Secarik Pesan

Manakala pagi tiba
Kita menyusuri lorong pusara
Di hening tanah yang basah
Segala doa pun didaraskan

Dalam mikrolet tua, ia terus meraung tertatih
Kau letakan kepala di bahuku
Sebagaimana ‘kuk yang diletakan di bahu Yesus
Kita menuju arah mentari sore

Kau yang berkaus biru laut
Langit mana yang tengah kau tengadah?
Pesan dariku barangkali belum melintasimu
Hingga penghujung hari kau tak jua tiba

Kau yang bersemayam di relung terjauh
Aku masih menyiasati jalan termudah
Pada manik-manik matamu
Aku menunggu walau lembayung t’lah menjelang

Jakarta, 9 September 2024

Baca juga: Menakar Seribu Berkat

Angsa

Deru mesin kendaraan hilir mudik
Ada yang meraung keras ada juga pelan
Penanda sedang bergegas mengejar entah
Pun melambat menemui apa

Digeretnya tubuh menuju lumbung
Dari tepian ia mengais sisa takdirnya
Pabila kelak tersaji di pinggan emas
Sang tuan dapat mencucuk jemarinya hingga tandas

Hidup terus saja menderu
Segala kenangan berjibaku
berlabuh di dermaga ingatan
Titian harapan selalu dibangun
Sesering berseteru pada kenyataan

Jika kalah jangan berpaling
Bersabarlah sesekali mungkin
Hingga angin berbalik arah
Kau akan tiba di tujuan terbaikmu

Jakarta, 10 September 2024

Baca juga: Erfurt

Perihal

Perihal jarak yang tak dapat dipangkas
Perihal batas ruang maupun waktu yang perlu dikoordinatkan
Perihal kesudahan yang tidak ditemui titiknya
Perihal kasih yang lenyap dari sanubari
Perihal segala yang tak lagi lambat
Perihal siapa menyentuh apa dan bagaimana

Semuanya melaju, melesat bagai kilatan cahaya
Kita berada di tengah gelora taufan
Jika lengah kita lenyap

Hidup berada pada aneka perihal
Alam berderap menuju senja dirinya
Nirwana itu sejauh mana?
Di batas terjauh siapa?

Rupa-rupa tabah menabuh sisinya
Sekuat itu ia berjaga agar tak lekang
Pada pagi atau malam menjelang
Perihal sujud dan tirakat menembus awan

Jakarta, 11 September 2024

Baca juga: Sebuah Ciuman


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *