Mesin Cuci

Mesin Cuci. Foto/Ilustrasi/canva.com

“Mbak, sampeyan mau cuci baju?” tanya Bu Broto, pemilik toko sebelah rumah Lastri, sewaktu perempuan pendiam itu datang untuk membeli gas elpiji tiga kilo gram.

Baca juga: Daru

Awalnya Lastri tak paham akan maksud tetangga tersebut. Sambil tersenyum ramah, Bu Broto berkata lagi, “Gini, mbak. Saya ingat, kemarin pas ibu-e mbak beli rumah, ada beberapa perabotan yang ditinggalkan oleh pemilik rumah. Termasuk mesin cuci yang saya tahu, masih bisa digunakan,”.

“Inggih, bu,” jawab Lastri, sambil mengangguk, mendengarkan seksama. Dua tangan menenteng elpiji hijau yang telah ditukar isinya, penuh. Ia letakkan lagi.

Ada jeda sebentar, sebelum Bu Broto melanjutkan, “Lha, itu kan bisa dimanfaatkan. Buka saja jasa laundry. Mbak Lastri bisa dapat penghasilan sambil momong. Ya, walau awalnya mungkin tak seberapa. Tapi jika lama-lama pelanggannya banyak, kan lumayan,”.

Percakapan siang itu membuat semangat Lastri mulai menyala. Ide usaha terbuka. Kenapa tak mencoba? Benaknya berkutat dengan kemungkinan tersebut.

Lastri menghapus basah pipi, menggeser kepala Ariana dari lengannya. Bangkit, bersandar pada sandaran dipan. Tangan kanannya meraih handphone di nakas, tak jauh dari posisinya. Lastri pun berselancar situs mesin pencari. Ia mengetik apa saja yang dibutuhkan untuk membuka jasa laundry bagi pemula. Ia menimbang-nimbang, total sisa tabungan untuk dibelikan kebutuhan yang diperlukan guna membuka bisnis laundry.

Baca juga: Satu Pagi di Tepi Kali

Lastri memperkirakan uang simpanannya mungkin cukup untuk membeli perlengkapan itu. Mesin cuci sudah ada. Mesin pengering. Sementara memakai yang ada. Setrika, juga sudah ada. Satu lagi alat yang dibutuhkan adalah timbangan digital. Sebab belum memiliki, ia harus membelinya. Perlengkapan lain, semisal sabun cuci, pewangi pakaian, hanger plus jemuran, alat tagging, plastik kemasan, dan botol tester parfum.

Wanita yang kini lebih suka menggulung rambut sedikit di atas tengkuk agar ringkas itu tersenyum. Gairah yang selama ini terasa mati, perlahan hidup. Semangat menyala perlahan-lahan. Namun semua harus dibicarakan dulu dengan Bu Dani. Restu dan izin beliau segalanya.

Ia melirik jam digital di bagian kanan handphone, dua puluh empat lebih tiga puluh menit. Saat ini, Ibu pasti telah lelap, pikirnya. Lastri harus menunda keinginan untuk berbincang dengan Ibu. Ia pun meletakkan kembali benda pipih itu di tempat semula, kemudian melorotkan diri, memejamkan netra, memeluk Arin. Sesaat kemudian, Ariana berbalik posisi, memeluk punggung Lastri.

Pagi datang seperti biasa, Lastri beraktivitas di dapur ditemani Bu Dani. Tak mau membuang waktu, ia pun mengutarakan maksudnya. “Wah, bagus itu nduk. Coba saja. Ibu pasti dukung. Kalau butuh modal, ibu ada sedikit. Bisa kamu pakai,” tawar Bu Dani tulus.

Wanita pendiam itu menggeleng, tersenyum, dan mengatakan, “Alhamdulilah, bu. Sisa tabunganku masih cukup untuk modal awal. Ndak perlu khawatir. Doa restu ibu saja yang utama,”.

Baca juga: Mee, Namaku (19)

Lengan kiri Lastri merengkuh pundak sang ibu. Stroke Bu Dani sudah membaik, penanganan yang tepat membuatnya sudah bisa menggerakkan tangan dan kaki. Pagi itu Bu Dani menggoreng tempe kesukaan Arin.

Lastri menoleh ke belakang, menatap Arin. Seraya duduk di lantai, di depan pintu kamar Lastri, bocah itu asyik bermain pesawat dari kayu, pemberian tetangga sebelah, beberapa langkah jaraknya dari Lastri berdiri. Tampak, mulut Arin bergumam. Entah apa yang digumamkan. Tangan kanan Arin mendoorong maju-mundur pesawat kayu itu. Sementara Ariana, duduk tak jauh dari sang kakak, memangku boneka kesayangan. Senyum Lastri mengembang menyaksikan semua itu.

“Terpenting, jangan lupa jaga kesehatan dan amanah. Karena keduanya penting,” lanjut Bu Dani. Tangan kanannya mengangkat tempe dari penggorengan, diletakkan di sebuah pisin yang telah disiapkan, lantas berbalik menghadap Lastri.

Dua wanita yang punya garis wajah mirip tapi beda usia itu saling berpandangan. Bu Dani merengkuh sang putri lembut, lalu berkata lagi, “dalam menjalankan bisnismu nanti, kamu harus amanah. Jaga kepercayaan semua pelangganmu,” gumam Bu Dani lagi. Ditanggapi Lastri dengan anggukkan kepala.

Dalam pelukan ibu, bening meleleh di pipi Lastri. Haru menyelimutinya. Syukur tak terhingga, dilarungkan ke langit. ***


Anita FN Sunardi, merupakan pengarang kelahiran Malang, pada 15 September 1977 Malang. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Putri dari pasangan almarhum Bapak Sunardi dan Ibu Ngatiningsih ini, juga aktif di Himpunan Wanita Difabelitas Indonesia (HWDI) dan Lingkar Sosial.


(Editor: A. Elwqig Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *