Cerpen
- All Posts
- Back
- Cerpen
- Puisi
- Fragmen
- Kobis Seri
Dengan langkah gontai dan terkayuh-kayuh, Salamah melanjutkan perjalanan menelusri aspal berlubang. Beberapa kali ia berhenti, menarik napas panjang.
Sebatang rokok di tangannya telah habis, dan tidak ada lagi yang bisa dibakar. Tora memandang langit yang jauh malam itu....
Aku mengingat pertama kali kau berkunjung ke rumahku. Saat itu kau datang hampir tengah malam dengan motor matik biru yang...
Setelah memutar kursi roda, kuambil sebatang rokok, kunyalakan, dan mengisabnya. Mataku masih tertatap pada gedung-gedung tinggi yang berjajar rapi dibelah...
Setiap malam, aku mendengar tangis begitu khusyuk dari sudut kamarku yang sempit. Tangis yang dirajut dengan doa-doa dan wirid panjang....
Tidak aneh. Tetapi, selama aku ke warung ini, baru kali ini tak ada satu orang pun yang berkunjung. Sejak aku...
Batang kayu raksasa menjulang ke bibir tebing seperti sedang menunjuk bibir kawah yang diameternya lebih dari lima kilometer. Dari batang...
Kabut senja perlahan berarak mengejar serpihan mentari di kaki langit Flores. Tertatih kutelusuri pijakan bayu menyeberangi prahara hatiku.
Dalam cerita ini tidak ada yang aku ceritakan selain aku. Dimulai sejak aku pindah ke rumah ini, rumah yang berdiri...
Kabar yang mencemaskan Sastro datang pada malam hari. Petugas rumah sakit mengirim pesan; esok Tasya harus sudah masuk rumah sakit....
Lelaki tua itu berdiri tepat di tepi jalan. Dia berusaha tetap menunggu bus datang dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Bus...
"Kubuka roncean kembang kirimanmu tempo hari, Mirasaga. Dua roncean dalam waktu singkat kau rangkai, menandai keuletanmu berkebun yang cukup lama....
Mata-mata tajam menatap layar kaca. Jari-jari bergerak cepat memenceti benda bersinar di tangan. Sekitar tak dipandang.
Ijam, laki-laki kusam, mendepis di bawah pohon randu. Seorang gadis hendak melintas. Ijam makin mematung, ketika gadis itu makin dekat.
"Wis ana kereto mlaku tampo jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Perahu mlaku ing nduwur awang-awang. Kali ilang kedunge. Pasar ilang...
Kikan, gadis itu membawa keranjangnya dengan sukacita. Rambutnya yang ikal terurai nampak seperti gulungan spiral yang menari-nari di punggungnya.
Tobong dekat perempatan, sudah berhari-hari begini; sepi, di dalam kosong, kursi-kursi tidak tertata rapi, pengap, kertas berserakan berbaur rumput-rumput kering,
Ritsleting mulai dibukanya. Belum sempat seluruh ritsleting terbuka. Tiba-tiba, beberapa barang berhamburan ke luar dari tas berwarna cokelat.
Namanya Warti Cahyani, wartawan koran K, sebuah koran terbesar di negeri Indo. Di usianya yang masih 25 tahun, ia sudah...
Aku tiba-tiba teringat Sangkil. Ia hampir mencelakaiku, hampir membunuhku, ketika takbir menjelang lebaran setahun lalu. Persis seperti malam ini. Untung...
