
Kamu tahu makna maaf? Itulah kerumitan yang dialami Burung Bangau.
Tersebutlah di sebuah danau hidup seekor Ikan Mas. Ia tinggal di danau itu sejak kecil. Semula ada beberapa ikan mas; induknya, pejantan yang menurunkannya, dan tiga saudaranya yang menetas bersama. Lambat laun, sekawanan ikan mas itu berkurang. Sampai akhirnya Ikan Mas tinggal sendirian.
Baca juga: Pasar Kalabendu
Di sekitar danau itu juga kerap dikunjungi seekor Burung Bangau. Ia burung penjelajah yang datang dan pergi di suatu tempat setiap saat. Burung Bangau tahu persis perputaran alam. Termasuk perputaran danau itu: kapan airnya penuh, kapan menyusut dan mengering.
Terakhir kali Burung Bangau datang ke danau, ketika danau itu akan menuju surut. Ia sedang mengamati Ikan Mas yang sedang berenang di pinggir danau. Burung Bangau merenung, dalam pikirannya terbersit, “Sebentar lagi air danau akan menyusut, dan Ikan Mas akan mati kekurangan air.” Karena pemikirannya itu, Burung Bangau berniat menolong Ikan Mas.
Burung Bangau terbang dan turun di pinggir danau. Tanpa banyak pertimbangan, ia mematuk Ikan Mas, dan dibawa terbang.
Ikan Mas meronta-ronta, berontak, tidak mau dimangsa Burung Bangau. Teriakannya menggema di seantero perkebunan dan hutan yang dilintasi. Angin sampai berhenti bergerak. Pohon-pohon diam membeku. Mata mereka hanya bisa memandang. Sementara Burung Bangau tidak bisa menjelaskan maksudnya, karena paruhnya sedang mematuk Ikan Mas.
Burung Bangau terbang sampai berkilo-kilo meter. Satu jam, dua jam, tiga jam…, belum menemukan genangan air yang tepat untuk menyelamatkan Ikan Mas. Sampai sore hari, Burung Bangau merasa lelah terbang, otot-otot sayapnya terasa lemas. Maka ia terbang menukik. Turun. Dan hinggap di sebuah batu besar. Paruhnya sudah mulai kelu. Ia menurunkan Ikan Mas di permukaan batu.
Baca juga: Amsal Gorengan
Burung Bangau mempunyai kesempatan untuk menjelaskan maksudnya kepada Ikan Mas. Masalahnya, Ikan Mas sudah hampir kehabisan nafas. Bola matanya sudah mulai tenggelam di lipatan kelopak matanya. Tapi, Ikan Mas masih bisa menjelaskan, kalau ia memiliki tempat perlindungan ketika air danau sedang surut.
Burung Bangau merasa bersalah. Ia minta maaf kepada Ikan Mas, dan untuk menebus kesalahannya ia membawa terbang kembali Ikan Mas ke danau semula. Terbang berkilo-kilo meter, berjam-jam.
Jadi, pejabat yang merasa kebijakannya salah dan memohon maaf, minta mengulang jabatanya untuk menebus kesalahannya, begitu?! Ya, begitu?!
(Editor: Titik Qomariah)
