
Sore itu Brodin kedatangan tamu istimewa: Ustadz Zainal. Masalahnya, Ustadz ini sudah meninggal tiga hari yang lalu. Brodin tahu persis, karena dia sendiri yang menggali kuburannya. Ustadz Zainal tiba-tiba muncul di ruang tamu, duduk santai di kursi. Ia memakai sarung lusuh berbau apak, bertelanjang dada dengan tulang rusuknya yang menonjol. Brodin tambah merinding saat melihat kepalanya yang membengkak.
“Aku harus cerita,” kata Ustadz Zainal dengan suara berat dan mendesak.
Baca juga: Angin Januari
Brodin baru saja ketiduran, terkapar di lantai beralaskan tikar lontar. Rahangnya kaku, urat lehernya menegang, matanya sipit-sipit waspada. Ia takut arwah itu melakukan macam-macam. Oh, jangan bilang arwah Ustadz Zainal masih doyan mairil—perbuatan cabul yang pernal ia lakukan terhadap Fikri, murid ngaji kesayangannya.
Dalam keadaan tubuh yang nyaris tak bisa bergerak, Brodin mencoba sekuat tenaga melafalkan kalimat ta’awwudz, “A’..udzu.. bil..lahi.. minasy.. syai.. thani.. rrajiim…”
Brodin berharap arwah Ustadz Zainal akan lenyap seketika seperti di film-film horor yang biasa ia tonton. Tetapi sebaliknya, Ustadz Zainal menyambung ta’awwudz-nya dengan basmalah yang sangat fasih, “Bismillahirrahmanirrahim…”
Suaranya terdengar jernih dan berwibawa, lantunannya tetap sama seperti saat ia masih hidup dan mengajar ngaji keponakannya, Dullamin, sahabat Fikri.
“Tidak usah takut, Brodin. Aku hanya ingin mengakui apa yang aku rahasiakan selama ini. Sekarang kau cukup mendengarkan saja. Ingat, kelak kau juga akan mati sepertiku: kesepian di liang lahat, butuh teman ngobrol. Kau tahu, arwah-arwah di sebelahku sudah bosan, katanya aku terlalu cerewet.”
Baca juga: Senyum Rakyat Jelata
Brodin hanya bisa pasrah. Tapi aneh juga, dalam keadaan pasrah begitu, justru membuat rahang dan lehernya mulai normal, meskipun anggota tubuh lainnya masih sekeras batu.
“Begini, Brodin,” lanjut Ustadz Zainal. “Dulu aku suka sekali menonton film dewasa, sampai-sampai membuatku kecanduan. Pernah suatu ketika, saat asyik menonton, wajah Fikri yang setampan Raja Salman tiba-tiba melintas dalam bayangan—membuat nafsuku bergejolak.”
Brodin ingin muntah mendengar cerita Ustadz Zainal. Ia mengoceh tentang spreinya yang kerap basah, tentang jamu Tongkat Ali kesukaannya, dan koleksi bantal guling yang biasa dijadikan pelampiasan. Suatu ketika, Ustadz Zainal membujuk Fikri seusai khataman 30 juz. Ia pura-pura sangat bangga, lalu mengucapkan selamat atas kelulusannya sambil memeluk Fikri erat-erat. Ustadz Zainal sengaja mengenakan sarung tanpa CD demi sensasi cabulnya. Semua itu ia ceritakan dengan wajah puas, seolah ia sudah siap dirajam di neraka Jahannam.
Tak lama kemudian, suara adzan sayup-sayup terdengar dari masjid kampung. Brodin menjawab adzan dalam hati dengan mata terpejam. Aneh, tiba-tiba ia merasakan hembusan angin yang kuat, seakan mengusap tubuhnya dengan balsam dan memijat bagian lehernya yang kram. Ia tetap terpejam sampai doa adzan selesai dibaca. Setelahnya ia merasa lebih tenang dan kicauan Ustadz Zainal pun berangsur reda. Saat membuka mata, arwah itu sudah lenyap dari pandangan.
“Dasar Ustadz Jailangkung!” gerutu Brodin. “Seharusnya aku tidak tidur sore-sore begini. Pamali… pamali… pamali…!“
*
Pagi di Dusun Nongbiruh, berjalan-pelan. Angin membawa bau tembakau dari arah sawah perkampungan. Beberapa ekor sapi terdengar sahut-sahutan dari belakang rumah Kepala Dusun, dan Brodin sedang bergegas ke rumah Dullamin. Ingatannya masih segar menyimpan bayang-bayang arwah Ustadz Zainal. Ia duduk di teras depan, menerima suguhan secangkir kopi hangat.
Baca juga: Sujud Tora Malam Itu
“Dul, arwah Ustadz Zainal, Dul. Datang kemarin sore,” katanya dengan bibir bergetar. “Dia muncul di kursi ruang tamuku saat aku ketiduran di lantai. Kepalanya bengkak kayak galon mau meledak. Aku sama sekali tidak bisa bergerak, sekujur tubuhku terasa dingin dan kebas. Sementara telingaku dipaksa mendengar. Dia bilang ingin bercerita, tapi bukan tentang kisah hidupnya di alam baka, melainkan pengalaman busuknya terhadap Fikri menjelang hari kematiannya. Aku jijik mendengarnya. Astaghfirullah…“
Dullamin tercekat, tapi membiarkan pamannya terus bercerita.
“Dia mengoceh soal kencanduannya menonton film dewasa dan mencoba menyalurkan nafsu liarnya ke Fikri. Aku sempat kepikiran nasibmu, Dul. Tapi Ustadz Zainal sama sekali tidak menyinggung namamu. Mungkin saja ia ingin melanjutkan kisahnya yang lebih panjang, tapi suara adzan segera mengusirnya dari mataku.”
Tangan Dullamin meraih gelas wedang jahe lalu meneguknya. Akhirnya ia angkat bicara. “Paman tidak perlu gusar dengan keadaanku. Ustadz Zainal sama sekali tidak pernah menggangguku, baik saat aku belajar mengaji maupun saat membantunya. Tapi sejujurnya aku juga sudah lama menaruh curiga.”
Dullamin memberi kesaksian tentang perilaku mencurigakan Ustadz Zainal yang terkesan aneh. Misalnya, ketika Ustadz Zainal menyuapi Fikri di ruang makan. Pada kesempatan yang lain, ia medapati Ustadz Zainal tengah memperbaiki gulungan sarung Fikri di dalam kamar. Ia melihatnya dari celah jendela rumahnya yang setengah terbuka.
“Pernah suatu ketika kami diajak ziarah. Saat itu hari Sabtu. Padahal Jumat sebelumnya kami sudah melakukan ziarah ke tempat yang sama. Jika aku protes, dia biasanya akan menjawab, ‘Ilmu kamu belum sampai, Dul!’ atau ‘Tidak usah banyak tanya. Kamu terlalu muda untuk menangkap pesan dari langit.’ Lalu, yang membuatku tambah curiga, usai ziarah Ustadz Zainal memuji-muji Fikri sambil mengelus-elus jambangnya,” imbuh Dullamin sembari menghembuskan napas panjang.
Brodin melenguh, dadanya terasa sesak. “Ya Allah…! Berarti tabi’at ustadz itu memang betul-betul busuk. Aku sangat kesal telah ikut menguburkannya. Bangsat!”
Angin kemarau membuat Brodin tambah resah. Ia memadamkan ujung rokok ke pinggir teras lalu membuangnya ke halaman. Kopi tinggal ampas dan ia segera pamit pulang. “Dul, mulai hari ini perbanyaklah membaca doa-doa pagar diri, supaya tidak diganggu arwah Ustadz Zainal,” pesan Brodin.
Nasihat itu membuat bulu-kuduk Dullamin berdiri seketika. Ia langsung mengambil kitab Majmu’ Syarif yang biasa ia kantongi saat hendak bepergian. Lantas ia membacanya berulang-berulang, seolah buku itu baru saja dibelinya.
*
Tiga hari berlalu sejak kedatangan Brodin, Dullamin tidak menjumpai satupun tanda-tanda penampakan arwah Ustadz Zainal. Rasa was-wasnya pun hilang dan ia tidak lagi membaca Majmu’ Syarif sebagaimana biasanya. Selepas magrib ia duduk sendirian di beranda, menampa dagu sambil merenungkan masa depannya. Lalu ia mulai bertanya-tanya kepada dirinya sendiri: sanggupkah aku menepati janji kepada ayah agar kelak bisa kuliah di Umm Al-Quro University, Arab Saudi?
Baca juga: Perginya Sang Pendamai
Setahun belakangan Dullamin kerap berpikir demikian. Kadang ia berangan-angan untuk bekerja di Makkah atau di Madinah seperti kerabat-kerabatnya. Sebagian dari mereka ada yang menjadi muthawwif—pemandu jamaah haji dan umrah. Ada juga yang menjadi supir taksi dan pedagang. Ia tergiur oleh cerita sepupunya perihal tetangga desa yang berprofesi sebagai penjual perlengkapan haji. Mereka tersebar di sekitar Masjidil Haram, di pasar Bab al-Madinah atau di sekitar Masjid Nabawi. Mereka berjualan seperti tasbih, mukena, sajadah, kopiah, kurma, kismis, kacang Arab, Parfum Arab, dan air zamzam kemasan.
Kadang ia juga merasa kesepian dan butuh teman. Ayahnya meninggal empat tahun lalu, lantaran terjatuh dari lantai tiga saat nguli di rumah Kepala Desa. Sementara ibunya adalah seorang TKW—pembantu rumah tangga di daerah Selangor, Malaysia. Meskipun keperluan hidup sehari-harinya terpenuhi lewat jatah kiriman bulanan, ia tetap merasa ada yang kurang di dalam dirinya. Kecuali setiap pagi, bibinya akan mengantarkan makanan untuknya dan mengajaknya bergurau. Begitu juga sang paman alias Brodin yang sesekali menjenguknya dengan niat menghibur atau mengajaknya jalan-jalan keliling sawah, dan kalau perlu mereka akan keliling kota sepuasnya.
Beberapa malam kemudian, tepat malam Jumat Legi, halaman rumah Dullamin dipenuhi hawa dingin. Ia mengamati deru angin yang berkelebat mengitari pohon bambu, menggoyang-goyang dedauanan hingga menimbulkan bebunyian yang mirip isak-tangis manusia. Dari pekarangan yang gelap tak berlampu itu, sosok samar perlahan muncul. Tubuhnya pucat dan rambutnya penuh lumpur kering.
Arwah itu berhenti di bawah tali jemuran, sampai Dullamin betul-betul menyadari bahwa sosok yang berdiri di depannya adalah arwah Ustadz Zainal. Dullamin mencoba untuk tenang dan mengontrol napas, lalu duduk bersila di teras depan pintu. Tapi ia bingung apa yang musti dibaca untuk mengusir arwah gentayangan tersebut. Pikirannya mandek total. Ia merasa seperti sedang menghadapi makhluk pengendali waktu. Tubuhnya kini sedingin uap kulkas yang baru dibuka. Mula-mulai jari-jemarinya mati rasa, otot-ototnya kaku, dan seluruh tubuhnya seolah disirami es batu. Ia tidak bisa bergerak, napasnya tersengal-sengal.
“Dullamii…iin,” suara itu serak dan menguarkan bau telur busuk. “Aku sengaja datang malam ini untuk menuntaskan ceritaku kepadamu. Aku sudah tahu pamanmu menceritakan kedatanganku beberapa waktu lalu. Tapi kisahku masih belum selesai. Aku harus menuntaskannya malam ini dan aku harap kau bisa lebih sabar dari pamanmu. Sebagai mantan muridku, tolong dengarkanlah ceritaku baik-baik!”
Ustadz Zainal membuka pecakapan dengan nada yang lebih pelan dan serius. Sedangkan Dullamin hanya bisa mengiyakan lewat anggukan pelan, dan itu membuat lehernya seakan mau copot. Rongga dadanya diliputi rasa takut sekaligus rasa sungkan: takut karena guru ngajinya menjadi seorang cabul, dan sungkan karena ia telah mengajarinya membaca al-Qur’an dari awal sampai fasih, bahkan hafidz.
Arwah Ustadz Zainal kemudian membuka kisahnya secara terang-terangan:
“Aku hidup sendirian di rumah warisan milik mertuaku—sejak Salimah, istriku, meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kau tahu, Dul, sendirian tanpa istri, tanpa dikaruniai seorang anak, membuat batinku terasa kosong. Aku rasa kau sedikit mengerti tentang penderitaanku ini karena kau juga sedang menjalani hidup sendirian, meski ibumu ada di Malaysia. Satu-satunya hal yang membuatku betah hidup saat itu adalah kalian: kau dan Fikri.”
Ustadz Zainal menjeda kisahnya dan mulai meneteskan air mata. Ia meminta maaf kepada Dullamin karena dia telah berbuat cabul kepada Fikri. Ia menyesali perbuatannya karena tidak bisa adil terhadap muridnya. Ia memberi perhatian lebih kepada Fikri dan selalu mengabaikan pertanyaan-pertannyan Dullamin. Hal itu dilakukannya semata-mata untuk mengelabui Fikri agar jatuh ke pelukan nafsu birahinya. Ia ingin sekali menjelajahi tubuh Fikri inci demi inci. Sebaliknya, ia sama sekali tidak tertarik dengan Dullamin karena hidungnya yang pesek dan lengannya yang panjang sebelah.
Dalam hatinya Dullamin sangat bersyukur atas kondisi fisiknya yang dianggap tidak menarik, tapi juga sangat sedih karena teman terbaiknya selama mengaji, si Fikri menjadi korban Ustadz Zainal. Air mata Dullamin pelan-pelan jatuh ke pelupuk, ke pipi, lalu ke baju koko yang melapisi dadanya. Ustadz Zainal juga menangis tersedu-sedu. Bulan purnama di langit menyaksikan dua tangisan yang jauh berbeda.
“Setahun sebelum kematianku, aku masih bernyanyi di kamar mandi sambil membayangkan kemolekan Fikri. Tidak hanya itu, pikiran jalangku melesat jauh ke pondok tua di kota J-U, tempat pertama kalinya aku melakukan pencabulan. Bayanganku mengaliri wajah Rumi, seorang mualaf keturunan Cina yang menjadi santri baru di pondok itu. Lalu wajah Farid berkelebat, kemudian wajah Hasan, Syauqi, dan wajah-wajah korban lainnya yang saling menyusul. Mereka semua adalah target operasi birahiku selama aku belajar di beberapa pondok. Tentu aku harus membayarnya dengan hukuman jika korban-korbanku berani melapor. Bahkan pernah tiga kali aku dikeluarkan dari pondok berbeda dengan kasus yang sama: mairil.”
Baca juga: The Scarlet Letter: Sebuah Kisah Tentang Dosa, Penebusan, dan Pilihan Hidup
Ustadz Zainal berdalih bahwa dirinya sudah berkali-kali mendatangi para pelaku spiritual atau sowan menghadap kyai-kyai sepuh demi menyembuhkan penyakit cabulnya. Pernah juga ia memberanikan diri jauh-jauh ikut retreat—meditasi selama sepuluh hari di Bali. Bahkan ia beberapa kali mendatangi dukun-dukun dan orang-orang yang dianggap sakti. Salah satu dari mereka ada yang menyuruhnya bertapa di lereng gunung Gumitir, dan ia hanya boleh meminum bulir-bulir embun di pagi hari serta memakan tiga lembar daun Beluntas selama sehari semalam. Beberapa upaya yang dilakukannya memang ada yang manjur. Misalnya, ketika ia berhenti mengkonsumsi semua jenis makanan hewani selama empat puluh hari penuh. Atau puasa mutih seminggu dan membaca amalan-amalan khsusus. Tapi menurutnya itu hanya bekerja sesaat, karena setelahnya ia akan kembali ke tabi’at buruknya yang semula.
“Mungkin itu adalah kutukan, Dul. Kutukan yang terus menghantui seumur hidupku karena aku suka melanggar janji suciku selama di pondok. Atau mungkin, memang belum takdirnya aku sembuh bahkan sampai tiba hari kematianku. Akibat kecerobohan kecil, aku mati dalam keadaan mengenaskan. Mayatku baru ditemukan seminggu kemudian setelah orang-orang melakukan pencarian. Mereka mencari keberadaanku untuk segera diadili karena kasusku atas Fikri. Sebagian dari mereka menganggapku kabur ke luar kota. Padahal sebenarnya aku sedang lari ke arah hutan. Dalam pelarian itu aku sangat kelelahan, tanpa kusadari kayu yang aku sandari ternyata rapuh. Kayu itu pembatas sumur tua. Aku jatuh ke dalamnya tanpa ada satu orang pun yang tahu.”
Alhasil, Ustadz Zainal merasa bersyukur bisa menyampaikan kisahnya kepada Dullamin. Menurutnya, itu adalah pengingat bagi Dullamin agar kelak ketika dia berhasil mondok ke Arab Saudi tidak melakukan hal serupa. Ustadz Zainal pamit dengan wajah mamelas, dan “Sudah saatnya aku kembali ke alam-baka, Dul. Cepat atau lambat, aku akan menjalani hukuman yang sama sekali baru dan belum pernah aku bayangkan di muka bumi ini.
*
Keeseokan harinya, Dullamin mencoba menelepon Fikri berkali-kali, tapi nomornya tidak aktif. Ia bermaksud hendak menceritakan pertemuannya dengan arwah Ustadz Zainal. Ia pun segera pergi ke rumah pamannya untuk menanyakan keberadaan Fikri.
“Sudah empat hari Fikri mendekam di kamarnya, tidak mau makan, tidak mau minum. Baru semalam kedua orang tuanya membawa dia ke RSJ Menur, Surabaya. Kata tetangga, dia sering meracau sendirian sambil teriak-teriak. Kadang tertawa, menangis, atau tawa campur tangis. Mungkin jiwanya remuk-redam akibat perbuatan Ustadz Jahannam itu! Cuih!”
***
Ahmad Musawir, tinggal di Gasek, Sukun, Kota Malang. Bergiat di Pojok Peradaban Institute.
(Editor: Iman Suwongso)
