
selalu cerita keajaiban tak teratur
seperti susunan abjad kepada puisi
hinggap di bahu lalu berloncatan
ke bola mata berselancar di atas kening
tahu, kerutan arusnya asin menggila
mengerjap takjub seolah lupa begitulah adanya
tempat terakhir semuanya tenggelam
16.10.2026
corak langgam
duduk di gelondong kayu di taman khayalan
mengayun-ayun kaki melansir senandung bekas goresan
semilir kedipan sinar tembus dari rapat lembaran daunan
melihat torehan melampaui sadar apa yang dialami
urutan peristiwa berselang-seling tajam menusuk
bagaimana kalau berburu saat yang tepat
atau biarkan tiba pada waktunya
kenyataan yang menopang kemegahan fiksi
lubang cacing di bawah ketukan sol sepatu mengigal
menggaung di lorong bawah lantai taman
musik hidup kantata dan sonata, melukai menyanjung
selalu mengejutkan ketenangan kolam dingin
tiada terpatah dalam komposisi kosmik
alunan tentang saat membuka
isyarat untuk mengulangi
batas untuk penutup
terdengar karena kemurahan udara
untuk menyampaikan segala bunyi
mengisak oleh siraman
tergelak berkat gelitik
memainkan satu-satunya kehidupan
14.10.2026
Baca juga: Karang Bolong
langit itu biru?
luap panas tangis berbatu-batu terlepas dari kurun
pijar siang berpusar di bumi tak bisa kembali ke langit
di daratan bundar keinginan bergerak dengan kecepatan energi
menumbuhkan jamur asap
ikatan dalih mengubah harmoni bajik pada tanah keramat pinjaman
ditukar kehilangan kharisma
suatu saat kamu menulis langit biru
aku masygul, “kapan dan di mana kau jumpai?”
12.10.2026
Ahdi Furqon: Penulis puisi, sedang menekuni soneta
(Editor: Iman Suwongso)
