Kaki

Kaki. Foto/Artificial Intelligence (AI)/canva.com

“Aduh Sinshe!” jerit saya.

Nyerinya tak terlukiskan. Rasanya tak adil sekali melihat kaki kanan tatkala dipegang-pegang tabib tampan. Pangeran itu kudatangi dengan terpincang-pincang. Ini sama sekali bukan scene Cinderella yang ideal sebagaimana yang diangan-angankan banyak gadis kecil. Inilah realita, nona manis. Kaki kanan ini berdarah-darah. Saya hampir yakin kuku jempol kaki kanan saya bakal terlepas.

Baca juga: Sastra Berkait Erat dengan Pangan, Kok Bisa?

Senyum ketabibannya menenangkan. Profesional.

“Jatuh di mana?” tanya pria, kurang lebih berusia tigapuluhan.

Di kepala saya, tabib itu bertanya, “jatuh cinta di mana?”.

“Di busway, shelter dekat Mangga Dua, Sinshe. Turun di Kampung Melayu sini, harapan saya minta tolong kawan saya yang tinggal di Jatinegara, ternyata dia sedang di Bogor,” urai saya, memelas.

Hampir saja saya jawab, saya jatuh. Jatuh cinta di sini. Dan rupanya saya masih waras. Masih sanggup mengendalikan kekacauan ini. Sakit di kaki dan keringat dingin membasahi dahi. Tidak boleh pingsan. Jangan pingsan.

“Ya, tampaknya kecelakaan di bus Trans Jakarta sering terjadi. Semestinya agak melompat antara bis dan shelter ya?” tanggapnya, sambil menyiapkan air panas, handuk kecil, dan menaikkan kaki kanan saya di atas bangku kayu lawas.

Saya sudah tidak sempat malu. Gaun midi saya disibak sedikit, memastikan tungkai saya baik-baik saja.

“Sebetulnya ini bukan takdir atau semacam itu. Ini kelalaian manusia biasa,” tuturnya, kembali.

Sinshe Bernard mengangkat kepala, memandang tepat ke dalam mata saya.

Saya membalas tatapannya dengan tak berkedip. Lalai? Batin saya tidak bisa menerima. Yang utama adalah lalai mengantri! Saya maunya antri, yang lain tidak mau. Apa boleh buat! Dan saya lalai karena tak mampu menyesuaikan diri dengan ketidaktertiban. Ayolah Sinshe, jangan memandangi saya begitu. Saya ini mudah sekali jatuh hati.

Ya, akhirnya saya jatuh. Manusia yang saling tindih itu seperti laut merah dibelah Musa, menyibak dengan sendirinya. Seketika saya memiliki ruang menaikkan badan saya sendiri. Tak seorang pun berusaha mengulurkan tangan. Ya, gentleman itu hanya ada di film-film, percayalah. Saya keluar dari lubang yang menganga. Lubang yang siap menelan siapa saja yang lalai? Ayolah Sinshe, jangan memandangi saya begitu.

Sunyi. Tadi, perjalanan terasa panjang sekali. Saya duduk di lantai bus tanpa seorang pun menawarkan tempat duduk. Semuanya membisu seperti tidak melihat ada yang terluka. Saya benar-benar memandang Jakarta pada suatu ketika. Bus kian mampat isinya. Lampu-lampu di luar kaca bus seperti bergelombang. Menciptakan garis naik-turun.

Sudah sampai di Salemba, batin saya. Saya tak memikirkan apa-apa kecuali segera ke klinik atau semacam itu. Saya harus menolong diri saya sendiri. Hampir tak ada suara di dalam bus. Tak ada yang berani menegur dan saya juga tidak melolong minta tolong. Ah Jakarta, di kegelapanmu saya akan menjumpai terangmu yang sejati. Bukan sekedar deretan lampu-lampu. Saya diam, berusaha tenang.

Baca juga: Emak, Ibu Filosofis Daoed Joesoef

Sunyi. Saya tadi berada di baris ke dua dari ujung shelter. Manusia-manusia dalam hitungan detik berdatangan, padat dan menunggu. Saya mulai miris dengan energi beringas yang terpendam. Perasaan bakal jatuh semakin menguat. Detik-detik yang semestinya saya memutuskan mundur, justru tak bisa bergerak. Di belakang saya, manusia kian mampat. Antri? Cuma mimpi. Di sebelah kanan saya dua bocah tangguh sudah siap pasang kuda-kuda. Rupanya mereka sudah terbiasa berjalan di antara tubuh-tubuh yang lebih tinggi. Saya takjub, tenaga mereka sepuluh kali lipat lebih kuat dari saya. Pintu bus yang baru datang terbuka. Tak ada lagi waktu berpikir kecuali melompat! Langkah pertama saya salah.

“Direkomendasi oleh siapa anda ke sini?” tanyanya, sambil membersihkan kaki saya dengan teliti.

“Saya tadi hendak ke klinik sebelah, tapi ramai sekali. Saya sudah nggak kuat lagi menunggu. Saya keluar dan melihat plakat kecil di depan,” ungkap saya.

“O, saya pikir direkomendasi oleh Ibu yang mengajar di ISI, Cikini. Beliau mengepang rambutnya juga seperti anda. Mirip perempuan Indian. Menarik. Kalau tidak salah ingat, beliau orang Batak. Saya lupa namanya. Mirip sekali dengan anda,” terangnya gamblang, kali ini tanpa memandang.

“Saya berasal dari Malang, Jawa Timur. Ketika saya menginjak usia 17 tahun, sudah terbiasa berobat ke Shinshe Sumber Waras di Pecinan Malang, dekat Museum Rokok Bentoel. Saraf ke tujuh saya terjepit ketika itu dan diakupunktur hingga pulih. Shinse bukan orang asing buat saya,” papar saya.

Sinshe berbahasa tubuh menawan tak juga mengangkat wajahnya, seperti tak mendengarkan apa yang baru saja saya sampaikan. Handuk itu dicelup air mendidih, lalu dibasuhkan di kaki yang tak terasa apa-apa kecuali terasa sejuk. Ia angkat pergelangan kaki kanan saya dengan tangan kiri dan menotok beberapa bagian dengan tangan kanan.

“Sakit?”

Saya menggeleng pelan. Entah karena tertutupi nyeri, beberapa bagian yang ditekan memang tidak terasa sakit.

“Tidak apa-apa, semua tulang anda dalam keadaan baik. Hanya memang lukanya harus dirawat. Nanti saya beri kapsul agar lukanya lekas kering dan hindari dulu makan ikan laut ya? Bukan soal tahayul. Soal kesehatan saja. Biar lekas kering,” nasehatnya, sentuhan jarinya kuat tapi tidak menyakiti.

“Apakah kuku saya akan lepas, Sinshe?”.

“Kenapa lepas? Kuku anda utuh. Nah, yang ini nanti sedikit perih, tapi ditahan ya?” sarannya kemudian sambil mengeluarkan botol dengan cairan kuning, bening.

“Perih?” tanyanya, beberapa saat.

“Enggak,” jawab saya, optimis. “Iyaaa!” ralat saya, kemudian.

Saya menggigit bibir lekas-lekas. Saya tidak mau menjerit. Konsekuen dengan segala yang memang harus saya tanggung, sendiri. Walaupun saat keluar dari hiruk-pikuk shelter Kampung Melayu tadi mata saya berair tidak bisa berhenti dan tertatih-tatih naik bajaj. Luarbiasa sakitnya.

Keringat dingin ini. Ruangan terasa sumpek. Demi mengalihkan perhatian rasa perih luarbiasa saya bertanya, “Bila nama anda Bernard, mengapa di depan tertera Sinshe Yakob?”.

“O, itu nama ayah saya. Tahun 1993 beliau meninggal. Di ruang depan itu ibu saya dan adik perempuan saya. Dulu, ayah saya meneruskan tempat pengobatan kakek. Ya di sini. Saya anak sulung, jadi siapa lagi yang meneruskan kalau bukan saya?” urainya, terbuka.

“Apakah semacam panggilan untuk meneruskan pekerjaan ini?” pancing saya, cari-cari alasan memanjangkan percakapan.

“Panggilan? Saya tidak terlalu memikirkan itu. Klinik pengobatan ini seperti halnya profesi lain, saya mempelajari tentang tulang dan segala macamnya. Saya sekedar meneruskan. Tidak ada promosi atau pamflet atau mengiklankan diri melalui internet misalnya. Tidak perlu. Begini saja. Saya baru dua hari ini buka praktik setelah sekian lama tutup setelah ayah saya meninggal. Ibu kadang-kadang diminta racikan obat oleh tetangga-tetangga sekitar sini tapi Ibu tak berani membuka toko obat sendiri,” paparnya, sederhana.

Sinshe Bernard menunduk, membaluri luka dengan semacam ramuan basah dan dingin. Mirip parem untuk ramuan Jawa atau Madura.

“Apa itu?” tanyaku.

“Ini ramuan yang akan mendinginkan luka anda. Besok pulang ke Malang bukan? Sesampai di Malang lepas saja. Ini agar selama di perjalanan tetap bersih tak kena debu,” sarannya sambil menutup baluran ramuan dengan perban. Putih. Kaki kanan itu seperti kepompong.

Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital

Kampung Melayu malam hari suasananya syahdu. Sebelum bertemu Sinshe Bernard, saya diminta sabar oleh seorang ibu. Ia menemani saya menunggu. Sinshe Bernard sedang mendatangi salah satu pasiennya yang sudah berusia 80, baru saja jatuh. Ibu yang itu, mampu menenangkan saya.

“Anak saya akan menyembuhkan luka nona. Jadi, di sini saja dulu,” bujuknya.

Ibu yang ramah dan penyayang. Wajah jelita khas perempuan Tionghoa. Usianya mungkin hampir 60 tahun. Beliau pun mengisahkan peristiwa 1998 di seputar Kampung Melayu. Seperti baru terjadi minggu lalu. Tak ada yang mengganggu keluarganya di sini, bahkan tetangga-tetangganya ikut melindungi dari gangguan orang tak dikenal. Mereka disembunyikan di dalam gang, anak-beranak itu mempercayai dan dipercaya orang-orang di kampung Melayu, yang tahu-menahu sejak kakek mereka.

“Muslim di sini semua baik. Kita juga Kristen baik. Ada yang tidak betul bila tiba-tiba ada permusuhan,” simpul Ibu, di depanku.

Beliau pun berlanjut mengisahkan bagaimana rumah pengobatan ini diserbu banjir hingga setinggi langit-langit rumah pada 2006. Ya, besok saya kembali ke Malang dan sekarang saya mendengarkan seorang perempuan Tionghoa dari Kampung Melayu mengisahkan peristiwa tak terkira di hidupnya yang sederhana. Artikulasinya merdu dan saya merasakannya sebagai anugerah pertemuan. Kaki saya mulai membiru. Niat saya menyaksikan pertunjukan Teater Gandrik di TIM tak terpenuhi malam itu dan saya tak menyesalinya. Tergantikan dengan suasana peradaban lawas di sebuah sudut kota tua di jalan Otista.

***

Sinshe Bernard mengantar saya sampai ke depan bersama ibu dan adiknya. Tak ada pasien setelah saya. Saya masuk taksi dan memandang sekilas ke dalam mata seorang Sinshe yang agung. Ia membalas tatapan saya. Mata saya berair lagi saat terdengar sayup-sayup ia berseru, “Selamat jalan,”.

Dua minggu berikutnya masih bengkak. Dengan mobilitas yang sedemikian rupa memang tak keliru bila bertahan bengkak.

Di kamar, kupandangi kaki kanan yang sekarang. Teringat wajah manis Sinshe Bernard. Serta-merta saya melihat kaki saya tampak berbeda. Dengan wujud kuku ibu jari sebelah kanan yang berwarna ungu kehitaman. Urat biru menuju penjuru tertentu dan di pergelangan nyaris berwarna hangus keriput sebab terlalu lama bengkak membuat saya merasa kaki ini mulai dewasa. Tahi lalat di salah satu jarinya semakin jelas.

Ketika kecil, saya mengagumi kaki ibu. Jari-jarinya sangat perempuan. Ibu jarinya membulat seksi dengan buku-buku jarinya langsing. Kuku-kukunya sedikit dipanjangkan luwes sekali. Tak sedikitpun kotoran menyelip. Bersih dijaga sendiri walaupun tak pergi ke salon.

Baca juga: Erfurt

Saya ingin punya jari-jari kaki semacam jari-jari kaki Ibu. Tidak semacam yang kumiliki ketika itu, semua serba pendek, bulat dan agak lucu. Bahkan ketika kubasuh air dan menapak di lantai kering, tercetak jejak yang sama sekali tidak menyeni. Semua serba jelas apa adanya. Seluruh telapak tercetak. Sangat berbeda dengan cetak jejak kaki Ibu yang menciptakan lengkungan-lengkungan artistik di mana seluruh telapak tak menjadi jejak, seperti berjingkat. Maka saya berjingkat-jingkat. Tetap saja, tak seindah jejak Ibu. Saya menyerah. Pasrah.

Oh, rupanya keindahan kaki semacam itu adalah soal waktu ketika perempuan kecil telah menjadi dewasa maka cetak jejak akan tercipta indah seindah kekuatan karakter pemiliknya. Usai membasuh kaki kanan yang mulai kering lukanya, saya melihat jejak yang saya tinggalkan. Jejak Ibu ada di situ. Jejak perempuan yang butuh waktu menjadi dewasa.

Aku ingin mengabarkan pada Sinshe Bernard tentang kakiku ini. Suatu saat. Ketika aku rindu sorot matanya.

Turen, 2008 – 2024

(Editor: Iman Suwongso)

2 komentar untuk “Kaki”

  1. Cerita sederhana, dikemas dgn bahasa Sastra yg apik, jd tdk membosankan. Terimakasih sdh menyuguhkan cerpen yg manis.
    Ttp berkarya, sehar2 dan memilih happy

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *