
“Kubunuh saja dia, beres kan?!!”
Kabut senja perlahan berarak mengejar serpihan mentari di kaki langit Flores. Tertatih kutelusuri pijakan bayu menyeberangi prahara hatiku. Sesekali helaan napas mengimbangi desakan yang nyaris meledak. Waktu di tangan menunjukan senja akan segera merapati malam berbingkai bintang.
Baca juga: Secarik Pesan
“Ossa kan?”
“Hai, i..iyaa.., kamu Jozze kan?”
“Hmmm… iya. By the way kamu lagi liburan?”
“Iya,”
“Sendirian?”
“Ada kamu kan? Hehehe, iya,”
“Hehe, sudah malam masih betah sendirian di sini? Konon banyak hantu di sini,”
“Lho aku kan hantu juga. So no problem hehehe, yuk pulang,”
Di atas sana cakrawala kian benderang bertabur bintang. Perlahan Jozze mengikuti langkahku. Sesekali ia menyemburkan asap sampoernanya ke udara, membaui aroma mangrove.
Kami terlalu jauh untuk bersentuhan. Karenanya kubiarkan suasana itu lebih mencekam. Aku cukup pengecut untuk memulai pembicaraan. Mungkin lebih baik begitu! Aku terlalu takut apabila sembilu itu melukainya, walau sekedar menyentuh saja. Aku tak mau pengalaman itu terulang lagi, sekalipun keinginan itu kuat.
Di persimpangan, kami pun berpisah. Sesaat sebelumnya, ia menatap sendu dalam bingkai mataku yang berselimut cahaya bintang. Aku kembali terganggu dengan tatapan itu, hingga fajar menyingsing keesokan hari.
Tatapan itu, cukup bertuah untuk membuatku amnesia sesaat terhadap ketetapan masa itu. Rasa bersalah mulai menyuluti hatiku. “Ahhgghh, maafkan aku!” raungku setiap terjaga dari mimpi yang hampir serupa, setelah mendapat tatapan malam itu.
Jozze malaikat yang konon dikirim Tuhan, saat aku nyaris bersemayam dalam gundukan tanpa nisan. Namun, sayangnya malaikatku itu kubiarkan berada di genggaman iblis tua yang tak ingin aku tersenyum.
Barangkali iblis itu benar, malaikat takkan bisa menyetubuhi manusia, apapun alasannya. Jozze hanyalah nyawa yang hancur yang hendak kuhidupi setelah kuketahui ia mencintaiku…
“Dia ke Niki-Niki dua hari yang lalu. Masa dia tidak memberitahumu?”
“Emmm, tidak…”
“Well, apa sebaiknya kamu menghubungi dia saja,”
“Tapi Ern.., aku khawatir tindakan ini akan memperkeruh suasana. Kamu tahu kan, seperti apa perselisihan kemarin. Aku tak ingin Jozze semakin membenciku,”
“Waduh… Ossa jangan pesimis begitu. Jozze tidak mungkin sedangkal itu! Toh pertemuan kemarin dia bersikap wajar kan? Sudahlah Ossa, cobalah menghubungi dia!”
“Tapi Ern… Semuanya tidak semudah itu!”
“Well, lantas yang mudah menurutmu seperti apa? Aku makin tidak mengerti dengan kesungguhanmu. Sebenarnya kamu sungguh mencintainya atau sekedar menebus utang nyawamu? Maaf Ossa, kali ini aku tidak bisa membantumu lebih jauh,”
“Ern, tunggu!”
Bip bip bip… nada telepon terdengar putus di seberang. Aku kembali mengerut dalam selimut. Kali ini panas tubuhku sudah menurun. Segurat wajah berkelebat menembusi batas anganku. Aku tercekat menyadari bayangan itu, “Akhhh…, mengapa semuanya semakin sulit?” batinku.
Baca juga: Gula
Rasanya air mataku nyaris terbendung disetiap sudut hatiku. Aku tahu ini kesalahan terfatal. Merunut lagi, ini bukannya sekedar kesalahan, melainkan kenyataan terburukku. Aku kembali bergelut dengan kesalahan masa silamku. Mungkin sudah seyogyanya hatiku berbalut lara. “Huhhhft, memang aku yang salah!” erangku pasrah.
“Maaf Oss, aku rasa kamu tahu jawabannya!”
“Iya, aku mengerti. Maaf jika aku terlalu berharap,”
“Tak mengapa… Bukan salahmu, kan?”
“Aku menghargai penilaianmu barusan. Tapi maaf Jozz, semua itu jauh dari yang kau pahami,”
“Aagghhhh, mengapa kau selalu menduga semua yang tidak kupahami?”
“Hhmmmm, mungkin karena kita berbeda,”
“Hehehehe, berbeda genital barangkali?!”
“Huhhhftz, aku rasa itu tidak dalam kategori kita kan?”
“Ossa. Ossa terlalu banyak teori dalam neurotransmitermu,”
“Oh ya? Hahaha.… Aku baru menyadarinya sekarang!”
“Enough Oss! Kamu lupa sepertinya, bukankah kamu takkan bisa menyadari apa yang semestinya kamu lakukan?!”
“Kenapa kamu selalu mementahkan tindakanku?”
“Aku hanya ingin kamu belajar menyadari hal-hal sesungguhnya,”
“Hah? Belajar katamu? Sudah seharusnya kamu yang memulai belajar meninggalkan caramu mencintai perasaan tololmu!”
“Aku muak dengan semua opinimu. Maaf aku tak punya pilihan. Aku juga tak punya banyak waktu untukmu sekarang juga selamanya. Aku pikir baiknya kita berpisah sekarang. Maafkan aku untuk segalanya. Selamat tinggal, moga ini tidak menyakitimu,”
“Lantas, bagaimana dengan cinta yang sudah kau kandungi?”
“Aarrrgghh, lupakan saja itu. Toh janinku sudah terlanjur premature,”
“Maksudmu?!”
“Aaargggghhhh, enough Ossa! Aku sangat mencintaimu. Mengertilah itu!”
“Aku juga, Jozze,”
Baca juga: Trilogi Rara Mendut; Representasi Perlawanan Perempuan Jawa
Batinku rapuh. Aku terhenyak bisu memandang bayangan yang nyaris menyentuh ujung senja. Aku ingin merengkuh jiwa yang kian menjauhi berkas cahaya dalam mataku. Aku sadari kemelut jiwaku kian menimbuni sepenggal harapanku. Aku makin terluka menatapi embun yang nyaris menyentuh aroma rambutku.
“Maukah kau kembali menemaninya?”
“Entalah, Ern, aku belum bisa memutuskannya,”
“Jozze menanti jawabanmu, Ossa!”
“Tapi…”
“Tak ada waktu lagi, jika ia harus menunggui kemungkinan darimu,”
“Tidak semudah itu, Ern. Posisiku sangat tidak menguntungkan siapapun,”
“Ini bukan masalah niaga kan?!”
“Ern, kamu salah menduganya,”
“Lantas? Apa yang bisa kuduga darimu?!”
“Beri aku kesempatan Ern, sekali saja, biarkan ia bersabar menantiku,”
“Mungkin bagi Jozze, hal itu bisa dilakukannya. Tapi bagaimana dengan cinta, Ossa? Cinta tidak bisa ditunggu dan menunggumu. Ia akan pergi begitu saja saat kau masih berkriteria,”
“Lalu apa yang semestinya kuperbuat, Ern?”
“Kau bunuh saja dia, beres kan?!”
Sesaat aku terhenyak menyadari kenyataanku saat ini. Aku kehilangan selamanya permata yang tak ternilai dari hatiku. Pergumulanku telah usai tanpa kemenanganku. Aku kalah menandingi puri hatiku.
Ia yang lebih tahu segalanya, aku tak berhak memiliki hati lelakiku. Cintaku pun dimusnahkannya dalam hatiku. Sakit yang kubawa terus menyiksaku melihat jasad lelakiku dalam hatiku.
Jasad itu takkan musnah di makan usiaku. Rasanya sesal dan penatku takkan cukup menggantikan luka dalam hatiku. Cermin hatiku hancur, nyaris tak meninggalkan kepingan yang meremukkan sudut jiwaku.
Baca juga: Kawan
Aku patah dalam menuai kemenanganku. Aku kalah mencintainya. Hatiku seakan tak sanggup menyimpannya sebagai lelakiku. Di antara hening bayu malam aku merengkuh kembali sisa jasad lelakiku yang juga nyaris pergi tersapu amarahku.
Geramku menggenggam bingkai hatiku yang terus bergemuruh mencibirku. “Sekalipun hatiku tak dapat mencintaimu, namun jiwaku memilihmu,” ucapku parau, serta memeluk Jozze lelakiku yang menghampiri bayanganku.
(Editor: Iman Suwongso)
