, masih dengan pandangan menerawang. Entah apa saja yang melintas di pikirannya.

Dari kejauhan nampak sebuah bus mendekat, para calon penumpang mulai berdiri dan mengangkat barang bawaannya. Dan bus berhenti, lelaki tua itu berusaha sekuat tenaga berlari menuju pintu bus. Dengan susah payah dia meraih pegangan dan melompat ke atas bus. Langkahnya memang tidak secepat para penumpang lain yang mungkin usianya hanya setengah usia lelaki tua itu. Tapi kelegaan yang sama juga muncul dari dadanya ketika berhasil naik dan duduk, meskipun dengan nafas yang terlampau tidak teratur.

Setelah melakukan ritual membayar karcis dan menanyakan pada seorang pemuda di sebelahnya, “Turun mana?” maka sekarang saatnya ia duduk dengan tenang. “Siapa nama pemuda itu?” bagi lelaki tua itu bukan jadi soal penting. Di atas bus yang sama terdapat setidaknya empat puluh delapan orang—seringkali jumlahnya membludak hingga lebih dari enam puluh orang bila musim liburan—yang tidak dia ketahui namanya. “Apakah kita harus menanyakan ‘Siapa namamu?’ pada enam puluh orang setiap kali naik bus?! Omong kosong.”

Bertemu orang memang menjadi aktivitas membosankan bagi lelaki tua itu. Setiap hari rata-rata dia harus bertemu dengan sepuluh hingga lima puluh orang. Itu tentu tidak hanya berlangsung dalam hitungan hari, tapi lelaki tua itu telah melakukannya tiga puluh tiga tahun. “Aku bosan melihat orang,” lelaki tua itu memandang ke luar kaca jendela. Di sana mobil-mobil lalu lalang, “Apakah aku harus menanyakan setiap penumpang mobil itu juga?”.

Nama bagi lelaki tua itu memang bukan hal penting. Baginya, yang penting adalah rupa. Setidaknya begitulah pembelaannya. Sebetulnya, seperti kebanyakan orang, dia begitu sulit menghafal nama. Teman lama hanya tertinggal wajahnya di dalam kepala lelaki tua itu, tak ada nama. Beberapa nama yang tersisa hanya sebagian kecil dari keluarganya—banyak yang sudah terlempar ke alam baka.

***

Perjalanan bus menempuh waktu dua setengah jam. Selama itu pula lelaki tua hanya memandang ke luar jendela, sedangkan para penumpang lain banyak yang memilih untuk tidur atau sekedar merusak paru-paru mereka.

Saat bus sampai di terminal, lelaki tua itu harus kembali berjuang. Bagi para pemuda, tingginya bus sama sekali bukan masalah, tapi tentu berbeda dengan lelaki tua itu. Di umurnya yang hampir lima puluh delapan tahun, menuruni bus yang kurang dari satu meter adalah perjuangan besar. Setidaknya setelah berhasil menuruninya dengan selamat, hatinya sedikit lega. Kelegaannya disebabkan setelah ini, dia hanya perlu naik taksi—tingginya tentu hanya beberapa senti saja.

Baca juga: Jurnalisme Melawan Penindasan

Tiga puluh menit berikutnya, lelaki tua itu telah sampai di kantor Kepegawaian Provinsi. Di sanalah tujuan perjalanannya. Di sana pula dia akan menghentikan kebosanannya selama ini dan berharap bisa menikmati masa tuanya di rumah saja. Setelah menanyakan dimana dia harus mengurus pensiunnya, maka dia akhirnya berhadapan dengan seorang pemuda. Pemuda itu persis sekali dengan masa mudanya, lengkap dengan kantung mata, dengan rutinitas menguap setiap beberapa puluh menit, serta tanggapan yang tak begitu ramah. “Aku seperti sedang bercermin saja,” lelaki tua itu tersenyum seadanya. Rasanya selama perjalanan, baru di sinilah dia mendapat hiburan.

Lelaki tua itu duduk di kursi, dengan antusias menghadap pemuda itu. Pemuda itu nampak masih asyik dengan smartphonenya. Jari telunjuknya dengan lancar menggeser-geser layar sentuh keluaran terbaru di tangannya. “Bagaimana bisa mereka bangga memegang smartphone yang membuat mereka kelihatan lebih bodoh?” gerutunya dalam hati.
Setelah beberapa saat duduk dan menggerutu, pemuda itu akhirnya menyadari keberadaan lelaki tua itu di hadapannya.

“Bapak ingin mengurus pensiun?” pemuda itu mengatakannya tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki tua.

“Iya,” kekesalannya masih membekas.

Pemuda itu memberikan beberapa lembar formulir. “Bapak isi ini lebih dulu,” pemuda itu kembali memegang smartphonenya.

“Apakah saya boleh meminjam bulpen?”

“Bapak boleh mengambil di sana” Pemuda itu menunjuk sekenanya. Tapi lelaki tua itu tahu tempatnya, sebab hanya di tepi meja itulah terdapat beberapa bolpen.
Lelaki tua yang kesal dan terus menggerutu itu mengambil sebuah bolpen, menarik tutupnya, mendekatkan formulir ke tubuhnya dan bersiap menuliskan sesuatu.

***

Ruangan berAC itu bagaikan sebuah oase di tengah padang pasir Surabaya. Memasuki ruangan dingin setelah menempuh perjalanan yang membosankan dan begitu panasnya adalah sebuah kenikmatan yang sederhana. Beberapa minggu kota itu memang sama sekali tidak mendapat hujan. Kota yang memang ditakdirkan akrab dengan panas kini semakin berjaya. Dengan alasan itulah beberapa gelintir orang enggan bekerja, kuliah atau menetap di sana.

***

Pemuda yang sedari tadi acuh ternyata penasaran juga. Di ujung mata kirinya dia melirik lelaki tua yang berada di depannya.

Lelaki tua itu memang kelihatan aneh. Di ruangan yang dingin itu ia nampak berkeringat. Pemuda itu melihat AC dan di sana masih terdapat angka 16 derajat celcius, dan baginya ruangan itu masih begitu dinginnya.

Tapi lelaki tua itu terus berkeringat. Dan celakanya lagi, bolpen di tangan kanannya sama sekali tidak bergerak.

“Apa ada masalah, Pak?” pemuda itu menyerah.

“Itu, itu…” lelaki tua itu merasa kebingungan sekaligus malu. Lelaki tua yang selama ini pantang menanyakan nama itu akhirnya menyerah juga.

“Siapa nama saya?”

Tuban, 22 Juli 2016


Ekwan Wiratno, menulis cerita sejak sekolah dasar. Semenjak sekolah menengah pertama aktif menulis puisi, cerpen dan naskah teater. Beberapa kali menyabet penghargaan kepenulisan. Setelah menamatkan sekolah menengah, penulis melanjutkan studi di Universitas Brawijaya, Malang. Sekarang sebagai dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Dapat di hubungi di email ekwanwiratno@gmail.com.


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *