
Undangan nikah di tangannya, diremas dan dilempar ke depan sekuat tenaga. Pikirannya melayang-layang di antara desah napas panjang tak berkesudahan. Tiba-tiba saja, Rusmin menyebut nama Somat, sosok yang seumur hidup dimusuhinya.
Di Desa Minggiran, siapa tidak mengenal Rusmin dan Somat. Dua penjual buah yang dikenal musuh bebuyutan, sejak masih sekolah. Rusmin adalah anak petani sederhana yang berjuang keras untuk bisa tamat SMA. Selepas SMA, ia menjadi penjual buah-buahan di desanya. Adapun Somat adalah teman sekolah Rusmin yang juga bekerja sebagai penjual buah.
Baca juga: Senja
Kisah seteru keduanya bermula sejak SMA. Sebagai pemuda yang sedang tumbuh dewasa, mereka rupanya mencintai gadis yang sama. Dari Bejo, teman sekolahnya, Rusmin tahu segala cara yang dilakukan Somat untuk menaklukkan gadis pujaan yang sama-sama mereka idolakan.
“Somat tadi memberikan hadiah buku pada Suci. Suci bilang padaku,” kata Bejo memberi tahu Rusmin. Bejo adalah tetangga Suci, gadis pujaan Rusmin dan Somat.
Di hadapan Rusmin, Bejo tak pernah alpa memuji-muji perlakuan istimewa Somat pada Suci. Mulai dari memberikan kado mahal, mentraktir makan, hingga mengajak Suci mengerjakan PR bersama. “Tadi Somat mentraktir Suci makan di restoran besar di ujung jalan. Aku diajak Suci, makanya aku tahu aneka makanan yang dibelikan Somat untuk Suci,” kata Bejo suatu ketika pada Rusmin.
Biasanya, setelah mendengar ocehan Bejo, Rusmin akan buru-buru mencari cara untuk menyaingi, dengan turut memberikan hadiah untuk Suci. Rusmin tak ingin kalah dengan Somat. Tapi ia merasa tidak bisa memilih hadiah yang pas untuk gadis yang dicintainya. Rusmin khawatir, hadiah pilihannya tidak pas untuk gadis secantik Suci.
Untuk mengajak Suci makan di restoran, Rusmin tak ada nyali. Itu sebabnya, Rusmin lebih sering menitipkan uang pada Bejo, guna dibelikan kado untuk Suci. Bejo adalah anak Pak Carik, yang sering pergi ke kota untuk nongkrong dengan teman-temannya. Temannya banyak, tak terkecuali cewek. Sebagai satu-satunya mahasiswa di desa itu, Bejo adalah sosok yang menonjol di antara pemuda desa lain.
“Tolong belikan kado istimewa untuk Suci ya. Aku tahu, kamu paham hadiah yang pas untuk Suci. Yang jelas kadonya harus lebih bagus, dan lebih mahal dari pemberian Somat. Aku minta tolong ya. Kamu kan teman baikku,” kata Rusmin pada Bejo.
Rusmin sangat percaya pada Bejo. Begitu pun semua orang di desa itu, karena ia adalah anak Pak Carik. Orang pintar, yang punya banyak teman di kota. Rusmin makin percaya, karena Bejo sudah punya pacar anak kota. Beberapa kali, pacar Bejo diajak mampir ke rumah Rusmin.
“Kamu pintar cari pacar ya Jo. Anak kota, cantik lagi. Kalau aku, paling-paling ya dapatnya anak desa sini saja. Mana mungkin anak kota mau sama orang desa kayak aku ini?,” kata Rusmin pada Bejo sambil menunjukkan foto Suci di HP, lalu disusul tawa cekikikan keduanya.
Baca juga: Mana Lebih Penting: Mencari Ilmu atau Mengejar Gelar?
Rusmin memang cukup dekat dengan Bejo. Bahkan melalui Bejo, Rusmin menitipkan aneka macam hadiah pada Suci. Rusmin, tidak pernah berani menyatakan perasaannya secara langsung pada Suci. Ia takut ditolak lagi, seperti yang sudah-sudah. Rusmin memang dikenal sebagai cowok yang paling sering patah hati.
Satu hal yang membuat Rusmin jatuh cinta pada Suci, adalah Suci anak paling pintar saat mereka masih SMA. Ia merasa, Bejo lebih bisa mewakilinya mengungkapkan rasa cintanya pada Suci. Ia sudah cukup senang melihat hadiah darinya, dipakai atau dibawa Suci ke sekolah.
Sehari setelah memberikan uang, Rusmin biasanya akan menerima laporan dari Bejo soal kado yang dibelinya. Bejo biasanya membeli kado berupa cokelat, boneka, atau seringnya alat keperluan sekolah. Berganti-ganti.
“Terima kasih ya Jo, kamu mau membantuku. Apa kata Si Somat kali ini ya, kalau tahu aku memberi kado istimewa untuk Suci. Ha ha ha…,” kata Rusmin pada Bejo suatu ketika. Bejo hanya tersenyum mendengar temannya itu kegirangan.
Pernah suatu saat, Bejo menyuruh Rusmin mengajak Suci kencan di hari ulang tahun Suci. Kata Bejo, Suci pasti suka. Bejo berkata akan menemani Rusmin, jadi Rusmin tak perlu malu dan takut.
Rusmin pun memberanikan diri mengajak kencan Suci. Dengan bantuan Bejo pula, ajakan kencan pada Suci disampaikan. Rusmin berniat mengajak Suci jalan-jalan melihat pasar malam.
Pada hari yang ditentukan, Rusmin berdandan habis-habisan. Ia mengenakan parfum paling wangi yang baru dibelinya di toko sebelah rumah. Ia menyisir rambutnya ke belakang, dan mengusapkan gel rembut yang diiklankan di TV, dengan harapan rambutnya tetap rapi saat ketemu Suci.
Saat tiba di pasar malam, Rusmin kecewa. Selain Suci dan Bejo, ada Somat di sana. “Tadi pas pesanmu kusampaikan, ada Somat sedang main ke rumah Suci. Akhirnya, Somat pun bilang ingin ikut pergi melihat pasar malam bersama Suci,” kata Bejo menjelaskan pada Rusmin yang menahan geram karena rencana kencannya terganggu dengan hadirnya Somat.
Tapi apa boleh buat, Rusmin tak bisa mundur. Rusmin pun akhirnya mentraktir makan mereka semua, termasuk Somat si musuh bebuyutannya. Itu pun membuat Rusmin kegirangan, karena mampu mentraktir Somat di hadapan Suci.
“Kapan-kapan nanti Rusmin akan mentraktir kita makan lagi, Ci. Iya kan Min,” kata Bejo pada Rusmin yang disambut anggukan malu-malu Rusmin. “Iya tentu saja, kenapa tidak,” jawab Rusmin sambil melirik Somat dengan tatapan sinis. Somat hanya melengos, pura-pura tak mendengar.
Persaingan Rusmin dan Somat terus berlanjut saat keduanya lulus sekolah. Usai lulus, Rusmin menjadi penjual buah di Pasar Minggiran. Begitu pun dengan Somat. Somat juga menjadi pedagang buah-buahan di tempat yang sama.
Bedanya, Rusmin berdagang di sisi barat pasar, sedangkan Somat berada di sisi timur pasar. Desa Minggiran memang dikenal sebagai salah satu sentra buah-buahan, seperti semangka dan mangga. Persaingan keduanya pun berlanjut untuk merebut hati pelanggan.
Salah satu cara dipakai Rusmin untuk menggaet pelanggan, adalah dengan memberikan bonus irisan buah, pada setiap pembeli. “Ini coba buah semangka saya, manis dan segar. Ini saya berikan sebagai bonus untuk pelanggan setia saya,” kata Rusmin pada setiap pembelinya. Jika orang membeli buah semangka, maka Rusmin akan memberi potongan buah lain seperti pepaya atau bahkan memberikan 1-2 butir buah mangga.
Saat pelanggan bertanya apa Rusmin tidak rugi dengan memberikan bonus itu, pria bertubuh jangkung itu mengaku tidak. Ia menganggap semua upayanya itu bagian dari amal, sehingga tidak patut dinilai untung dan ruginya.
Tindakan Rusmin memberi bonus pada pelanggannya pun dengan cepat menyebar di antara para warga pasar. Rusmin mendapat simpati banyak orang.
Namun bukan pujian yang membuat Rusmin senang. Bayangan Somat iri karena melihat dirinya dipuji-puji, sudah membuat Rusmin tersenyum girang. “Apa kata Somat ya? Dia bisa apa kali ini. Ha ha ha…,” senyum Rusmin mengembang di sela gumaman.
Baca juga: Pamer Doa Orang Sombong Modal Dasar Maksud Tersembunyi dalam Lipatan Kata-kata
Tak lama setelah Rusmin jadi buah bibir di pasar, Somat pun melakukan hal tak jauh berbeda. Buah-buahan miliknya yang mulai layu, dibuat jus dan diberikan gratis pada setiap pembeli. Untuk terobosan itu, Somat tidak melakukan sendiri. Ia menggandeng Mak Ijah, pedagang jus buah yang membuka lapak di sebelah.
Buah-buahan dipasok Somat, dari sisa buah layu, sedangkan Mak Ijah tinggal menggilingnya menjadi minuman dan menjualnya. Mak Ijah hanya butuh menambah gula dan menyiapkan gelas plastik saja. Untuk Somat, Mak Ijah memberikannya gratis. Somat dan Mak Ijah, kedua orang itu bekerjasama saling menguntungkan.
Upaya Somat menggaet pelanggan dengan membagikan jus buah gratis pun segera masyhur di pasar, bahkan hingga ke sisi barat pasar. Orang-orang pun menggunjing tentang kebaikan Somat. Bukan saja memberi jus gratis pada pelanggannya, namun juga kemurahan hatinya pada Mak Ijah.
“Mak Ijah pedagang jus di timur pasar, sangat senang diajak kerjasama Somat. Semua orang memuji kebaikan Somat. Sepertinya, kini Somat jadi idola baru di desa kita,” kata Bejo saat belanja buah ke lapak Rusmin suatu siang. Mendengar omongan Bejo, Rusmin hanya tersenyum sinis.
Bejo adalah pelanggan setia buah dagangan Rusmin. Ia kini adalah seorang carik di Desa Minggiran, menggantikan bapaknya. Pria berkacamata itu banyak dipuji, karena berhasil memajukan desa.
“Sudahlah jangan ngomongin Si Somat. Kamu sukses sekarang Jo, kamu bisa membuat desa ini makin ramai. Aku salut padamu Pak Carik. Besok-besok kamu maju kades saja. Pasti tak dukung,” puji Rusmin pada Bejo, mencoba menghindari omongan soal Somat. Rusmin merasa bangga punya teman seperti Bejo.
“Ah, kuncinya adalah mau mendengar dan mengenal orang-orang di desa ini kok,” kata Bejo sambil membusungkan dada.
Setelah Bejo berlalu, Rusmin terdiam dengan tatapan menerawang. Sambil sesekali garuk-garuk kepala, Rusmin membuka-buka ponsel. Suasana pasar siang itu sepi, sehingga Rusmin lebih banyak menghabiskan waktunya menekuri telepon genggamnya.
“Ahai, aku tahu apa yang bisa kulakukan. Akan kukalahkan Si Somat itu. Apa katanya nanti, ha ha ha…,” kata Rusmin setengah mendesis. Tampaknya omongan Bejo soal Somat mengusik hati Rusmin.
Seminggu sejak itu, Rusmin memasang kertas pengumuman di lapaknya. “Melayani pesan antar,”. Demikian bunyi pengumuman Rusmin. Layanan pesan antar ala Rusmin dipuji banyak orang, dan menggaet makin banyak pelanggan. Rusmin senang tak kepayang, merasa menang. Ia membayangkan bisa segera menyunting Suci, gadis pujaan hatinya, karena tabungannya mulai menggunung.
Baca juga: Dua Purnama Satu Senja
Hingga suatu siang yang terik, Rusmin tiba-tiba menggigil layaknya orang kedinginan. Saat itu, Rusmin membuka selembar surat yang datang bersama sebuah undangan pernikahan, undangan Suci dan Bejo.
“Suci titip pesan, katanya tidak ingin membuat kalian berdua berkelahi memperebutkannya. Makanya dia memilih menikah dengan orang lain,” tulis Bejo melalui surat yang diselipkan bersama undangan pernikahan yang diperuntukkan bagi Rusmin. Undangan dan surat untuk Rusmin itu, dititipkan Bejo pada seorang anak yang biasa keluyuran di pasar.
Dengan dahi mengernyit, Rusmin membuka undangan dan membacanya. Hanya napas panjang yang mengiringi Rusmin membaca setiap kata dan mencermati foto di undangan. Tampak foto-foto pranikah Bejo dan Suci, keduanya tersenyum mesra pada para terundang.
Tatapan Rusmin lekat pada foto Bejo yang berpose memberikan bunga dan boneka pada Suci. Mereka tersenyum bahagia. Perasaan Rusmin tak bisa diterka. Tubuhnya gemetaran seperti kedinginan. Dalam satu embusan napas menyentak, dilemparkannya undangan yang telah diremasnya itu kuat-kuat. “Kurang ajar. Kenapa dia setega itu,” umpat Rusmin memecah keheningan.
Rusmin menunduk memegangi kepalanya. Di antara desah nafas panjang, sesekali gigi Rusmin gemeretak mengiringi kepalan tangannya. Pada detik ke sekian, tiba-tiba lirih terdengar suara Rusmin. “Apa kata Somat ya?,” kata-kata Rusmin meluncur di antara tatapan kosongnya siang itu.
(Editor: Iman Suwongso)
