
Dengan langkah gontai dan terkayuh-kayuh, Salamah melanjutkan perjalanan menelusri aspal berlubang. Beberapa kali ia berhenti, menarik napas panjang. Tangan kirinya memegang plastik es teh yang ujungnya diberi sedotan warna hijau. Sesekali ia menyesap pelan, sekalipun, rasa dingin minuman itu sudah mulai hilang, tapi cukup sedikit menghilangkan rasa haus. Ketiaknya mulai terasa nyeri. Tongkat kayu yang digunakannya beberapa hari ini terasa makin tak nyaman. Ia menggenggam gagangnya kuat-kuat, menjaga agar tubuhnya tetap seimbang. Di pinggir jalan, di antara tambal ban, toko bangunan, di depan warung kecil dari triplek tipis, ia melihat sebuah bangku dari kayu yang sudah sangat lusuh. Ia duduk perlahan di sana.”Numpang duduk ya, Mas,” ucapnya lirih kepada pemilik warung, dengan nada sopan dan sedikit lelah. Pemilik warung hanya diam, melirik. Tidak menjawab, tidak mengusir. Ia tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Baca juga: Dua Kisah Hari Raya
Hari yang panas, seperti hati Salamah merah membara. Sedih, marah, dan kecewa menggodam jantungnya dan seolah menghukum dirinya di hari itu. Air mata sudah tak begitu berarti, air mata adalah kesedihan anak ingusan, baginya semuanya terasa penuh, sesak. Kesedihan dan kekecewaan itu menumpuk padat dalam diam. Gus Hadi, pimpinan pesantren yang selama ini ia puja dan percayai, telah menghianatinya, dan penghianatan itu sangat menyakitkan.
Sekitar dua jam sebelumnya, pertengkaran hebat terjadi di kediaman Gus Hadi, yang menyatu dengan Pesantren Warangkunda. Salamah, yang selama ini memandang Gus Hadi sebagai penolong dan harapan hidupnya, ternyata dengan sangat culas mencampakkanya. Ia merasa punya hak untuk menjadi yang syah, sebagaimana dijanjikan oleh Gus Hadi. Ia datang menuntut janji agar dinikahi secara resmi. Namun, begitu ia menyampaikan maksudnya, yang ia terima justru kemarahan.” Begenggek ! Jangan memfitnah Kyai! Kamu kira kamu siapa? Mas Hadi mau sama kamu?” bentak istri Gus Hadi, lalu mengusirnya dari rumah. Salamah menangis. Ia meronta, memohon kepada Gus Hadi. Tapi lelaki yang sejak tadi berdiri di sana tak pernah peduli. Baginya, menerima Salamah berarti menghancurkan dirinya sendiri. “Usir dia!” perintah Gus Hadi kepada beberapa santri. Beberapa orang berpeci kemudian menyeretnya dan melempar tongkatnya. Salamah diusir, disingkirkan dari tempat dia mengaji dan pernah dianggap sebagai rumah keduanya.
***
Dan beginilah cerita sedih itu bermula. Salamah adalah santri paling bersinar seangkatannya di pesantren Warangkunda. Bukan hanya wajahnya yang manis dengan lesung pipi, suaranya juga indah, melengking. Dia mempimpin group rebana, dan juga beberapakali mewakili pesantren untuk shalawatan keliling kota. Pengikut dan jamaah Shalawat sang kyai sangat banyak, dari berbagai kota dan bahkan di setiap kota di provinsi itu terdapat cabang jamaah sholawat yang dipimpin oleh seorang badal (wakil) sang Kyai.
Baca juga: Mairil
Setelah lulus, karena rumahnya tak jauh dari pesantren, Salamah tetap aktif. Ia masih terlibat dalam kegiatan jamaah sholawat yang berpusat di pesantren. Ia ikut membantu mengorganisasi beberapa cabang di sejumlah kota, dan tetap kerap tampil sebagai pelantun sholawat sebelum ceramah dimulai. Dahulu, saat masih nyantri di Pesantren Warangkunda, Salamah adalah idola. Banyak yang menyukainya, bahkan beberapa ustadz pun terang-terangan mengaguminya. Termasuk Gus Hadi, putra sang Kyai. Sejak Gus Hadi mengirim salam melalui pegawai kantin, lalu mulai mengirim surat, hati Salamah pun bergetar. Ia sering senyum-senyum sendiri, di atas kepalanya tumbuh seratus sepuluh bunga tapak dara merah. Dia sangat bahagia, meski harus menyembunyikan semua itu rapat-rapat. Selanjutnya, setidaknya sudah dua kali Salamah sengaja meminta izin keluar pondok dengan berbagai alasan, demi bisa bertemu dengan Gus Hadi. Mereka memang hanya sekadar jalan-jalan ke supermarket atau ke tempat wisata, lalu makan bersama. Namun, itu sudah cukup membuat benih kebahagiaan mekar subur di hati Salamah. Ya, disukai oleh putra Kyai pesantren tentu merupakan sebuah prestasi bagi Salamah, dan juga mungkin impian banyak santriwati lainnya. Dia memenangkan pertarungan!
Meski demikian, cinta Salamah harus kandas. Bunga-bunga yang sempat tumbuh di hatinya harus dicabut sebelum merambat dan memenuhi seluruh tubuhnya. Ia cukup mengerti bahwa hubungan itu tak mungkin dilanjutkan. Salamah hanyalah putri desa, anak penjual ayam sayur, bukan keturunan Kyai. Di Warangkunda, soal garis keturunan bukan hal sepele. Jika Anda bukan anak Kyai, setidaknya anda harus anak saudagar atau orang terpandang di kota itu untuk bisa masuk ke dalam lingkar keluarga pesantren. Tapi kalau Anda bukan siapa-siapa, sebaiknya tutup rapat-rapat peti harapan itu. Jangan lanjutkan cerita cinta, karena jika diteruskan akan berujung dengan air mata. Dan Salamah sangat memahami itu. Itulah yang akhirnya dilakukan Salamah dengan sadar. Bisa berpacaran dengan anak Kyai saja sudah cukup. Ia sudah merasa bangga, bisa diceritakan ke tetangganya, bisa menjadi perbincangan banyak orang. Cukup dan membanggakan!
Cinta Salamah akhirnya diberikan kepada Masturo, lelaki dari desa sebelah yang juga nyantri di Pondok Warangkunda. Masturo memang tidak begitu pandai dalam mengaji, tapi ia cakap berdagang dan selalu patuh pada nilai-nilai agama dan Kyai. Salamah dan Masturo menyebut itu sebagai barokah. Barokah itu seperti kumpul dengan penjual minyak wangi, sekalipun engkau tak mampu mendapatkan minyak wangi, minimal akan terkena cipratanya, bau wangi akan nenempel dalam pakaianmu. Karena Masturo-lah, Salamah mendapat modal untuk membuka usaha. Ia kini memiliki sebuah ruko beras yang cukup besar di lantai dua pasar kota—pasar terbesar di antara kota-kota sekitarnya. Demikianlah barokah bekerja. Karena ketaatan, karena kepatuhan, hidup dipermudah oleh sang penguasa Saturnus. Meski tak unggul dalam pelajaran kitab kuning, Tuhan melimpahkan rezeki kepada mereka. Terlebih lagi, pernikahan mereka mendapat restu penuh dari keluarga Pesantren Warangkunda, termasuk dari Gus Hadi sendiri. Kepatuhan kepada Kyai dan keturunannya membawa daya magis yang tak bisa dinalar. Barokah!
Hari-hari Salamah dan Masturo selama lima tahun berjalan baik. Salamah menjalankan bisnis beras di Pasar Kota, sementara Masturo membuka warung kopi, rental mobil hingga merambah ke jasa travel wisata. Selain berbisnis, mereka juga aktif sebagai pengurus Jamaah Shalawatan dan beberapa kali mengadakan event sholawat di kota. Jika ada perintah dari pesantren untuk menyelenggarakan sholawat atau kegiatan lain, mereka akan sigap melaksanakannya. Segala urusan bisnis akan dihentikan sementara. Bagi mereka, apa yang mereka raih bukan semata hasil kerja keras, tapi juga karena doa-doa dari Kyai dan barokah pesantren. Sudah beberapa tahun mereka menjalani hidup seperti itu, berbisnis, menghidupkan Jamaah Shalawatan, dan menjalankan amanah Kyai.
***
Kamis Pahing, bulan November, malam Jumat tahun 2016, adalah malam yang penuh hiruk pikuk bagi Salamah. Hujan jatuh, mengguyur deras sejak sore, membasahi semua semak dan atap rumah-rumah. Usai berjualan, dengan tubuh letih dan pakaian yang mulai lembap, Salamah tetap melaksanakan tugasnya: mengoordinasi botol-botol minuman dari para peserta shalawatan. Botol-botol itu akan ditata rapi di depan Gus Hadi. Seperti biasa, selepas shalawatan, Gus Hadi akan menyentuh ujung botol-botol itu sebagai bentuk pemberian berkah.
Baca juga: Senyum Rakyat Jelata
Malam itu takdir benar-benar mengintai Salamah, malam yang bukan sekadar sial, melainkan malam yang perlahan-lahan menjadi titik balik malapetaka hidupnya. Karena hujan dan keramaian, Salamah terlambat datang. Ia terpaksa duduk di bagian belakang, bersama Masturo, bergandengan di bawah pohon rindang yang gelap dan jauh dari keramaian panggung. Mereka berdua tetap khusyuk bershalawat, suaranya lirih namun penuh harap—berharap pada syafaat Nabi, berharap pada barokah yang akan turun dari langit, melalui tangan Gus Hadi.
Mereka tak tahu, di balik ketenangan malam itu, bahaya sedang mengintai. Dari balik semak basah, seekor ular perlahan merambat, menyusuri akar-akar pohon tua, hingga sampai tepat di belakang Salamah. Saat Salamah bersandar ke belakang dan meletakkan tangannya ke tanah untuk menyangga tubuh, ia tanpa sengaja menyentuh ekor ular itu. Dalam sekejap, sebagai bentuk pertahanan diri, ular itu berbalik dan menggigit paha Salamah.
Ia terkejut. Tapi tak bersuara. Rasa sakitnya tidak seberapa, hanya seperti sengatan semut yang terlalu tajam. Ia mendesis, menahan nyeri, dan kembali bershalawat seperti tak terjadi apa-apa. Tapi di balik ketenangannya, satu jam kemudian, rasa pening menjalar menguasai kepala bagian tengah, dan tubuhnya terasa hangat, seperti disusupi api dari dalam. Salamah tetap duduk di sana, berusaha fokus pada lantunan shalawat.
“Apa ini karena gigitan ular?” tanya Salamah dalam hati.
“Ah, tidak. Ini karena memang saya kena hujan saja. Tubuh saya memang begini jika kena hujan, masuk angin dan pusing,” Salamah meyakinkan dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan, menggiring Salamah pada kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan. Gigitan ular di malam shalawatan itu menjadi awal dari bencana panjang. Tubuhnya demam, kepalanya berdenyut hebat, dan pahanya perlahan mati rasa. Minggu-minggu di rumah sakit hanya menambah derita, bukan penyembuhan. Rasa nyeri memang sedikit reda, tapi harapan ikut terkikis. Masturo berkali-kali menghubungi Gus Hadi, memohon petunjuk. Namun yang datang hanya air putih dalam botol dan daftar orang pintar, yang telah dikunjungi tak ada dari mereka yang membuahkan mujizat. Enam bulan berlalu. Kaki Salamah bukan sembuh, tapi membusuk. Bau luka menyebar. Lalu vonis itu datang: amputasi! Dunia salamah runtuh. Ya. Ia akan pincang. Tak bisa lagi menaiki sepeda motor, berlari, atau mengangkut beras ke pasar. Air mata mengalir. Hatinya remuk. Tak ada satu suap makanan pun mampu melewati mulutnya. “Ya Allah, apa dosaku, ampuni aku” kata Salamah dalam getar bibir yang basah oleh air mata.
Menjadi difabel bukanlah hal mudah untuk diterima oleh Salamah. Kehilangan satu kaki adalah kehilangan arah, kesulitan demi kesulitan terus datang, ritme hidup yang tak pernah disangka olehnya dulu. Tongkat yang kini menopang tubuhnya bukan sekadar alat bantu, ia adalah penanda babak baru hidup penuh harapan dan pelan-pelan menuntutnya berdamai dengan kenyataan. Tiga bulan setelah amputasi, tubuhnya terpeleset di depan kamar mandi. Lantai basah menjadi pengkhianat yang mensayat tubuh dan hidupnya, dan kakinya yang tersisa terkilir. Dua minggu ia kembali terbaring. Belum juga membaik secara utuh, tak sampai sepuluh hari kemudian, tongkatnya tersandung pot bunga di emper rumah. Ia jatuh, menimpa tanah dan bunga yang kini remuk. Lebam-lebam menghiasi tubuhnya, darah mengalir dari dengkulnya. Dan begitu seterusnya, banyak peristiwa-peristiwa kecil yang tak henti mematuki tubuh Salamah.
Rumah yang seharusnya menjadi perlindungan, berubah menjadi medan perang. Setiap sudutnya menyimpan potensi bahaya. Kamar mandi, ruang tamu, dapur adalah palagan pertarungan: tak ada yang benar-benar aman. Setiap langkah adalah siaga, karena setiap tetes air, setiap jejak minyak, sehelai daun bayam bekas makan, setiap permukaan licin, semuanya bisa menjadi ranjau yang membuatnya tersungkur. Saat berjalan, matanya terus mengawasi lantai. Ia hidup dalam kewaspadaan yang melelahkan. Demikian juga dengan dunia luar pun tak lebih ramah. Tempat wudu di masjid di dekat rumahnya, tangga-tangga balai desa, jalanan dan tangga pasar: semuanya seperti musuh yang diam-diam menunggu waktu untuk menyerangnya. Ke mana pun ia melangkah, medan perang baru bermunculan. “Ah, semua serba tidak menyenangkan,” kata Salamah, bersedih menerima kenyatannya kesulitan menjadi difabel.
Lebih dari sekadar luka dan jatuh yang tak terhitung, ada kehilangan lain yang diam-diam meremukkan hati Salamah. Warung miliknya di lantai dua, tempat ia bertahun-tahun menjual beras, terpaksa dilepas. Bukan karena dagangannya tak laku, tapi karena tangga-tangga itu terlalu kejam bagi tubuhnya yang kini rapuh. Pernah ia mencoba bertahan, memaksakan diri naik turun tangga demi mempertahankan warung yang pernah menopang hidupnya. Namun tubuhnya tujuh kali menggelundung, empat kali kakinya terkilir. Bukan hanya rasa sakit yang tertinggal, tapi juga rasa kalah yang berlahan tumbuh. Untuk mengangkat beras, ia terbiasa membayar kuli panggul. Tapi pasar tetaplah pasar: keras, kejam dan tak pernah dirancang untuk tubuh yang berjalan dengan tongkat. Di mana-mana becek, licin, dan penuh jebakan kecil yang tak terlihat, tapi sangat terasa bagi seseorang seperti Salamah. Ongkos kuli panggul makin mahal. Tapi yang lebih berat adalah beban ketakutan akan jatuh. Dan akhirnya, dengan hati yang berat, ia memutuskan berhenti menjual beras. Bukan karena ia lelah berdagang, tapi karena dunia di sekelilingnya yang menurutnya telah menutup semua pintu untuknya.
Bukan hanya pasar yang harus ia tinggalkan, tapi juga tempatnya berkhidmat, jabatan sebagai koordinator Shalawatan di pondok Warangkunda dicabut seminggu setelah ia berhenti berdagang. Ketidakhadiran di rapat dan keterlambatan yang tak bisa ia elakkan menjadi alasan, seolah tongkat yang membantunya berjalan juga membawa beban kesalahan. Ia pernah adu mulut dengan Dewi, jamaah yang menuduh tongkatnya najis. “Bercak-bercak hitam di karpet itu jelas najis,” kata Dewi yang diam-diam mengincar posisinya, dan menjadikan keterbatasan tubuh sebagai senjata untuk menggusurnya, mempermalukannya di depan umum. Dunia yang dulu terasa luas dan hangat perlahan mengecil, menjelma medan perang. Langkah-langkah Salamah seperti terbatas dan keberadaannya dimusuhi. Kesedihan demi kesedihan tersulam menyelimuti hari-hari Salamah. “Adakah yang lebih sedih dari aku,” kata Salamah dalam doannya.
Kesedihan Salamah tak berhenti pada tubuh yang terbatas, jabatan yang dicabut, atau ruang hidup yang perlahan menyempit. Dua bulan satu minggu setelah dikeluarkan dari pengurus pengajian, menjelang Ashar ketika rumah begitu sunyi dan suaminya tertidur di depan televisi, ia tanpa sengaja membuka ponsel suaminya; di dalamnya, terpampang percakapan mesra antara Masturo dan Arawindha, Gadis muda jamaah pengajian yang dikenal anggun dan lucu saat menjadi MC Pengajian. Kata-kata mereka saling merindukan, membicarakan pertemuan-pertemuan yang telah berulang, dan satu kalimat menghantam hatinya: suaminya berniat menceraikannya. Saat itu, dunia seolah tumbang bersama hidupnya yang rapuh. Ia tak hanya kehilangan pijakan di luar sana, tapi juga kehilangan rumah, tempat terakhir yang ia kira akan tetap menerima keberadaannya. Kini, Salamah merasa tak ubahnya tikus busuk, tak diinginkan, bahkan oleh lelaki yang pernah berjanji setia pun. Ia dibuang.
***
Sudah beberapa hari Salamah tak keluar dari kamar di rumah orang tuanya. Dua bulan lebih ia kembali ke pangkuan yang dulu membesarkannya, kini dalam sunyi seorang janda, meski belum diresmikan oleh palu KUA. Tak ada semangat, tak ada gairah. Hari-harinya larut dalam keheningan, tubuhnya telungkup di atas kasur seperti daun gugur yang mudah saja terhempas. Tangis menjadi teman, dan makanan hanya datang lewat kurir online yang mengetuk tanpa sapa. Ibunya menatap dari balik pintu, hatinya remuk melihat anaknya yang dulunya terang, kini redup dalam gelap. Dengan suara lembut yang disulam kasih, ia menyarankan Salamah untuk menemui Gus Hadi, guru masa pesantren yang dulu pernah jadi pelita. Ya. Menemui Gus Hadi meminta doa dan petunjuk. Salamah, dengan langkah pelan, datang ke pengajian bulanan itu. Di antara dzikir dan lantunan doa, ia menghadap. Ia ceritakan hidupnya yang retak, seperti genting pecah yang tak sanggup lagi melindungi apa pun. Gus Hadi mendengarkan, lalu menaburkan kata-kata dari kitab-kitab tua, petuah yang tak hanya menenangkan, tapi seolah menyambung kembali keping-keping hati yang berserakan. Saat itu, Salamah menemukan kembali damai yang lama hilang. Dan di sanalah, sebuah babak baru pelan-pelan membuka halaman hidupnya.
Baca juga: Mee, Namaku (36)
Sejak saat itu, setiap bulan Salamah tak pernah absen dari pengajian. Seusai lantunan doa dan nasihat disampaikan di hadapan jamaah. Salamah dan Gus Hadi selalu membuka ruang kecil di mana hanya ia dan Gus Hadi berbincang empat mata, bukan hanya soal hidup yang pelik dan luka yang belum kering, tapi juga tentang masa lalu yang diam-diam masih bertunas, cukup menyiramnya maka dia akan tumbuh subur, bersama kenangan: berjalan berdua menyusuri kota, duduk di bangku kaki lima menyantap siomay, tertawa kecil mengenang masa remaja yang terasa seperti mimpi yang tertinggal. Pertemuan-pertemuan itu merambat keluar dari ruang pengajian: menyusup ke dalam pesan-pesan WhatsApp, panggilan video saat malam terasa panjang, dan kunjungan-kunjungan singkat yang membawa kotak berisi makanan hangat ke rumah di kampung Salamah. Dalam diam yang terus terjalin, kehadiran Gus Hadi mengisi ruang kosong di hati Salamah, perlahan, ia mencabut rerumbai kesedihan yang selama ini tumbuh liar, dan menggantinya dengan sesuatu yang hangat, tenang, dan menentramkan.
Hingga suatu malam, selepas pengajian bulanan yang ke sebelas, tepat di malam Kamis Legi, hanya ada mereka berdua di ruangan kecil itu, hening, remang, dan penuh bayangan yang tak kasat mata. Senyum Salamah mengembang pelan, manis dengan lesung pipi yang menyimpan cerita masa lalu. Gus Hadi, yang selama ini menjaga jarak dalam tutur dan sikap, tiba-tiba terlihat bimbang, ragu, sekaligus rapuh di hadapannya. Tangannya terangkat, menyentuh pundak Salamah dengan getar yang sulit diredam. Salamah diam, sedikit risih, tapi hatinya gamang: Gus Hadi baginya adalah sosok sempurna, tempat ia menggantungkan sisa-sisa harap. Dalam kesunyian itu, kedekatan mereka melesat melampaui batas norma. Sebuah pelukan terjadi, bukan hanya karena kasih, tapi karena sepi yang mendesak untuk didekap. Namun dalam pelukan itu, nurani mereka pun bicara: “Kita belum menikah!” Gus Hadi pelan meminta dipuaskan tanpa duhul , takut berdosa. Dalam tangis yang ditahan, hanya bisa menunduk. Ada cinta, ada harap, dan ada batas yang samar. “Nikahi aku, Gus,” kata Salamah lirih.
Hari-hari setelah malam itu, hidup Salamah perlahan tumbuh kembali. Kembali hadir dalam pengajian, kembali menyusun botol-botol untuk diberi barokah, dan tentu saja, semakin sering bertemu dengan Gus Hadi. Sejak kedekatan mereka mengabur batas, hubungan itu berjalan dalam senyap dan janji-janji samar. Setiap bulan mereka bertemu, selalu melakukannya tanpa duhul.
Dua tahun berlalu, janji itu tetap berdiri di tempat. Dan Salamah, yang lelah digantung dalam ketidakjelasan, akhirnya datang ke rumah. Ia tak keberatan menjadi istri kedua. Ia tak peduli dengan statusnya sebagai janda, atau tubuhnya yang tak lagi utuh. Dia mencabut semua pagar rasa malu, ia hanya ingin kepastian, ingin tempat yang sah. Dia datang sebagai seorang perempuan yang mencintai dan ingin dicintai dengan terang. Lalu?
4-10 Mei Sydney-Helsinki 2025
Slamet Thohari adalah seorang difabel, aktivis gerakan difabel, akademisi dan penikmat sastra. Pernah Bekerja di Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta. Sekarang tinggal di Malang
Catatan:
1. Pelacur
2. Intercourse, hubungan suami istri.
(Editor: Iman Suwongso)
