Dua Kisah Hari Raya

Dua Kisah Hari Raya. Foto/Ilustrasi/canva.com

Setelah memutar kursi roda, kuambil sebatang rokok, kunyalakan, dan mengisabnya. Mataku masih tertatap pada gedung-gedung tinggi yang berjajar rapi dibelah oleh jalan-jalan yang nyenyat. Sepi sekali. Banyak di antara kamar-kamar itu yang masih menyala. “Jam satu pagi lebih lima menit. Mungkinkah mereka sedang sahur?” tanyaku dalam lamunan dengan senyum.

Baca juga: Mee, Namaku (17)

Setiap kali aku menatap lampu-lampu yang terpasang di apartemen, menara-menara lancip, dan jalan yang memanjang, tiba-tiba waktu berubah menjadi sepi. Terhampar di depanku ladang yang tengahnya dibelah oleh jalan kecil, cukup untuk satu gerobak sapi. Orang-orang berjalan memanjang, membawa obor dari pematang sawah hingga jalan yang memisahkan rumah-rumah. Meraka berjalan memutar, lalu berhenti di depan masjid dengan tumpukan kegembiraan pada pundak mereka.

Gwen, istriku, menutup jendela dan mematikan lampu utama unit kami yang tak begitu luas. “Sudah jam dua pagi, ndak tidur, Mas?” ucap Gwen memecah keheningan yang sedang merajut kepingan masa kecil dulu.

“Sebentar, satu isapan dulu,” kuhisap rokok dalam-dalam.

“Besok jadi ke Barangaroo, nonton pameran foto? Di sana senja bagus sekali,” tanya Gwen.

Aku tidak peduli pertanyaannya, meski aku mendengar. Gwen memegang kursi rodaku, lalu pundakku. “Mas, ada apa, sih? Kenapa diam?”

“Besok lebaran, Gwen. Sudah lama aku tidak merayakan lebaran,”.

Gwen mendorong kursiku ke kamar. “Tidurlah!” katanya sambil tertawa kecil.

Dia mengangkat badanku, mendudukanku di kasur, mengangkat kakiku yang kecil, sesekali meremas pelipisku sambil tersenyum.

“Sudah delapan tahun aku bersamamu. Aku kira kamu sudah selesai dengan itu semua: puasa, salat, dan pernik-pernik agama lainnya. Ternyata?” Gwen tertawa kecil mengejekku. “Aku mencintaimu karena kamu bukan seperti orang Indonesia lainnya. Bahkan aku tak peduli tentang warna dan bentuk tubuhmu. Aku mencintaimu karena kamu membuat aku tertawa, dan kepalamu itu, Mas. Kamu yang telah melampaui batas. Ternyata, haha,”.

Gwen tertawa lagi.

“Ada beberapa komunitas Islam di Australia ini, tetapi ya itu, tidak sesyahdu seperti di Indonesia, Gwen. Tidak ada ketupat di sini,” kataku sambil menarik napas dan menatap matanya.

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

Malam makin larut, angin menyelinap masuk dari celah jendela, dingin meski tak sedingin musim dingin. Gwen memeluk tubuhku, meremas tanganku dan bokongku. Sebentar kemudian, dia memindahkan kepalanya ke bantalku, membiarkan bantalnya sendiri kosong. Dia tak menanggapi omonganku.

“Gwen, ceritakan padaku kenangan yang paling indah dan manis di masa kecil soal Natal!”

“Tidak ada cerita yang menarik. Aku Cina, Mas. Ceritaku lebih indah di hari Imlek, karena dapat banyak angpao,” jawabnya menolak bercerita.

“Pastilah ada. Ayolah! Coba kamu ingat-ingat,” kuusap lembut rambutnya.

“Baiklah, tapi nanti Mas ceritakan juga apa kenangan indah Lebaran di masa kecil, ya?”

“Siap,” jawabku, meski aku tak yakin dengan cerita apa yang akan kuberikan.

Gwen menarik selimut dan menggeser kepalanya agar mendapat ruang lebih banyak di bantalku, yang menurutnya lebih hangat dari bantalnya. Gwen mulai menceritakan sekolah SD-nya, sekolah Kristen ternama. Yang sekolah di sana hanya ada dua tipe: kaya atau pintar. Dia menambahkan lagi bahwa mayoritas yang sekolah di sana adalah orang-orang Cindo. Gwen menggambarkan sekolahnya, rata-rata teman-temannya diantar dengan mobil. Sedangkan dia diantar naik sepeda motor Shogun. Gwen meyakinkanku bahwa dia orang miskin.

“Aku tahu itu, jangan kamu perpanjang,” selaku agar dia tak melanjutkan betapa miskinnya hidupnya dibandingkan Cindo-cindo lain di kotanya. Gwen menambahkan lagi bahwa persaingan di sekolahnya sangat ketat. Hampir semua anak mendapat kursus tambahan setelah sekolah.

“Kelasku seperti lomba cerdas cermat. Mereka sekolah hanya untuk bersaing kepintaran yang didapat dari kursus-kursus. Kamu tahu kan, tidak semua Tionghoa mampu bayar kursus. Aku, istrimu ini, contohnya,”.

Aku mengenalnya sudah lama. Dia mahasiswa urban planning di kampus tempat aku menyelesaikan studi masterku dulu. Sejak dia sering membantu mendorong kursi rodaku, aku mengiriminya puisi dan mengajaknya melihat konser musik klasik outdoor di taman kota. Dia mau jadi pacarku! Gwen bukanlah dari keluarga kaya. Ibunya sekarang menjual makanan burung, kucing, anjing, dan umpan mancing di rumahnya. Tokonya tidak besar. Selain itu, sesekali ibu Gwen melayani pembuatan kue-kue khas Tionghoa pesanan dari teman-temannya. Gwen datang ke negara ini dengan beasiswa, persis seperti diriku.

***

Gwen melanjutkan ceritanya. Setiap Natal banyak teman-temannya mendapat hadiah mahal dari orang tuanya dan memamerkan di sekolah. Sedangkan dia, tidak mendapatkan seperti teman-temannya. Saat umurnya masih anak-anak, dia selalu mendengar cerita dari teman-temannya soal fiksi tentang Natal: Sinterklas, Pit Hitam, dan rusa, serta betapa asyiknya buku The Night Before Christmas. Buku itu populer di antara teman-temannya saat itu. Di hari-hari menjelang Natal, setiap mereka bertemu, selalu membicarakan bab demi bab isi buku tersebut. Akan tetapi, Gwen tidak mempunyainya. Sebenarnya, dia pernah menyampaikan keinginannya untuk meminjam, tetapi tidak ada satu pun temannya yang meminjami.

Gwen menambahkan bahwa dia sempat meminta papanya dua kali untuk membelikan buku itu, agar bisa dibaca saat liburan Natal.

Baca juga: Laki-laki dalam Kamar

Gwen menarik tanganku. “Jadi, Mas, sejak kerusuhan itu, sejak toko Papa dibakar, Papa tidak punya apa-apa. Hidup kami agak berat,” Gwen menceritakannya dengan bibir yang gemetar dan pipi yang sudah basah. Gwen sudah berkali-kali menceritakan pembakaran toko kala itu dan selalu kelihatan sedih. Aku tahu, kesedihannya memang sudah menumpuk dalam hati.

“Lalu kisah manisnya di mana? Kan kesepakatannya tadi kenangan indah dan manis?” kataku sambil menutup jempol kakiku yang keluar dari selimut.

Gwen memukul punggungku. “Sebentar!”

Lalu ia melanjutkan ceritanya. Suatu hari, diusianya yang beranjak sembilan tahun, (saat Gwen sudah tidak lagi meminta buku itu ketika Natal tiba, ketika Gwen sudah mengetahui bahwa Sinterklas sebenarnya tidak ada) sehari sebelum Malam Natal, Papanya memberikan buku The Night Before Christmas sebagai hadiah Natal. Meski sedikit terlambat, Gwen sangat senang. Dia menghabiskan hari-harinya membaca buku pemberian papanya pada Natal di tahun itu. Dia menceritakan dengan perasaan senang sambil memeluk tubuhku, gemas. “Ih, senang banget pas itu, Mas,”.

Aku tahu, Gwen memang banyak membaca. Masa kecilnya dihabiskan dengan melahap cerita-cerita. Tentu itu membuatku iri. Aku yang lahir di pelosok pinggiran Jawa.

***

Malam benar-benar jatuh di kamar ini. Di tembok, aku lihat laba-laba lari sembunyi di balik pigura foto. Di luar, terdengar berisik. Aku yakin itu adalah beberapa burung kakatua hijau yang biasa berjajar di pohon Jakaranda depan apartemen, saling bertengkar, berebut tangkai untuk menancapkan cakarnya. Memang seperti itu suasana malam di Australia ini. Aku menyadari, kini bagianku untuk menceritakan kenangan manis dan indah saat Lebaran.

“Ayo, Mas, kini giliranmu,” tuntut Gwen.

Aku bingung mau menceritakan apa. Untuk mengulur waktu agar bisa memikirkannya. Aku minta izin Gwen untuk menunggu sebentar, dengan memintanya mengambil kaus kaki agar tidak kedinginan. Setelah memasangkan dua kaus kaki, aku tatap langit-langit kamarku. Aku terdiam menelan ludah untuk kesekian kalinya. Sementara dalam kepalaku terdapat pesta, banyak peristiwa dari masa lalu, saling menyapa dan menari ria. Aku terpaku pada sebuah pojok masa kecil dulu, pada sebuah lebaran di desa Warangkunda di pinggiran pulau Jawa. Aku masih diam, mencari permulaan cerita sebagai anak desa saat Lebaran.

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

Aku memulai bercerita. Dulu, sewaktu masih kecil di Warangkunda, anak-anak kecil biasanya melakukan takbir keliling malam sebelum lebaran. Kami membuat obor kecil dan ornamen-ornamen dari kertas semen. Ornamen kertas semen dicat warna-warni sesuai bentuk yang diinginkan: ada ornamen masjid, helikopter, pesawat, menara dan lainnya. Ornamen ornamen itu kami arak keliling desa dengan membawa obor dan melantunkan takbir.

Takbir keliling biasanya dimulai dari Masjid di sebelah rumah kami, karena halamannya paling luas diantara masjid atau musolla lainnya. Takbir keliling diikuti anak-anak dan remaja, keliling kampung melewati rumah-rumah, sawah, jalan raya, dan kembali lagi ke Masjid tadi. Begitu seterusnya sudah berjalan bertahun-tahun sejak sebelum aku lahir!

“Mas kan difabel, bisa ikut keliling?” sela Gwen sambil meliriku.

“Tidak! Aku tidak pernah ikut takbir keliling. Aku biasa menunggu di masjid, pinggir jalan, atau emper rumah, Gwen. Takbiran adalah masa dimana aku sedih, Gwen,” ceritaku.

Aku menceritakan perasaanku bahwa menjadi difabel itu berbeda. Aku merasa bahwa aku bukanlah anak kecil sebagaimana yang lainnya. “Dunia begitu culas, Gwen. Setiap anak kecil berbaris memegang obor, memakai baju warna warni. Saat itu aku kadang benci terhadap kakiku. Aku kerapkali minta izin ke bapak untuk ikut takbir keliling, tapi bapak selalu memberikan alasan yang logis dan benar. ‘Bukankah kamu jalan ke kali di sebelah rumah untuk buang hajat saja tidak bisa, bukankah saat ikut ke sawah jalan merangkak dan minta gendong. Ini keliling desa, Nak’. Itu jawaban yang masuk akal dan memang kenyataan, tetapi kenyataan yang culas,”.

“Mas, nggak pernah minta ke kakaknya minta diantar pakai sepeda, misalnya?”

“Tentu pernah, Gwen. Tetapi mereka selalu tidak mau dan sibuk dengan teman-temanya sendiri, terus untuk berikutnya aku enggan,”. Aku menceritakan ke Gwen, meski aku membuat obor sejak dari siang, tetapi obor itu hanya aku nyalakan di halaman masjid, di emper rumah atau di pinggir jalan. Bahkan saat masih kecil sekali, bapak memanggulku di pinggir jalan melihat takbir keliling yang isinya teman-temanku semuanya: teman sebayaku main sehari-hari.

“Aku sedih Gwen, saat itu, aku hanya bisa melihatnya dari pinggir jalan, dan saat itu aku benci kakiku,” aku mengulang perasaanku.

Namun begitu, satu tahun sebelum bapak terkena stroke dan akhirnya meninggal, bapak pernah memberi kejutan. Saat itu umurku delapan tahun, masuk madrasah kelas dua. Setelah buka bersama pada puasa terakhir, tidak biasa bapak mengajakku buru-buru ke masjid. “Ambil obornya yang bapak bikin tadi siang. Ayo! Ke Masjid,”.

Aku kira hari itu, seperti biasa, hanya membawa obor ke masjid saja, tidak ikut keliling.

“Hari ini kita ikut takbir keliling, aku akan menggendongmu keliling desa,” ucapnya menatap mataku dalam-dalam.

Ah, betapa senangnya hatiku saat itu. Aku dipanggul di pundaknya ke halaman masjid, ikut barisan remaja-remaja dan anak-anak lainnya membawa obor.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” di atas punggungnya yang tak lagi kekar, aku membawa obor keliling desa, sembari terus menerus meneriakkan “Allahu Akbar,”. Itulah pengalaman pertama dan terakhirku takbir keliling, Gwen. Meski lebaran tahun berikutnya bapak sudah tiada.

Malam benar-benar semakin renta. Dingin merambat menggigit telinga. Mataku menatap langit-langit kamar kami yang tak begitu luas, lalu pandanganku kuarahkan ke wajah istiriku. Gwen terlihat diam, matanya berkaca-kaca. Sambil terisak, Gwen memecah keheninganku. “Mas, aku sayang kamu,” bisiknya sembari meremas jemariku erat-erat. Aku pun mengangkat kakiku dengan tangan, menumpangkannya ke kakinya.

Baca juga: Jalan Raya Pos, Karya Pram yang Membongkar Praktik Busuk Korupsi

Selanjutnya, jika perempuan itu meremas erat jemariku lalu diikuti dengan sedikit menarik sarungku, maka aku adalah lelaki tanpa embel-embel difabel, Islam, Jawa atau lainnya. Demikian juga Gwen, dia adalah perempuan. Bukan peranakan, bukan orang Kristen. Saya cukup paham apa yang harus kulakukan ketika Gwen menarik-narik sarungku. Selamat Lebaran, Maaf Lahir Batin!

Slamet Thohari, adalah seorang difabel dan penikmat sastra. Pernah bekerja di Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta. Sekarang sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Western Sydney University.

 

(Editor: Iman Suwongso)

0 komentar untuk “Dua Kisah Hari Raya”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *