
Mata-mata tajam menatap layar kaca. Jari-jari bergerak cepat memenceti benda bersinar di tangan. Sekitar tak dipandang. Bahkan angin yang memeluk pun, berlalu karena tak digubris. Benda itu seolah menghisap jiwa-jiwa orang yang menatapnya.
Baca juga: Menulis dan Kesehatan Mental
Tiba-tiba si pemilik jari berteriak marah. Ponsel di tangan dengan cepat dilempar ke atas meja. Tinjunya mengepal, lalu diayunkan menggebrak meja. Sekuat tenaga meja kayu dipukul. Brakk…! Suara keras membuat orang-orang mengalihkan pandangan padanya. Namun lelaki itu seperti tak peduli.
Tak butuh waktu lama setelah memukul meja, tubuh lelaki berbaju rapi itu seperti habis tenaga. Badannya melemas tak kuat menyangga kepala. Kepalanya menggeletak di atas meja dipeluk dua tangan yang melingkar. Kulihat beberapa helaan nafas sebelum akhirnya kepala itu mendongak ke depan. Pandangannya kosong, menerawang jauh ke depan. Mata itu melompong tanpa kehidupan. Benar saja, benda bersinar itu pasti telah menghisap jiwanya, pikirku.
“Ah, goblok. Gak mikir dia,” lirih suara lelaki itu tiba-tiba. Kepalanya masih saja disangga oleh meja. Namun tangannya mulai bergerak mengambil ponsel dan menatap layarnya yang bersinar.
Entah berapa lama kepala dan tangannya bertumpu pada meja. Lagi-lagi, lelaki itu berteriak. “Kurang ajar!,” katanya, lalu disusul melempar benda di tangannya. Makian pria berkulit putih itu sontak menarik perhatian pengunjung warung kopi tersebut. Sepasang muda mudi yang sedari tadi hanyut dalam alunan nada-nada senar gitar yang dipetik salah satunya, melirik sambil terus bernyanyi.
Merasa diperhatikan seisi warung, pria berbaju rapi dan menenteng tas kantoran itu kikuk. Ia pun memungut telepon pintar yang tadi dilemparnya ke atas meja, lalu membenamkan pandangannya kembali ke dalamnya.
Sesaat suasana kembali tenang. Nada-nada romantis yang dinyanyikan seorang pria pada pasangannya, kembali memenuhi ruang malam di Kedai Kawee di Jalan Raya Pandanlandung. Suaranya merdu, seperti mengajak semua orang hanyut dalam belaian.
Kesyahduan malam tiba-tiba kembali robek saat pria kantoran mendadak berteriak dan sambil memukul-mukul meja. “Goblok, ia mencurangiku. Aku tahu dia selalu ingin menghancurkanku. Aku tahu…kurang ajar!,” makinya sejadi-jadinya. Pandanganku, sekali lagi, teralihkan melihatnya.
Pelayan kafe tergopoh-gopoh mendatanginya. Ia mengingatkan agar si pria kantoran itu menurunkan suaranya, agar tak mengganggu orang lain. Sambil mengangguk-angguk pelan, si pelayan berusaha mendengarkan penjelasan yang berapi-api. “Brakk.., si pria kantoran mengakhiri penjelasan dengan menggebrak ponsel yang teronggok di atas meja. Kurasa pukulannya sangat kuat, karena kudengar bunyi krekk dari arah meja kayu itu. Lalu sesaat, si pria kantoran terdiam.
Baca juga: Kisah WR. Soepratman, Jurnalis dan Musisi Jazz Penggubah Lagu Indonesia Raya
Seperti habis tenaga, tubuhnya melemas dan tengkurap di atas meja. Kepalanya dibenamkan di antara pelukan dua tangannya. Entah persisnya berapa lama, ia mulai mengangkat kepala. Tatapannya kosong, menerawang jauh ke depan. Tiba-tiba saja suasana terasa lengang.
Tak ada deru truk dan laju kendaraan di jalan depan warung, sebagaimana sejak tadi terjadi. Lelaki itu masih menatap kosong ke depan. Sepertinya, jiwanya terhisap dalam lamunan. Layaknya vampir penghisap darah, ia menyerap sari pati hidup dan meninggalkan korbannya lunglai, gila, lalu mati.
Suara lantang adzan Isya dari corong masjid sebelah, tiba-tiba menyadarkannya. Lelaki kantoran itu mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja, lalu beranjak pergi. Meninggalkan si pelayan yang melongo keheranan.
Warung kopi itu terletak di pinggir jalan raya penghubung antardesa. Meski di desa, namun kendaraan besar seperti truk tronton nyaris tiap hari berlalu lalang. Lokasinya biasa, tidak eksklusif seperti kafe-kafe mewah di tengah kota. Hanya berupa deretan kursi kayu ditata dalam beberapa kelompok, dengan pasir kering sebagai alasnya.
Meski belum genap setahun buka, warung sudah memiliki pelanggan tetap. Mulai dari buruh pabrik yang istirahat pada siang hari—di desa itu banyak terdapat pabrik, karyawan swasta yang datang sore sepulang kerja, anak-anak muda desa yang datang menjelang petang, atau sekadar orang yang melintas menuju ke desa sebelah. Seperti hari itu, warung penuh pelanggan yang berasal dari latar belakang berbeda-beda.
Kulihat, sekelompok anak muda menunduk memegang ponsel pintar sambil sesekali berceletuk sahut-menyahut. Tak ada yang menarik dari kelompok ini, kecuali mereka semua menunduk, menatap benda bersinar di tangan masing-masing.
Di sebelahnya, sepasang muda-mudi tetap bernyanyi lagu-lagu romantis dari kelompok musik Payung Teduh. Keduanya seperti hanyut dalam setiap lirik lagu. Sampai-sampai tak lagi mendengar keributan di kursi belakang. Mungkin, mereka bicara dalam lantunan nada, bukan dengan kata-kata. Sesekali, keduanya tersenyum sambil berpandangan mesra.
Namun tiba-tiba kemesraan keduanya terkoyak. “Siapa dia,” kata si perempuan sesaat setelah melirik pesan SMS di HP pasangannya. Nyanyian romantis terhenti. “Ah, dia hanya teman sekolah dulu,” kata si pria kembali memetik senar gitar. “Tapi kenapa seminggu ini, dia kulihat aktif menghubungimu? Ada apa?,” cecar si wanita menyelidik.
Kudengar si pria menjelaskan bahwa mereka adalah teman semasa sekolah, dan kembali bertemu pada reuni angkatan minggu lalu. Di tengah-tengahnya pembicaraan, tiba-tiba ponsel si pria menerima pesan singkat.
“Nah, lihat saja sudah berapa kali hari ini dia mengirimimu pesan. Kamu tidak bilang kalau kamu sudah punya pacar? Sini, biar aku yang bilang padanya,” kata si perempuan sambil berusaha mengirim pesan balasan. Si pria dengan cepat mencegahnya.
Baca juga: Senyum Bidadari untuk Tenaga Sapi
“Jangan, nanti tidak enak. Dia tahu kok aku sudah punya kamu,” katanya. Bukannya tenang dengan penjelasan itu, si perempuan justru mendelik marah. “Nah, kalau sudah dikasih tahu begitu, kan harusnya paham. Dia pasti punya niat buruk. Sini biar aku yang balas,” katanya sambil berusaha merebut ponsel dari tangan di pria.
Si pria mencegah dan menepis tangan si wanita. Alhasil, si wanita berang dan beranjak meninggalkan kemesraan mereka sedari tadi itu. Si pria hanya geleng-geleng kepala. Si pelayan kafe, kali ini tersenyum kecut padanya.
Tergopoh si wanita beranjak pergi. Karena tergesa-gesa, kakinya tersangkut kaki meja, dan ia pun terjatuh di dekat meja sekelompok anak muda yang sedari tadi menunduk memainkan HP. Kejadian itu memicu tawa sekelompok anak muda tersebut. “Waduhh, hati-hati mbak. Jangan buru-buru. Ha-ha-ha..,” seloroh mereka tanpa sekalipun melepaskan pandangan dari HP. Si Wanita berusaha bangkit sendiri dengan kesakitan, bergegas pergi, menyetater motor, dan lalu melesat menunggangi jalanan.
Dan aku, melihat mereka semua dengan takjub sekaligus bertanya-tanya. “Inikah dunia kita sekarang? Yang satu marah karena dapat pesan di HP. Satunya lagi berkelahi gara-gara HP. Satunya lagi, saking asyiknya main HP, malah hilang rasa kemanusiaannya,” ucapku pelan.
“Kamu dari mana saja memangnya? Seperti orang yang baru keluar dari hutan,” celetuk lelaki di hadapanku yang terus menunduk memainkan ponsel pintarnya. Aku seakan tak percaya, kata-kata pedas itu keluar dari pria yang perhatiannya sedari tadi juga tersita pada benda di genggamannya.
Kutatap wajah lelaki yang baru bicara itu lekat-lekat. Aku seperti tak percaya dengan ucapannya. Namun lelaki itu tetap asyik menatap layar kaca. Kulirik benda bersinar di tangannya, dan kulihat ia sedang memainkan sebuah game perang.
“Kamu sama saja seperti mereka. Sebenarnya kamu bicara pada siapa?” ujarku mulai ketus. Aku protes karena pria itu bicara padaku namun tak sekali pun menatapku. Lelaki di depanku mulai menaruh HP di meja. Ia menatapku tajam dari ujung kaki hingga kepala. Tak lama kemudian dia nyengir sambil geleng-geleng kepala.
“Kamu belum paham juga ya, beginilah dunia sekarang ini. Semua serba cepat. Orang bisa melakukan banyak hal dengan HP. Aku bisa duduk dan bertemu kamu, sekaligus bisa bicara dengan temanku di seberang sana, dan tentu saja aku masih bisa menyalurkan hobiku main game dalam satu waktu sekaligus. Apa itu salah? Sekarang, HP bukan lagi sekadar alat komunikasi. HP adalah kehidupan,” katanya pelan namun terasa menyudutkan.
Dengan ekspresi wajah datar, pria itu menyeruput kopi di depannya. Tangannya bergerak hendak memungut HP di atas meja. Segera saja kutepis tangan itu. Ponselnya melayang lalu jatuh mengaduh di atas meja.
Pria di depanku mendelik dan mulai marah. “Maumu apa sih? Kamu seperti vampir saja, baru bangun dari tidur ratusan tahun lalu bingung melihat sekitar,” omelnya kesal sambil memungut ponsel, mengelus dan mencari tahu kalau-kalau ada yang retak. Aku hanya menghela nafas panjang.
Tiba-tiba saja, gubrakk…. suara keras datang dari jalan raya di depan kafe. Sebuah truk tronton menubruk rombongan kendaraan di depannya. Rombongan kendaraan berhenti mendadak karena ada pengendara motor jatuh akibat lubang.
Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Orang-orang kampung mulai berlarian datang melihat. Si pelayan kafe, meski awalnya dia ragu meninggalkan tugasnya karena hanya dia yang berjaga sendirian, namun pada akhirnya si penjaga kafe memilih menolong korban.
Para tamu kafe pun ikut mengalihkan pandangan ke sana. Ada juga yang beranjak dari duduk dan melongok lebih dekat ke jalan raya. Hanya melongok sesaat. “Oh…,” sekilas keluar suara di antara mereka. Tak lama, mereka kembali ke tempat duduk, dan mata mereka kembali menekuri benda bersinar di genggaman. Hiruk pikuk di depan kafe seolah tak mengganggu mereka. Aku lagi-lagi hanya geleng-geleng kepala melihat itu semua…
(Editor: Iman Suwongso)
