
“Kubuka roncean kembang kirimanmu tempo hari, Mirasaga. Dua roncean dalam waktu singkat kau rangkai, menandai keuletanmu berkebun yang cukup lama. Terima kasih untuk semuanya,” ujar Citrabiru. Air muka Citrabiru tanpa riak. Tenang. Terlalu tenang untuk diduga kedalaman maknanya.
Baca juga: Potret
Di sebuah Ahad. Menjelang petang Citrabiru menyambangi kediaman Mirasaga di sebuah kebun berbunga kemilau pantulan embun tertimpa sinar rembulan. Citrabiru berumah di sebuah lembah dilingkung tiga barisan gunung. Ia membawa doa pada karya, menyatu bahagia.
“Saya yang berterimakasih, sudah kakanda temani meronce kembang setaman. Saya masih akan terus belajar,” tanggap Mirasaga, takzim.
Mirasaga tak berani memandang Citrabiru. Ia justru memandang cahaya bunga-bunga di kebun. Pintu kuputarung itu terbuka. Di sana, Citrabiru berdiri. Serupa kabut. Setara bayang-bayang sehitam jelaga.
“Terpenting, semua yang kau ronce itu adalah bahan. Bahan untuk mencipta berbuket-buket roman bila engkau berkehendak. Kau telah menunjukkan bukti kejelian untuk hal-hal yang amat rinci. Saya kurang telaten dalam hal ini. Tidak sesabar dirimu,” sahut Citrabiru, tatapannya menembus tajam demi mencapai maksud kedatangan.
Pria berperawakan sedang, berdiri membelakangi Mirasaga yang sedang mengenakan kain panjang bercorak prada, menghalangi pandangan ke semak kebun. Mirasaga beranjak menuju ketel air dan menyeduh teh untuk tamu agung. Ia menyelupkan dua lembar teh hasil kebun. Citrabiru menginginkan itu. Secangkir teh sewangi melati. Mirasaga faham pada tradisi sore pria yang ada dihadapannya.
Baca juga: Menulis Resensi
“Adinda, tahukah dirimu? Semakin matang seorang peronce bunga, dia akan semakin terarah merangkainya. Meronce bukan saja demi menyenangkan hatinya sendiri, mengalir tanpa dipahami sekeliling. Ia tak akan segan menyesuaikan tanpa melanggar azas actus primus pribadi. Jadi, seorang peronce yang matang akan terus-menerus mengupayakan hasil ronceannya bisa secara nyata memenuhi prasyarat umum, sebagaimana lazimnya roncean bunga yang layak dinikmati orang. Tanpa bermaksud menjadi budak khalayak,” ujar Citrabiru, tanpa nada suara dibuat-buat.
Harmoni suara itu ajeg dan biasa, nyaris tanpa emosi, namun di kedalaman arus suara itu, Mirasaga menemukan pusaran. Seirama putaran bumi.
“Silakan diminum, kanda. Udara dingin sekali di sini. Secangkir teh diseduh dengan air mendidih pun tak akan bertahan lama untuk sekedar menunggu menjadi hangat,” ujar Mirasaga, menunjuk cangkir di hadapan Citrabiru dengan ibu jarinya. Cangkir itu mengeluarkan asap tipis di atas meja jati bertaplak sulaman bunga bakung warna ungu.
Citrabiru mengangguk. Tangannya tak bergerak. Matanya lurus menatap ke depan melampaui jendela membingkai kebun. Ia picingkan mata seakan mampu melihat gerakan sekecil apapun di tengah semak. Gelagatnya menanti apa yang akan Mirasaga sampaikan. Ini menjadi sangat penting baginya.
“Sahaya pernah berada di titik terendah. Dihinakan orang. Ketika itu sahaya sama sekali belum mengerti betapa meronce bunga bukan sembarang meronce. Awalnya sahaya merangkai bunga dengan tatacara lazimnya seorang peronce yang pengasih. Menjadi manusia yang mampu melaras seni meronce. Peronce yang lahir. Terlahir,” sahut Mirasaga, menarik nafas lalu meneruskan apa yang menjadi galibnya, “sahaya rasanya berhadapan dengan bayangan kematian, begitu dekat di pelupuk mata. Bila dalam bayangan kematian itu sahaya justru melahirkan roncean sebagai nikmat yang indah, sahaya berpikir ihwal anugerah. Keliru kah sahaya terpesona?”.
Baca juga: Bangku Kosong
Citrabiru masih dengan raut muka yang sama sejak kehadirannya di depan pintu kuputarung, laras wajahnya begitu ikhlas. Mirasaga menundukkan kepala sebagai bagian dari naluri timur, sebagai rasa hormat. Bukan takut sebagaimana yang barat anggap.
“Peronce sejati sebaiknya bisa memetakan dimana letak hasil ronceannya. Seindah-indahnya meletakkan jambangan agar terpajang,” sahut Citrabiru, hilir-mudik kini, dengan ketenangan langkah secita cara berbicaranya.
“Apakah sahaya terlampau tinggi hati tatkala sahaya menyadari ini lah yang dinanti-nanti para peronce. Mereka mendamba sepercik bakat yang sahaya miliki. Kanda, sahaya bukan tak tahu, banyak kaum dari kalangan istana yang frustrasi karena tak setitikpun mereka memperoleh apa yang tak akan pernah bisa didapat. Bahkan di padepokan tempat berkumpul para mpu sekalipun. Mereka mengeluarkan tak sedikit tenaga dan bahkan setumpuk gemerincing dinar untuk memperoleh sepercik apa yang mengaliri darah dan merasuki daging sahaya,” sahut Mirasaga, bersaksi dengan nada halus dan menunduk.
Citrabiru tersenyum, “adinda, kembalilah ke dasar. Hanya itu. Engkau telah mengenal banyak karya seni meronce. Kita sudah pernah mengupasnya dalam satu nafas, menyadarinya dan menjadi cerita. Tak akan sia-sia bagimu mengaras roncean bunga.”
“Ini mendebarkan. Ini melambung-lambungkan. Hal yang dahulu membayangkan pun sahaya tak mampu. Kini, rahasia bunga bahkan mampu sahaya baca dan rasa,” bisik Mirasaga, notasi suaranya klasik.
“Kakanda Citrabiru.”
“Ya, Adinda Mirasaga.”
Mirasaga mengangkat kepala dan memandang lurus kepada Citrabiru, tepat menembus tatapan tajam di hadapannya. Jarak mereka menentukan kebeningan, menanting kepekaan masing-masing.
Citrabiru meraih cangkir teh yang sudah tak lagi mengepulkan asap halus dan ia tegak berdiri, menghirup harum seduhan teh, dan memenjamkan mata sejenak. Lalu meniup permukaan teh yang sudah mulai dingin tanpa mencecapnya. Pria itu lalu memandangi kebun kembali. Di sana semacam ada jawaban dari yang ia pikirkan. Cangkir itu ia bawa serta memandangi kebun dengan cara yang berbeda, ia seperti sedang membaca sebuah tanda.
Baca juga: Di Warung Kopi
“Inilah alasannya mengapa saya datang ke sini. Saya merasakanmu, kebunmu, akumulasi ronceanmu. Tiada kesalahan. Hanya, alangkah bagusnya jika segala enersi yang tercurah jangan sampai hanya menjadi roncean mengering tanpa aroma, karena kelemahan niat mengawalinya,” urun Citrabiru, ketenangannya masih ajeg.
Cangkir itu ia jepit telinganya dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri, sedikit bergetar. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan menjepit lintingan tembakau rakyat kerajinan tangan dari lembah pegunungannya.
“Niat? Semua yang telah, sedang, dan terus sahaya ronce diniatkan sebagai melaksanakan agenda langit,” sahut Mirasaga, berketetapan.
Citrabiru memandang ke dalam mata perempuan di hadapannya sambil meletakkan cangkir kembali pada pisinnya. Ya, tanpa mencecapnya. Bahasa tubuh laki-laki yang menunjukkan kelantipan, menyampaikan banyak makna dan doa tanpa kata-kata. Ia menuju pintu kuputarung yang membuka lebar kedua daunnya. Pintu itu menelan sosok Citrabiru yang suram serupa bayangan. Pintu menutup dalam keajegan yang patut. Ritmis.
Baca juga: Menulis dan Kesehatan Mental
Mirasaga masih duduk di situ. Dalam jaga. Dalam sikap duduk yang sama menyaksikan semua. Ia pun meraih cangkir yang ia suguhkan kepada tamu agung. Selain hawa wangi melati dalam seduhan, kini teh tercium aroma tembakau yang begitu kuat. Ia pun mencecap secangkir teh itu. Sececap teh yang telah dingin. Sececap.
Turen, Januari 2014
(Editor: Iman Suwongso)
