Satu Pagi di Tepi Kali

Satu Pagi di Tepi Kali. Foto/Ilustrasi/canva.com

Aku mengingat pertama kali kau berkunjung ke rumahku. Saat itu kau datang hampir tengah malam dengan motor matik biru yang tampak tidak terurus. Aku menegurmu, “aku rasa bengkel tidak jauh dari rumahmu,”.

Baca juga: Mee, Namaku (19)

Kau datang dengan buah apel satu kresek penuh. Aku menerimanya, dan kau duduk lesehan di ruang sempit rumahku. Aku memang tidak punya kursi untuk tamu. Hanya ada karpet tergelar berwarna biru di ruang tamu. Kau lalu merebahkan diri, terlihat cukup lelah.

“Menginap saja, lanjutkan nanti setelah kau istirahat,” tawarku.

Kau tidak menjawab. Tapi, aku tahu betul, kau mengiyakannya lewat nafas-nafas panjangmu dan tubuhmu yang kau baringkan itu.

Aku menawarimu makan.

“Barusan mampir warung, perut masih penuh. Kopi saja, jangan pakai gula,” ucapmu.

“Urusan apa kau ke Jogja?” tanyaku, berbasa-basi.

“Tidak ada, hanya ingin kesana saja,” jawabmu.

“Cuti?” tanyaku lagi.

“Tidak,” jawabmu begitu sederhana.

“Lalu?” tanyaku mengejar.

“Aku tidak bekerja,” jawabmu.

“Resign?” kejarku singkat.

“Tidak, PHK,” jawabmu.

Aku diam sejenak mendengar jawabanmu. Aku tidak dapat memberi saran atau petuah atau apapun padamu karena kondisiku sama denganmu. Setelah lulus kuliah, aku belum mendapatkan kerja. Aku hanya mengandalkan sepetak sawah Bapakku saja.

“Bagaimana kabar Ibumu?” tanyaku memecah suasana kaku.

“Baik,” jawabmu.

“Lama juga aku tidak main ke tempatmu, pasti Ibumu sudah semakin tua,” kataku. Seingatku sudah hampir sembilan tahun aku tak bertemu Ibumu. Terakhir saat aku pamit pulang setelah menamatkan kuliahku dulu.

“Ya begitulah, hampir semua giginya sudah tanggal,” jawabmu. Aku mengingat-ingat wajah Ibumu dan membayangkan pipinya yang ompong. Aku sedikit tidak bisa menahan tawa saat membayangkan wajah Ibumu saat itu.

“Aku mampir ke sini, tiba-tiba saja ingat kau. Ibu beberapa kali menanyakan kabarmu. Saat aku jawab kita masih berkomunikasi lewat pesan-pesan singkat, Ibu memintaku untuk mengunjungimu. Jadi kebetulan mumpung aku lewat, aku mampir,” lanjutmu.

“Apa kau berkabar pada Ibumu jika mampir ke sini?” tanyaku.

“Tidak,” jawabmu singkat.

“Mampirlah lagi saat kau pulang dari Jogja nanti. Aku titip oleh-oleh untuk Ibumu,” pintaku padamu yang kau jawab hanya dengan anggukan. Cukup lama kami saling diam, sampai kau kembali berkata padaku.

“Hening sekali rumahmu,” ucapmu.

Dari jauh samar terdengar kokok ayam bersahut-sahutan. Sunyi. Angin pagi mulai masuk rongga-rongga jendela menusuk kulit. Dingin.

“Apa kau mengantuk?” tanyaku dan kau menggeleng.

Lalu aku menawarimu untuk sebentar saja berjalan-jalan. “Mumpung ke sini,” tawarku.
Kau mengiyakan. Bersama semburat merah fajar, kita berboncengan dengan motor ke sekitaran pasar desa yang ada persis di tepi kali.

“Di sini ada ketan bubuk enak sekali. Kau perlu mencobanya, sejak semalam kau belum makan bukan?” lanjutku.

Baca juga: Laki-laki dalam Kamar

Aku menghentikan motor di depan penjual ketan bubuk, tanpa persetujuanmu. Jam lima pagi, antrian sudah cukup lumayan. Aku antri untuk memesan ketan bubuk dan teh hangat. Kau menunggu di luar. Sambil merokok, matamu terlihat begitu sibuk. Mengamat-amati orang-orang yang sedang mengantri atau sesekali mencuri dengar dari obrolan-obrolan orang-orang pasar yang bicara segala hal. Kadang kau juga terlihat senyum sendiri setelah mendengar obrolan orang-orang itu.

“Kok lama tidak kelihatan mas?” tanya penjual ketan itu padaku. Memang, aku sangat sering membeli ketan ke pasar desa untuk sarapan, ketika awal pulang setelah lulus kuliah. Ketika itu Bapak belum menghibahkan sawahnya padaku.

“Iya mbak, repot di sawah,” jawabku singkat.

“Lho, gagah gini kok ke sawah?” canda penjual ketan itu. Candaan yang membuatku cukup malu. Aku sarjana, dan hanya sibuk di sawah? Sungguh kalimat itu membuatku tersinggung.

“Nunggu panggilan mbak, sepertinya sebentar lagi sudah mulai kerja,” jawabku menutupi malu. Segera aku keluarkan uang 12 ribu untuk dua ketan bubuk dan dua teh hangat itu. Aku segera menghindar dari pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang bisa saja semakin membuatku tersinggung. Hidup di desa kecil memang sangat sulit menutup-nutupi hal-hal kecil. Semua orang pasti tahu, bahkan semut yang mengerubuti roti pun mereka ketahui.

Lalu aku mengajakmu menikmati ketan bubuk dan segelas teh panas ini di pinggir kali. Kali yang cukup besar. Tempat orang-orang menikmati ketan dan teh atau kopi di pagi hari sambil membicarakan apa pun, ngalor-ngidul.

Kami memilih duduk di sebelah lintasan kereta. Pandanganmu terlihat berbeda. Kau seperti menikmati suasana pagi ini. Keramaian pasar, kereta yang melintas, lalu lalang kendaraan besar yang lewat jembatan di sebelah selatan, penambang-penambang pasir, orang yang berjajar menunggu perahu kecil untuk menyebrang, melihat antrian orang-orang membeli ketan dan mendengar ocehan-ocehan mereka di pinggir kali.

“Sepertinya kau senang sekali?” tanyaku padamu.

Kau tersenyum. Senyum yang berbeda seperti senyummu saat masih di rumahku malam tadi.

“Yang kayak begini tak ada di kota,” aku melanjutkan ucapanku.

Kau masih saja tersenyum. Mengamini ucapanku.

“Terik dan keramaian semakin berpadu. Orang-orang semakin terlihat sibuk. Dan kami hanya tenggelam dan menikmati pagi itu.

***

Lepas subuh, aku mendapat pesan darimu jika nanti akan berkunjung ke rumahku. “Jam 11 siang aku sampai,” katamu lewat pesan itu.

“Ada angin apa tiba-tiba kau ingin mampir?” tulisku menjawab pesanmu.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin berkunjung,” jawabmu.

Aku belum sempat membalas, kau melanjutkan pesanmu, “aku boleh menginap?”

“Dengan senang hati,” jawabku.

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

Tetapi, sampai waktu kembali petang, kau sama sekali tak ada kabar. Dua kali aku mengirimimu pesan. Sepertinya tidak kau baca. Aku jadi merasa berdosa pada dua kupu-kupu yang terganggu kemesraannya karena pekarangan tempatnya beradu aku bersihkan.

“Brengsek, sepertinya babi satu ini tidak jadi datang,” gerutuku.

Sampai hampir larut malam, kau belum juga memberi kabar. Aku kembali mengirimimu pesan, “kau jadi datang?”

“Di sini hujan mulai sore tadi,”.

“Kalau jadi datang, kita cari tempat lain saja untuk keluar pagi,”.

“Kalau ke pasar buat nyari ketan, pasti tidak asik,”.

“Biasanya kali juga banjir besar kalau hujan kayak gini,”.

“Halo…”

“Halo…”

“San.. kau mati apa gimana?”

Satu pun pesanku tidak kau baca, apalagi dibalas, sampai tengah malam. Aku rasa kau tidak jadi datang berkunjung ke rumahku. “Persetan denganmu,” gerutuku dengan sebal. Aku putuskan untuk ke kamar dan tidur dengan menarik selimut sampai menutupi kepala.

Aku rasai baru sekelebat saja tidurku. Aku benar-benar terganggu. Suara orang-orang di depan rumah begitu ramai. Aku tidak bisa melanjutkan tidur.

“Pagi buta begini sudah ramai saja,” gerutuku.

Dengan memasang muka yang masam, aku keluar kamar dan membuka pintu rumah. Aku melihat mereka berkerumun, cukup banyak.

“Mau ikut mas?” tanya salah satu tetanggaku. Mereka pikir aku membuka rumah untuk bergabung dengan keramaian itu, padahal aku ingin menegur mereka yang rebut di pagi buta.

“Ada orang bunuh diri malam tadi, nyebur ke kali,” sahut yang lainnya.

“Orang jauh kayaknya,” sahut yang lain lagi.

“Ini gak ada yang mau bantu nyari? Syukur-syukur kalau masih hidup,” sahut yang lainnya lagi.

“Kali banjir deres kayak gini, gak yakin tuh orang masih hidup,” mereka saling bersahutan.

“Ikut ndak mas?” salah satu dari mereka menawarkan untuk memboncengku. Keingin menegur mereka tiba-tiba hilang begitu saja. Aku ikut dengan mereka.

Baca juga: Pohon Ficus di Hutan Buraku

Pagi yang masih gelap ini, dinginnya menusuk tulang. Di jembatan selatan, garis polisi telah terpasang sampai setengah jembatan. Orang-orang begitu ramai, melihat-lihat ke arah kali. Hanya aku yang terdiam melihat motor matik biru dengan sekresek apel dinaikkan ke atas mobil polisi itu. Aku mengenal motor itu.

Nganjuk, Februari 2025


(Editor: Iman Suwongso)

0 komentar untuk “Satu Pagi di Tepi Kali”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *