
Ijam, laki-laki kusam, mendepis di bawah pohon randu. Seorang gadis hendak melintas. Ijam makin mematung, ketika gadis itu makin dekat. Lehernya menegang, kaku, dan sulit mengangkat wajahnya untuk mendongak. Tangannya mematuk-matuk tanah kering tanpa diperintah.
Baca juga: Amsal Burung Biru Laut Ekor Hitam
Ijam sedikit melirik, ketika bayang-bayang gadis itu oleh matahari tergambar di tanah, sebelah Ijam memagut. Ijam mendongak. Mata gadis menghujam tajam ke mata Ijam. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat yang menderas. Langkah itu begitu lambat. Lambat! Tak segera melintas.
Ouh! Persis di pinggirnya. Tak jauh. Gadis itu berdiri saja, diam bagai patung. Kepala Ijam semakin tertunduk, nyaris mencium permukaan tanah. Ia berdoa, semoga gadis itu tidak menyemburkan ludah pada wajahnya.
Saat berdoa itu, ia teringat emaknya. “Mengapa harus malu? Hanya mencuri yang harus malu,” kata emaknya.
Suara emaknya dalam dada Ijam, menghembuskan tenaga. Sekali pun berat, Ijam mengangkat kepalanya. Pelan-pelan. Pelan sekali. Batas kekuatannya hanya setengah mendongak. Sekali pun begitu, wajah gadis itu terpampang.
Oh, gadis! Aduhai bidadari! Ia tersenyum. Rekah senyumnya, begitu tajam merobek dengup Ijam. Keringat dinginnya menggigilkan sekujur badan.
Untunglah! Si gadis segera beranjak. Ijam hanya berani mengawasi punggung dan goyang pinggulnya dengan sembunyi-sembunyi. Tudung kepalanya melambai-lambai bagai berseru. “Ijam. Ijam. Pupuskanlah awan kelam. Kemarilah. Kemarilah, ikut denganku terbang ke angkasa.” Ijam hanya berani memandang, mengikuti langkah cantik sampai hanya terlihat titik saja. Di sana. Titik cantik.
*
Ijam masih tercengang. Sepanjang umurnya, ia hanya terapung-apung dalam kekeruhan. Ia telah terkubur oleh perasaannya sendiri: bila di setiap tempat berhadapan dengan muka masam, dan ia membenamkan diri di kolong persembunyian paling dalam. Bedakah rasa malu dengan ketakutan?
Baca juga: Citra Kali di Jakarta
“Manusia penakut!” begitu emaknya membentak.
Tetapi, lihatlah anak-anak sekolah itu. Membuat lagu-lagu untuknya.
Ijam. Ijam. Tiada punya ayah
Tiada pernah tahu di mana sang ayah
Kuburnya pun tiada
Dan Ijam lari terbirit di pematang tegalan. Telinganya membawa gema suara anak-anak. Mengejek. Malu. Marah. Benci. Berakhir terisak di sudut kamar.
“Lawanlah! Bodoh! Lawanlah ejekan itu!”
Emaknya hanya menghasut. Ijam terpengaruh. Ijam melawan. Tapi, Ijam tiba-tiba menghadapi sepasukan anak-anak. Laskar pengeroyok. Wajahnya kena jotos. Ia lari tunggang-langgang. Lari. Tak pernah sekolah lagi.
Setiap orang seperti duri. Dirinya hanya tinggal sesosok badut. Bahkan, ia menjadi malu kepada Bu Guru Weni. Bu Guru mengetahui olok-olokan itu. Ijam dinasihati.
“Tidak! Bu Weni membujukku hanya untuk menjadikanku sebagai umpan pada srigala yang lapar. Pesta pora kesakitan,” gumamnya.
Ijam membuka pintu belakang rumahnya. Lari. Kabur ke peladangan. Mendepis di bawah pohon pisang. Matanya berlompatan mengawasi setiap gerak-gerik di sekitarnya.
Sekali waktu ia pulang. Mengendap-endap. Ia mencoba bertanya tengtang bapaknya. Emaknya menampar. Dan, Ijam selalu ketakutan untuk kembali pulang. Tetapi di mana akan berumah? Akhirnya ia kembali setelah mengumpulkan keberanian. Setiap menjelang petang. Langsung menuju bilik kamarnya yang gelap.
Sekarang, Ijam menjadi tidak tahu siapa emaknya. Kadang-kadang Ijam melihat hanya kelebat. Tentu itu emaknya. Semakin cepat berkelebat, semakin kendurlah perasaan. Tetapi, ia merasa begitu kosongnya kamar ini. Kadang sampai berhari-hari.
Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati
Antara malu, takut, dan tidak betah di rumah, Ijam melangkah ke luar rumah makin jauh. Kala Ijam melintas cepat, ada suara memanggilnya. Suara itu pernah karip. “Ijam! Kekelaman jadi sirna dengan ini!” Suara yang mabok sambil mengacungkan sebuah botol.
Tidak! Mabok hanya akan semakin menggiringnya pada tumpukan duri dan kawat-kawat yang tajam. Bakal menjatuhkannya pada genangan ludah. Dari ladang-ladang Ijam menerobos sungai dan hutan-hutan kecil, hingga sampai di peladangan kampung seberang. Ia tidak pernah punya pikiran: langkah-langkahnya hanya membuang waktu. Pun, ia tidak mencari apa-apa. Hanya persahabatannya dengan pohon-pohon, rumput, belalang beterbangan, menumbuhkan jiwanya.
Juga bukan rencanannya ketika ia sampai di bawah pohon randu itu. Mengorek-ngorek mimpi yang nyaris tak pernah hadir lagi dalam tidurnya. Tentang: “Bidadari di sendang itu.” Mimpi yang membasahkan tubuhnya. Membasahkan…
*
Pagi direbutnya dari bawah pokok pohon randu. Ijam berpindah-pindah pandangan dari ujung ke ujung jalan setapak yang lempang. Ia sedang menunggu dengan perasaan tertekan. Betapa, senyum amat sekilas itu telah mengubah hasrat pada umurnya yang tumbuh. Ia berhasrat sekali perjumpaan itu.
Baca juga: Amsal Penguasa Diktator
Tengah hari kala matahari menusuk dari atas puncak pohon randu. Langkah kaki mengepulkan debu di ujung jalan. Tiba-tiba pula badannya mulai gemetar. Lemas. Lunglai di julangan akar pohon randu. Sebuah kata yang ingin diucapkan dari pokok mimpi menguap tak tersisa.
“Apa yang dikerjakan di pinggir jalan sunyi ini?” suara itu menggema.
Ijam tersentak. Kebodohannya melemparkan gemuruh nyali ke kutup seberang. Betapa suara itu amat seramnya. Pastilah orang ini berkumis tebal.
“Saya tidak suka pada orang yang tidak segera menjawab pertanyaan,” katanya lagi.
“Hanya duduk-duduk, Pak,” jawab Ijam asal-asalan.
“Jangan panggil aku pak. Awas! Panggil aku Kak Darsam. Enak sekali kamu. Ketika orang-orang sedang memeras keringat, kamu hanya duduk-duduk saja. Kamu bantu aku bawa ini!” katanya memerintah.
Ijam hanya menatap rantang itu.
“Kalau tidak mau, ya sudah. Jadi saja patung di situ!”
Ijam segera merebutnya. Tapi bukan rantang itu yang dibebankan pada Ijam. Sebuah karung entah berisi apa. Ijam berjalan membungkuk-bungkuk. Keberatan. Kak Darsam hanya terbahak. “Anak malas yang malang!” gumamnya.
*
Kala mereka memasuki perkampungan, beban Ijam bertambah berat. Jalannya tidak hanya membungkuk, tetapi juga menunduk. Sepanjang jalan bagai menghitung kerikil.
“Belok sini!” bentak Kak Darsam.
Rumah ini paling bagus dan besar. Pelataran luas menghampar padi dan biji kopi. Terdengar anak-anak sorai-sorai bermain dolanan. Ijam yang bodoh dan malang tak pernah memiliki irama seindah anak-anak ini. Ia hanya membuntut Kak Darsam.
Mereka masuk teras sebelah lumbung. Ijam berusaha mencuri pandangan dengan hati-hati. Ini semua milik petani kaya yang sawah-ladangnya berbahu-bahu. Panas memancar mengeringkan biji-bijian. Sesekali bunyi pecah biji-bijian itu terdengar. Tapi Ijam tidak tahu kalau tingkah lakunya ada yang memperhatikan. Gadis di balik kaca jendela.
Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
“Ijam! Kau bantu aku mengangkat sisa padi,” suara Kak Darsam dari dalam.
Tetapi Ijam menoleh, pandangannya terhadang cahaya gemerlap dari kaca jendela. Gadis itu masih tersenyum di sana. Tengkuk Ijam berdesir. Aduhai! Bidadari!
“Ijam! Saya tidak suka pada orang yang tak segera menjawab panggilan!” bentak Kak Darsam.
*
Ijam kini tahu. Bidadari itu masih di balik jendela kaca. Ia mengusung barang dalam karung di cikar dengan cekatan. Sekalipun bebannya amat berat. Sekali-kali ia melirik ke jendela kaca. Gadis itu tersenyum juga. Ah! Ijam menemukan hidup di balik jendela kaca.
Kak Darsam hanya mengawasi dari teduhan, sambil duduk, minum kopi, dan merokok. Apa peduli Kak Darsam. Apa beratnya karung-karung ini. Bak cikar itu kosong, isinya habis terangkut. Lantas Kak Darsam hanya memujinya: bagus!
Lihatlah, Ijam kini tak pernah berhenti bekerja. Dengan langkah-langkah yang cepat ia menyorok jemuran padi yang menghampar. Keringatnya berlelehan. Keringat yang sehat, kata Kak Darsam. Dan kulitnya kian menghitam.
Perintah Kak Darsam selalu ia turuti. Sore ini Ijam harus memasukkan padi kering yang menggunung itu ke dalam karung dan memindahkannya ke lumbung. Berapa lama waktu diperlukan? Sampai pagi pun tak mungkin selesai. Ijam terduduk selonjor di bawah pohon jambu. Kepalanya terangkat, menatap ke seberang sana. Gadis itu -ia pernah mendengar namanya Rahayu- memandangnya dari pohon nangka. Kala pandangannya berpapasan, Rahayu tersenyum. Oh! Bidadari.
Baca juga: Nyonya dan Pasang Surut Air Laut
Ijam pelan-pelan bangkit. Ia melangkah dengan pasti. Dan segera sampai di tumpukan padi. Butiran-butiran padi diraupnya. Ia memasukkan dalam perut-perut karung. Kerja menggila bagi orang yang haus sepanjang hidupnya, dan menemukan oase di bawah pohon nangka. Sekali-kali ia melihat Rahayu sambil tangannnya masih memasukkan padi lewat mulut karung. Rahayu tersenyum juga. Oh! Rahayu! Bidadari! Senyumnya melemparkan dari peziarahan pada yang ditanamkan dan tumbuh begitu purba. Gemuruh di dalam dadanya.
Rahayu dibawa ke pelosok mimpinya. Sepenuhnya. Ijam tidak pernah menanggapi sanjungan Kak Darsam. Segala perintahnya ia kerjakan. Suatu pagi Kak Darsam memangilnya. “Ijam usunglah buah jeruk yang telah dipetik dengan gerobak itu.”
Ijam memindahkan jeruk-jeruk itu dari kebun dengan gerobak. Ia menariknya hingga otot-ototnya menyembul. Saat Ijam mengerjakan itu, Kak Darsam tidak pernah kelihatan. Tetapi ketika tarikan terakhir, ia baru muncul. Ia manggut-manggut seperti seorang yang berwibawa. “Tenagamu kuat sekali seperti sapi.”
Ijam hanya diam saja. Mungkin dia memang sapi.
*
Suatu pagi yang tidak disangka. “Ijam kamu dipanggil juragan. Awas! Jangan bilang macam-macam.”
Ijam menghadap laki-laki yang baru ia lihat kemarin. Katanya itu bapaknya Rahayu. Laki-laki itu memandang Ijam dengan tajam. Ijam membalasnya. Sekali ini saja Ijam berani menatap seperti itu. Pada pusat mata laki-laki itu. Sorot mata bersilangan yang hanya mungkin terjadi pada tatapan anak beranak. Hampir. Nyaris Ijam memanggil: Bapak! Tapi bukan. Ia bukan bapaknya, ia juragan.
“Namamu Ijam?” Laki-laki itu memecah ketegangan. “Aku dengar kerjamu baik sekali. Kau membutuhkan ini untuk sisa hidupmu. Anggaplah ini gajimu.”
Ijam diam dan beku. Angin keras menampar dari pintu; mengusirnya untuk segera pergi. Tidak perlu berpamit. Di dekat timbunan biji kopi, ia membalik badan. Tidak ada senyum di balik jendela kaca itu.
Baca juga: Semut-Semut Budaya
Di pintu gerbang Ijam bertemu Kak Darsam. Ia menyerahkan seluruh genggamannya. Semula Kak Darsam terkejut, tapi kemudian melonjak gembira.
“Banyak sekali! Ya! Ya! Kau memang kerja keras, tenagamu seperti sapi.” Ijam tidak mendengar sama sekali. Sekali lagi ia menoleh ke kaca jendela. Tidak ada senyum! Bidadari telah pergi, terbang ke kayangan.
Januari 1995
*) Iman Suwongso bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KOBIS) “Merajut Sastra” di Malang. Telah menerbitkan kumpulan cerpennya “Si Jujur Mati di Desa Ini” (Penerbit Kota Tua, Mei 2017). Sedang menyiapkan dua kumpulan cerpen: 1) “Topeng di Meja Bupati”, 2) “Perempuan Kunang-kunang”.
