
Senja adalah duduk berdua denganmu, menatap laut lepas, dan membiarkan sayap-sayap mentari memeluk tubuh dan hati kita berdua. Langit keemasan, seindah senyumnya yang bersinar-sinar.
Baca juga: Masih Kusimpan Sekarung Kata-kata
Tapi senja kali ini berbeda. Seharusnya kamu duduk berdua bersamaku, seperti hari-hari lalu. Bercanda dan tertawa atas semua kelucuan yang kita jalani bersama seharian. Tidak kali ini. Kamu tidak ada. Aku hanya ditemani pasir kecoklatan, dan buih ombak yang sesekali menggelitik jari-jari kaki legamku. Semuanya berbeda. Rasanya, setengah hidupku hilang begitu saja.
“Nduk, sudah gelap ayo masuk. Nanti masuk angin,” kata perempuan itu membuyarkan lamunanku. “Ibu, mana Bapak?” tanyaku. Perempuan di depanku tak menjawab. Ia hanya tersenyum, membelai kepalaku, dan membimbingku masuk ke dalam rumah.
Rumah tempat perempuan yang kupanggil ibu itu terasa asing. Aku sama sekali tidak mengingatnya. Otakku hanya berisi tentang aku dan Bapak. Yang kuingat, Bapak selalu mengajakku menganyam jaring untuk melaut. Bapak adalah nelayan. Ia akan melaut selama beberapa hari, dan pulang dengan sekeranjang ikan tangkapan. Selama itulah, aku menanti Bapak bersama ibuk. Perempuan murah senyum, yang mengisi setengah jiwaku lainnya.
“Bu, kapan Bapak pulang?,” tanyaku lagi pada perempuan berambut panjang, yang memilih mengikat rambut sekenanya dengan karet gelang.
Perempuan yang kupanggil ibu itu tidak berkata-kata. Ia hanya mengulurkan onggokan tali, yang lalu kami anyam bersama-sama menjadi jaring. Ya, Bapak pasti senang kalau nantinya jaring langsung bisa digunakan. Bapak tak perlu capek-capek lagi membuat jaring hingga lewat tengah malam. Ia bisa langsung tidur, lalu pergi ke laut saat gelap masih pekat. Saat aku dan ibuk masih terlelap.
Aku terbangun. Pagi sudah datang. Rupanya semalam aku terlalu lelah, hingga jatuh tertidur memeluk jaring. Bapak belum pulang. Jaring yang kuanyam bersama ibuk, pun belum berpindah tempat. Ah, mungkin Bapak belum mendapat ikan, makanya tidak pulang, pikirku. Aku berdoa, semoga saja laut tenang, agar Bapak mendapat ikan sebanyak-banyaknya.
“Bu, aku pergi ke pasar ikan ya? Aku mau melihat harga ikan di tempat Mak Ijah dan Pak Saman. Jadi pas nanti Bapak pulang, aku bisa memberi tahu pada siapa ikan bisa kita jual,” kataku meminta izin. Sambil tersenyum, ibuku mengangguk pelan, lalu sambil menyodorkan sebuah topi rajutan dari enceng gondok. Katanya, topi itu akan melindungiku dari panas mentari, agar kulitku tidak semakin gelap.
Baca juga: Virus
Dengan berlari kecil, kususuri jalanan di kampungku. Kakiku mengarah ke ujung desa, ke tempat pelelangan ikan. Pasar pelelangan ikan letaknya berkebalikan arah dengan tempatku tinggal. Rumahku paling dekat dengan laut, sehingga setiap sore, aku bisa melihat matahari terbenam tanpa penghalang.
Pagi itu suasana pasar ikan belum begitu ramai. Mungkin banyak nelayan belum pulang. Kulihat beberapa orang bergerombol di depan lapak Mak Ijah. Ya, perempuan berusia 50-an tahun itu adalah pengepul ikan paling laris di kampungku. Ia tidak mengambil untung banyak dari nelayan. Ia menampung semua ikan tanpa pilih-pilih. Makanya, Mak Ijah menjadi pilihan banyak nelayan untuk menjual hasil tangkapan. Mak Ijah selalu bilang, untung sedikit tidak masalah, asalkan datang terus-terusan.
Tidak jauh dari lapak Mak Ijah, kulihat Pak Saman juga sibuk meladeni pembeli. Ada pengusaha mencari ikan tuna dalam jumlah besar. Namun ikannya tidak ada. “Barangnya tidak ada Koh, mau bagaimana lagi? Coba cari di seluruh kampung ini, pasti tidak ada. Itu, Bapak bocah itu juga belum pulang dari laut. Mungkin saja nanti kalau sudah pulang, ia akan membawa ikan tuna,” ucap Pak Saman pada si pembeli sambil telunjuknya menunjuk padaku. Ah, bisa saja pedagang kalau mau meraih hati pelanggannya, pikirku.
Kulihat beberapa lapak pedagang ikan lainnya sepi. Aku bertanya pada para pedagang. Tak ada ikan. Penjual hanya duduk-duduk ngobrol, sambil menanti ikan datang. Pantas saja Bapak belum pulang. Bapakku tak pernah pulang dengan tangan hampa. Ia tak ingin datang membawa malu, karena tak mendapat ikan.
Kujelajahi pasar hingga senja hampir tiba. Aku memilih pulang. Aku sudah mengantongi harga ikan. Nanti, biar Bapak yang memutuskan ikan akan dijual ke siapa. Kini, waktunya menunggu Bapak pulang bersama senja.
Langit mulai keemasan. Warnanya mengingatkanku pada senyum Bapak yang salah satu giginya tanggal, dan diganti dengan gigi tembaga. Bapak menyebutnya gigi emas. Sebuah gigi seri atas, tanggal saat wajah Bapak terpukul kemudi kapal, suatu ketika saat badai datang.
Senja seperti ini, biasanya Bapak sudah selesai menurunkan ikan dari kapal. Ia lalu memilih duduk menatap senja bersamaku sambil melepas penat, hingga malam tiba dan kami kembali ke rumah dengan sekeranjang ikan yang sengaja tidak dijual. Bapak bilang, ikan itu untuk makan kami.
Warna langit mulai berubah jingga kemerahan. Suasana perlahan gelap. Bapak tidak juga datang. Ibuku tak ada. Gelap pun benar-benar tiba pada akhirnya. Tak ada yang mengelus lembut kepalaku dan mengajakku masuk rumah.
“Bapak, Ibuk, kalian ke mana? Haloo…, semuanya ke mana?,” aku berteriak sekencang-kencangnya. Rasa bingung membuatku jatuh berguling-guling menahan kecewa. Aku memukul-mukul pasir sekenanya. Menendang dan melempar pasir ke mana-mana. Aku terluka, senja mengambil orang-orang tercintaku. Mengambil Bapak dan Ibukku.
Baca juga: Apakah Tagore Tidak Terlalu Tua Bagi Kita?
Aku tidak tahu seberapa lama aku marah pada pasir dan senja. Tiba-tiba saja aku mendengar suara memanggil-manggil. “Nduk, nduk, bangun Nduk…Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu tidur di sini…,” suara itu membangunkanku. Tangannya mengguncang-guncang tubuhku. Mataku mengernyit. Kulihat sekitar sudah terang. Banyak orang mengerumuni. Kepalaku berputar-putar. Kilas-kilas ingatan samar, berdesakan seolah mau keluar.
Tak lama, orang-orang mulai bertanya padaku, kenapa aku bisa tiduran di pantai. Rupanya mereka menemukanku tidur berselimut pasir. Kalau saja kaki mereka tidak terantuk tubuhku yang terbenam di dalam pasir, katanya, mungkin mereka tidak akan menemukanku.
Aku mengingat-ingat. Seingatku aku menanti Bapak seperti biasanya. Tapi……kepalaku ringan melayang-layang. Tubuhku nyeri. Bibirku perih. Orang-orang masih menatapku dengan berbagai ekspresi. Bertanya-tanya, kaget, dan mungkin juga kasihan. Sebagian mulai kasak-kusuk, menduga-duga.
Aku mengusap wajah, membersihkan pasir yang berjatuhan dari kepala. Ada rasa ngilu di pipi kananku. “Kamu dihajar bapakmu lagi, Nduk? Kok kamu tidak bilang sama Bapak. Kenapa tidur di sini,” tanya satu di antara orang-orang itu. Aku menatapnya tanpa ekspresi berarti. Kutelusuri lekuk wajahnya, rasanya aku mengenalnya.
Ia terus bertanya banyak hal yang aku tidak ingat. Kulihat satu gigi atasnya tanggal. Ia menyebut namanya Pak RT. Ya, lama-lama aku mengingat Pak RT. Tapi aku bingung, seingatku pria dengan gigi tanggal satu adalah Bapak. Tapi, yang di depanku ini Pak RT. Jadi siapa sebenarnya orang yang duduk berdua denganku, menemaniku, menunggu senja? Aku benar-benar tak ingat. Ke mana perginya ingatanku?
“Mana Bapak, Pak?,” tanyaku sambil memukul-mukul kepala mencoba mengembalikan ingatan. Pria di depanku tak menjawab. Ia bergegas memeluk dan mengelus punggungku penuh kasih. “Sabar ya Nduk…ayo kita lapor polisi,” kata pria itu. Aku melongo keheranan.
