
Perjalanan darat Agustus hari pertama, adalah sugesti therapeutic. Mengendarai motor dengan kecepatan 60-80 km/jam, bagi seorang ibu dengan membawa bocah berusia lima tahun bukan hal yang menenangkan hati dan pikiran.
Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (2)
Tangan kanan harus berulangkali mengurangi secara perlahan tarikan gas, setelah delapan kali berpapasan praoto gandeng. Truk besar itu berisikan tebu, dan berjalan perlahan di lajur kanan ke arah Pabrik Gula (PG) terdekat.
Debu jalanan bercampur riuh pikiran manusia. Perjalanan ibu dan si bocah belum berjudul dan mereka menikmatinya. Si bocah mengatakan, ia senang jika melaju dengan kecepatan tinggi. Kemudian ibu menanggapi, “jika memang diperlukan boleh saja melaju kencang. Namun, sekarang bukan saatnya,”.
Dan itu tak perlu. Memang masih jauh dengan tujuan mereka. Ke arah selatan atau timur tepatnya, mereka kurang paham. Yang jelas siang itu mereka membawa empat bowl mie jamur yang begitu menggoda aromanya, tentu siap disantap di rumah Budhe.
Sepanjang jalan, bocah berusia lima tahun itu selalu berteriak bergembira. Ini perjalanan jauh pertamanya menggunakan motor hanya berdua dengan ibunya. Bocah ini melihat banyak hal baru. Semua itu di luar lingkungannya.
“Tebu-tebu itu akan menjadi gula pasir, Momom. Berkilauan seperti gunung kristal! Tebu pasti digiling terlebih dahulu sebelumnya, Momom?,” ia berseru, penuh rasa ingin tahu. Ia menyambungkan isi kepala dan apa yang dilihatnya.
Ibu mengiyakan ucapannya, mengangguk di samping kanan kepala si bocah yang sudah mulai memegang bukunya sendiri, membaca dan tak telaten lagi dibacakan ibu.
Musim giling tebu untuk gula pasir, biasanya berlangsung dari Juni hingga Oktober. Maka diketahui pula bahwa seluruh peramu tebu meliputi pemilik lahan tebu, pemilik praoto, sopir, kernet, buruh babat tebu, warung kopi, warung makan sekitar pabrik, buruh PG, tenaga ahli, dan stafnya memiliki pekerjaan ekstra dari biasanya.
Baca juga: Membaca Kartini Dari Dua Sisi
Lantas bagaimana dengan persoalan lain perihal limbah yang disebabkan oleh olahan PG? Apakah mereka mendapatkan kompensasi perihal limbah padat dan cair?
Mana yang pantas direnungkan? Dicarikan jalan keluar? Diselesaikan? Perjalanan musim giling, bagi para buruh yang diberi upah minim atas keringat dan tanahnya yang disewa atau tak pernah dimilikinya, atau perayaan atas tanam paksa yang menguntungkan jajaran penguasa usaha gula yang sudah menjadi kapitalisasi berbilang abad dalam format yang terkesan manis bak gula? Sejak dahulu pada mulanya tak juga dicarikan cara menemukan keadilan? Tak ada keadilan dalam kapitalisme murni. Memang begitu cara kerjanya.
Oh akan tetapi janji lain pada saat musim giling tiba rupanya dipenuhi dengan arena hiburan ludruk, wayang, pasar rakyat. Sejenak mungkin masyarakat bumiputera akan lupa dengan sungai yang tercemar limbah cair, dan asap yang keluar melalui cerobong sisa pembakaran ketel. Namun, tak ayal terlihat mencolok relasi antara pemilik pabrik gula dan buruh. Mereka adalah tuan dan budak.
Musim giling benar-benar milik rakyat sejatinya dengan segala yang meliputinya; merasakan panasnya menanam tebu, memelihara kewaspadaan atas penyakit pada tanaman akibat hama, menderita di bawah tekanan upah tak layak, dan hanya menikmati syair-syair pilu tanpa kesejahteraan manis yang diharapkan.
Sambil menghela napas panjang, motor yang dikendarai ibu perlahan mulai berjalan dengan kecepatan standar, 30 km/jam. Ibu menghela napas dan mengatakan pada bocah berusia lima tahunnya, bahwa mereka sudah hampir dekat dengan rumah Budhe.
Bocah berusia lima tahun berteriak kegirangan, dia mengatakan bahwa di rumah Budhe ada buku karya Richard Scarry sama seperti miliknya. Dan hal itu ibu harus tahu. Ibu harus ikut membaca.
Benar sekali, setibanya sore itu di depan rumah Budhe, Pak Sukri membuka pintu rumah untuk mereka berdua, bocah berusia lima tahun menuju rak buku dan mengambil mahakarya anak-anak dari seluruh dunia dalam bentuk fabel favoritnya. Bocah berusia lima tahun itu membukanya dengan gembira.
Ibu memutuskan mencari buku lain untuk dibaca. Dengan senyuman lebar, ibu mendapatkan Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Astrid Lindgern. Sambil mengusap tangis kecilnya atas kecamuk hati serta pikiran perihal musim giling, bersamaan dengan sampai tujuan utama menuju rumah Budhe dan pemandangan bocah lima tahun amat gembira.
Baca juga: Kawan
Ibu menangkap foto bocah lima tahun, dan mengirimkannya pada sahabat di sebuah desa kecil, Borkwalde. Sebuah desa di pinggiran Kota Berlin, Jerman. Ibu juga menyampaikan, bahwa bocah lima tahun begitu antusias mengenal Angus Schwarz atau Angus Si Hitam. Ibu pun telah menemukan Pippi, sebagai tanda bahwa ibu menyayangi dirinya sendiri sebagai penikmat buku anak-anak dan simbol penghargaan untuk sahabatnya di Jerman.
Rampal Tjelaket, Agustus 2024
(Editor: A. Elwiq Pr.)
