
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, melirikkan perjodohan di meja makan. Kelanjutanya di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (3)
Bagian 1
Aku Lahir ke Dunia Bukan Mauku
4
Tentang perkawinan?
Perempuan itu tersenyum
Meski begitu
Ada kaca
Dalam matanya.
Ia bilang:
“aku tahu, ada tradisi panjang
Tentang pernikahan
Tetapi tidak untukku.”
Tak ada lamaran
Tak ada guo da li
Setelah cinta tak terucap itu.
Tak ada kumbang
Meminang sekuntum bunga
Tak ada waktu, tak ada jadwal
Laki-laki itu untuk datang
Membawa sepuluh
Jenis seserahan
Diantar sanak keluarga
Terhapus dari kalender
Jenis apapun.
Nampan merah?
Tak ada
Tak pernah aku saksikan
Angpao, juga tidak
Untuk balas budi pada orang tua
Sesusuan
Untuk pesta, juga tak ada
Pakaian mempelai Wanita
Satu pasang,
Apa lagi?
Perlengkapan mandi dan bersolek,
Perhiasan, lambing pengikat
Buah-buahan dan lilin merah
Lambing naga dan burung phonix
Makanan kaleng dan kue basah
Anggur merah, pengucap keberuntungan
Tak pernah mampir
Di atas telapak tangan
Tangan menadah.
Baca juga: Daru
Perempuan itu mungkin tak mengerti
Calon suaminya juga mungkin tak mengerti
Mungkin tidak tahu
Mungkin tidak perlu
Mungkin tidak penting
Mungkin juga, tak punya.
Tak ada tanda cinta itu
Mewujud barang.
Sehari-hari
Tak ada tanda
Akan ada peristiwa besar
Tak perlu dibayangkan,
Akan ada pesta besar
Yang ada, pagi buka took
Kerja keras
Menjual barang
Stok barang
Menata barang
Hari-hari tak berubah
Hari-hari untuk kerja
Kerja!
Dan, kerja!
Kapan hari yang menyatukan,
Itu akan datang?
Setelah kata berjodoh
Terhidang di meja makan?
Papa tidak pernah tahu,
Perempuan itu juga tidak tahu.
Baca juga: Tetangga
Mimpi itu terbenam
Oleh pekerjaan toko
Makin hari makin bertambah
Tambah bertambah
Bertambah tambah
Laki-laki penampung Papa
Menambah, membuka kios baru
Di samping toko palen
Membuka warung mie
Jual cwie mie
Laki-laki totok, penampung Papa
Pintar
Juga pintar membikin mie
Dia tahu memilih tepung
Dia terampil bikin adonan
Adonan yang dicetak
Menjadi mie
Mie yang panjangnya semester
Mie yang dimasak rasanya kenyal.
Pekerjaan Papa makin banyak
Sebagian besar bahan warung
Dibeli di toko klontong
Tempat papa bekerja
Hanya sayur
Cabai
Daging ayam
Daging sapi & babi
Dibeli di pasar.
Perempuan itu,
Adik laki-laki totok penampung Papa
Perempuan yang berjodoh
Dengan Papa
Menjadi pengelola
Warung cwie mie
Dia diajari oleh kakaknya
Membuat mie
Bumbu
Taburan daging ayam
Bakso
Kerupuk
Diajari mengelola
Warung cwie mie.
Tapi tidak pernah
Diajari mempersiapkan
Perkawinan.
Perempuan itu sibuk
Di warung cwie mie
Papa sibuk di toko kelontong
Keduanya sibuk
Perjodohan di meja makan
Menguap bersama keringat.
Di antara tumpukan beras dan gula
Kadang Papa membayangakan
Sorot mata Perempuan itu
Di antara uap mengepul
Rebusan mie
Kadang Perempuan itu
Merasakan sentuhan tangan Papa
Mereka rindu
Perempuan itu rindu
Papa juga rindu
Rindu yang menguap
Bersama uap rebusan mie
Rindu yang terbenam
Dalam tumpukan sak beras
Rindu yang
Terkikis pikiran
Hanyut oleh perasaan
Untuk kerja keras.
Baca juga: Refleksi Akhir Tahun: Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
(Bersambung)
* Guo Da Li: upacara pertunangan dalam adat pernikahan Tiongkok, yang menandai pertemuan formal antara kedua keluarga
