Tentang Sedih dan Bahagia

Tentang sedih dan bahagia. Foto/canva.com

Aku khawatir dan bertanya tentang kapan bahagia menjadi bagian dari cerita ini?

Rasanya sudah bosan dan lelah, air mata tetap anteng di sini, meski sudah kuminta pergi ia tetap saja diam dan mematung.

Tengah malam aku bertanya pada peramu takdir tentang sedih dan bahagia.

Peramu takdir berbisik mesra padaku, jangan kau terlalu berharap pada bahagia, karena ia bisa saja menipumu dengan rayuan gombalnya, hingga engkau tersesat dan lupa.

Jangan engkau terlalu membenci air mata dan sedih, karena ia adalah obat, yang membawamu pada yang sejati, yang tak pernah pergi.

Jangan kutuk air mata dan kesedihan, telan saja meski pahit, karena ia membawa hatimu pada lapang, pada terang.

Peramu takdir berbisik lebih lembut padaku, jangan berharap pada bahagia, Aku sayang padamu, aku sedang cemburu melihatmu begitu berharap bukan padaKU.

Terimakasih sedih dan air mata, karena kalian membuatku selalu kembali pada peramu takdir terhebatku.

Baca juga: Mee, Namaku (4)

Kisah Romantis

Jika kecewa ini, menjadi caramu untuk memanjakanku, aku rela.

Jika rasa takut ini adalah jalan untukku, berpegang erat pada taliMU, maka aku akan baik saja.

Jika harapan yang kusimpan, belum kau izinkan, aku juga tak mengapa.

Ini bukan tentang dikabulkannya harapanku, tapi terangnya hatiku dengan harapan padaMU.

Bagaimanapun akhirnya aku ikut saja, yang kumau hanya kisah romantis antara Kau dan aku selamanya.

Baca juga: Tetangga

Kidung Kala Senja

Aku bernyanyi sambil menatap eloknya senja. Aku jatuh cinta pada senja setiap kali menatapnya.

Kulantunkan syair untuk senja yang cintanya seindah bunda.

Tuhan, senyumnya seindah langit senja, pelukannya pun sehangat dan senyaman senja.

Setiap kali air matanya menetes, senja di langit tak lagi indah hangatnya pun sirna. Kala itu rasanya, aku bisa membenci senja.

Wahai engkau yang maha indah, tolong hapus air mata bunda, hilangkanlah nestapanya. Aku mencintainya, agar aku tak membenci senja.

Malang, 12 Desember 2024

Baca juga: Tetangga


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *