Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran

Aku tiba-tiba teringat Sangkil. Ia hampir mencelakaiku, hampir membunuhku, ketika takbir menjelang lebaran setahun lalu. Persis seperti malam ini. Untung pisau itu hanya menggores lengan kiriku yang kupakai menangkis sabetannya. Sejak peristiwa itu, aku tidak pernah mendengar lagi kabarnya.

Sangkil bukan orang asing bagiku. Ia lahir dan tinggal di kampungku juga. Teman sepermainan waktu kecil. Ia selalu menjadi lawanku dalam bermain. Sebagai lawan main, ia kerap menjengkelkan. Ia kerap bermain tidak jujur. Ia selalu menang bermain umbul, tapi kemudian ketahuan kalau ia memakai gaco bolak-balik. Bermain petak umpet juga begitu. Kalau dia berperan sebagai pencari, kami bersembunyi di bawah perdu beluntas, ia tidak muncul-muncul mencari kami. Ternyata dia pulang. Esok paginya ia tertawa mengejek kami karena terlalu lama menunggunya dan kami dirubung semut rang-rang.

Kita pasti memaklumi. “Yah, begitulah anak-anak.” Tapi di sekolah juga tak berbeda. Ia suka curang dan malas. Ia tak pernah mau menyisihkan waktunya sedikitpun untuk mengulang pelajaran kelas. Karenanya tidak pernah dapat prestasi, dan dijuluki murid bodoh. Bahkan, ia pernah naik kelas percobaan. Kalau kemudian kesulitan menguasai pelajaran di kelas baru akan di turunkan lagi kelasnya.

Sangkil akhirnya tidak pernah bisa menamatkan sekolah menengah pertama. Ia dikeluarkan dari sekolah karena bolosnya berderet kayak gerbong sepur. Surat peringatan yang diberikan untuk orang tuanya, kalau dititipkan kepadanya tidak pernah sampai. Pernah sekali surat tegurannya dikirimkan melalui pesuruh sekolah, dan sampai kepada bapaknya.

“Le, dapat surat dari sekolahmu, coba kamu baca,” kabar bapaknya.

“Jadwal libur sekolah, Pak,” katanya setelah memelototi surat dari sekolahnya.

“Oh, mulai kapan?”

“Besok,” jawabnya sambil meremas surat itu lantas dilempar ke parit.

Dasar anak mbeling! Dasar pula bapaknya yang buta aksara! Meskipun hidupnya berkecukupan, karena warisan yang diperoleh dari kakek Sangkil.
Sangkil punya benih tidak bagus yang jatuh pada tanah yang menyuburkan perbuatan buruknya. Maka, sejak ia dikeluarkan sekolah, ia berkeliaran semakin jauh. Ia sering kali tidak pulang ke rumahnya.

***

Aku nyaris tidak mengetahui masa remajanya. Aku memang harus belajar keras, dan indekos di dekat sekolah karena jarak dari rumah ke sekolah terlalu jauh. Tetapi, kabarnya Sangkil juga jarang pulang. Suatu saat bapaknya bilang, Sangkil berada di Kalimantan. Tetapi pada waktu yang hampir bersamaan ada teman sekampung bercerita kalau ia baru saja bertemu Sangkil di kota yang tidak jauh dari kota kami.

Ketika aku kuliah sudah menjelang akhir, kampung kami ribut. Ada orang-orang yang tidak dikenal mencari Sangkil selama beberapa hari. Orang-orang akhirnya tahu kalau orang yang mencari Sangkil itu intel polisi. Intel polisi itu kemudian menangkap Sangkil saat pulang. Katanya, ia telah melakukan pencurian lombok di ladang orang.

“Kasihan bapaknya, untuk mengurus Sangkil sampai harus menjual ladang harta satu-sutunya. Gara-gara lombok,” bisik-bisik itu menggema di seluruh kampung.

“Lombok itu pedas jendral!” kata penjaga malam sambil membanting gaple.

Sangkil masih beruntung, dia dipenjara tidak terlalu lama. Ketika ia sudah bebas lagi, saudara-saudara beserta bapaknya berkumpul. Berunding. Mereka bersepakat, untuk mencegah kenakalan Sangkil, ia harus dinikahkan. “Biasanya, laki-laki semacam dia takhluk di bawah ketiak perempuan,” kata salah satu saudaranya.

Niat keluarga Sangkil mendapat jalan yang mulus. Ada perempuan yang bersedia dinikahkan dengan Sangkil. Perempuan itu memang tidak cantik. Tetapi, kalau ada perempuan yang bersedia nikah dengannya, apa bukan sebuah keberuntungan? Mereka nikah dengan sederhana, tidak ada pesta yang menyolok. “Nikah itu yang penting akhadnya,” kata Pak Modin.

Pendapat saudara Sangkil itu benar. Sangkil menjadi rajin sejak dinikahkan. Rajin mencari uang, juga kadang terlihat bersarung pergi ke masjid. Tetapi, pujian kepada Sangkil itu tidak bisa bertahan lama. Ketika istrinya mulai hamil, berangsur-angsur Sangkil jarang kelihatan di rumahnya. Apa yang bisa kamu katakan, ketika istrinya meregang nyawa melahirkan anaknya, ia tidak diketahui dimana rimbanya? Bapaknya Sangkil yang menunggu cucunya lahir. Wajahnya tampak gemetar ketika mendengar menantunya meringik kesakitan.

Jauh hari sesudah itu, ketika anaknya yang lucu sudah mulai merangkak, istriku sedang masak berlebih. Kami membagi masakan ke istri Sangkil. Kami bercakap-cakap sebentar sambil menggoda anaknya yang menggemaskan itu. Ketika aku sedang menyayanginya dengan lagu “tak ting tung ting tang ting tung”, Sangkil tiba-tiba muncul menyambar anaknya. Wajahnya menunjukkan ketidak-sukaannya pada kami berdekatan dengan anaknya. Karena posisinya membungkuk, Ketika Sangkil merebut anaknya, sebuah pisau yang terselip di pinggang celananya tersembul. Pisau itu berkilat tajam. Istriku beringsut memegangi lenganku, tangannya gemetar. Sangkil melirik dengan sudut matanya yang merah.

“Orang tak punya malu,” kataku, sambil menuntun istriku pulang.

“Suatu saat akan kena batunya. Kasihan istrinya, kasihan anaknya, kasihan juga bapaknya,” istriku seperti berdo’a.

Itu pertama kali aku melihat dia setelah lama menghilang. Sesudah itu nyaris tak bertemu lagi. Istriku bercerita, ibu-ibu membicarakan Sangkil ketika belanja pagi. Katanya, Sangkil tidur saja pekerjaannya kalua siang hari. Ia keluar rumah malam hari dan pulang menjelang subuh.

“Dia mbegal?” kataku.

“Kok tahu? Aku ingin mengatakan itu, tapi tak tega.”

“Bisa ditebak.” Kataku sambil mengetuk jidat dengan telunjuk.

***

Aku bergegas pulang mengendarai motor setelah berhasil mendapat penukaran uang pecahan di agen. Setelah antri panjang, malam itu rasanya aku sudah siap menghadapi lebaran dengan uang segebok. Malam itu menjelang lebaran. Aku sudah membayangkan bersila bersama anak istri membagi-bagi uang dan dimasukkan pada amplop-amplop mungil. Kami akan membagi pada sanak saudara esok pagi, juga kepada anak-anak kampung yang datang berkunjung galagampil.

Aku melewati jalan sunyi yang cukup panjang, jalan satu-satunya yang menghubungkan kampungku dengan kota tempat penukaran uang. Langit cerah. Bulan sabit menggelantung. Bintang-bintang bertaburan. Langit meriah seperti menyambut takbir yang berkumandang di setiap relung masjid.

“Allahuakbar!” pekikku.

Tiba-tiba dari pinggir jalan ada sosok yang melompat ke tengah jalan. Ia menghentikan laju sepeda motorku. Karena aku menginjak rem mendadak, suara roda berderit memarut aspal. Orang itu menodongkan pisau ke arahku. Pisau yang tajam berkilat ditimpa cahaya lampu. Aku turun dari sepeda motor. Ia mendekatkan mata pisaunya ke leherku sambil tangan kirinya mau merampas tas yang menggelantung di pundakku.

Begal itu tentu tidak menduga kalau aku mahir silat. Ilmu bela diri yang pernah aku pelajari sajak masih sekolah menengah sampai kuliah. Aku menangkisnya dengan gerakan tangan yang cepat. Begal itu terkejut karena perlawananku. Ia menyerangku dengan membabi buta. Aku dapat melumpuhkannya, meskipun mata pisau itu menggores lenganku. Pisau itu terpental dari genggamannya. Ia berusaha melarikan diri, tetapi aku berhasil menarik kain sarung yang digunakan menutup wajahnya.

“Sangkil!” pekikku.

Ia lari menerobos semak-semak di seberang jalan. Aku tidak berusaha mengejar. Aku pungut pisau yang tergelatak di pinggir jalan, dan melanjutkan perjalanan pulang diiringi takbir yang makin menggelora.

***

Istriku membalut lenganku yang terluka. Awalnya, ia bertanya-tanya. Tetapi, aku tidak terlalu banyak bicara. Aku hanya menjawab ada orang mencegatku di tengah jalan. Aku tidak ingin menceritakan yang terjadi di jalan sunyi itu. Apa lagi mengatakan tentang orang yang mencegatku itu.

“Jangan katakan kepada siapapun. Kalau ada yang tahu, katakan kena pecahan kaca,” pesanku.

Istriku hanya menoleh. Dan aku percaya kepadanya, dia selalu mendengarkan kata-kataku.

***

Aku tidak pernah bertemu Sangkil lagi sejak ia berusaha begal pada malam lebaran itu. Ia tak pernah pulang sama sekali. Aku sengaja sering melintas di depan rumahnya. Aku sengaja membakar api unggun bersama tetangga tidak jauh dari rumah Sangkil, waktu giliranku ronda. Tak pernah memergokinya.

“Ia takut padamu,” kata istriku.

Aku terkejut. Mengapa dia menduga seperti itu? Apakah istriku sudah tahu peristiwa penodongan malam lebaran itu?

“Aku telah mengetahui orang yang membegalmu itu.”

“Jadi, kamu tahu? Darimana kamu tahu?”

“Pisau yang kamu bawa saat terluka itu, pisau Sangkil yang diselipkan pada pinggang celananya. Ingat?” katanya sambil menunjuk pelipisnya.

“Jadi?”

“Lupakan Sangkil,” katanya.

Ketika aku belum selesai mengagumi kejelian istriku, istri Sangkil datang ke rumah kami. Ia terisak dan bersimpuh di depanku. Hidungnya hampir menyentuh lututku. Ia minta ampun atas kesalahan suaminya.

Aku tersentak. Istriku sudah bercerita kepadanya?

Aku tanyakan kepada istriku, ketika istri Sangkil pulang. Istriku menggeleng.

“Istri akhirnya selalu tahu yang terjadi pada suaminya,” kata istriku. “Karena di sini ia punya cinta,” katanya lagi sambil menunjuk dadanya.

Kehadiran istri Sangkil membuat aku betul-betul menuruti nasihat istriku, melupakan laki-laki buruk itu.

***

Namun, menjelang lebaran ini, tiba-tiba aku teringat Sangkil. Orang yang setahun lalu hampir mencelakaiku, hampir membunuhku. Mungkinkah ingatan itu muncul hanya karena ada suasana yang sama? Suasana malam menjelang lebaran, ketika suara takbir bersautan.

Ketika nama Sangkil masih menggelantung dalam ingatan, ia datang ke rumahku. Tubuhnya mulai kurus. Wajahnya dipenuhi berewok. Matanya masih merah, berkilat. Ia tertunduk dan gemetar.

“Aku menyerah. Aku patut dihukum demi memperoleh pengampunanmu,” rintihnya.

Laki-laki yang suka berbuat curang dan menjadi berandalan itu telah merendahkan diri, serendah-rendahnya, pada malam menjelang lebaran ini. Aku mengambil pisau miliknya yang dipakai menodongku. Pisau itu sudah berkarat penuh debu. Tak berkilat lagi.

“Pulanglah. Ambil kembali pisaumu ini,” kataku beriringan dengan gema takbir.
Aku anggkat tubuhnya yang terkulai di lantai agar berdiri. Aku peluk tubuhnya. Air matanya membasahi pundakku.

Sangkil menerima pisau berkarat yang aku ulurkan. Ia menggenggam erat gagangnya.
Tanpa aku duga, Sangkil menarik lenganku dengan hentakan. Tubuhku terpelanting ke dalam pelukannya. Lenganku ia puntir ke belakang punggungku. Secepat gerakan Sangkil, pisau dalam genggamannya mengiris leherku.

Aku masih mendengar jeritan istriku. Tetapi suara Sangkil hanya mendengung sebelum ia loncat ke dalam kegelapan.

 

*) Iman Suwongso bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KOBIS) “Merajut Sastra” di Malang. Telah menerbitkan kumpulan cerpennya “Si Jujur Mati di Desa Ini” (Penerbit Kota Tua, Mei 2017). Sedang menyiapkan dua kumpulan cerpen: 1) “Topeng di Meja Bupati”, 2) “Perempuan Kunang-kunang”.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *