
Namanya Warti Cahyani, wartawan koran K, sebuah koran terbesar di negeri Indo. Di usianya yang masih 25 tahun, ia sudah dikenal sebagai wartawan dengan tulisan-tulisan yang sering memenangi kejuaraan. Sayangnya, itu semua membuat Warti bosan.
Baca juga: Kebijaksanaan Seorang Maestro
“Aku bosan. Entah apa sebenarnya yang membuatku bosan. Aku tak lagi bisa menuangkan ide untuk sebuah tulisan. Rasanya semua kejadian sudah sangat biasa, tak ada menariknya,” kata Warti suatu petang di sebuah kafe tengah sawah di Kota Batu. Ia bicara sekenanya, sambil terus mengunyah kentang goreng yang terhidang di atas meja.
Tanpa memandangku, Warti masih saja ngoceh hal-hal yang menurutku tak masuk akal. “Wartawan bosan menulis berita, bisakah?,” tanyaku memastikan.
“Buktinya bisa. Sudah beberapa waktu ini, aku sama sekali tak bisa berpikir. Bahkan untuk membuka laptop, rasanya aku mual. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku,” tanya Warti tanpa basa-basi. Kami adalah dua sahabat yang memang sudah terbiasa bicara apa adanya, bahkan berkelahi setiap hari. Bukan saja soal tulisan, namun juga berkelahi soal beda pandangan akan hal sepele di sekitar kami.
“Lihat saja di sini. Mulai bermunculan kafe di mana-mana, menggantikan sawah yang dahulu menghijau di Kota Batu ini. Ini harusnya menarik jadi berita ya? Tapi aku sedang malas, malas memikirkannya apalagi menulisnya,” kata Warti lagi.
“Bukankah karena tulisanmu soal alih fungsi lahan persawahan itu pernah memenangi kejuaraan internasional. Kenapa kali ini tidak ditulis seperti itu juga?,” kataku sambil mengetik berita.
Warti mencibirkan mulutnya. Ia lalu bercerita bahwa ia merasa dimanfaatkan dengan tulisan itu. Kantornya, memenangi penghargaan internasional. Bahkan sosok pegiat lingkungan yang ditulis Warti, juga menerima penghargaan serupa akan dedikasinya menjaga lingkungan bebas dari sampah. Tersisa Warti, yang merasa hanya dimanfaatkan.
“Kamu tahu, tulisan itu membuatku seperti orang bodoh. Dimanfaatkan sana-sini tidak paham,”
“Kamu tahu, tulisan itu membuatku seperti orang bodoh. Dimanfaatkan sana-sini tidak paham,” kata Warti ketus. Warti mengaku kecewa, Si Anu, sosok yang ditulisnya ternyata hanya memanfaatkan pemberitaan untuk bisa masuk ke jaringan partai besar negeri Indo. Si Anu, akhirnya terseret politik praktis. Dia menjadi juru kampanye salah satu calon presiden yang kini sedang bertarung di pemilu. Dalam susunan tim kampanye, Si Anu duduk sebagai juru bicara utama. Saat bercerita, raut muka Warti tampak tegang. Kalimatnya meluncur berapi-api, yang selalu berakhir dengan tanda seru dan makian.
“Itu bukan salahmu kan?,” tanyaku mencoba mengusir kemarahannya. “Iya, tapi aku sedemikian bodohnya bisa diperalat oleh orang seperti itu,” kata Warti mulai pelan. Ia kemudian meletakkan kepala di atas kedua tangannya yang bersedekap di atas meja. Wajahnya muram dan buram.
“Dan yang lebih menyakitkan, kantorku pun sama sekali tidak mengapresiasi tulisanku itu. Mereka senang menerima piala penghargaan gara-gara tulisan itu, tapi tetap saja dalam rapat besar, sosok si Anu dikritik tajam. Aku dinilai kurang menggali lebih dalam, sehingga melewatkan motif politik dibalik kisah Si Anu,” kata Warti menambahkan.
Kantor meradang dengan Si Anu, setelah dokter lulusan universitas terkemuka di Kota Meleng itu menyombongkan diri dalam kampanye, bahwa dia didukung oleh koran K. Padahal, sebagai koran terbesar di negeri ini, koran K harus selalu bersih namanya dan tidak terseret-seret kepentingan.
Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran
“Aku dianggap mencoreng institusi tempatku bekerja. Kantor bahkan sempat menyidangku secara khusus, terkait dengan itu. Mereka menduga aku ada main dengan Si Anu,” kata Warti lirih. Wati merasa sakit hati pada kantornya, karena merasa tak memercayai integritas dan dedikasinya sebagai wartawan. Sejak itu, Warti merasa dirinya seakan dilupakan oleh kantornya.
Aku terperangah mendengar kisah yang baru saja diceritakan Warti. Perempuan berambut keriting itu tidak pernah menceritakan soal itu padaku. Ia menyimpan rapat-rapat evaluasi dari kantornya itu, bahkan dariku. Entah malu, atau kelu.
“Itu bukan seberapa. Kamu tahu kan soal kelompok bersih kali yang kini jadi bintang? Kelompok itu juga menunggangi kebodohanku untuk bisa terkenal,” kata Warti sambil menghela nafas panjang. Lagi-lagi, ia memberiku alasan kenapa ia mulai merasa bosan menulis berita.
Sahabatku itu bercerita, bahwa ia menemukan bukti bahwa kliping-kliping tulisannya dijadikan alat memeras dinas. Mereka menjadikan berita Warti sebagai peluru mengkritik penguasa, hingga penguasa ampun-ampun dan memberikan kelompok bersih kali itu proyek. Warti merasa, ia tak ubahnya wartawan bodrek—wartawan tukang peras, yang selama ini dihindarinya.
“Itu hanya sebagian kecil saja. Kau tahu, semua tulisanku sepertinya berujung petaka,” kata Warti makin menyembunyikan mukanya. Sore itu, kami terdiam di antara helaan napas dan senja.
Cerita Warti berhenti sampai sana. Kepalanya masih tertunduk di atas kedua lengan, hingga malam mulai datang. Aku memandanginya dengan rasa yang tak tahu itu apa, kasihan atau bertanya-tanya.
Warti, perempuan pendiam dengan hati mudah patah. Beberapa kali ia bercerita padaku soal tak adanya perhatian dari kantor tempatnya bekerja. Jika bicara soal kantor, ia akan selalu berkisah keputusasaan dan ketidakadilan.
Namun jika bicara soal ibunya, Warti selalu berapi-api. Ibunya adalah si pemberi nama Warti Cahyani. Warti, berasal dari kata warta, yang artinya kabar. Kabar yang menerangi atau mencerahkan. Demikian doa dan harapan dari orang tua Warti, saat mereka memberi nama anak sulung mereka itu.
Ibu Warti, dahulu juga seorang wartawan. Di masanya, era tahun 70-an, ibu Warti harus berjuang keras untuk menjadi seorang wartawan. Datang dari keluarga Jawa, ia mendapat banyak tentangan untuk memenuhi panggilan hidupnya sebagai wartawan. Pilihan menjadi ibu rumah tangga, atau setidaknya bekerja sebagai guru, adalah saran pekerjaan layak menurut keluarga besar ibunya waktu itu.
Pernah Warti menanyakan pada ibunya, kenapa berkeras menjadi wartawan. Ibunya pernah berkisah, bahwa wartawan bisa masuk ke mana saja tanpa dicurigai. Termasuk, untuk menolong korban keganasan gerakan yang dituduh makar oleh negara. Salah satu korban yang dinilai makar adalah kakek Warti.
Ibu Warti berhasil menemukan jejak keberadaan ayahnya—kakek Warti, yang rupanya ditahan di rutan tengah pulau, karena dianggap makar pada negara. Semua itu karena ibu Warti adalah wartawan. Tak ada yang mencurigai investigasi ibu Warti, karena ia menggunakan keplek wartawan ke mana-mana.
Rupanya, semangat sang ibu menurun pada Warti. Perempuan lulusan kampus ibukota itu bersemangat menjelajahi pelosok desa, untuk mencari orang-orang yang tak bisa menyuarakan haknya. Semangat Warti terus membuncah, setiap kali liputannya soal mereka yang terpinggirkan nongol di halaman pertama koran.
Liputannya mendalam, gaya menulisnya pun mengalir indah, membuat Warti berkali-kali menerima penghargaan dan diminta mengisi materi pelatihan menulis di sana-sini. Pelatihan untuk umum maupun pelajar. Deretan penghargaan pun, terparkir rapi di meja kerjanya.
Namun, semua cerita indah tersebut seperti lenyap sore itu. Warti seperti kehilangan pegangan.
***
“Kita mau ke mana?,” tanya Warti ogah-ogahan. Namun aku menyeretnya agar tetap mengikutiku menuju ruang pamer yang terbentang di depan kami. “Sudah ikut saja, kita refreshing lihat pameran kain,” kataku pada Warti.
Hari itu, aku mengajak Warti menengok pameran kain buatan kenalanku di Kota Probo. Sebenarnya, aku ditugasi kantor untuk liputan. Hanya saja, aku tidak ingin pergi sendiri. Aku butuh teman ngobrol di jalan. Akhirnya kuajak Warti, siapa tahu bisa memberinya ide liputan.
Ruang pamer itu adalah aula museum Kota Probo yang sebenarnya tidak terlalu lapang. Deretan kain batik dipajang bersisihan, dengan keterangan di bagian bawahnya. Kain batik khas Madura, kain batik khas Pendalungan, kain batik motif mataraman, kain batik pantura, dan lainnya berjajar berurutan di tembok ruangan.
Warti larut mencermati setiap kain yang dipamerkan. Ia memotret setiap kain, plus keterangan di bagian bawahnya. Ia berputar-putar mengelilingi aula, beberapa kali, mencermati setiap lembar kain. Aku tahu, kalau sudah seperti itu, artinya Warti kerasan. Mungkin saja, ia sudah menemukan ide tulisan.
Kulihat Warti masih asyik dengan dirinya sediri. Tak berapa lama, ada seorang pria muda berusia 20-an tahun mendekatinya. Aku pun beringsut mendekati Warti. Bukan kenapa-napa, Warti tidak paham bahasa Madura, siapa tahu ia butuh bantuanku menerjemahkan maksud pria itu. Probo adalah daerah di Timur dengan sebagian masyarakatnya keturunan Madura.
“Mbak Warti ya, dari koran K? Saya Umam, wartawan Probo sini. Saya selalu mengikuti tulisan-tulisan Mbak Warti. Mbak Warti spesialis mebuat tulisan ficer ya?,” kalimat demi kalimat pria itu mengalir penuh kekaguman. Ia menyalami Warti, mengajak berfoto, dan meminta nomor teleponnya.
Warti hanya tersenyum tipis, sambil menjawab sekenanya. Aku paham, sebagai wartawan dengan tulisan-tulisan maut, Warti sudah sering menerima pujian seperti itu.
“Mbak Warti masih ingat tulisannya soal bapak penjual roti goreng keliling yang pernah Mbak tulis?,” tanya pria bernama Umam itu. Dengan sedikit meringis, Warti mengatakan ia sudah lupa. Entah lupa beneran, atau sekadar ingin agar orang di depannya itu segera pergi.
“Bapak penjual roti goreng itu adalah bapak saya. Ia merantau kerja ke Malang untuk mencari uang, agar saya bisa tetap kuliah. Sejak tulisan Mbak keluar, banyak orang mengenal Bapak dan menjadi pelanggannya. Bapak akhirnya mampu mengumpulkan uang untuk ongkos saya kuliah. Dan sekarang, inilah saya, lulus kuliah dan jadi wartawan seperti Mbak Warti,” kata Umam terang-terangan. Kami terhenyak dengan keterusterangannya, dan hanya bisa memandang takjub ke arah pria muda berumur 20-an tahun itu.
Baca juga: Kisah Raden Saleh, Pelukis Antikolonialisme yang Namanya Diabadikan di Planet Merkurius
“Terima kasih ya Mbak, Mbak telah menyelamatkan hidup saya. Sejak itu, saya bercita-cita menjadi wartawan seperti Mbak Warti. Saya akan membantu orang-orang yang kesusahan, seperti keluarga saya dulu ditolong,” kalimat demi kalimat Umam terus saja mengalir.
Pria muda berkacamata itu bicara tanpa jeda, mengisahkan soal kebahagiaannya bisa bertemu Warti. Wartawan yang menginspirasinya untuk turut menjadi wartawan. Umam bercerita bahwa keluarganya dahulu sangat miskin. Bapaknya hanya penjual roti goreng keliling yang bekerja siang malam untuk bisa menyekolahkan anaknya. Sejak berita soal perjuangan hidup penjual roti goreng itu ditulis Warti, rupanya banyak pihak menaruh simpati pada keluarga itu. Donasi mengalir, bahkan, pemerintah pun memberikan beasiswa sekolah pada Umam hingga akhirnya bisa kuliah.
“Mbak Warti membuat saya bisa kuliah dan akhirnya bekerja. Kalau tanpa pemberitaan itu, saya yakin tak akan bisa bekerja seperti sekarang ini. Paling-paling saya hanya akan jadi pemulung sampah. Sekali lagi, terima kasih ya Mbak Warti,” kata Umam sambil dengan cepat menunduk, menyambar tangan Warti, lalu menciumnya. Bagi orang Madura, mencium tangan memang merupakan tanda hormat yang ditunjukkan pada orang-orang tertentu.
Warti tercengang. Ia melongo mendengar kisah yang dipaparkan pemuda di depannya itu. Begitu sadar, Warti buru-buru menarik tangan dan memegang bahu anak muda di depannya itu.
“Sudah, sudah, tidak usah seperti itu. Itu sudah pekerjaan saya. Saya yang harusnya berterima kasih padamu,” kata Warti terbata-bata. Kejadian singkat itu berlalu seiring Umam meninggalkan kami berdua yang menatapnya sambil terbengong-bengong.
Kulirik Warti. Ia melongo diam. Wajahnya merona, dengan kilatan bening di sudut matanya. Rona wajahnya kali ini, cerah bercahaya.
(Editor: Iman Suwongso)

Tetap semangat mbak warti…